
...“Kenapa Zayn menjadi tergila-gila padamu? Bukankah seharusnya kamu yang tergila-gila padanya?” – Rain...
...🌸🌸🌸...
“Aku berangkat dulu ya, Sayang.”
Harry mengecup lembut dahi istrinya. Ia juga tak lupa mengecup sembari membelai lembut perut Zea yang membuncit itu.
“Hmm. Hati-hati di jalan ya, Om.” Zea tersenyum ke arah Harry, suaminya.
Setelah merasa mesra-mesraannya cukup, Harry dan Zea keluar dari kamar tidur yang ada di penthouse milik Joey dan Rain. Namun, di saat yang sama juga, Joey dan Rain terlihat sedang berciuman di depan pintu lift.
“O-Om …” Joey mendadak malu saat menyadari Harry dan Zea keluar dari kamar. Spontan ia mendorong tubuh suaminya sehingga Rain sedikit terdorong ke belakang.
Rain tak berekspresi apapun. Ia terlihat santai dan sedikitpun tak merasa malu. Mungkin, karena selama ini ia sudah berbaur dengan kehidupan bebas di luar negri.
“Ya udah. Aku berangkat dulu. Kamu dan Zea di rumah aja, ya?” tutur Rain sambil membelai lembut pipi Joey.
Joey mengangguk mengiyakan ucapan suaminya.
...****************...
“Pak,” Harry mengendarai mobil sambil memanggil Rain. Ia melihat Rain dari kaca spion dalam mobil. “Apa nggak apa-apa kalau kita nggak pergi jenguk Pak Ravi?”
“Biarkan saja dia mati,” celetuk Rain malas sambil menatap fokus ke arah layar tabletnya.
Mendengarkan hal tersebut, Harry hanya diam dan tak lagi berani berkata apa-apa. Ia tak ingin melewati batas dalam berbicara bahkan memberikan saran pada Rain. Karena, walau bagaimanapun, statusnya saat itu bukan siapa-siapa untuk ikut campur dalam urusan keluarga orang lain.
Tak membutuhkan waktu lama, kini mereka telah tiba di kantor. Rain dan Harry bergegas menaiki lift dan bergegas menuju ke ruangannya.
__ADS_1
“Sara?”
Rain terkejut saat melihat sosok wanita yang sudah berada di sofa ruang tunggu yang ada di depan ruangannya.
“P-Pak … maaf tadi saya udah bilang ke Bu Sara untuk buat janji dulu. Tapi-“
“Nggak apa-apa. Lanjutkan pekerjaanmu,” potong Rain.
Rain dan Sara masuk ke dalam ruangan. Sedangkan Harry dan wanita yang merupakan asisten sekretaris tadi menuju ke tempat duduk masing-masing untuk melanjutkan pekerjaan.
“Jelaskan, apa yang terjadi?” Sara bertanya sambil duduk ke atas sofa sambil menatap Rain. Ia menyilangkan tangan dan kakinya dengan wajah yang suram.
“Ck!” Rain berdecak sambil duduk ke atas sofa tepatnya di depan Sara.
“Sara … Sara …” gumam Rain sambil menyeringai. “Yang seharusnya bertanya itu aku.”
Sara tertawa mendengarkan ucapan Rain. Ucapan pria itu tak salah. Tapi, ia pun tak tahu kenapa Zayn sampai segila itu.
“Apa … jangan-jangan Zayn mencintaimu?” celetuk Rain sambil menyipitkan matanya ke arah Sara.
“Hahahaha! Cinta?!” Sara menekankan kalimat ‘cinta’ sambil menatap ke arah Rain dengan tatapan yang tak percaya. “Nggak mungkin! Memangnya cinta bisa secepat itu?”
“Aku memang mencintainya. Tapi cinta itu ada sudah sejak lama. Sedangkan dia? Belum sebulan. Nggak mungkin itu cinta. Yah … palingan juga dia mau menikahiku karena terobsesi dengan perusahaan. Kan dia akan menjadi CEO Ravindra?”
“Nggak. Dia menyerahkan posisi CEO padaku.” Ucap Rain santai.
“Apa?!” Sara langsung terbelalak kaget. Ia menatap ke arah Rain dengan tatapan tak percaya.
“Sudahlah. Untuk apa dipikirkan? Bukankah rencanamu jadi semakin mulus? Kamu juga nggak perlu berusaha keras untuk membuat Zayn menikahimu, ‘kan?” kata Rain dengan santai.
__ADS_1
Drrttt… Drrtttt…
Ponsel Sara bergetar. Ia langsung merogoh tas sandangnya dan mengambil benda pipih yang saat itu bergetar.
“Halo, Pah.”
^^^“Zayn di rumah. Dia melamarmu. Pulanglah.”^^^
“Hah?!” Sara langsung berdiri dari duduknya. Matanya terbelalak dan membulat dengan sempurna.
“Pah. Jangan becanda deh. Ini tuh masih pagi, Pah.”
^^^“Loh, kok Papah becanda sih, Sayang?”^^^
^^^“Udah, pokoknya kamu pulang sekarang. Nggak enak biarin Zayn nunggu lama-lama.”^^^
Sara memutuskan panggilannya. Kemudian ia menatap ke arah Rain yang saat itu sedang tersenyum dengan lebar.
“See?” ucap Rain sambil menaikkan kedua alisnya. “Sepertinya bocah itu benar-benar mencintaimu.”
“Pergilah. Aku berharap pernikahan kalian segera dilaksanakan dan ayo kita akhiri sandiwara ini. Karena hari ini juga aku akan melakukan konferensi pers.”
...****************...
BERSAMBUNG…
...****************...
__ADS_1