
..."Karena bunga ini mempunyai makna ketulusan, kesucian, keagungan, dan kemurnian dari sebuah cinta sejati." - Toko Bunga...
...🌸🌸🌸...
"Pak Rain!" suara lantang Harry mendadak menggelegar di dalam mobil mewah Rubicorn hitam itu. Pasalnya kepala Rain sempat terbentur ke kursi mobil depan karena mobil yang dibawa Harry berhenti mendadak.
"Hah!" Rain menghela napasnya sambil mengusap dahinya sempat terbentur.
"M-maaf, Pak! L-lampunya mendadak merah," Harry terbata-bata dan ketakutan karena menginjak rem secara tiba-tiba.
"It's okay," ucap Rain santai sambil membetulkan rambutnya yang sempat sedikit berantakan.
Harry terbelalak. Matanya membulat dengan mulut yang setengah terbuka. Pria itu refleks menoleh ke belakang. Dia tak salah dengar 'kan? Sejak kapan pria emosional dan dingin itu mendadak menjadi pria yang berbeda 180 derajat dari biasanya? Apa itu benar pria yang menjadi atasannya selama empat belas tahun ini?
"Nggak jalan?" tanya Rain saat mihat lampu sudah berubah warna hijau.
Harry menjadi salah tingkah, pria itu bergegas menoleh ke depan dan melajukan mobilnya. "M-maaf, Pak."
"Hmm." Jawab Rain singkat.
Harry menelan salivanya. Sorot matanya fokus ke depan, namun sesekali ia melihat Rain melalui kaca spion dalam mobil.
"Matamu," gumam Rain. "Aku tak tertarik dengan pria."
"Eh... hehehe... saya sedang menyukai seorang wanita, Pak," protes Harry bercanda.
"Haa... itu kabar baik. Segeralah menikahi wanita itu, katakan jika butuh sesuatu, aku akan membantumu," tutur Rain sambil meraih ponselnya dan kembali mengirimkan pesan untuk Joey.
"Aku rindu," pesan Rain singkat kepada Joey.
"I-iya, Pak."
Lagi-lagi, Harry dibuat terheran-heran dengan tingkah aneh pria yang ada di belakangnya. Apa karena pernikahan yang akan berlangsung antara dia dan Anya? Itu sebabnya pria itu menjadi bahagia. Lalu, bagaimana dengan Joey?
"Mmm... Pak?" panggil Harry.
"Hmm?"
__ADS_1
"Bapak udah buka hati buat Mbak Anya? Lalu-"
"Sejak kapan aku buka hati untuk pe la cur itu?!" tanya Rain sengit sambil melihat ke arah mata Harry melalui kaca spion dalam mobil. Pria itu tak membiarkan Harry menyelesaikan kalimatnya.
Harry lagi-lagi menelan air liurnya. Jantungnya berdebar kencang karena takut salah kata. "T-tadi, Bapak bilang akan menikahinya?"
"Hahaha..." Rain tertawa terpingkal-pingkal.
"Ya Tuhan, Pak Rain kenapa? Masih waras, 'kan?" pikir Harry dalam hati. Pria itu merasa cemas setengah mati saat melihat tingkah aneh dari pria yang ada di belakangnya.
"Aku akan menikahi gadis yang selama ini ku titipkan padamu," jelas Rain dengan sebuah senyum yang menghiasi wajah.
"Mba Joey?! Bapak akan menikahinya?!" Harry terkejut sekaligus gembira mendengarkan kabar tersebut.
Selama empat belas tahun ini, dia sudah menjadi saksi dari kisah haru antara pria dan wanita yang terpaut usia yang jauh itu. Meskipun sebelumnya ia sempat merasa aneh dengan hubungan antara Rain dan Joey, tapi ia tak dapat menutup matanya menyaksikan ketulusan yang ada di balik hati masing-masih kedua orang itu. Sepertinya, mereka telah menemukan cinta sejati mereka.
"Yes, dia akan menjadi Nyonya Rain Ravindra yang sebenarnya," tutur Rain sambil tersenyum simpul.
"Akhirnyaaaa... saya benar-benar bahagia mendengarkan kabar ini, Pak!" seru Harry. Pria itu menghentikan mobilnya karena telah tiba di lobby, lalu ia bergegas keluar mobil dan membukakan pintu untuk Rain.
"Selamat, Pak!" seru Harry saat Rain menginjakkan kakinya keluar dari mobil.
Kini, mereka memasuki mall yang besar dilengkapi toko-toko mewah dengan brand-brand ternama di pusat kota itu. Kedua pria tersebut melangkahkan kaki dengan sangat cepat menuju sebuah toko perhiasan yang sangat terkenal dan menjadi incaran bagi pasangan-pasangan yang akan melamar kekasihnya bahkan melangsungkan pernikahan.
"Selamat datang, Pak!" seru salah satu pramuniaga.
"Wahhh! Pak Rain Ravindra?!" gumam pramuniaga tersebut saat melihat Rain memasuki toko.
Rain hanya membalas ucapan pramuniaga tersebut dengan melemparkan sebuah senyuman. "Aku mencari cincin pernikahan, sepasang."
"Kebetulan sekali, Pak. Kami ada produk baru yang hanya ada dua di dunia. Satu sudah sold out, dibeli oleh pasangan artis, kini sisa satu." Jelas pramuniaga tersebut sambil mengeluarkan produk khusus mereka yang harganya juga cukup fantastis.
Rain melihat cincin tersebut satu per satu. Satu untuknya dan satu untuk Oleander-nya. Ia membayangkan cincin tersebut ia sarungkan ke jari manis gadis yang ia cintai. Wajah tampan pria itu mendadak tersenyum.
"Mbak Anya benar-benar wanita yang beruntung," celetuk pramuniaga tersebut saat melohat Rain tersenyum sendiri melihat cincin yang ia berikan.
Raut wajah Rain mendadak berubah menjadi suram saat pramuniaga tersebut menyebut nama Anya. Padahal, gadis yang akan ia nikahi adalah Joey, bukan Anya. Seketika, ia mengepalkan tangannya menahan emosi karena keadaannya yang membuat ia tak bisa mengekspos gadis kesayangannya ke dunia luar.
__ADS_1
Harry yang sadar akan raut wajah Rain yang mendadak berubah saat pramuniaga tersebut mengucapkan nama Anya, mencoba untuk menenangkan Rain dengan berbisik ke telinga atasannya.
"Pak, sebaiknya kita segera pergi dari sini," bisik Harry pelan.
Rain langsung tersadar. "Bungkus ini."
Pramuniaga yang tadinya sempat tersenyum, mendadak menjadi bingung karena raut wajah pria yang ia layani menjadi berubah seketika. Memangnya ada yang salah dengan ucapannya? Siapa juga yang tidak mengetahui pasangan konglomerat yang viral sejagat raya ini?
Setelah selesai membeli cincin untuk Oleander kesayangannya, Rain dan Harry bergegas meninggalkan toko perhiasan tersebut. Lalu, mereka menuju ke sebuah toko bunga untuk membeli buket bunga.
"Selamat datang!" sapa pramuniaga toko bunga tersebut. "Cari bunga apa, Pak?"
"Oleander!" ucap Rain secara spontan.
"Err... m-maaf, Pak. Kita nggak jual, karena bunga itu beracun."
"Oh." Rain mendadak menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal karena bingung harus memberikan bunga apa untuk kekasih hatinya.
"Mbak, bisa pilihkan buket bunga untuk melamar seorang kekasih?" celetuk Harry tiba-tiba.
"Mawar putih!" seru pramuniaga tersebut sambil mengambil dan membungkuskan buket bunga mawar putih. Lalu ia memberikan kepada Rain.
"Mawar putih?" tanya Rain saat menerima buket bunga dari pramuniaga tersebut.
"Iya. Mawar putih sering digunakan oleh seorang pria yang ingin melamar kekasihnya," jelas pramuniaga tersebut.
"Karena bunga ini mempunyai makna ketulusan, kesucian, keagungan, dan kemurnian dari sebuah cinta sejati," sambungnya.
Rain menghirup aroma wangi khas dari buket mawar putih yang sedang ia pegang, pria itu memejamkan matanya sejenak menikmati aroma yang menenangkan itu.
"Ketulusan dari sebuah cinta sejati," gumam Rain lirih.
Sesaat setelah itu, Rain membuka matanya. "Oke, aku ambil ini."
"Sungguh gadis yang beruntung yang nantinya menerima bunga ini," ucap pramuniaga tersebut sambil tersenyum dengan tulus. "Semoga lamaran tersebut lancar, lalu Bapak dan pasangan segera menikah dan diberikan buah hati yang lucu-lucu. Semoga bahagia!"
...****************...
__ADS_1
BERSAMBUNG...