
..."Beli semuanya sekarang dan jadikan Joey Ainsley sebagai pemilik saham tersebut." - Rain...
...🌸🌸🌸...
"Kamu sempat jatuh kemaren dan kamu juga stress berat," jelas Rain. "Itu berakibat fatal buat janinnya."
Joey hanya diam. Entah ini sesuatu hal yang tepat atau bukan, yang jelas dia tak melahirkan seorang anak di luar nikah. Dan jika dia ingin melanjutkan kariernya sebagai penyanyi, setidaknya tak ada kabar miring tentangnya. Bukankah itu yang ia inginkan sebelumnya?
Rain mencium tangan kiri Joey sambil mengusapnya pelan. Ia menatap nanar ke arah Joey. "Nanti kita bikin lagi. Hmm?"
"Sekarang, kamu harus menenangkan diri dulu dan kita akan ke Bali."
Joey langsung menatap ke arah Rain. "Bali?"
"Hmm... Bali," jawab Rain. "Kamu pengen ke sana 'kan?"
Joey mengangguk pelan. "Kan selama ini Om nggak bolehin aku pergi keluar kota?"
"Karna selama ini kamu mau pergi tanpa ku," jawab Rain singkat. Ia tak peduli bahwa apa yang ia lakukan selama ini termasuk posesif atau over protektif. Yang jelas, gadis itu harus selalu berada di bawah pengawasannya.
"Dasar," kutuk Joey sambil tersenyum. Meskipun sifat pria dewasa itu menyebalkan, entah kenapa ada sisi yang menghangatkan hati. Pasalnya, selama ini ia tak pernah mendapatkan kehangatan seperti ini.
"Om..." panggil Joey.
"Hmm?"
"A-ayahku," ucap Joey terbata-bata. "D-dia ...."
"Jangan banyak pikiran," ucap Rain sambil membelai lembut pipi Joey yang sedang terbaring lemah itu.
"Aku janji, kamu nggak bakalan ketemu dia lagi," sambungnya.
Joey menghela napas lega. Sebenarnya ada rasa sebak di dada mengingat bahwa ayah kandungnya sendiri begitu kejam padanya. Ia pikir, selama empat belas tahun ini pria itu akan berubah dan insaf. Tapi ternyata tidak sama sekali.
"Te-terus, gimana dengan A-"
"Mungkin udah mati," potong Rain tanpa ekspresi.
"Hah?!!!" Joey terkejut dan terbelalak. "Om nggak bunuh orang 'kan?"
Rain nyengir sambil menghela napasnya. "Leons yang mengatasinya."
__ADS_1
"Gi-gimana nanti ... kalo Om ketangkep? Terus aku sendiri?"
"Nggak, Sayang." Rain kembali mengecup tangan Joey. "Leons udah terlatih dan masa lalu mereka cukup menakutkan daripada yang kamu bayangkan."
"Sekarang, kamu istirahat dulu dan jangan banyak pikiran ya," sambungnya lagi.
Lagi-lagi Joey mengangguk pelan mengiyakan perkataan Rain. Ia juga sedang tak punya tenaga untuk terlalu banyak berfikir, pasalnya seluruh tubuhnya termasuk pikirannya sedang lelah. Kejadian tadi malam masih saja berkelebat di ingatannya.
...****************...
Dua hari berlalu. Joey akhirnya pulang dari rumah sakit. Kini mereka berdua sedang berada di penthouse Hotel Nerium Oleander. Joey bergelayutan manja di lengan pria dewasa yang ia cintai. Mereka duduk di ruang tengah sambil menghidupkan televisi.
"Selamat siang pemirsa, dikabarkan bahwa putri tunggal Shailendra Group kabur dan menghilangkan diri akibat kasus penyelundupan narkoba serta terlibat juga dalam kasus prostitusi terbesar di Indonesia. Pak Shailendra yang merupakan pemilik dari Shailendra Group kini di tahan bersama sang istri akibat dua kasus ini. Berdasarkan undang-undang RI, mereka akan dikenakan hukuman mati atau hukuman seumur hidup."
Joey terperangah mendengarkan dan menyaksikan berita pada sore itu. Pasalnya, Rain mengatakan bahwa Anya mungkin saja sudah mati. Tapi kenapa diberita mengatakan bahwa wanita tersebut melarikan diri?
Joey menoleh ke arah Rain yang sedang memperhatikan tabletnya. Terlihat grafik saham yang ada di layar tablet tersebut.
"Om?" panggil Joey sambil melihat ke arah Rain. Pria itu terlihat sedang memegang dagunya seperti sedang berfikir.
"Hmm?" dehem Rain mengiyakan tanpa menoleh ke arah gadisnya.
"Kok Anya melarikan diri?" tanya Joey penasaran.
"K-kasian sih sebenarnya," keluh Joey pelan.
"Kasian gimana? Dia aja nggak kasian sama kamu," jawab Rain lagi.
Rain meraih kepala Joey dari samping, lalu ia mengecup lembut dahi gadis itu sambil maganya masih menoleh ke arah tablet.
"Inget, kamu nggak boleh banyak pikiran." Sambungnya.
"Iya, Om."
Joey meraih remote televisi di atas meja kaca yang ada di depannya. Gadis itu memencet tombol untuk mengganti siaran. Hampir seluruh siaran televisi sibuk memberitakan kasus yang dihadapi oleh Shailendra Group. Banyak yang tak menyangka bahwa Shailendra Group yang terkenal dengan citra yang baik ternyata memiliki dua kasus yang sangat membahayakan. Terlebih lagi, Anya Shailendra yang terkenal ramah dan anak baik-baik, ternyata ikut serta dalam kasus prostitusi. Bahkan wanita yang merupakan anak tunggal Shailendra Group itu juga menjual dirinya ke beberapa petinggi-petinggi guna mendapatkan keuntungan.
Drrttt Drtttt...
Ponsel Rain yang berada di atas meja kaca bergetar. Rain yang sedari tadi sibuk menatap tabletnya, kini mengalihkan fokusnya ke ponsel yang bergetar. Harry sedang memanggilnya.
"Halo."
__ADS_1
^^^"Sore, Pak."^^^
^^^"Saham Shailendra sedang turun drastis saat ini."^^^
"Hmm. Aku juga memperhatikannya sejak tadi."
"Beli semuanya sekarang dan jadikan Joey Ainsley sebagai pemilik saham tersebut."
Joey yang sibuk menatap televisi sedari tadi, dibuat terperangah dengan apa yang dikatakan oleh Rain melalui ponsel tadi. Bagaimana bisa pria itu membeli semua saham Shailendra Group lalu menjadikannya sebagai pemilik saham. Berarti, secara tidak langsung pria itu menjadikannya sebagai pemilik dari Shailendra Group?
Joey menoleh ke kiri ke arah Rain yang sibuk menatap grafik saham di tablet sambil menerima panggilan dari Harry. Pria itu lagi-lagi meraih kepala Joey tanpa melihat ke arah gadis itu. Sebuah ciuman kasih sayang mendarat di kepala Joey meski Rain tak melihat Joey.
"Hmm. Pokoknya kamu urus aja," tutur Rain kepada Harry. Kemudian panggilan tersebut selesai.
"Om," panggil Joey tiba-tiba. Mata gadis itu menyiratkan berbagai pertanyaan yang membuat ia penasaran dan ingin segera mendapatkan jawaban.
"Yes, sweetheart," jawab Rain sambil meletakkan tablet dan ponselnya ke atas meja kaca. Kemudian ia menoleh ke arah Joey dan meraih kedua tangan Joey.
"Maaf aku mengabaikanmu sejak tadi," sambungnya sambil mengecup lembut jari manis Joey di mana ada cincin yang ia sematkan di sana.
"Tadi ... yang Om bicarakan dengan Om Harry," tutur Joey ragu-ragu.
"Oh... iya soal itu," jawab Rain sambil mengangkat alis kanannya. "Anggap saja itu deposit dariku untuk menjadi suamimu."
"Hah?!" Joey dibuat tak mengerti dengan ucapan pria itu.
"Ntar ganti nama Shailendra Group jadi Ainsley Group," jelas Rain. "Aku akan membuatmu menjadi gadis muda yang kaya."
"Jadi, tak akan ada gosip miring saat kita menikah," sambungnya lagi sambil tersenyum.
"Tapi, Om. Aku nggak ada pengalaman apa-apa," jelas Joey.
"Tenanglah, kamu cukup belajar perlahan-lahan. Sementara kamu bisa, aku akan mengurusnya dengan baik," ucap Rain sambil membelai lembut pipi Joey.
"T-tapi ... ini terlalu berlebihan."
"No. Setelah kita menikah nanti, seluruh hartaku juga akan menjadi hartamu," tutur Rain dengan tatapan yang hangat dan penuh cinta. Ia benar-benar mengerahkan seluruh yang ia bisa untuk gadis yang ia cintai tersebut.
Joey hanya bisa menghela napas panjang. Ia merasa hidup yang ia jalani sekarang benar-benar seperti seorang Cinderella di zaman modern. Pasalnya, pengemis jalanan yang tak punya apa-apa selain kenangan pahit, kini dipertemukan dengan seorang pria tampan dan kaya raya. Lalu pria tersebut tak hanya memberikannya harta yang berlimpah ruah, pria itu bahkan memberikannya cinta dan ketulusan yang tak dapat diuangkan saking mahalnya dan sangat bernilai.
...****************...
__ADS_1
BERSAMBUNG...