OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Perawan Tua


__ADS_3

..."Hmm... tak masalah. Aku hanya kasian kamu menjadi perawan tua dan tak menikmati panasnya bercinta di atas ranjang." - Zayn...


...🌸...


..."Aku sangat mencintainya ... sampai-sampai rasanya seperti mimpi bahwa ia ada di depanku saat ini" - Sara...


...🌸🌸🌸...


Siang itu, di sela-sela kepadatan lalu lintas di kota Jakarta, Zayn dan Sara terjebak di sana. Keduanya berada di dalam mobil dengan canggung dan tak lagi berbicara setelah Sara mengatakan bahwa itu urusannya dipuaskan atau tidak oleh Rain. Tapi, entah kenapa Zayn merasa terusik.


"Aku bisa memuaskanmu," tutur Zayn blak-blakan. Sorot mata pria itu menatap lurus sambil memegang stir mobil.


"Hahaha... Mas Zayn jangan becanda deh," balas Sara yang diam-diam memancing Zayn untuk lebih terobsesi padanya.


"Aku serius," tukas Zayn sambil menatap ke arah Sara.


"Tapi ... aku 'kan bakalan nikah sama Mas Rain," lirih Sara sambil membuang mukanya ke arah kiri menatap ke luar jendela mobil.


"Hmm... tak masalah. Aku hanya kasian kamu menjadi perawan tua dan tak menikmati panasnya bercinta di atas ranjang," ucap Zayn tanpa rasa malu.


Sara menyeringai tanpa sepengetahuan Zayn. Dalam hatinya saat ini, ia benar-benar kegirangan. Seolah-olah semesta mendukungnya untuk mendapatkan pria yang ia sukai sejak lama itu. Entah kenapa jalannya untuk mendapatkan pria itu terasa begitu mulus.


"Tapi-"


Zayn memegang paha Sara sehingga wanita itu tak melanjutkan ucapannya. Lalu ia menatap Sara dengan tatapan yang serius. "Nggak akan ada yang tau selain kita berdua."

__ADS_1


"Lagi pula, Mas Rain nggak bakalan nyentuh kamu, karna dia begitu tergila-gila dengan istrinya sekarang." Imbuh Zayn membuat Sara percaya dan mendengarkan ucapannya.


"A-aku nggak berpengalaman," Sara memasang wajah yang takut. "Lagi pula ... a-aku malu dan nggak berani berbuat sejauh itu."


"Aku yang akan menuntunmu," ucap Zayn meyakinkan. "Atau, begini saja."


"Kita ke hotel dulu, nanti kalau kamu berubah pikiran, kamu bisa langsung pulang," imbuhnya.


Sara mengangguk pelan. Melihat Sara mengiyakan apa yang ia katakan, Zayn langsung tersenyum miring. Kemudian ia menancap gas melaju ke hotel terdekat.


Selang beberapa menit kemudian, akhirnya mereka tiba di lobby. Zayn bergegas turun dari kursi kemudinya dan membukakan pintu untuk Sara. Kemudian, ia memberikan kunci mobilnya kepada petugas valet untuk memarkirkan mobilnya.


"Ayo," panggil Zayn kepada Sara yang saat itu duduk di sofa yang berada di dekat resepsionis.


Sara menghampiri Zayn dan berjalan berdampingan dengan pria itu. Kemudian mereka menuju lift untuk ke kamar.


"Haaa... aku gugup sekali. Walaupun aku menginginkannya, tetap saja ini membuat jantungku berdebar," lirih Sara dalam hati.


"Apa kamu takut?" tanya Zayn sambil memegang pinggul Sara.


Wajah Sara memerah sambil ia tertunduk malu. Jantungnya terus berdebar dengan kencang. Rasanya ingin meledak saat itu juga saat Zayn menatapinya. Meskipun ia tahu tatapan pria itu hanya sebatas nafsu dan bukan cinta, ia tetap berdebar.


"Se-sepertinya ... lain kali saja," Sara semakin menunduk malu.


"Pernah ciuman?" tanya Zayn penasaran. Tapi menurutnya wanita itu sudah pasti pernah berciuman. Hal lazim seperti itu tak mungkin tak ada yang belum mencobanya.

__ADS_1


"Belum pernah," jawab Sara pelan. Wajahnya merona dan memerah.


Zayn terbelalak kaget. Namun ia cepat-cepat mengembalikan kesadarannya.


"Apa kamu mencintai Mas Rain?" tanya Zayn sambil menarik tubuh Sara ke depan dan mendempetkan tubuh mereka berdua.


Sara menggeleng pelan.


"Lalu, apa ada pria yang kamu cintai?" tanya Zayn sambil memegang dagu wanita itu dan mengangkatnya ke atas menghadap ke arahnya.


Sara menatap kedua bola mata Zayn. Pupil matanya membesar dan ketegangan di wajahnya mulai menghilang. Sara menjawab pertanyaan Zayn dengan suara yang lirih namun penuh penghayatan.


"Ya. Ada seorang pria yang aku cintai."


"Kalau begitu ..." Zayn mendekatkan wajahnya ke wajah Sara. Kemudian ia berbisik dengan suara yang menghanyutkan. "Anggap aku sebagai pria yang kamu cintai."


"Bayangkan ... yang ada di depanmu saat ini adalah pria yang kamu cintai."


Sara menatap lekat ke arah Zayn. Tatapannya yang penuh cinta. Rasanya, seperti ada kupu-kupu yang sedang bermain-main di perut Sara, sehingga ada perasaan menggelitik yang membuatnya senang dan berdebar.


"Hmm ... aku mencintai pria ini," lirih Sara pelan. Kemudian ia melingkarkan kedua tangannya ke leher Zayn. Perlahan, ia memejamkan matanya dan menempelkan bibirnya ke bibir Zayn.


"Aku sangat mencintainya ... sampai-sampai rasanya seperti mimpi bahwa ia ada di depanku saat ini," imbuhnya penuh penghayatan.


Zayn terbelalak kaget. Rasanya ada sesuatu yang berdebar kencang tepat di dadanya. Tapi ia menempik perasaan itu karena sadar bahwa saat ini, Sara sedang membayangkan seorang pria yang ia cintai. Bukan dirinya yang sedang berada di depan Sara.

__ADS_1


...****************...


BERSAMBUNG...


__ADS_2