
..."Di mana adanya perbedaan, di sanalah adanya chemistry. Karna kalo sesuatu itu selalu sama, gimana bisa tau kekurangan dan kelebihannya?" - Ace...
...βπ»βπ»βπ»...
"Hmm."
Rain berdehem mengiyakan pertanyaan Joey. Gadis itu semakin dibuat tak mengerti dengan kelakuan penuh teka tekinya.
"Istimewa gimana, Om?" tanya Joey tak mengerti.
Mendengar pertanyaan tersebut, Rain segera memasangkan seat belt, lalu ia memposisikan kembali tubuhnya lurus menghadap jalan. Pria itu tak mengatakan apa-apa setelah menambahkan teka-teki lagi kepada Joey.
Mobil yang mereka naiki melaju ke Rumah Sakit M di daerah Jakarta Selatan. Tatapan Rain fokus ke jalan, tak sekalipun ia berkata-kata atau bertanya selama diperjalanan, sedangkan Joey tak bisa berkata-kata karena sibuk memikirkan jawaban dari teka-teki yang tak kunjung terjawab. Bahkan sampai empat belas tahun lamanya.
Ting!
Ponsel Joey berbunyi, ada pesan masuk dari Ace.
^^^"Morning, My Choco!"^^^
^^^"Gimana malam tadi? Tidurnya nyenyak, 'kan?"^^^
"Morning, Latte!"
"Hmm ... tidurku nyenyak sampai aku lupa cuci muka."
^^^"Syukurlah, aku sempat khawatir kamu nggak bisa tidur."^^^
^^^"U know ...."^^^
__ADS_1
^^^"I miss My Choco."^^^
'Choco-Latte'. Itu adalah panggilan kesayangan mereka berdua. Joey sangat menyukai coklat, sedangkan Ace menyukai semua yang berhubungan dengan Latte.
...'Di mana adanya perbedaan, di sanalah adanya chemistry. Karna kalo sesuatu itu selalu sama, gimana bisa tau kekurangan dan kelebihannya?' ...
...'Kamu suka coklat yang manis dan aku suka latte yang pahit, kalo digabungin jadinya chocolatte.'...
...'Chocolatte itu kita.'...
...'Jadilah pacarku per hari ini, ayo kita belajar saling menyempurnakan kekurangan masing-masing dan bahagia bersama.'...
Tanpa terasa, Joey tersenyum simpul saat mengenang kembali kata-kata yang diucapkan oleh Ace saat kencan pertama mereka, yaitu hari di mana Ace meminta untuk menjadi pacarnya. Banyak hal-hal manis yang telah dilalui selama sebelas bulan ia menjadi pacar Ace.
"Siapa?" suara berat Rain tiba-tiba terdengar dingin. Ia dibuat penasaran saat sudut matanya melihat Joey yang sedang tersenyum bahagia membaca pesan yang ia terima.
"Ng-nggak. Bukan siapa-siapa."
...****************...
Setelah mendapatkan perawatan dan obat dari dokter, sore itu Joey dan Rain menuju jalan pulang. Namun, sebelum pulang, mereka singgah sebentar ke sebuah restoran cepat saji. Rain mengarahkan mobilnya ke jalan drive thru, membuat pesanan untuk dia dan Joey agar bisa di take away.
"Burger atau ayam?" tanya Rain tanpa menoleh ke arah Joey.
"Nuget!" seru Joey.
Rain tersenyum smirk saat Joey memilih opsi lain dari pilihan yang ia berikan. Ia langsung memesan makanan dan bergegas menuju ke apartemen.
"Om?" panggil Joey sambil menatap ke arah jalan.
__ADS_1
"Hmm."
"Ng ... mengenai syarat yang dulu Om katakan padaku. Aku nggak ngerti. Apa aku udah melakukan syaratnya dengan benar?"
Mendengar pertanyaan Joey, pria itu tersenyum setengah sambil memegang dagunya menatapi lalu lintas yang padat itu. Namun, dibalik senyumnya, batinnya mengatakan bahwa gadis itu benar-benar telah melakukan syarat yang ia berikan dengan benar. Bahkan gadis itu telah melakukan yang terbaik sampai ia tak dapat berkata-kata.
"Yaudah, kalo om nggak mau jawab. Aku bakalan cari tau lagi maksud Om apa." Joey berpendapat sendiri sambil mencebik. Dia benar-benar sudah sangat kesal menghadapi pria yang super duper dingin itu, namun tak dapat ia tunjukkan karena hutang budi.
"Om nggak pulang ke rumah? A-aku dengar, rumah Om nggak jauh dari tempat kita bertemu dulu."
"Ngusir?" tanya Rain datar.
"B-bukan. Aku nggak berhak, bahkan kalo diusirpun, orangnya adalah aku. A-aku hanya penasaran, kenapa Om lebih memilih di apartemen ketimbang pulang ke rumah orangtua."
"Ada beberapa hal yang buat saya nggak nyaman."
"Apa?" tanya Joey antusias, gadis itu duduk menghadap Rain. Meski pria itu tak menoleh ke arahnya sekalipun, ia tetap tak peduli. Baginya, Rain sudah seperti keluarga baginya. "Siapa tau, aku bisa ngasih solusi atau bantuin Om!"
"Bantuin saya?" tanya Rain tak percaya.
"Ha'ah!" Joey menganggukkan kepalanya.
"Jadi pacarku."
"Hah?!!!" Joey terbelalak saat Rain blak-blakan memintanya untuk menjadi pacar dari pria yang usianya terpaut empat belas tahun.
"Emangnya Om nggak malu pacaran sama anak kecil?" sindir Joey sambil mencebik.
"Maksudmu anak kecil yang udah bisa bikin anak kecil?" celetuk Rain.
__ADS_1
...****************...
BERSAMBUNG...