
..."Aku seperti atlet tadi dan kamu barbelnya."...
...🌸...
..."Kamu memang beban untukku, tapi beban yang kamu berikan berbentuk kekuatan. Kekuatan untuk aku dapat menghadapi semua hal-hal sulit. Kehadiranmu saja udah cukup. Jadi, untuk apa aku menambah beban yang lain?" ...
...- Rain -...
...🌸🌸🌸...
TING!
Pintu lift terbuka.
Rain keluar dengan raut wajah yang kusut dan berantakan serta dasi yang ia longgarkan karena terasa ketat hingga ia kesulitan bernafas.
Di ruang rahasia bawah tanah tersebut, ada yang sedang main bilyard, main kartu, ngobrol sembari merokok dan ada juga yang sedang duduk santai di meja bar. Bagi Rain, aktifitas tersebut merupakan hal yang biasa jika ia sudah menginjakkan kakinya ke ruang rahasia itu. Ruang rahasia bawah tanah yang hanya ia dan anak buahnya yang tahu.
Saat berjalan, entah kenapa, tiba-tiba saja Rain menghentikan langkahnya di tengah-tengah ruangan. Hal itu membuat semua orang yang ada di sana ikut menghentikan aktifitas mereka dan menoleh menghadap Rain. Sepertinya, anak buah Leons sudah paham, ada hal yang ingin disampaikan oleh pemimpin mereka.
“Mulai detik ini,” ucap Rain dengan suara yang lantang, “dahulukan keselamatan Miss A.”
"Sebahaya apapun keadaanku, dahulukan dia," sambungnya.
“Baik, Bos!” sahut mereka serentak.
“Meskipun aku selamat, tapi Miss A kalian dalam bahaya, itu sama saja aku dalam bahaya,” jelas Rain lagi.
Pria itu melanjutkan kembali langkahnya menuju ruangan di mana bunga kesayangannya berada. Saat ia masuk ke dalam ruangan tersebut, Joey terlihat sedang tertawa bahagia bersama Charlie, David, Evan dan Freds.
Apa yang sedang mereka bicarakan sampai-sampai bunga kesayangannya bisa sebahagia itu, pikir Rain saat berjalan menghampiri mereka.
“Bos,” sapa Charlie sambil berdiri tegak diikuti David, Evan dan Fred. Mereka berdiri tegak di tempat dengan wajah yang mendadak serius, padahal sesaat sebelumnya wajah mereka terlihat girang karena berbincang-bincang dengan Joey.
“Keluarlah, temui Brown,” titah Rain.
“Baik, Bos!”
“Miss A, kami pamit dulu ya,” ucap Evan sambil membungkuk. Sedangkan tiga orang lagi tak berkata apa-apa, selain ikut membungkuk lalu bergegas meninggalkan ruangan tersebut.
“Gimana, Om?” tanya Joey saat melihat Rain.
Rain menghela nafas sambil merebahkan kepalanya ke pangkuan Joey di sofa. Pria itu memejamkan matanya tanpa mengindahkan pertanyaan yang dilontarkan gadisnya. “Lima menit.”
Joey kebingungan melihat tingkah aneh Rain yang mendadak manja. Entah atas dorongan apa, tapi ia tergerak untuk membelai lembut kepala pria yang ada di pangkuannya. Ia menatap lekat ke arah wajah pria tersebut. Wajah yang garang namun menyimpan berjuta kehangatan di baliknya.
__ADS_1
Joey mencondongkan tubuh dan mendekatkan bibirnya ke bibir Rain. Entah kenapa, tiba-tiba saja ia ingin mencium bibir pria itu. Hanya sebentar, ia menempelkan bibirnya, lalu ia berbisik, “aku sayang, Om.”
Rain mendadak membuka matanya sesaat setelah gadis itu mengucapkan kata sayang. Pria itu meraih tengkuk dan kepala Joey, lalu ditekannya ke bawah sehingga bibir mereka kembali menyatu.
Rain ******* dengan rakus bibir merekah milik gadis itu, entah karena pikirannya sedang kacau, atau memang nafsunya yang tak pernah padam saat berada di samping gadis itu. Sembari ******* dengan rakus, tangannya tak ingin tinggal diam tanpa berbuat apa, ia mulai menggerayangi bukit kenyal milik gadis itu dan mere -masnya dengan penuh gai rah.
Joey menikmati kenikmatan yang disalurkan oleh pria yang ada dipangkuannya. Gadis itu memejamkan matanya sambil membelai lembut rambut Rain.
Tok tok tok!
Joey tersentak saat mendengar suara ketukan pintu dari luar. Ia bergegas melepaskan pagutan bibir mereka dan duduk dengan tegap dengan nafas yang terengah-engah.
"It's okay, just ignore them," ucap Rain sambil meraih kembali tengkuk Joey. "Mereka nggak akan masuk selagi aku belum menyuruh mereka masuk."
"Nggak deh, Om."
Rain tak peduli. Ia tetap menarik tengkuk gadis itu agar bibir mereka kembali berpagutan.
"Anya ...." gumam Joey tiba-tiba.
Rain tak bergeming, pria itu tak lagi menarik paksa tengkuk gadis kesayangannya. Sebaliknya, ia malah duduk dan memposisikan tubuhnya menghadap Joey. "Maksudmu?"
"Om takut ketahuan sama dia ya? Soal hubungan kita? Makanya Om buru-buru nemuin dia tadi ke atas," ucap Joey polos.
Rain mengerutkan keningnya sambil menghela nafas. "Alasannya?"
"Hahaha... nggak usah sok tau," Rain menoyor jidat Joey. Pria itu tak habis fikir, bagaimana bisa gadis polos di depannya beranggapan seperti itu? Padahal, dia sudah diperkenalkan kepada Leons.
"Dia juga tau 'kan soal hotel ini?" tanya Joey sambil bersandar ke sofa tanpa melihat ke arah pria yang ada di sampingnya.
"Nggak. Dia nggak pernah tau soal hotel ini, bahkan nggak ada seorang pun yang tau hotel ini milikku kecuali Leons dan ..." Rain mencubit hidung Joey, "kamu."
"Ih! Om. Aku lagi serius," pekik Joey sambil menepis tangan Rain dari hidungnya.
"Ya. Aku juga serius." Tutur Rain singkat.
"Tau nggak, wanita itu beban. Sangat menyebalkan dan sangat menyusahkan. Satu aja udah bikin pusing, kenapa harus ditambah lagi jumlahnya?" gumam Rain sambil memutar tubuhnya ke depan dan ikut bersandar ke sofa di samping Joey.
"Jadi, aku beban buat Om?" tanya Joey tiba-tiba. Gadis itu menoleh ke kiri menghadap Rain.
"Hmm." Dehem Rain singkat.
"Hemmm? Om cuma jawab hemm?!" ketus Joey dengan raut wajah yang tiba-tiba berubah. Gadis itu mulai terpancing dengan kalimat yang diucapkan oleh Rain. Kalau memang dia itu beban, kenapa nggak dilepasin aja? Kenapa harus mempertahankannya bahkan tak membiarkan dia pergi?
"Ck! Udah tau aku beban, kenapa nggak dilepasin?" Joey berdecak sebal dengan bibir yang cemberut. Gadis itu menggerutu sambil memainkan jarinya.
__ADS_1
"Karena beban yang cukup itu dapat memberikanku kekuatan," jawab Rain. Lagi-lagi pria itu memberikan Joey jawaban yang penuh teka-teki.
"Om, please deh. Kalo ngomong tuh langsung ke intinya aja, nggak usah pake perumpamaan-perumpamaan gitu. Aku tuh nggak sepintar dan selicik, Om!"
Rain tertawa kecil. Pria itu merogoh ponselnya dari saku celana, lalu ia membuka browser dan mencari sebuah foto lifter atau lebih dikenal sebagai atlet angkat beban.
Rain menunjukkan foto seorang pria yang sedang mengangkat beban kepada gadis di sampingnya. "Apa yang kamu liat dari foto ini?"
"Atlet," jawab Joey sambil mencebik.
"Atlet apa?" tanya Rain lagi.
"Angkat beban."
"Itu doang yang kamu liat?" tanya Rain tak puas.
"Ya, iya. Aku cuma ngeliat dia ngangkat beban. Emangnya dia ngapain lagi?" tanya Joey mulai bingung.
"Menurut kamu, beban yang dia angkat itu berat nggak?" tanya Rain sambil menaikkan kedua alisnya.
"Berat dong, Om. Namanya aja angkat beban. Ish! Om aneh-aneh aja, deh."
"Berat, 'kan? Coba kamu bayangkan barbelnya ditambah lagi satu di kiri dan satu di kanan. Kira-kira dia sanggup nggak?"
Joey diam tak menjawab, gadis itu memegang dagunya sambil memicingkan mata dan membayangkan apa yang dikatakan oleh Rain tadi.
"Bisa aja sanggup, tapi belum tentu aman buatnya. Kalo misalkan bebannya terlalu berat, yang ada dianya bisa cedera dan bahaya. Iya nggak, sih?" Joey memberikan opininya sambil menatak ke arah Rain. Gadis itu mulai memainkan bibirnya karena merasa tak percaya diri dengan jawaban yang ia berikan.
Mendengarkan ucapan yang diberikan oleh gadisnya, Rain meletakkan ponselnya ke atas meja sambil tersenyum. Setelah itu, ia mengambil tangan Joey dan mengelus-elusnya dengan lembut.
"Aku seperti atlet tadi dan kamu barbelnya." Tutur Rain tenang sambil matanya terfokus ke tangan mulus gadis itu.
"Angkat beban secukupnya, memberikanku kekuatan tersendiri di mana hanya aku yang dapat merasakannya, sedangkan angkat beban secara berlebihan, itu akan merusak diriku."
Rain menatap ke arah Joey yang sejak tadi mendengarkan sambil mencerna perkataan pria yang ada di sampingnya.
"Kamu memang beban untukku, tapi beban yang kamu berikan berbentuk kekuatan. Kekuatan untuk aku dapat menghadapi semua hal-hal sulit. Kehadiranmu saja udah cukup. Jadi, untuk apa aku menambah beban yang lain?" jelas Rain panjang lebar sambil mengecup lembut punggung tangan gadis yang ia sayang.
"Jadi, nggak usah takut. Aku nggak pernah mau menambah beban lain selain kamu," sambungnya lagi.
Joey terdiam dan tersipu malu saat mendengarkan penjelasan Rain tentang teori atlet angkat beban tadi. Wajahnya merona dan ia menunduk karena gugup.
Dipikiran gadis itu saat ini, ada benarnya juga teori angkat berat tersebut. Meski terdengar seperti gombalan, tapi tak ada salahnya jika ia mempercayainya. Karena bagaimanapun, kalau memang ingin bersama wanita lain, sudah jauh-jauh hari Rain melakukannya, tapi buktinya? Sampai sekarang, pria itu masih tetap berusaha untuk bersamanya. Jika dia menjadi pria itu pun, dia tak akan segampang itu melepaskan posisi CEO hanya karena cinta. Pasti ia akan berusaha mempertahankan posisi CEO dan cintanya di saat yang sama.
...****************...
__ADS_1
BERSAMBUNG...