
...“Aku nggak akan memaksamu membalas perasaan ini, tapi jangan pernah mengusirku. Dan aku juga ingin dipanggil Om, Om Kale.” - Kale...
...🌸🌸🌸...
Beberapa hari sejak ia meninggalkan bunga kesayangannya di penthouse yang ia desain sendiri, kini Rain terduduk lesu tak bersemangat di ruangan kantornya. Pria itu menandatangani beberapa berkas yang diserahkan oleh Harry seperti seorang robot.
“Pak,” panggil Harry.
“Hmm.”
“Telfon Bapak berdering,” ucap Harry sambil menunjukkan ke arah ponsel Rain.
Rain menoleh ke kiri di mana ponselnya ia letakkan, lalu ia melihat nama Brown yang tertera di layar. Ia mengangkat panggilan tersebut dan menghidupkan pengeras suara sambil ia lanjut menandatangani berkas yang dibawa oleh Harry.
^^^“Selamat siang, Bos."^^^
^^^“Miss A terpantau sedang duduk di meja yang sama dengan seorang pria yang bernama Kale.”^^^
^^^“Saya sudah mengirimkan fotonya.”^^^
Rain terdiam. Tangannya yang tadi sibuk bergerak membubuhi tanda tangan di atas kertas, kini berhenti dan meletakkan pena yang ia pegang. Lalu ia meraih ponsel dan segera membuka pesan yang dikirimkan oleh Brown.
“Ikuti mereka,” perintah Rain saat melihat foto yang dikirimkan oleh Brown.
Harry yang berada di sana, terlihat ingin mengatakan sesuatu, namun ia berusaha menahan diri karena tak tahu apa yang sedang terjadi antara Rain dan Joey.
“Carikan aku seorang gadis penghibur,” titah Rain pada Harry.
“Y-ya?!” Harry terbelalak sambil memegang kacamatanya. “Bagaimana dengan Mbak Joey?”
“Carikan saja,” elak Rain tanpa ingin mengatakan apa yang terjadi sebenarnya antara dia dan Joey.
“B-baik, Pak!”
...****************...
Di waktu yang sama, di sebuah restoran ternama yang ada di salah satu mall terbesar di kota Jakarta, Joey terlihat sedang duduk berhadapan dengan Kale. Gadis itu terlihat gugup dan tak nyaman berada di depan pria bule yang terlihat trendy dengan pakaian casualnya.
“Jadi, keuntungan apa yang Bapak dapatkan dari saya?” tanya Joey.
“Hahaha… kenapa masih manggil Bapak? Terus ada apa dengan bahasa mu hari ini? Terlalu formal,” ucap Kale sambil tersenyum. “Nggak usah pakai saya. Pakai aku kamu aja biar lebih santai.”
__ADS_1
“Tapi, tetap saja saya nggak nyaman,” protes Joey sambil memaksakan senyumnya.
“Oke, tawarannya nggak berlaku,” goda Kale sambil menyeruput es kopi gula aren yang ia pesan tadi.
Joey terbelalak dan langsung menatap ke arah Kale dengan serius. Kenapa? Hanya karena sebuah panggilan, tawaran itu mendadak tak berlaku? Memangnya, sepenting apa sebuah panggilan dan bahasa santai?
“Tatapanmu,” ucap Kale sambil meletakkan gelasnya ke atas meja. Pria itu kembali tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Aku tau arti dari tatapanmu. Apakah panggilan dan bahasa santai sepenting itu? Bener nggak?” tebak Kale menajamkan matanya ke arah Joey.
Joey hanya mengangguk pelan.
“Ada apa ini? Terakhir ketemu, bukannya kita udah santai dan bersahabat?” tanya Kale penasaran.
“Nggak tau, aku hanya penasaran, apa alasannya? Apalagi, usia kit-“
“No no no. Jangan pernah bahas usia, itu membuatku sedih,” canda Kale sambil membuat raut wajah pura-pura sedih.
Joey tak mampu menahan perasaan menggelitik saat melihat tingkah menggemaskan pria tampan di depannya. Tingkah lucu yang sangat berbeda dengan pria yang ia cintai, Rain.
“Huh? Om Rain? Kenapa aku mikirin dia sih?” umpat Joey dalam hati.
“I just wanna be your friend,” ucap Kale membuyarkan lamunan Joey. “And ….”
“Minumlah,” ucap Kale sambil menunjuk ke arah gelas Joey yang berisikan es matcha. “Es-nya keburu cair, ntar minumannya jadi ambar.”
“Baiklah.” Joey mengambil gelas yang berada di depannya lalu menyeruput minuman tersebut.
“Aku menyukaimu dan aku tau hubungan spesial antara kamu dan Rain,” kata Kale secara blak-blakan.
Joey tersedak saat mendengarkan ucapan pria blasteran tersebut. Ia meletakkan gelas yang ia pegang tadi dan memposisikan tubuhnya tegap sambil menatap ke arah Kale. Kedua tangan gadis itu diletakkan ke atas meja.
“Kamu menyelidiki aku?” tuduh Joey sambil memainkan jari kukunya karena gugup.
“No,” bantah Kale sambil menggelengkan kepalanya.
“Terus?”
“Aku bisa melihat rasa cinta yang begitu besar dari mata pria itu,” jelas Kale sambil tersenyum. Entah apa maksud dari senyum pria itu, tapi senyumnya terlalu bersemangat dan sulit diartikan.
“Nggak mungkin,” protes Joey sambil kembali menyeruput minumannya.
__ADS_1
Lagi-lagi Kale tersenyum. Pria itu terlihat sangat bahagia saat melihat Joey ada di depan matanya, ia benar-benar tak dapat menutupi rasa senangnya.
“Aku tak akan memaksamu untuk mempercayaiku,” ucap Kale. “Yang jelas, aku menyukaimu sejak pertama melihatmu menapaki tangga menuju pentas.”
“Ck!” Joey menghela nafasnya sambil menatap Kale. “Kamu menyukaiku dan kamu juga bilang kalo aku memiliki hubungan spesial dengan Om Rain?”
“Oh… jadi Om Rain?” Kale memegang dagunya. “Panggilan yang menggemaskan. Bagaimana kalo kamu panggil aku Om Kale?”
Joey merasa kesal dan sepertinya percuma berbicara dengan pria yang ada di depannya saat ini. Tak ada gunanya, pria itu terlihat tak serius dan hanya ingin memanfaatkannya. Merasa waktunya terbuang sia-sia karena pertemuan ini, ia bangkit dari duduknya dan merain tasnya.
“Aku akan membuatmu menjadi penyanyi terkenal,” ucap Kale saat melihat Joey berdiri dari duduknya. “Aku serius.”
“Katakan, keuntungan apa yang kamu mau? Aku nggak ada waktu untuk bercanda,” kata Joey tegas.
Wajah Kale mendadak serius. Ia duduk tegap sambil mengangkat sedikit kepalanya ke atas menghadap Joey yang sedang berdiri. “Sebelum itu, katakan, apa alasanmu ingin menjadi penyanyi? Setidaknya, aku punya alasan yang kuat untuk membantumu.”
“Aku pinter jaga rahasia, jadi nggak usah takut,” sambung Kale saat melihat keraguan dari raut wajah Joey.
“Aku nggak mau bergantung pada suami orang,” jelas Joey tanpa ragu.
“Haaahhh….” Kale menghela nafasnya berat.
Dari kalimat gadis itu, Kale dapat menyimpulkan bahwa kisah cinta yang sedang di alami oleh dua orang ini sangat rumit. Rain yang merupakan anak konglomerat terkenal akan menikah dengan seorang wanita yang merupakan anak konglomerat kedua terkaya se-Asia Tenggara. Meskipun tak ada cinta di antara Rain dan Anya, tapi mereka tak dapat menolak perjodohan ini karena ada tujuan dari kedua orang tua mereka di balik perjodohan ini.
“Duduklah,” ucap Kale. “Aku nggak mau jadi trending topic karna diputuskan sepihak oleh seorang gadis muda. Semua mata sedang tertuju pada kita saat ini.”
Joey mengarahkan pandangannya ke sekeliling. Ada banyak mata yang sedang terfokus padanya dan Kale di restoran itu saat ini. Bahkan diam-diam ada yang sedang mengambil video mereka secara diam-diam. Merasa tak nyaman menjadi pusat perhatian di restoran tersebut, Joey memaksakan dirinya untuk duduk kembali di depan pria blasteran itu.
“Menyanyilah di restoranku dua minggu sekali tanpa bayaran. Hanya itu syarat dari ku,” tutur Kale dengan wajah yang serius sesaat setelah Joey duduk di depannya.
Joey mengerutkan keningnya. “Cuma itu?”
“Yes,” sahut Kale.
“Oke, aku terima. Tapi …” Joey mengangkat wajahnya dengan tatapan yang tegas, “aku nggak bisa menyukaimu.”
“Hahaha….” Kale tertawa terbahak-bahak sambil memijat pelipisnya. “Bikin aku semakin tergila-gila saja.”
“Baiklah. Aku nggak akan memaksamu membalas perasaan ini, tapi jangan pernah mengusirku. Dan aku juga ingin dipanggil Om, Om Kale.” Sambung Kale sambil menyeringai.
...****************...
__ADS_1
BERSAMBUNG...