
..."Sial! Aku jadi binatang buas saat menikmati tubuhnya!" - Rain...
...🌸🌸🌸...
"Om!"
Wajah gadis muda yang sudah tak berdaya itu terlihat merona kemerah-merahan menahan malu. Ia menutupi semak belukarnya menggunakan kedua tangan mulusnya, namun Rain bergegas memindahkan tangan tersebut. Pria itu mengunci kedua tangan Joey ke atas menggunakan tangan kirinya.
"Tenanglah, aku hanya merekam pemandangan indah yang akan segera ku hancurkan," ucap Rain dengan nafas yang menderu.
"Lingerie ... bagaimana dengan lingerie?" tanya Joey polos.
"Persetan dengan lingerie, kamu bisa memakainya lain kali," ucap Rain. Tak ingin gagal lagi, pria itu tak lagi peduli dengan lingerie, baginya, saat ini Joey sudah terlihat seksi dengan daster maroon yang tersingkap hingga ke atas dada.
Rain mendadak menelan salivanya membayangkan miliknya yang besar dan perkasa itu akan menerobos benteng kecil dan sempit itu. Pastinya benar-benar nikmat, pikir Rain nakal.
"R-Rain ... tenanglah."
Rain tersentak kaget saat Joey tiba-tiba memanggil namanya. Gadis muda itu benar-benar mebmberinya lampu hijau!
"Sial!" geram Rain.
Tanpa berlama-lama, pria dewasa itu bergegas mengarahkan miliknya menuju jalan yang lembab, hangat dan sempit itu. Karena tak kuasa menahan gejolak yang sudah di ubun-ubun, pria itu mulai menerobos benteng pertahan yang sudah di jaga selama delapan belas tahun oleh gadis itu.
"Aakkk!!!" pekik Joey sambil tubuhnya tersentak. Meskipun belum setengah yang masuk, tapi sosis milik pria itu berukuran besar melebihi rata-rata pria Asia. "S-sakit ... hikss.. hiks.. hikss...."
Tanpa terasa, airmata mulai mengalir dari sudut mata gadis muda itu. Tubuhnya yang menegang karena kaget menahan sakit terhadap benda asing yang memaksa menyatu dengan dirinya. Kedua tangan gadis itu mencengkram dan me re mas dengan kuat sprei di ranjang tersebut hingga acak-acakan.
"Terima kasih ... Oleander," gumam Rain dengan tatapan yang sangat dalam.
__ADS_1
Sambil membiarkan benteng kokoh tak terjamah itu terbiasa dengan kehadiran tamu asing yang memaksa masuk, Rain mendekatkan wajahnya ke arah wajah Joey. Dike cupnya dengan hangat sudut mata gadis itu.
"Tenanglah, aku tak akan menyakitimu, sebentar lagi, kamu akan menikmatinya," bisik Rain menenangkan Joey dan melepaskan cengkraman tangannya dari kedua tangan Joey.
Namun kini, kedua tangan Rain mulai melakukan tugas seharusnya. Perlahan, tangan kanan mengelus-elus lembut kepala gadis itu, sedangkan tangan kirinya, memberikan pijatan refleksi pada bukit kenyal milik gadis itu. Bukan hanya tangan, bibir Rain juga memiliki tugas menge cup lembut bibir merekah Joey agar gadis itu menjadi tenang dan terbuai dengan aksi panasnya.
Beberapa detik kemudian, setelah Joey cukup tenang, Rain mulai menggoyangkan tubuhnya maju mundur agar miliknya dapat berpesta pora menikmati kehangatan yang sempit dan basah itu.
"R-Rain ... i-ini aneh."
"Aneh kenapa, Sayang?" tanya Rain dengan nafas yang terengah-engah.
"A-aneh. A ... a-aku nggak pernah ... ngerasain ... hal seperti ini ... sebelumnya."
"Benar, hanya denganku kamu boleh melakukan dan merasakannya," ucap Rain sambil memijat bukit kenyal Joey dengan bringas.
Joey. Gadis yang tadinya terisak-isak karena tangis menahan sakit, kini suaranya berubah menjadi terisak-isak karena le nguh an - le nguh an ke nikma tan. Terkadang ada saat di mana gadis itu tersentak kaget saat Rain menghentakkan miliknya dengan keras.
...****************...
Setelah melewati tiga ronde tanpa henti, Joey akhirnya kelelahan dan tak mampu bergerak di atas ranjang. Wajah lelah gadis itu, membuat Rain melebarkan senyumnya, ditatapnya dengan seksama wajah gadis yang sedang lelap di sisinya saat itu. Pria itu menghadap Joey dengan tangan kanan yang menopang kepalanya.
"Sepertinya ini belum cukup," gumam Rain sambil membelai lembut pipi Joey. Dada gadis itu terlihat naik turun karena nafasnya yang teratur saat tidur.
"Joey," panggil Rain lembut. Pria itu mencium tulang selangka yang indah itu, lalu ia melirik jam dinding telah menunjukkan pukul 11 siang. "Ku rasa, ini belum cukup. Tapi kita belum sarapan, sekali lagi ya?"
Rain mencium setiap inci dari kulit mulus gadis itu, bibirnya menyusuri da da indah sambil tangannya tak henti-hentinya bergerilya di goa tersembunyi di balik selimut tebal yang menutupi tubuh gadisnya.
"O-Om ...." Joey tersentak dan tersadar dari tidurnya karena ulah Rain. Tubuh yang sudah remuk karena mengikuti permainan pria dewasa itu berkali-kali.
__ADS_1
"Mmm ... a-aku lapar," ucap Joey lirih disela-sela de sa hannya.
"Sekali lagi, setelah itu kita pergi sarapan."
"I-itu 'kan makan siang, udah bukan sarapan, Om!"
Rain tak mengindahkan gadis tersebut, ia malah menaiki tubuh gadis tersebut dan kembali menggagahinya. Joey terisak-isak, tubuhnya tersentak bahkan menegang berkali-kali saat ia mencapai *******.
"A-aku ... aku mau ke-," Kurang lebih beberapa menit pergumulan mereka, Rain akhirnya mencapai puncaknya. "Akhhh!!!!"
Tubuh kekar Rain akhirnya ambruk ke atas tubuh gadis itu dengan nafas yang terengah-engah. "I love you ... haaa... haaa... i really love you!"
Joey tak berkutik dan tak menanggapi ucapan Rain. Pikirnya, mungkin gadis itu tertidur karena kelelahan.
...****************...
Waktu menunjukkan pukul dua belas siang. Rain bangkit dari tidurnya, pria itu memposisikan tubuhnya duduk menghadap ke arah Joey yang masih tertidur pulas.
"Sayang, yuk mandi, kita pergi makan."
Tak mendapat respon dari gadis yang tertidur nyenyak tersebut, Rain berniat memegang pipi gadis tersebut agar ia bangun.
"Hah?!" Rain terkejut saat mendapati pipi Joey panas. Ia mencoba mengecek setiap suhu tubuh gadis yang sejak tadi tak bergeming. Panas. Gadis itu sedang demam, dan bukankah tadi dia bilang bahwa dia lapar.
"Sial! Aku jadi binatang buas saat menikmati tubuhnya!" umpat Rain saat itu. Ia kembali diingatkan bahwa kemaren, terakhir kali mereka makan adalah sore saat di hotel. Setelah itu, malamnya mereka ke mall dan dia mengantarkan gadis itu ke apartemen tanpa makan apa-apa. Lalu sekarang, sudah pukul 12 siang, tapi belum ada sedikit makanan pun yang masuk ke dalam perut gadis itu.
Tanpa berfikir panjang, Rain bergegas turun dari ranjangnya, bergegas menyambar piyama yang berhamburan di lantai lalu memakainya. Ia juga mengambil dress milik gadis itu di lemari, dan mendekati gadis itu untuk memakaikannya pakaian.
"Ck! Sejak kapan aku jadi segila ini!" kekeh Rain sebal saat melihat banyaknya tanda-tanda merah yang ia tinggalkan di leher hingga dada gadis itu. Kulit mulus yang semulanya putih tanpa noda, kini penuh dengan bekas-bekas cinta yang memerah keunguan. Mungkin, ini merupakan efek dari obsesi yang selama ini sempat tertahan pikirnya.
__ADS_1
...****************...
BERSAMBUNG...