OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Cinta Saja Tak Cukup


__ADS_3

...“Aku menikahimu karna cinta! Tapi cinta aja nggak cukup untuk masa depan bisnis ini! Kamu bisa apa selain ngasih aku cinta? Hah?! Harusnya kamu itu sadar diri! Udah tinggal hidup enak, malah jadi serakah!” - Ravi...


...🌸🌸🌸...


#POV AUTHOR


“Orang miskin emang suka gitu. Suka nggak tau diri!”


Seorang wanita paruh baya sedang duduk sambil menyilangkan kaki kirinya di atas kaki kanan sambil bersandar dengan angkuhnya di atas sofa. Suara lantang wanita paruh baya tersebut membuat seorang anak laki-laki kecil bersembunyi di balik lemari kaca yang berada tak jauh dari tempat wanita itu duduk.


Di depan wanita paruh baya tersebut, ada seorang wanita muda yang cantik berusia dua puluh delapan tahun sedang bersimpuh di lantai dengan mata yang sembab akibat derasnya aliran airmata membasahi pipinya. Tangan kirinya menopang tubuh di lantai sedangkan tangan kanannya mengelus perut yang sedang buncit karena hamil.


“Tapi, Bu. Saya nggak kuat kalo Mas Ravi harus menikah lagi,” isak wanita muda yang sedang bersimpuh tersebut.


“Heh, Luna!” panggil wanita paruh baya tersebut dengan nada yang jijik. Sorot matanya menajam ke arah wanita muda yang sedang menangis tersebut.


“Kalo bukan karna anak saya, kamu nggak bakalan bisa hidup enak kayak gini!” ketus wanita paruh baya yang merupakan ibu kandung Ravi Ravindra, ayah dari Rain Ravindra.


“Huh! Dosa apa sih aku di masa lalu, sampai-sampai punya menantu tak tau diri begini!” sambungnya lagi sambil mendengus dengan kasar.


Anak laki-laki kecil yang sedari tadi bersembunyi di balik lemari, merupakan anak kandung dari Luna dan Ravi yang bernama Rain. Laki-laki kecil yang berusia lima tahun tersebut harus menahan pilu di hatinya saat melihat ibu yang ia cintai di caci maki oleh neneknya sendiri.


Anak kecil yang belum tahu apa-apa itu dipaksa semesta untuk melihat kejadian yang tak seharusnya ia lihat. Di usianya saat ini, dia seharusnya mengenal dengan baik apa itu cinta dan kasih sayang dari keluarga. Nyatanya, ia malah melihat apa itu kebencian dan penindasan.


...****************...


“Ma,” panggil Rain kecil dengan suaranya yang lucu. “Papa mau nikah lagi ya?”


Luna menelan salivanya. Wanita cantik tersebut terkejut mendengarkan pertanyaan polos dari anak semata wayang yang sedang duduk di sampingnya. Dari mana anak itu tahu bahwa ayahnya akan menikahi wanita lain?


“Ng-nggak. Papa ‘kan cinta sama Mama, Nak.”


“Terus, tadi kok Nenek bilang Papa mau nikah lagi?”

__ADS_1


Luna membungkukkan tubuhnya dengan susah payah agar dapat menatap wajah anak pertamanya itu. Ia membelai lembut pipi Rain. “Nggak, kok. Papa nggak mungkin mau. Soalnya Papa kamu cinta mati sama Mama.”


“Lagian, Rain juga bentar lagi bakalan punya adek,” sambung Luna sambil mengelus lembut perut buncitnya.


Rain yang saat itu tak tahu apa-apa, ia hanya menganggukkan kepalanya dengan senyuman yang polos. Lalu ia memeluk perut buncit ibunya sambil mencoba mendengarkan bunyi dari perut tersebut.


“Rain nggak sabar ketemu sama adek, Ma.”


...****************...


Malam itu, hujan begitu deras dengan dentuman petir yang saling menyambar. Waktu menunjukkan pukul sepuluh lewat tiga puluh menit. Saat itu, Luna terlihat sedang mondar mandir di balkon dengan gelisah sambil mengelus perutnya.


“Ma!” seru Rain. Anak berusia lima tahun tersebut berlari riang ke arah ibunya, lalu memeluk erat wanita yang ia cintai itu.


“Loh, kok belum tidur, Nak?” tanya Luna khawatir.


“Aku kangen adek, Ma,” ucap Rain sambil menciumi perut ibunya.


“Papa!” seru Rain girang saat melihat Ravi masuk.


“Kok Rain di sini, Ma?” tanya Ravi kepada Luna.


“Dia kangen adeknya,” jawab Luna sembari tersenyum. Wanita itu berjalan mendekati Ravi yang baru pulang.


“Balik ke kamar gih, Papa mau istirahat,” ucap Ravi dingin.


Raut wajah yang semula girang dan belum ngantuk itu dibuat suram akibat ucapan yang tak menyenangkan hatinya. Rain berjalan dengan malas dan wajah yang cemberut keluar dari kamar orangtuanya tersebut. Namun, saat ia ingin melangkah menuju kamarnya, langkah kaki anak kecil tersebut terhenti.


“Aku ‘kan belum di cium Mama,” gumamnya pelan.


Ia berbalik badan memegang gagang pintu.


“Mas, ini bekas lipstick siapa?!” samar-samar terdengar suara Luna yang bertanya dengan nada yang bergetar.

__ADS_1


Rain tak mampu menahan dirinya untuk tak mendengarkan percakapan antara kedua orangtuanya tersebut. Ia membuka pintu kamar dengan perlahan hingga menyisakan sedikit celah untuknya mengintip apa yang terjadi di kamar tersebut.


“Aduh, ini udah malam. Kamu nggak bisa ya biarin aku istirahat?” elak Ravi sambil melepaskan jam tangannya dan diletakkannya ke atas meja kecil samping ranjang.


Luna terlihat sedang mengendus-ngendus kemeja suaminya yang ada di tangan saat ini. “Aroma parfum wanita, Mas!”


Ravi terlihat malas mendengarkan istrinya yang sedang hamil tersebut. Ia merebahkan diri ke atas ranjang sambil meletakkan tangan ke atas dahi dan memejamkan mata.


“Mas udah buka hati ‘kan buat wanita itu?” tanya Luna dengan mata yang berkaca-kaca. “Bukannya Mas sempat nolak perjodohan yang di suruh Ibu?”


Merasa kecewa karena Ravi tak menggubrisnya, Luna duduk di sisi ranjang sambil menghadap ke arah Ravi yang sedang terlentang. Ia menggoyangkan tubuh suaminya dengan pelan. Sudut matanya perlahan menimbulkan buliran air bening yang berdesakan keluar.


“Aku nggak bakalan di madu ‘kan, Mas?” tanya Luna sambil terisak-isak.


“Argh!” Ravi menempik tangan istrinya yang sedari tadi menggoyangkan tubuhnya. Pria tersebut bangkit dari tidur dan memposisikan tubuhnya duduk menghadap Luna.


“Bisa nggak sih, sekali aja ngertiin aku?” kecam Ravi dengan sorot mata yang memerah menahan amarah.


“Ngertiin apa, Mas? Ngertiin Mas nikah lagi?” cecar Luna tak tahan. “Aku yakin, Mas juga udah tidur dengan wanita itu.”


“Soalnya tadi aku nanya ke sekretaris, Mas balik jam berapa. Katanya jam lima sore udah balik, tapi Mas sampai ke rumah udah larut malam,” sambungnya pilu.


Ravi menghela napasnya. Ia merasa terganggu dengan isak tangis istrinya itu, kepalanya dibuat pusing karena wanita itu mencecarnya malam-malam. Merasa muak dengan situasi yang ia hadapi, Ravi meluapkan semua emosinya saat itu juga ke wanita yang sedang mengandung anak keduanya.


Ravi meraih dagu Luna dengan kasar dan dicengkeramnya dengan kuat.


“Dengar!” suara lantang Ravi menggema di kamar tersebut. “Aku menikahimu karna cinta! Tapi cinta aja nggak cukup untuk masa depan bisnis ini! Kamu bisa apa selain ngasih aku cinta? Hah?! Harusnya kamu itu sadar diri! Udah tinggal hidup enak, malah jadi serakah!”


“Memangnya kenapa kalo aku tidur dengan wanita itu?! Aku ‘kan udah memberikan semua kemewahan untukmu!” sambung Ravi dengan lantang dan penuh penekanan, ia membuang wajah istrinya dengan keras.


...****************...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2