OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Aku Tak Bahagia dan Aku Tersiksa


__ADS_3

...“Selama ini aku nggak bahagia, Ma. Aku tersiksa. Sangat tersiksa. Aku iri liatin Mas Rain yang dapat begitu banyak perhatian dari siapapun.” – Zayn...


...🌸🌸🌸...


Sehari sebelum Zayn melamar Sara.


“Benar. Joey Ainsley adalah istri sah saya. Lalu, pernikahan antara saya dan Sara Walters tersebut salah. Karena, yang akan menikah dengan Sara Walters adalah adik saya, Zayn Ravindra.”


Hana mematikan televisi menggunakan remot yang ada di tangannya. Kemudian, ia menatap ke arah Zayn yang saat itu sedang tersenyum penuh bahagia menatap layar ponselnya.


“Zayn! Lihat Mama!” suara Hana melengking dan terdengar nyaring di telinga Zayn. Mata wanita tua tersebut membulat dan menegang menahan amarah.


“Ma, nggak usah teriak-teriak. Aku dengerin Mama ngomong kok.” Zayn menatap ke arah Hana sambil mengusap-usap daun telinganya.


“Mama senang kamu mau melamar Sara. Tapi kenapa kamu memberikan kursi CEO ke Rain?! Kamu pikir gampang dapetin posisi itu?! Bertahun-tahun Mama nahan hati-“


“Ma …” Zayn memotong pembicaraan Hana. Ia bangkit dari duduknya dan berpindah duduk tepat di sebelah Hana. Kemudian, ia memegang kedua bahu Hana dan menyandarkan kepalanya ke bahu wanita yang sudah tua itu.


“Aku mohon. Berbahagialah. Aku tau, rasa sakit hati Mama begitu mendarah daging sama Papa. Tapi, ‘kan yang salah Mama juga karena hadir di kehidupan rumah tangga orang, Ma.”

__ADS_1


Plakkk!!!


“Kurang ajar kamu, Zayn! Bisa-bisanya kamu menyalahkan Mama?! Kalau bukan karna Mama, kamu nggak akan hidup mewah dan nyaman sekarang!” geram Hana kesal.


“Kamu pikir demi siapa Mama bertahan di sisi pria yang nggak mencintai, Mama? Hah?! Semua itu demi kamu! Biar kamu bisa jadi CEO! Mama rela biarin Papa kamu terus-terusan mengingat istrinya yang udah mati itu!” sambungnya dengan amarah yang mulai memuncak.


Zayn menghela nafasnya dengan berat. Ia benar-benar berada di situasi yang sulit. Selama ini, ia selalu mengikuti apa yang dikatakan oleh Hana. Bahkan, kuliah di jurusan yang bahkan tak ia sukai. Semua itu demi bisa menduduki posisi CEO di Ravindra Group.


Tak pernah sekalipun ia melakukan sesuatu sesuai keinginannya. Bahkan, saat ia berharap mendapatkan semangat dan cinta tanpa pamrih dari ayah kandungnya sendiri, tak kunjung ia dapatkan. Pasalnya, yang selalu menjadi fokus bagi Ravi selama ini adalah Rain, saudara tirinya.


“Mama sadar nggak? Selama ini, Papa selalu perhatiin Mas Rain? Bukan aku?” ucap Zayn dengan tatapan yang sendu ke arah Hana.


“Mama tau nggak, aku selalu berusaha keras dan tak membantah karena ingin dilirik sama Papa? Aku berharap Papa bisa melihatku yang patuh ini. Tapi, Papa selalu mendulukan Mas Rain. Papa selalu menjodohkan Mas Rain dan menyuruh Mas Rain menduduki posisi CEO. Sedangkan aku? Memangnya Papa pernah menjodohkan ku dan memintaku mengurus perusahaan?”


Hana terdiam. Amarahnya yang semula memuncak, perlahan mereda. Wajah yang semula menegang, perlahan mulai suram.


“Aku nggak mau tau apa yang terjadi antara Mama dan Papa di masa lalu. Tapi, apa nggak bisa sebentar aja kehadiran aku di anggap ada?” tanya Zayn lagi.


“Mama pernah nggak sih nanyain aku? Apa selama ini aku kesulitan? Apa selama ini aku bahagia? Nggak ‘kan, Ma?”

__ADS_1


“Zayn,” Hana memegang lengan anaknya. Matanya mendadak berkaca-kaca. Ia baru sadar, ternyata selama ini ia hanya memikirkan obsesinya untuk menjadi kaya raya tanpa memikirkan anak semata wayangnya.


“Selama ini aku nggak bahagia, Ma. Aku tersiksa. Sangat tersiksa. Aku iri liatin Mas Rain yang dapat begitu banyak perhatian dari siapapun,” Zayn tak lagi mampu membendung airmatanya. Wajahnya memerah dan airmata membuncah. Ia berusaha meredam tangisnya dengan menggigit bibirnya.


Hana yang menyadari itu, ia langsung membawa kepala anak laki-lakinya itu ke pelukannya. Lalu ia mengusap pelan punggung Zayn untuk memberikan ketenangan.


“Zayn. Selama ini, semuanya berat ya untukmu, Nak?” tanya Hana yang juga ikut menangis.


“Aku juga mau merasakan bahagia, Ma,” ucap Zayn terisak. “Untuk apa harta dan kekayaan kalau nggak ada cinta?”


“Benar. Zaman sekarang cinta itu bisa dibeli. Tapi tidak dengan cinta yang tulus. Cinta yang seperti itu nggak bisa dibeli, Ma.”


Hana menangis terisak-isak. Sejujurnya, ia juga merasa lelah dengan kehidupan yang ia lalui hingga saat ini. Benar, selama ini ia begitu terobsesi dengan harta dan tahta. Namun, di balik semua itu. Ia bertahan karena rasa cintanya yang masih ada untuk Ravi. Meskipun Ravi belum bisa melupakan Luna, mendiang istrinya sampai sekarang.


“Zayn. Lihat Mama, Nak,” Hana memegang kedua bahu Zayn. Ia membawa tubuh anak semata wayangnya itu menghadap ke arahnya. Lalu, ia memegang kedua pipi Zayn sambil menyeka lembut airmata di kedua pipi anaknya itu.


“Lakukanlah semua yang kamu mau. Mama akan selalu mendukung apapun keputusan yang kamu buat.”


...****************...

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2