
..."Maaf, selama ini aku terlalu memaksakan perasaanku padamu. Kalo kamu nggak nyaman ... pergilah. Aku tak akan menahanmu lagi." - Rain...
...🌸🌸🌸...
Seketika raut wajah Joey mendadak pucat. "M-maksud, Om?"
"Aku ngeliat kamu yang ngirim pesan duluan ke Nstagram Kale," jelas Rain dingin sambil kedua tangannya melepaskan tangan Joey di pipinya.
Joey terdiam. Bagaimana pria itu bisa tau bahwa ia mengirim pesan pada Kale? Dia bingung dan berusaha memikirkan alasan apa yang harus ia berikan pada Rain.
"Kenap diam?" tukas Rain. Mata elangnya menatap tajam ke arah Joey yang terlihat kelabakan karena pertanyaannya.
"Jadi benar? Mau pergi ke pelukan dia? Dan tawaran yang dia berikan itu, jadi Sugar Baby dia?" timpal Rain kesal. Rain membuang wajahnya ke kiri.
"Bukan, Om. Nggak se-"
"Apa selama ini masih kurang? Sudah ku katakan, kalo butuh sesuatu, bilang! Nggak ada yang nggak bisa aku berikan untukmu!" Rain memotong pembicaraan Joey dengan nada yang penuh penekanan. Raut wajahnya benar-benar suram dan membuat Joey bergidik ngeri.
Rain merasakan pusing dan dadanya terasa perih. Ia mendongakkan kepalanya ke langit-langit sambil memijat batang hidungnya.
"Kayaknya, semua omongan cinta dan sayang yang kamu ucapkan tadi hanya di mulut dan nggak tulus. Haaaa... aku benar-benar tertipu," ucap Rain lirih. Tersirat kekecewaan di balik ucapannya, ia tak menyangka bahwa gadis yang ia cintai begitu tega melakukan hal seperti ini.
"Maaf, selama ini aku terlalu memaksakan perasaanku padamu. Kalo kamu nggak nyaman ... pergilah. Aku tak akan menahanmu lagi," tambah Rain lagi.
Joey tak mampu mengatakan apapun. Di dalam benaknya saat ini, ingin sekali ia menjelaskan semuanya dengan benar. Tapi, bukankah ini kesempatan yang baik untuknya pergi dari hidup pria itu dan tak lagi bergantung padanya. Lagi pula, sekuat apapun ia berusaha, ia tak akan pernah bisa memantaskan dirinya untuk bersanding dengan pria itu. Status sosial mereka berdua terlalu senjang.
Melihat Joey yang masih diam dan tak memberikan penjelasan apapun, Rain menyimpulkan bahwa benar Oleander kesayangannya tak pernah memiliki sedikit pun perasaan padanya. Selama ini, gadis itu hanya ingin membalas jasa dan merasa sungkan.
Rain mengangkat tubuh Joey dari atas pahanya. Lalu ia dudukkan gadis itu di atas sofa, kemudian ia bangkit dan menuju kamar.
BUKKK!!!
__ADS_1
Beberapa detik setelah Rain menghilang dari pandangan Joey, tiba-tiba saja ada bunyi jatuh dari dalam kamar. Joey bergegas bangkit dari sofanya dan berlari ke dalam kamar.
"Om!!!" pekik Joey dengan wajah yang pucat. Ia terkejut melihat Rain tergeletak pingsan di atas lantai.
Bingung harus berbuat apa, Joey bergegas mendekati tubuh pria yang ia cintai lalu meletakkan kepala pria tersebut ke pahanya.
"Om?!!! Nggak lucu!" rutuk Joey sambil memegang kedua pipi pucat pria itu.
Saat Joey memegang pipi Rain, ia merasakan suhu tubuh pria itu panas. Ia meletakkan punggung tangannya ke dahi pria itu. "Astaga! Ini demam tinggi!"
Joey kelabakan. Ia bergegas memapah dan menyeret tubuh kekar pria itu ke atas ranjang. Setelah itu ia menelfon Harry.
Tak lama setelah itu, Harry tiba di penthouse tersebut bersama Brown dan Dokter Robert yang sudah menjadi kenalan lama Rain.
"Pak Rain udah makan sejak datang ke hotel?" tanya Harry kepada Joey. Sembari menunggu Rain diperiksa oleh Dokter Robert, mereka berdua menunggu di luar kamar.
"Belum. Emangnya kenapa Om?" tanya Joey sambil mengerutkan keningnya.
"Hah?! Belum makan dari pagi?! Emangnya di kantor dia nggak makan apa-apa?" Joey dibuat terkejut mendengarkan ucapan Harry. Bagaimana bisa pria itu tak makan apapun sejak tadi pagi? Memangnya jam istirahat dia pakai untuk apa?!
"Emangnya sesibuk apa sampe-sampe jam istirahat nggak digunain buat makan?" timpal Joey penasaran sambil mendengus nafasnya.
Harry menghela nafasnya berat. "Dia terlalu memaksakan diri."
"Memaksakan diri?" tanya Joey bingung.
"Ya. Beliau tiba di kantor beberapa menit sebelum rapat. Setelah rapat, kami bergegas ke mall untuk mencari cincin dan bunga lalu bergegas ke apartemen untuk menjemput anda," jelas Harry dengan raut wajah lelah. Pasalnya, saat ini waktu menunjukkan pukul sepuluh malam.
Joey terdiam dan tak dapat mengatakan apa-apa. Ia terharu sekaligus merasa bersalah karena ia menjadi penyebab kenapa pria itu jatuh sakit sekarang. Sebenarnya, sepenting apa sih kehadirannya di hidup pria itu? Bahkan pria itu sampai memprioritaskan seorang gadis yang ia cintai ketimbang dirinya sendiri? Padahal, mereka baru dekat beberapa bulan. Selama empat belas tahun, mereka tak pernah saling komunikasi atau bahkan bertemu.
"Pak Harry, Mbak Joey," panggil Dokter Robert sambil keluar dari kamar setelah memeriksa Rain.
__ADS_1
Joey dan Harry serentak melihat ke arah Dokter Robert.
"Beliau kecapean dan asam lambungnya kumat," jelas Dokter Robert. "Beliau harus banyak-banyak istirahat dan jangan banyak pikiran dulu. Saya udah meresepkan beberapa obat untuk beliau."
"Saya akan menebus obatnya ke apotek," Brown yang sedari tadi diam, ia menawarkan diri untuk pergi membeli obat Rain.
"Baiklah, kalau begitu, saya pamit," ucap Dokter Robert.
"Saya akan mengantarkan Bapak," ucap Harry.
Ketiga pria tersebut menuju lift dan pergi meninggalkan Joey. Sesaat setelah ketiga pria itu menaiki lift, Joey menuju kamar di mana Rain sedang terbaring lemah dan tak berdaya. Ia duduk di samping ranjang tepatnya di sebelah kanan Rain.
Raut wajah Rain yang pucat dan sedang tertidur lelap itu terlihat lemah. Ini pertama kalinya Joey melihat wajah pria dingin dan berpengaruh itu lemah tak berdaya.
"Ternyata, kamu juga sama seperti manusia biasa lainnya," gumam Joey sambil membelai lembut pipi Rain.
Joey menghela napasnya berat. Tiba-tiba ucapan Rain berkelabat dipikirannya saat ini.
..."Maaf, selama ini aku terlalu memaksakan perasaanku padamu. Kalo kamu nggak nyaman ... pergilah. Aku tak akan menahanmu lagi."...
Pandangan Joey tiba-tiba kosong. Apa keputusannya sudah bulat jika ingin pergi meninggalkan Rain? Lalu, lamaran romantis beberapa jam yang lalu? Apa itu hanya sebatas ucapan?
"Bunga?" Joey tiba-tiba teringat akan ucapan Harry. Tadi mereka sempat membeli bunga.
Joey bangkit dari duduknya dan bergegas ke meja makan, ia berlari ke sana dan berdiri kaku saat melihat meja makan yang romantis di hiasi lilin ditengahnya dan ada sebuah buket bunga mawar putih. Lilin tersebut sudah habis dan mati, sedangkan mawar putih, sudah mulai layu. Begitu juga dengan steak yang sudah dingin tanpa tersentuh dan wine yang terhidang di atas meja.
"Ya, aku harus segera bangun dari mimpi indah ini. Karena mimpi tak akan pernah jadi nyata." Gumam Joey lirih sambil mengepalkan tangannya dan menggigit bibir bawahnya menahan sakit dan pilu menerima kenyataan bahwa ia benar-benar harus pergi dari kehidupan pelita hidupnya.
...****************...
BERSAMBUNG...
__ADS_1