OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Miskin Sekali Hatinya...


__ADS_3

...“Saya heran kenapa Nyonya Luna Ravindra mencintai pria yang miskin hati seperti Bapak." - Joey Ainsley...


...🌸...


...“Jika Rain, anakku itu tak dapat kujadikan penerus dan membuatku malu, aku tak segan-segan untuk menyingkirkannya.” - Ravi Ravindra...


...🌸🌸🌸...


"Tunggu di basement aja ya," tutur Joey sambil membuka pintu mobil dan melangkahkan sebelah kakinya keluar.


"Aku akan menghubungimu setelah selesai," sambungnya sambil keluar dari mobil tersebut.


Sesaat setelah mobil yang Joey tumpangi melaju menuju basement, ada sebuah Alphard yang berhenti di lobby Tower Williams Production, tempat di mana Joey ingin menemui Luca. Supir dari mobil Alphard tersebut turun dan membuka pintu mobilnya.


"Silahkan masuk, Mba," ucap supir tersebut.


Joey melihat ke arah dalam mobil. Ada seorang pria tua yang tak asing di matanya. Ravi Ravindra yang merupakan ayah mertuanya.


Tanpa berlama-lama, Joey pun melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam Alphard tersebut. Sesaat kemudian, pintu mobil tertutup dan supir masuk mobil melaju ke arah yang Joey tak tau ke mana ia akan di bawa.


Ravi duduk dengan angkuh dan dada yang membusung dengan sorot mata menatap lurus ke depan karena enggan melihat ke samping ke arah menantunya. Ia menyilangkan kedua tangannya ke dada.


"Senang? Bisa menikah dengan anakku?" ketus Ravi dingin. Pria yang sudah berusia itu bertanya dengan nada yang mengejek dan terdengar menyepelekan.


Dari pria tua itu saja, Joey dapat merasakan rasa ketidaksukaan mertuanya itu pada dirinya. Meskipun begitu, Joey berusaha memaklumi. Karena bagaimanapun, pria itu adalah ayah mertuanya. Ia harus menghadapi pria itu dan menemukan cara bagaimana agar Ravi Ravindra menerimanya sebagai menantu.


“Iya. Saya senang dan bahagia bisa menjadi menantu—”


“Ck! Aku nggak pernah sekalipun menganggapmu sebagai menantuku,” potong Ravi dengan angkuhnya.


Joey menelan ludahnya yang tiba-tiba terasa pahit. Ia menghela napasnya mencoba mengontrol emosi agar tak terpancing pada keangkuhan mertuanya itu.


“Aku telah menemukan dokter terbaik untuk anakku yang lumpuh,” ujar Ravi dingin dengan wajah tanpa ekspresi dan kepala yang sedikit terangkat ke atas. “Ada kesempatan untuk Rain sembuh dan berjalan dengan normal.”


“Tapi, kamu harus menyuruhnya bertemu dan menerima perjodohan dengan Sara Walters.”


Sesaat setelah mendengarkan ucapan ayah mertuanya, ada perasaan senang dan sedih yang sedang berkecamuk dan bercampur aduk di dada. Ia merasa bahagia karena pria yang ia cintai dapat berjalan kembali dengan normal. Tapi, yang membuatnya bimbang saat ini adalah, pria itu harus ia paksakan untuk bertemu dengan wanita lain. Bukankah itu hal gila? Wanita mana yang rela prianya bertemu dengan wanita lain dengan tujuan pernikahan?

__ADS_1


“Aku tak suka ditolak,” kata Ravi dingin. Ia tahu pasti bahwa Joey tak akan menyetujui permintaannya. Dengan begitu, ia telah memikirkan rencana lain agar gadis di sampingnya menyetujui apa yang ia katakan.


“Lucas Williams. Direktur utama di Williams Production,” Ravi melempar pandangannya ke luar jendela, menatapi rintikan hujan yang membasahi kota metropolitan itu. “Aku akan membuat namanya rusak karena menerima seorang calon penyanyi dengan cara menghabiskan malam yang panas bersama seorang gadis yang bernama Joey Ainsley.”


Joey semakin tak dapat berkutik. Bagaimana bisa ayah mertua yang semula ingin ia hormati itu menjadi begitu kejam dan tak punya hati? Pikirnya tadi, jika ia menerima untuk bertemu dengan pria itu, ia akan mengambil hati ayah mertuanya dan bertingkah baik selayaknya sikap menantu kepada mertuanya. Tapi? Ia malah mendapatkan ancaman yang sangat merugikan dirinya.


“Dua orang yang menjadi korban di sini. Suamiku dan Pak Luca,” gumam Joey lirih dalam hati.


Joey dibuat bingung setengah mati. Jika ia mengikuti perasaannya, sudah jelas ia tak ingin Rain bertemu dengan wanita cantik yang memiliki segudang prestasi itu. Tapi, jika ia mengikuti akal sehat, ia harus melakukan itu demi kebaikan Rain yang ia cintai dan demi menjaga nama baik Luca yang tak ada sangkut pautnya di masalah ini.


Joey terkekeh kecil. Ia menertawakan dirinya yang benar-benar lemah dan tak berdaya itu serta menertawakan mertuanya yang berhati batu.


“Apa Bapak pernah sedikit saja merasakan apa itu cinta?” serang Joey tiba-tiba. Entah keberanian dari mana yang ia dapatkan, ucapan tersebut keluar dari mulutnya. Bibirnya yang bergetar menahan amarah serta matanya yang menegang menatap ke arah Ravi.


“Ck! Anak muda sepertimu tahu apa tentang cinta?” tukas Ravi geram. “Sadarlah, cinta itu menyesatkan.”


“Kamu akan berterima kasih padaku suatu saat nanti jika mendengarkan ucapanku.”


“Berterima kasih? Untuk apa?” tegas Joey tak senang. “Saya malah sedih melihat Bapak yang amat sangat kaya raya tapi hatinya miskin dan gersang.”


“Saya heran kenapa Nyonya Luna Ravindra mencintai pria yang miskin hati seperti Bapak,” sembur Joey dengan sangat berani.


Beberapa waktu yang lalu, kehadiran Anya Shailendra di hidupnya dan Rain saja sudah sangat membuatnya frustasi dan depresi. Bahkan ia sampai harus kehilangan janin yang ia dan Rain tunggu-tunggu. Lalu, kenapa sekarang ia harus merelakan ada wanita baru lagi yang hadir di antara dia dan Rain?


“Pak Supir, tolong minggir,” perintah Joey pada supir yang sedari tadi duduk tegang karena mendengarkan perseteruan antara mertua dan menantu. “Saya ada janji dan saya akan naik taksi!”


“T-tapi … ini masih gerimis, Mbak,” sahut supir tersebut.


“Nggak apa-apa. Menepi aja, Pak.”


Supir tersebut melihat Ravi melalui kaca spion dalam mobil. Ravi menaikkan kedua alisnya mengiyakan bahwa ia boleh menepikan mobil dan membiarkan gadis itu turun.


Saat mobil tersebut menepi, Joey bergegas membuka pintu tersebut. Namun langkahnya sempat terjeda sejenak saat Ravi mengatakan sebuah kalimat yang cukup membuatnya kepikiran dan goyah.


“Lakukan semaumu,” tutur Ravi tanpa basa-basi. “Jika Rain, anakku itu tak dapat kujadikan penerus dan membuatku malu, aku tak segan-segan untuk menyingkirkannya.”


Joey terbelalak. Matanya membulat dengan sempurna dan jantung yang berdetak dengan kencang. Apa benar pria itu ayah kandung suaminya? Kenapa pria itu begitu tega menyakiti bahkan sempat berfikir akan menyingkirkan anaknya sendiri demi ambisi yang ia miliki?

__ADS_1


Dengan perasaan yang gusar dan khawatir, Joey turun dari mobil mewah tersebut tanpa berkata sepatah katapun. Ia berjalan ke atas trotoar dengan tatapan yang nelangsa. Tatapan yang kosong dan menerawang jauh. Sedangkan Alphard tersebut telah melaju menyusuri jalan.


Gadis itu berhenti di sebuah halte yang kosong. Lalu ia duduk di halte tersebut sambil menghela napas berat.


Drrttt… Drrttt…


Ponselnya bergetar. Joey mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Tertera nama ‘Love of My Life’ di layar ponsel. Wajahnya yang semula sendu, perlahan tersenyum meskipun senyuman tersebut ia paksakan.


“Halo, Sayang?”


^^^“Kamu ngapain di sana, Sayang?”^^^


^^^“Itu jauh loh dari kantor Luca.”^^^


Joey mengerutkan keningnya. Bagaimana bisa pria itu mengetahui keberadaannya saat ini? Ia saja tak tahu sekarang ia berada di mana?


“Om tau dari mana?”


^^^“Aku memasang GPS di ponselmu.”^^^


Rain berkilah. Jika ia diam, maka Joey akan berprasangka buruk pada Leons, namun jika ia mengatakan sejujurnya, nanti gadis itu akan melepaskan kalung yang ada dilehernya. Jawaban tepat yang terdengar nyata saat ini adalah melacak GPS diponsel gadis itu.


“Hahaha… aku tadi jalan keluar buat nyari warung.”


^^^“Sayang, kalo bohong itu yang bener.”^^^


“Hehehe… aku matiin dulu ya. Buru-buru, Om.”


Tanpa mendapatkan persetujuan Rain, gadis itu bergegas mematikan ponsel dan memasukkannya ke dalam tas. Ia pun berdiri dari duduknya berniat untuk menahan taksi. Namun seketika tubuhnya bergetar hebat saat ia baru saja menyadari saat ini ia sedang berada di halte di mana masa lalu kelam yang ingin ia lupakan.


Halte pertemuan pertamanya dan Rain sekaligus halte di mana ia diperlakukan bak binatang. Tanpa belas kasih dan tanpa sedikitpun rasa prikemanusiaan. Selama empat belas tahun ini, jalan bahkan tempat yang ia hindari adalah halte serta Jalan Panglima Polim. Lalu, bagaimana bisa hari ini ia berhenti di sini.


“Ugh …” Joey meringis kesakitan saat dadanya terasa sakit dan nafasnya mendadak sesak. Pandangannya berkunang-kunang bahkan sekujur tubuhnya mendadak keringat dingin. Tatapannya ke sekeliling mulai menghitam dan tak jelas.


Sesaat setelah itu, tubuhnya jatuh tersungkur ke atas lantai halte.


...****************...

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2