
...“Berterima kasihlah pada Miss A kalian, bukan pada ku. Karena tanpa dia, Leons tak akan ada dan aku tak akan pernah tersenyum.” - Alpha...
...🌸🌸🌸...
Setelah bergumul mesra selama beberapa ronde, Joey akhirnya terkapar lelah tak berdaya akibat kebringasan dan kebrutalan Rain. Pria itu benar-benar tak berperasaan saat menyetu.buhi gadisnya di siang itu. Benar ucap Joey, sejak kapan Rain Ravindra bercinta secara perlahan dan lemah lembut? Ck!
Meskipun telah melewati tiga pergumulan dan tiga semburan hangat ke dalam liang sempit milik Oleander-nya, pria itu tetap saja merasa masih kurang. Mungkin karena sudah lama ia tak menja.mah tubuh kesukaannya itu, apalagi tubuh milik Oleander-nya itu terukir dengan sangat indah.
Rain duduk dari tidurnya sambil membelai lembut kepala Joey yang sedang mimpi indah itu. Dikecupnya dengan lembut dan penuh kasih sayang dahi gadis tersebut.
“Haaa… aku selalu bahagia saat berada di sisimu,” gumam Rain lirih saat menatap lekat ke wajah polos gadisnya itu.
Kemudian Rain bangkit dari ranjangnya dan menyelimuti tubuh tak berbusana gadisnya itu hingga sebatas leher. Ia tak ingin ibu hamil tersebut kedinginan. Setelah menuruni ranjang, ia berjalan menuju kamar mandi dan bebersih diri. Selang beberapa menit kemudian, Rain keluar dengan rambut basah sambil mengenakan jubah mandi berwarna biru tua dengan dada bidangnya yang masih sedikit terekspos.
Ia berjalan menuju sofa yang berada tak jauh dari ranjang yang ditempati oleh Joey. Ada sekat antara ranjang dan sofa di ruangan tersebut yang dibatasi oleh lemari kaca yang berisikan minuman-minuman alkohol serta beberapa bingkai foto kecil yang berderetan dengan foto-foto Joey sejak ia kecil hingga dewasa kini.
“Ck! Mengancam menggunakan gadis kesayanganku, besar sekali nyalinya,” gumam Rain sambil tersenyum menyeringai. Ia merasa lega karena sebelum membawa Oleander-nya pergi meninggalkan Indonesia, ternyata Leons telah lebih dulu menemukan kejahatan mucikari yang disembunyikan oleh Shailendra Group.
Rain duduk di sofa tersebut sambil meraih ponselnya dan menelefon Brown untuk masuk ke ruangan tersebut. Selang beberapa menit kemudian, Brown mengetuk pintu dan masuk ke ruangan tersebut lalu duduk di depan Rain.
“Bos,” panggil Brown saat itu. “Sebelumnya saya sempat menyuruh Tim Utara untuk memantau pergerakan Shailendra Group. Mereka menyelundup narkoba melalui pelabuhan dengan dalih perdagangan export dan import tepung.”
“Ada beberapa foto yang sudah kami ambil.” Sambungnya sambil memberikan beberapa foto yang sudah di cetak di atas meja.
Rain meraih lembaran-lembaran foto tersebut dan melihatnya satu per satu.
__ADS_1
“Kami juga telah menemukan transaksi gelap yang mereka lakukan menggunakan rekening perusahaan dengan keterangan biaya operasional,” jelas Brown sambil memberikan beberapa lembar kertas yang menunjukkan transaksi keluar masuk Shailendra Group.
“Lima miliar?” ucap Rain sambil menaikkan alis kanannya saat melihat jumlah yang tertera di kertas yang ia pegang saat ini. “Memanga masuk akal biaya operasional sebesar lima miliar? Ck!”
“Sekaya apapun orang itu, nggak bakalan mau dia ngeluarin biaya operasional sebesar ini,” sambungnya lagi sambil terkekeh.
“Tim Selatan juga udah menyandera saksi sekaligus karyawan yang merupakan tangan kanan Pak Shailendra dalam mengurus segala hal terkait perdagangan wanita pekerja se.ks komersial,” jelas Brown lagi.
Rain menyandarkan tubuhnya ke sofa. Kedua tangannya menyeka wajah ke atas hingga ke rambut sambil menghela napas lega dengan kepala yang sedikit terangkat.
“Semua ini karna keberuntungan anakku,” gumamnya pelan.
Brown yang semula diam dan kaku, tiba-tiba saja terbelalak dan terkejut karena samar-samar mendengarkan apa yang dikatakan oleh Rain.
“Miss A hamil, Bos?” seru Brown girang. Wajahnya terlihat bahagia dan antusias.
“Wahhh!!! Ini kabar gembira untuk kami,” ucap Brown. “Apa saya boleh memberitahu Leons?”
“Ya, silahkan,” ucap Rain sambil mengambil rokok yang ada di atas meja. Kemudian ia mengeluarkan sebatang dan memagut rokok tersebut di bibirnya.
Brown hendak berdiri karena ingin membakarkan rokok Rain, tapi Rain menahan Brown dengan isyarat tangannya. Kemudian pria itu membakar rokoknya sendiri.
“Ada hal yang membuatku tak nyaman,” ucap Rain sambil menghembuskan rokoknya ke atas kemudian ia menatap ke arah Joey yang sedang tertidur pulas.
Brown diam dan menajamkan telinganya. Pria itu menunggu dengan seksama apa yang ingin dikatakan oleh Rain.
__ADS_1
“Anya menargetkan gadisku,” ucap Rain. “Dia juga mengirimkan seseorang untuk mengawasi kami berdua.”
Brown terbelalak. Tubuhnya menegap dengan sorot mata yang tegas. “Bos, berikan kami izin untuk melakukan kekerasan.”
“Selama ini Bos selalu menahan kami untuk mengancam atau melakukan hal yang di luar batas, sedangkan mereka sudah bertindak keterlaluan. Kami nggak bisa kalau sekedar memantau dan memantau. Semua yang kami lakukan tak akan meninggalkan jejak kotor untuk Bos,” sambung Brown tegas.
Rain menghela napasnya berat. “Aku hanya tak ingin menjadi pembunuh seperti pria tua itu.”
“Baiklah, kami tak akan membunuh, tapi kami akan menyiksa mereka secara perlahan dan menyakitkan,” tutur Brown lagi.
Pria bertubuh tegap dengan tato di sekujur tubuhnya itu merasa kesal karena selama ini Alpha mereka tak pernah memberikan izin untuk melakukan kekerasan. Bahkan ayah kandung Joey saja, mereka hampir membunuh pria itu, tapi Rain menahan mereka untuk tak melakukan hal yang kejam begitu.
Rain menghela napasnya berat dengan tatapan yang kosong. “Kalian bisa melakukan apapun untuk membantuku mendapatkan posisi CEO di Ravindra Group dan menjaga keamanan Miss A.”
Brown bergegas tegak dari duduknya. Ia berdiri dengan tegak kemudian membungkuk memberikan hormat pada Rain.
“Terima kasih, Bos! Kami akan melaksanakannya sebagai balas jasa dan budi Bos selama ini, walaupun kami tak pernah bisa membalas semua jasa Bos seutuhnya!” seru Brown girang.
Rain hanya tertawa kecil. Ia menggelengkan kepalanya saat mendengarkan ucapan Brown. Baginya, selama ini apa yang ia lakukan tulus tanpa pamrih, hanya mereka saja yang menganggap hal itu berlebihan. Lagi pula, ia melakukan hal berkat gadisnya juga. Jika empat belas tahun dulu ia tak menemukan Joey, mungkin Leons juga tak akan ada saat ini.
“B-Bos barusan ketawa?” Brown lagi-lagi dibuat tersentak kaget. Pasalnya pria yang selama ini menjadi Alpha mereka, tak pernah sekalipun tertawa. Jangankan tertawa, tersenyum saja tak pernah.
“Berterima kasihlah pada Miss A kalian, bukan pada ku,” gumam Rain lirih sambil tersenyum melihat ke arah Joey yang masih terlelap dengan sangat pulas.
“Karena tanpa dia, Leons tak akan ada dan aku tak akan pernah tersenyum.”
__ADS_1
...****************...
BERSAMBUNG…