OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Nyonya Rain Ravindra


__ADS_3

..."Nggak ada pilihan lain! Aku harus memenuhi rahimmu dengan sel telurku sebanyak-banyaknya!" - Rain...


...🌸...


..."Kamu akan segera menjadi seorang ibu!" - Rain...


...🌸🌸🌸...


"Benar 'kan? Om yang serakah? Bukan aku?!" kecam Joey sengit. "Jadi, tolong bebasin aku!"


"And then? Kamu pergi ke pelukan Kale?!" tukas Rain yang tiba-tiba saja teringat bahwa Kale sedang mengincar bunga kesayangannya.


"Kalo iya kenapa?! Om dengan Anya ju-"


Rain bergegas me lu mat bibir merekah Joey dengan rakus dan kasar memotong pembicaraan gadis tersebut. Ia mendadak naik pitam saat gadis kesayangannya mengiyakan bahwa ia akan pergi ke pelukan lelaki lain. Amarahnya yang sempat mereda, kini mendadak meledak dan tak tertahankan.


Rain menyibak paksa gaus satin berwarna peach yang dikenakan oleh Joey, gaun tersebut terangkat ke atas hingga terpampang dengan jelas paha mulus milik gadis itu.


Meskipun Rain tak melepaskan ciumannya, ia dapat membelai dan meraba daging tebal yang tertutup oleh segitiga berwarna cream. Karena emosi dan nafsu yang bercampur menjadi satu, Rain membuka paksa segitiga berwarna cream tersebut sehingga terpampang dengan jelas daging tebal yang berbulu tipis terawat, lalu ia menyelipkan kedua jarinya di balik lipatan daging tebal tersebut.


Seketika, pria itu melepaskan bibirnya dan menyeringai dengan sangat mengerikan. "Baru ciuman, udah basah? Ck!"


Tanpa jeda, Rain memasukkan kedua jarinya ke dalam lobang basah tersebut dan mengobrak-abrik isinya dengan sangat kasar.


Bukannya nikmat, Joey kesakitan karena tindakan kasar tersebut. "Om... s-sa-sakit."


"Sakit?!" tanya Rain sambil menekan lebih dalam jarinya.


"Aakhh!!" pekik Joey tersentak sambil memejamkan matanya.


"Sakit?!!!" ulang Rain dengan lantang. "Masih mau pergi ke pelukan pria itu?!"


Joey tak berkutik. Seluruh tubuh gadis itu bergetar karena jari kasar Rain yang besar itu bergerilya di dalam lobangnya.


Rain melepaskan genggaman tangannya dari tangan Joey yang terikat tali pinggang, lalu ia menurunkan dengan paksa dress yang mempertontonkan dada indah milik gadis kesayangannya. Setelah dress tersebut diturunkan ke perut, terpampanglah dua bukit kenyal yang ranum dengan pucuk merah muda yang sudah mengeras. Rain bergegas melahap pucuk sebelah kanan sembari tangan kirinya memainkan, memutar dan memelintir pucuk sebelah kiri. Tak hanya itu, tangan kanannya masih sibuk mengobrak-abrik lobang milik gadis itu di bawah sana.


Joey tak henti-hentinya meringis menahan sakit sekaligus nikmat yang perlahan mulai berdatangan. Rasa sakit yang tadi sempat membuatnya meringis, kini perlahan berubah menjadi le ngu han yang merdu dan membuat junior Rain mendadak keras sehingga ingin segera dikeluarkan dari celana sempit dan sesak itu.

__ADS_1


"Om, pe-pelan-pelan," desis Joey. Gadis itu hanya bisa meliukkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan karena kedua tangannya yang terikat dan kakinya yang masih sakit karena terkilir.


Rain tak bergeming, ia masih sibuk menikmati aktifitasnya dalam men ja mah tubuh gadis itu. Sebaliknya, ia menggigit pucuk ranum gadis tersebut karena merasa kesal saat ia tiba-tiba teringat ucapan gadis itu yang akan pergi ke pelukan Kale.


"Aakhh!!!" Joey tersentak dengan tubuh yang bergetar hebat. Di saat Rain menggigit pucuk merah muda miliknya, di saat kedua tangan pria itu bergerilya di atas dan di bawah, di saat itu juga lah Joey mencapai kl i m aksnya.


Nafas Joey yang terengah-engah karena kesakitan yang bercampur menjadi satu dengan kenikmatan, membuat Rain tak tahan untuk sekedar bermain menggunakan tangan dan mulutnya. Ia bergegas membuka celananya, lalu dilempar ke lantai.


"Kalo kamu ke pelukan Kale," ucap Rain sambil membuka kedua paha gadis itu. "Apa kamu juga akan membuka pahamu selebar ini untuknya?"


Rain memposisikan tubuhnya di tengah-tengah kedua paha Joey yang terbuka dengan lebar. Ia menatapi lobang kecil yang dulunya tertutup oleh beberapa se la put dara, namun kini telah bolong akibat batang kerasnya yang besar menerobos masuk beberapa kali.


Rain memegang batangnya sudah mengeras sejak tadi, lalu ia mengarahkan batang tersebut ke lobang kecil milik gadis kesayangannya.


"Hemm? Jawab aku!" suara lantang Rain mengejutkan Joey yang masih terengah-engah menarik napasnya.


"Jadi, benar? Kamu akan melebarkan pahamu pada pria itu?" Rain menyeringai sambil terkekeh pelan. Ia menghela nafasnya dengan sangat kasar.


"Joey!" pekik Rain dengan penuh amarah.


"Ya! Aku akan melebarkan pahaku pada Kale!" sahut Joey yang juga membalas dengan suara yang lantang.


Sesaat setelah gadis itu mengucapkan bahwa ia akan melebarkan pahanya pada Kale, tanpa jeda, Rain langsung menusuk lobang tersebut dengan sekali hentakan yang keras dan kasar.


"Hahaha... dasar pe la cur!" umpat Rain sambil mulai menggerakkan tubuhnya maju mundur ke depan dan kebelakang.


Perlahan, aktifitas maju mundur tersebut menjadi semakin kencang dan membabi buta. Keringat yang mulai bercucuran di tubuh pria itu, tak sedikitpun membuatnya lelah dan ingin berhenti. Sebaliknya, ia semakin bersemangat dengan nafas yang memburu. Sesekali ia menghentakkan tubuhnya ke depan dengan sangat kuat sampai-sampai tubuh gadis itu dibuat kejang dengan mata yang mendelik ke atas.


"A-aku... a-aku mau ..." nafas Joey mulai tersengal-sengal.


"Mau apa? Mau keluar?! Hmm?" ucap Rain sambil kedua tangannya meraih kedua gunung sintal gadis tersebut dan me re mas nya dengan kasar.


"Keluar! Ini yang kedua kalinya 'kan?!" sambung Rain sambil mempercepat tempo gen-jo tannya.


"R-Rain... aakhhhhh!!!" pekik Joey dengan tubuh yang mengejang dan bergetar hebat. Ia mencapai kli m ak s lagi gara-gara perlakuan pria itu.


"Enak?" tanya Rain sambil berhenti membiarkan batangnya merasakan de nyutan-de nyutan hebat yang diberikan oleh lobang milik gadis kesayangannya. "Aku akan memberikannya setiap hari, jadi kamu nggak usah pergi dariku."

__ADS_1


"A-aku... haaah... hahh... tetap ingin... haahh... bebas!" ucap Joey dengan nafas yang terengah-engah.


"Sial!" umpat Rain. Pria itu kembali dibuat kesal karena gadis kesayangannya tetap ingin pergi darinya.


Rain mulai memaju mundurkan tubuhnya. Kini semakin kencang dan sering dihentakkannya dengan kuat. Tangan kiri Rain me re ma s kasar bukit sintal milik Joey, sedangkan tangan kirinya meraih kasar dagu gadis itu dan dicengkramnya dengan kuat.


"Nggak ada pilihan lain! Aku harus memenuhi rahimmu dengan sel telurku sebanyak-banyaknya!" ucap Rain dengan wajah yang bengis, sorot matanya tak ada sedikitpun belas kasih dan kehangatan.


"Aakhh... m-maksud... mmhh.... Om?" tanya Joey sambil men de- sah dan me-le nguh.


"Kamu akan segera menjadi seorang ibu!" ujar pria itu sambil melepaskan cengkraman kasarnya dari dagu gadisnya.


Kedua tangan Rain kini memegang kedua pinggul gadis tersebut dengan kuat. Lalu ia mulai mengge n j0t tubuh gadis tersebut dengan sangat cepat.


"Om jangan becanda!" pekik Joey di sela-sela kenikmatan yang diberikan oleh pria itu.


"Aku tak pernah becanda." Gumam Rain dingin sambil mendongak ke atas, memejamkan matanya menikmati henta kan demi hen ta kan yang ia berikan pada lobang gadis itu.


"Aku masih muda, Om! Masa depanku masih panjang!" protes Joey dengan mata yang memanas.


"Masa depanmu ada di tanganku," lirih Rain pelan.


Rain mulai mempercepat gen j0 tannya, ia membiarkan kepalanya mendongak ke langit-langit dengan mata yang terpejam dengan nafas yang mulai memburu dan terdengar kasar.


"A-aku.. aku mau ke- aaakhhhhhh!!!!" pekik Rain saat ia merasakan tubuhnya bergetar hebat dengan kenikmatan yang meledak dan menyembur dari batang kerasnya membasahi lobang gadis itu.


Di saat yang sama, Joey berteriak meronta-ronta memohon agar pria itu tidak melakukannya, "aakhh... akhh... j-jangan, Om, kumoh- akh... hon..."


Namun sia-sia, tak ada gunanya Joey memohon pada pria itu, karena semburan-semburan cinta sudah masuk dan membasahi rahimnya.


Rain tergeletak di atas tubuh Joey dengan nafas yang terengah-engah dan tubuh yang lemas. Ia sengaja tak mencabut batangnya keluar. Sebaliknya, ia membiarkan batang tersebut di dalam menikmati denyu tan-denyu tan cinta yang masih bergetar dengan hebat di dalam sana.


"Om... hiks.. hikss... hiksss..." Joey menangis tersedu-sedu membayangkan masa depannya jika nanti ia hamil dan menjadi seorang ibu muda.


"Aku akan bertanggung jawab, tenanglah dan ..." ucap Rain pelan sambil mengusap lembut kepala gadis kesayangannya, "siapkan dirimu, karena sehari ini aku tak akan berhenti menyemburkan semua lahar ku ke dalam sana. Aku akan membuat rahimmu kenyang dengan semua sel-sel telur milikku."


"Posisi Nyonya Rain Ravindra, hanya untukmu." Sambungnya.

__ADS_1


...****************...


BERSAMBUNG...


__ADS_2