
...“Bersabarlah sebentar. Aku akan membalaskan rasa sakit dan luka yang Mama rasakan.” - Rain...
...🌸🌸🌸...
Seketika, tangis Luna membuncah tak tertahankan. Isak tangis wanita itu begitu pilu karena hatinya hancur berkeping-keping. Pria yang ia cintai selama delapan tahun ini dan merupakan ayah dari anak-anaknya, ternyata tega menghancurkannya sedalam ini.
Luna membuka laci meja kecil yang ada di samping ranjang. Ia mengambil sebotol obat tidur yang ada di dalam laci tersebut. Mata merah sembabnya menatap ke arah Ravi. “Mas pilih aku atau tetap ingin menikahi wanita itu?!”
“Ck! Nggak usah sok-sok mau bunuh diri, kayak berani aja,” Ravi tertawa kecil melihat kelakuan istrinya. Menurutnya tak masuk akal jika wanita yang sudah hidup enak, memilki suami yang kaya raya dan anak yang tampan itu akan bunuh diri. Bukankah hidupnya sudah senang dan tinggal terima enak serta hanya goyang kaki saja?
“Apapun yang kamu lakukan, aku tetap akan menikahinya. Karena, selain dia memberikanku cinta, dia juga bisa mendukung seluruh usaha kerasku untuk Grup Ravindra,” sambungnya.
Luna semakin tak bisa berkata-kata mendengarkan ucapan pedih yang keluar dari mulut pria yang ia cintai. Pria itu benar-benar keterlaluan. Amarah yang menyelimuti dirinya, kini tak tertahankan. Ia membuka tutup dari botol obat tidur tersebut, lalu ia menumpahkan seluruh obat tidur tersebut ke mulutnya dan ia telan sekaligus dalam jumlah yang banyak.
Ravi terkejut melihat kegilaan istrinya yang nekat mengakhiri hidup hanya karena di madu, ia bergegas meraih botol obat tidur yang sudah kosong tersebut dengan dada yang naik turun akibat amarah. “Jangan bertingkah bodoh! Muntahkan semua pil itu!”
Sayangnya, obat tidur yang sudah tertelan tak dapat di keluarkan lagi. Tubuh Luna perlahan mulai lemah dan jatuh terjerembab ke atas lantai dengan mulut yang berbusa.
“Mamaaaa!!!” teriak Rain di saat yang sama. Anak kecil yang sedari tadi hanya bisa mengintip di balik pintu, kini tak mampu menyembunyikan keberadaannya saat melihat ibu yang ia cintai jatuh terkapar tak berdaya di lantai yang dingin itu.
Rain berlari sambil menangis sejadi-jadinya. Lalu, ia duduk di lantai memangku kepala wanita yang merupakan cinta pertama di hidupnya itu. Tangan mungil anak kecil tersebut menggoyangkan kedua pipi ibunya.
__ADS_1
“Ma! Jangan tinggalin Rain sendiri! Bangun, Ma! Bangun!” teriak Rain histeris.
Luna memaksakan tangannya yang lemah meraih pipi Rain. Tatapannya yang melemah tak berdaya, menatap ke arah anak yang ia cintai yang kini sedang menangis tersedu-sedu. Ia tersenyum pilu.
“Nak … nanti kalo udah gede, jangan pernah … nyakitin wanita ya,” pesan Luna. “Janji sama Mama ya, Nak.”
“Aku janji, Ma. Aku janji. Tapi Mama harus sehat!” pekik Rain.
“Ma- … maafin … Mama, Nak.” Ucap Luna lemah. Perlahan tangannya yang membelai pipi Rain jatuh ke lantai dengan mata yang tertutup erat.
“Mamaaaaa!!!” teriak Rain histeris.
“Papa bajingan!” umpat Rain dengan dada yang naik turun menahan amarah sambil memeluk tubuh kaku ibunya. Tatapan yang penuh kebencian itu ia berikan pada Ravi yang sedari tadi panik mencoba menghubungi ambulance lewat telepon rumah.
PLAK!!!
Sebuah tamparan mendarat di pipi anak semata wayangnya, Rain. Emosi Ravi semakin membuncah saat anak kandungnya berani berkata kasar mengumpat dirinya. “Jaga ucapanmu! Aku ini ayahmu!”
Ravi bergegas menggendong tubuh kecil Rain. Ia menggendong tubuh mungil tersebut ke kamar Rain. “Renungi kesalahanmu!”
“Kesalahan apa? Papa ‘kan bajingan! Kenapa Papa bunuh Mama?!” pekik Rain dengan airmata yang tak mampu ia tahan sedari tadi. “Kembalikan Mama-ku!”
__ADS_1
Ravi tak peduli, ia mengurung Rain di kamar dan bergegas pergi.
Di ruangan yang besar dan dingin tersebut, Rain duduk meringkuk di pintu sambil memeluk lututnya. Airmata merembes keluar dengan sangat deras, tapi tak bersuara. Rasa sakit dan kehilangan yang tak mampu ia luapkan, mendarah daging menjadi awal mula dari sebuah dendam.
“Ma, bersabarlah sebentar. Aku akan membalaskan rasa sakit dan luka yang Mama rasakan,” gumam Rain pelan.
Anak yang berusia lima tahun tersebut mengepalkan tangannya dengan gigi yang bergetar. Ia menghapus paksa airmatanya dan bangkit dari duduk lalu berjalan menuju meja kecil di samping ranjang.
Ia meraih bingkai foto dirinya dengan Ravi dan Luna. Di tatapnya bingkai foto tersebut dengan seksama. Sebuah keluarga bahagia yang hangat, yang sama sekali tak terprediksi bahwa keluarga hangat itu akan hancur dan rusak hanya karena bisnis dan pihak ketiga. Rain benar-benar dipaksa dewasa sebelum usianya.
“Papa harus ngerasain gimana sakitnya Mama,” ucap Rain dengan bibir yang bergetar.
Sejak kejadian menyakitkan itu, Rain tumbuh menjadi seorang anak yang pintar dan genius. Ia selalu menjadi anak teladan di sekolah, bahkan ia mendapatkan juara satu di Olimpiade Matematika dan Sains Internasional.
Meskipun ia tumbuh menjadi seorang lelaki yang tampan, tak pernah terbersit dihatinya untuk merasakan apa itu cinta dan berpacaran. Baginya, mendapatkan cinta yang tulus dari ibunya saja sudah cukup.
Hari-hari yang ia lewati jauh dari kata bermain. Ia tak mengenal apa itu bermain dan berteman, sehingga ia dikenal sebagai anak introvert dan antisosial. Rain benar-benar menghabiskan usianya dengan mengasah ujung tombak yang siap ia lemparkan di waktu yang tepat. Dia benar-benar ingin menghancurkan ayah kandungnya!
...****************...
BERSAMBUNG…
__ADS_1