OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Deep Talk dengan Oleander


__ADS_3

..."Tua tua begini, ada gadis muda yang rela nangis tersedu-sedu karna rindu." - Rain...


...🌸🌸🌸...


Kurang lebih beberapa menit, mereka berdua hanyut dalam perasaan. Saling meluapkan dan saling menyemangatkan.


Rain berdiri tegak di depan Joey. Punggungnya terasa pegal karena kelamaan membungkuk. Wajah tampan pria dingin yang biasanya terlihat berkharisma dan berwibawa itu, kini benar-benar sayu dan sembab.


"Hahaha... aku belum pernah memperlihatkan sisi terburukku ini pada siapapun," kekeh Rain lirih. Ia membuang pandangannya ke kiri, malu jika Oleander-nya melihat sisi lemahnya.


Kedua tangan Joey memegang pipi Rain sambil kakinya berjinjit agar tinggi mereka sejajar. Ia mengarahkan wajah pria tadi ke arahnya. "Emang harus gitu."


"Nggak boleh ada yang tau sisi terburuk Om selain aku!" seru Joey penuh penekanan sambil menatap lekat ke dalam bola mata Rain. Kedua jempolnya menyeka lembut airmata yang perlahan kering di pipi pria tersebut.


"Iya, Nyonya Bawel," ejek Rain sambil mengecup lembut bibir kering gadisnya.


"Bukan, Nyonya Bawel. Tapi Oleander!" ketus Joey sambil mengerang dengan mata yang membulat.


"Hahaha... baiklah, Oleander-ku!"


"Ayo, sarapan. Aku lapar," pinta Joey. Kedua alisnya turun dengan kedua sudut bibir yang melengkung ke bawah.


"Oke, oke," jawab Rain sambil tertawa. "Mau makan di kamar atau di meja makan?"


"Di meja makan aja," sahut Joey sambil melepaskan tangannya dari kedua pipi Rain. Ia menapaki kakinya di lantai, rasanya pegal karena menjinjit terlalu lama.


"Bisa jalan?" tanya Rain sambil menaikkan kedua alisnya.


"Bisa dong, 'kan dekat," Joey melirik ke arah meja makan yang tak jauh dari dapur di mana mereka berdiri saat ini.


"Yaudah, kamu duluan gih, aku ambilin mangkok sama sendok dulu," ucap Rain sambil membalikkan tubuhnya ke arah kabinet dapur. Ia membuka lemari yang menggantung di dinding dan mengambil mangkok beserta sendok, sekalian ia juga mengambil gelas.


Kemudian, Rain mengambil susu UHT yang ada di dalam kulkas dan menuangkannya ke gelas. Lalu ia membawa alat makan tadi bersama segelas susu menuju meja makan.


Di meja makan, Joey terlihat sudah menunggu sambil bertopang dagu. Wajahnya yang pucat, mendadak tersenyum saat pria kesayangannya berjalan ke arahnya membawakan susu kesukaannya.


"Makasi, Sayang," ucap Joey girang sambil meraih gelas susu yang diberikan oleh Rain.


"Sayang? Sejak kapan Oleander-ku memanggil sayang?" tanya Rain sambil duduk di samping Joey. Ia tak ingin duduk berseberangan, karena pagi ini, ia akan menyuapi gadisnya sarapan.


"Oek!" Joey mendadak terkoek saat mencium bau susu yang hampir saja ia seruput. "Om! Susunya udah basi!"


Rain terkejut. Ia langsung meraih gelas susu dari tangan Oleander-nya lalu menghirup aroma susu tersebut. "Basi gimana?"


"Bauk!" ucap Joey sambil mimik wajahnya mengecut. "Nggak mau ih!"


"Bentar, aku liat tanggal expired-nya."


Rain bangkit dari duduknya, ia menuju dapur dan membuka pintu kulkas. Lalu ia meraih kotak susu yang tadi ia tuangkan ke gelas Joey.


"Masih lama kok expired-nya," gumam Rain sambil mengerutkan dahinya. Pria tersebut tak sengaja memiringkan kepala sambil menaikkan kedua bahunya karena merasa aneh dengan indra penciuman gadisnya.


Setelah memeriksa tanggal kedaluwarsa susu tersebut, ia balik ke meja makan.


"Masih lama kok expired-nya," ucap Rain sambil duduk. Ia meraih gelas yang berisi susu tadi, kemudian menyeruput susu tersebut. Lalu ia mengecap-ngecap rasa dari susu yang ia seruput.


"Enak kok," gumamnya.

__ADS_1


"Masak? Sini aku coba lagi," Joey penasaran dan kembali mengambil gelas tadi. Lalu ia mencoba menyeruput susu tersebut.


"Ugh!" sebelum menyeruput susu tersebut, ia kembali mencium bau tak sedap. Ia meletakkan gelas tadi ke atas meja sambil menutup mulut dan hidungnya menggunakan kedua tangan.


"Yaudah, susunya nggak usah diminum," ucap Rain sambil menjauhkan susu tersebut. Lalu, ia menumpahkan bubur kacang ijo ke dalam mangkok dan menyuapi Joey.


"Om," panggil Joey. Ia mengunyah sambil kakinya bergoyang-goyang menjuntai di atas kursi. Gadis itu menoleh ke kiri, ke arah pria yang ia cintai.


"Hmm," dehem Rain mengiyakan.


"Jadi, Ibu Ravindra yang kemaren di acara peresmian hotel itu ibu tiri, Om?"


"He'em." Rain menyuapkan kembali bubur kacang ijo ke mulut Joey.


"Dia yang ngerebut posisi Mama Luna?" tanya Joey ragu-ragu.


"Iya. Dia wanita yang dijodohkan Nenek ke Papa," jawab Rain datar. "Dia juga punya anak sama Papa."


"Berarti, Om punya adek tiri?!" Joey menelan paksa seluruh makanan yang belum sepenuhnya terkunyah. Matanya membulat karena penasaran.


"Kunyah yang bener, ntar keselek," ucap Rain sambil menyuapi gadis itu lagi. Ia benar-benar sabar menghadapi gadis itu.


"Namanya siapa? Umurnya? Terus dia tampan juga kayak Om?" tanya Joey penasaran.


Sesaat setelah Joey menanyakan tentang adik tirinya, Rain menoyor gemas kepala gadis tersebut. "Kalo ganteng kenapa? Kamu mau berpaling dariku? Hemm?"


"B-bu-"


"Emangnya Luca dan Kale masih kurang?!" celetuk Rain kesal. Selama ini, ia berusaha menahan diri membahas kedua pria yang kini menjadi saingannya.


"Om... tau nggak-"


"Ya mana aku tau, kamu 'kan belum cerita!" potong Rain kesal. Tapi, meskipun ia kesal, ia tetap lanjut menyuapi Joey.


"Om Kale ngenalin aku ke Pak Luca," Joey bercerita dengan antusias.


"Hahhh?!!! Ngapain? K-kamu nggak jadi Ku-"


"Ish! Om! Di pikiran Om itu kenapa selalu tentang s e x, sih?!!!" gerutu Joey sebal sambil balik menoyor kepala pria dewasa di sampingnya.


"Hahaha... udah berani menoyor kepalaku sekarang ya?" tanya Rain sambil menyeringai.


"Lagian, masak aku jadi Kupu-Kupu Malam. Om bener-bener deh!"


"Hahaha... yaudah lanjut deh ceritanya," pinta Rain sambil menyuapi sendok terakhir bubur kacang ijo ke mulut Joey.


"Eh tunggu tunggu. Om dulu deh. Itu ... adek tiri, Om," Joey memelas sambil mengibaskan kedua matanya.


"Dasar centil!" gerutu Rain sambil meletakkan mangkok yang sudah kosong ke atas meja.


"Namanya Zayn. Beda usia ku dan dia tujuh tahun dan NGGAK TAMPAN SAMA SEKALI!" jelas Rain dengan nada yang penuh penekanan di ucapan 'nggak tampan sama sekali'.


"Pftttt... orang tua emang gitu ya? Suka marah-marah," ledek Joey sambil mencebik mengejek pria di sampingnya.


"Tua tua begini, ada gadis muda yang rela nangis tersedu-sedu karna rindu," balas Rain sambil mencubit pipi tembam Joey.


Joey menempik tangan kekar Rain yang mencubit pipinya.

__ADS_1


"Om," panggil Joey lagi.


"Hmm," Rain mengeluarkan roti bakar blueberry dan menyuapi Joey.


"Aku mau minta maaf," ucap Joey tiba-tiba. Ia menundukkan wajahnya sambil mengunyah.


"Sebelumnya, aku berniat untuk mandiri dan nggak bergantung lagi sama Om, soalnya bentar lagi Om bakalan jadi suami orang," ucap Joey dengan suara parau.


"Terus Om Kale ngenalin aku ke Pak Luca buat jadi penyanyi dan aku udah tandatangan kontrak dengan Williams Production."


Entah kenapa, Rain tertawa melihat tingkah laku menggemaskan Joey. Pasalnya raut wajah gadis itu sendu sambil menunduk, tapi tetap melanjutkan mengunyah. Tangannya tak tahan untuk tak menyentuh pipi tembam yang penuh makanan tersebut.


"Menggemaskan," gumam Rain perlahan.


"Om denger nggak sih?" ketus Joey sebal. Ia merasa pria itu tak mendengarkan ia bercerita.


"Dengar, Sayang," sahut Rain sambil meletakma roti bakar tadi ke atas plastik.


"Lihat aku," pinta Rain pelan.


Joey menoleh ke kiri ke arah Rain.


"Harus berapa kali ku katakan, aku hanya mencintaimu," tutur Rain dengan sangat lembut.


"Beri aku sedikit waktu. Aku ingin menduduki posisi CEO, lalu ku hancurkan Grup Ravindra dan menjadi suamimu seutuhnya. Kamu boleh memberikan saran jika kamu mau." Tutur Rain menjelaskan tujuan dari kenapa ia menggebu-gebu ingin menduduki posisi CEO Grup Ravindra.


"Terus, selama sama Anya? Om beneran nggak ngapa-ngapain sama dia?" tanya Joey cemas.


"Dia mengancamku," jelas Rain tiba-tiba.


"Huh? Mengancam?" tanya Joey sambil mengerutkan keningnya.


"Hmm... dia tau tentang kita dan asal usul mu," jelas Rain sambil memijat pelipisnya. "Membuatku frustasi karna nggak tau harus berbuat apa."


"Haaa... akhirnya aku tau alasan kenapa selama ini Om melunak dan nggak berkutik di depannya. Ternyata penyebabnya aku," Joey menghela napas lega.


Akhirnya kegelisahannya selama ini, satu per satu mulai terjawab dan terpecahkan. Rasa cintanya pada pria itu pun semakin bertambah.


"Om, kedepannya kalo kita ada masalah, kita saling cerita ya? Biar nggak ada salah paham. Terus ntar kita cari solusinya bareng," pinta Joey lirih.


"Oleander-ku sudah dewasa ya?" Rain mengacak-acak poni Joey dengan gemas. Kedua sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman yang sangat indah dan lega. Ia bahagia gadis yang ia rawat selama empat belas tahun ini, kini tumbuh dewasa dan menjadi tempat pulang ternyaman yang selama ini ia cari-cari.


"Aku tak butuh rumah yang lain, karna aku telah menemukan rumah ternyaman yang tak dapat dibeli oleh siapapun," batin Rain.


"Ayo janji kelingking!" Joey memberikan kelingking kanannya kepada Rain.


"Janji!" Rain mengaitkan kelingking kanannya ke kelingking kanan Joey.


Lalu, kedua orang tersebut saling menempelkan dahi sembari saling tatapan dan tersenyum dengan sangat bahagia.


"Aku sayang, Om," ucap Joey lirih.


"Aku juga sayang Oleander-ku," sahut Rain hangat.


...****************...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2