OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Aku Akan Selalu Menemukanmu


__ADS_3

..."Pergilah, sejauh apa pun. Karna aku akan selalu menemukanmu di mana pun kamu berada." - Rain...


...🌸🌸🌸...


Keesokan paginya, hujan begitu deras diiringi dentuman petir yang saling bersautan. Awan begitu mendung dan cuaca begitu dingin, membuat tubuh ringkih Joey menggigil.


Gadis itu menarik selimutnya dan berusaha memutar tubuhnya ke kiri, tapi sulit karena dekapan erat kedua tangan kekar milik seseorang yang aromanya tak asing di indra penciuman Joey.


Bantal yang Joey gunakan pagi ini, sepertinya lengan kekar milik pria itu, begitu juga selimut hangat. Sepertinya bukan selimut tebal yang menghangatkan tubuhnya, melainkan dekapan erat dari tubuh kekar milik Rain, si pelita hidupnya.


Joey mencoba membuka mata secara perlahan. Ia merasakan nyeri di kepala dengan penglihatan yang masih berkunang-kunang dan tak jelas. Ia juga mencoba menggerakkan tangan dan kakinya, sakit dan nyeri sekali. Ada apa ini? Nggak mungkin 'kan karena efek awal kehamilan?


"Ugh..." Joey meringis sambil memegang kepalanya yang sakit. Ia mengerjap-ngerjap lalu mengucek matanya. Samar-samar terlihat di matanya wajah seseorang yang ia rindukan.


Joey memicingkan matanya agar bisa melihat dengan jelas wajah pria yang memeluknya erat saat ini. Tubuh yang lelah dan masih berbalut pakaian kantor.


"Dia merawatku ya, semalaman?" gumam Joey dalam hati.


Hangat. Begitu hangat rasanya saat membayangkan bahwa pria itu merawatnya semalam. Rindu yang menyeruak di dada semakin tak tertahankan dan seketika ingin meledak. Ingin sekali ia memeluk pria yang ada di depannya saat ini, mengungkapkan rindu dan mengatakan bahwa ia tak sanggup kehilangan pria tersebut.


"Om, andai terlahir kembali ke dunia, aku lebih memilih untuk tak mengenalmu sama sekali," batin Joey pilu.


Ia menatap nanar ke arah pria tampan yang sedang tidur tersebut. Tampan, sangat tampan. Bahkan sebelumnya ia belum pernah melihat pria tampan lain setampan dirinya.


"Ck! Mungkin karna cinta, itu kenapa hanya dia yang paling tampan di mataku," pikir Joey mengetawakan dirinya. Entah kenapa, ia tak tahan untuk tersenyum, meski kepalanya berdenyut nyeri saat ia tersenyum.


"Mhh..." Rain menge.rang dari tidurnya.


Pria itu memeluk tubuh Oleander-nya semakin erat. Joey dibuat sesak oleh pelukannya. Meski matanya masih tertutup, tangan kanan yang menopang kepala Joey, ia tempelkan ke dahi gadis itu. Panas, tubuh itu masih panas pikirnya. Demamnya belum mereda. Rain langsung membuka matanya karena khawatir.

__ADS_1


Kedua mata Rain dan Joey saling bertatapan kini. Joey menatap Rain dengan mata sayu dan lemah, sedangkan Rain menatap Joey dengan mata yang cemas dan khawatir.


"Udah bangun sejak tadi?" tanya Rain lembut.


Joey hanya mengangguk pelan.


"Kenapa nggak bangunin aku?" tanya Rain lagi. Ia mengecup lembut dahi Joey sambil mengusap lembut pipi tembam yang pucat itu.


Joey hanya diam. Ia tak menjawab pertanyaan Rain. Tatapan lemahnya hanya terfokus pada wajah pria yang ada di depannya. Tatapan yang dalam dan penuh arti. Ia mencoba menghafal setiap lekukan yang terukir sempurna di wajah pria itu, agar nanti ketika mereka berpisah lagi, hanya dengan membayangkan pria itu saja, rasa rindunya dapat terobati.


"Haaa... kenapa aku plin-plan gini sih," keluh Joey dalam hati. Kenapa setiap kali ia ingin pergi melepaskan pria itu, selalu sulit. Apa karena selama empat belas tahun ini ia selalu mengikuti semua update tentang pria itu? Tak mungkin bukan?


"Pagi-pagi udah ngelamun," ledek Rain sambil mencubit gemas pipi Joey.


Joey hanya meringis tak bersuara.


"Om..." panggil Joey dengan suara seraknya.


"Hmm." Rain menatap gadisnya.


"Kenapa Om sebaik ini sama aku?"


Rain menghela napasnya pelan. Ia memegang dagu lancip Joey.


"Karna aku cinta kamu," jawab Rain singkat.


"Kenapa harus aku? Kan di luar sana banyak yang ngejar Om? Bahkan, Anya jug-"


"Ssttt..." Rain meletakkan telunjuknya ke bibir kering gadis itu. "Jangan sebut nama perusak itu."

__ADS_1


"Aku mencintaimu, karna kamu orangnya," sambung Rain lagi.


"Ck! Kata-kata Om semakin membuatku sulit pergi," Joey berdecak sebal dan membuang pandangannya. Ia tak ingin menatap mata yang penuh cinta itu. Semakin ia menatap mata itu, maka semakin sulit untuk ia bebas dari pria itu.


"Pergilah, sejauh apa pun. Karna aku akan selalu menemukanmu di mana pun kamu berada," tutur Rain lirih.


Mereka terdiam cukup lama, saling hanyut dalam pikiran dan perasaan masing-masing. Rain yang semakin cinta pada gadis itu dan Joey yang semakin sulit melepaskan diri dari pria itu.


Samar-samar terdengar tangis dari gadis yang sedang dipeluk oleh Rain. Entah kenapa, gadis itu menangis dengan sangat pilu. Rain mendadak panik menatap ke arah gadisnya.


"Om... hiks... hiks... aku nggak kuat kalo gini terus," keluh Joey pilu. "Ini terlalu menyakitkan buatku. Hiks... hiks..."


"Om tau, setiap kali aku ngeliatin Om, perasaan itu semakin kuat dan nggak bisa ku kontrol. Rasa ingin memonopoli Om semakin besar, aku bahkan nggak rela liat Om disandingkan dengan wanita lain. Bahkan ... bahkan aku nggak tahan ngeliat Om dekat dengan wanita lain," sambung Joey pilu. Dadanya naik turun menahan perasaan yang membuncah saat itu juga.


"Nggak komunikasi dengan Om selama beberapa hari, itu sangat menyiksaku. Apalagi saat melihat Om ke kamar dan bercinta de-"


"Aku nggak bercinta dengan wanita itu," potong Rain. "Aku hanya membayarnya untuk bersandiwara dan ingin membuatmu sadar kalau kamu nggak bisa hidup tanpaku."


Joey terdiam, ia menatap mata pria yang baru saja menjelaskan kejadian yang sempat membuatnya kepikiran dan tak tenang.


"Aku nggak bisa bercinta dengan wanita lain selain kamu. Entah kenapa, burungku nggak bisa bangun k-"


"Om..." potong Joey dengan wajah yang memerah. Perlahan airmatanya mulai berhenti keluar. "Jangan terlalu vulgar. Aku malu mendengarnya."


Rain tertawa kecil melihat gadisnya yang malu mendengarkan ucapannya.


...****************...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2