OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Rasa Sakit Oleander-ku


__ADS_3

..."Aku akan membalaskan rasa sakitmu berkali lipat pada mereka." - Rain...


...🌸🌸🌸...


Di ruangan pengap dan kumuh itu, Joey berusaha meronta-ronta ingin melepaskan tubuhnya dari ikatan kuat yang membelenggu. Ia benar-benar tak ingin kehilangan Rain, pria yang ia cintai sekaligus ayah dari bayi di perutnya.


"Heh! Nggak usah ribet!" ucap Anya sambil menoyorkan pistol ke kepala Joey dari belakang sehingga kepala gadis tersebut tersentak ke depan.


"Jaga sikapmu!" bentak Rain pada Anya. Darahnya semakin mendidih akibat ulah dari wanita ja.lang tersebut. Iya mere,mas dengan kuat pulpen yang ada di tangannya karena kesal melihat gadisnya dilakukan semena-mena.


Buk! Bruk! Gedebuk!


Belum sempat Rain menandatangani surat perjanjian tersebut, tiba-tiba saja ada suara gaduh dari luar ruangan. Akibat suara gaduh tersebut, seluruh orang yang ada di ruangan kecil di mana ada Joey, Rain, Anya, Pak Dandy dan beberapa orang bawahan Anya, semuanya tersentak kaget. Fokus mereka tiba-tiba teralihkan pada bunyi gaduh tersebut. Sepertinya Leons telah tiba.


Di saat yang sama, Rain mengambil kesempatan ingin menyelamatkan Joey karena fokus Anya menjadi pecah. Namun, saat yang sama juga Joey terjatuh ke samping sekaligus dengan kursinya akibat ia bersikukuh berusaha meronta-ronta ingin membebaskan diri.


"AAKKK!!!" pekik Joey. Seluruh tubuhnya kesakitan akibat jatuh terjerembab ke lantai.


Anya yang semula fokusnya teralihkan, kini ia menatap ke arah Rain yang sedang jongkok ingin menyelamatkan gadisnya.


"Mas!" teriak Anya dengan suara yang lantang. "Kalo Mas buka tali itu, aku akan melepaskan tembakan ke kepala Joey!"


Rain mendadak terdiam. Gerakan tangannya terhenti saat Anya menodongkan pistol ke arah Joey. Karena tak ingin gadisnya kenapa-kenapa, ia sedikit berjarak dari Joey dan mendekat ke arah Anya.


Anya tak ingin membiarkan kesempatan tersebut. Ia menyuruh seluruh bawahannya mengecek keadaan di luar dengan isyarat mata yang tertuju ke arah pintu.


"Heh orangtua!" tegas Anya kasar. "Ngapain lo diem aja?! Pegang tuh anak lo biar nggak kabur!"


BRAAKKK!!!


Sesaat setelah Anya memerintahkan Pak Dandy untuk menangani Joey, tiba-tiba saja pintu ruangan tersebut dibanting kasar menggunakan tubuh bawahan Anya. Pria hitam legam bertubuh kekar tersebut jatuh tersungkur di lantai karena di lempar oleh Brown.


Ya! Brown akhirnya muncul! Sejak tadi ke mana saja dia?! Pikir Rain saat itu.


Seluruh bawahan Anya yang ada di lokasi tersebut menyerbu masuk ingin menyelamatkan bosnya, Anya. Tapi sayang, semua pria-pria berkulit hitam legam bertubuh kekar tersebut ditahan dan ditonjok bertubi-tubi oleh Leons.

__ADS_1


Saat itu, Leons benar-benar bringas dan brutal dalam memberikan pukulan kepada seluruh bawahan Anya. Tak ada ampun dan tak ada belas kasih sedikitpun. Seluruh anggota Leons dibuat naik pitam saat melihat Miss A mereka jatuh tersungkur dengan sudut bibir yang berdarah.


"Sialan!!!" umpat Anya saat itu. Lagi-lagi fokusnya pecah.


Rain bergegas mendekati tubuh tersungkur Joey dan melepaskan ikatan yang membelenggu tubuh tak berdaya gadisnya tanpa mempedulikan Anya.


"Kamu keras kepala ya, Mas!" bentak Anya sambil jari telunjuknya bersiap-siap ingin menarik pelatuk pistol.


Sesaat sebelum Anya melepaskan tembakan, Rain telah berhasil melepaskan tali yang mengikat tubuh Joey. Ia langsung memeluk tubuh gadis tersebut sambil berguling ke arah berlawanan di mana Anya melepaskan tembakannya.


DORRRR!!!


Sebuah tembakan melesat ke dinding. Untungnya Rain berhasil menggulingkan tubuhnya dengan Joey ke lantai yang berlawanan.


Di saat yang sama, saat di mana tembakan dilepaskan oleh Anya, Joey tersentak kaget. Wajahnya semakin pucat dengan tubuh yang bergetar hebat. Keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya.


"Om... hikss.. hikss..." isak Joey sambil mencengkeram erat baju Rain karena ketakutan.


Rain yang menyadari gadisnya sedang ketakutan, ia semakin mempererat pelukannya untuk menenangkan Joey. Ia mengusap lembut kepala gadis tersebut sembari memberi aba-aba menggunakan mulut tanpa suara pada David dan Charlie agar segera mengamankan Anya dan Pak Dandy.


Charlie dan David bergegas menerima perintah dari Alpha-nya. Hanya dalam sekejap saja mereka telah menangkap Anya dan Pak Dandy. Kemudian tubuh kedua orang tersebut di telungkupkan ke lantai dengan tangan yang dikunci dari belakang.


Wanita itu berusaha melihat ke sekelilingnya mencoba mencari seluruh bawahannya yang tersisa. Sayangnya, seluruh anggotanya telah tumbang dan berhasil dilumpuhkan oleh kebrutalan Leons dalam beraksi.


"Pak!" Harry tiba-tiba masuk ke dalam ruangan tersebut di saat semuanya telah kondusif. Ia berlari terengah-engah mendekat ke arah Joey dan Rain.


"Tenanglah, aku di sisimu," bujuk Rain menenangkan tubuh Joey yang masih bergetar hebat.


"A-aku ... t-takut, Om," isak Joey tersedu-sedu.


Rain mengusap kepala dan punggung gadisnya yang sedang dalam pelukan, kemudian ia mengecup lembut kepala gadis tersebut.


"It's okay, it's okay. Semua udah teratasi, Sayang," bujuknya lagi.


Cukup lama ruangan tersebut sunyi akibat Rain berusaha tak bergerak dari duduknya karena berusaha menenangkan Joey, hingga akhirnya gadis itu perlahan mulai tenang. Tubuhnya yang semula bergetar, kini tak lagi bergetar. Yang tersisa hanyalah detak jantungnya yang masih berdetak dengan kencang terasa di dada Rain karena saat ini dada mereka saling berdempetan.

__ADS_1


"Terima kasih karena udah bertahan," gumam Rain lirih pada gadisnya.


Anya yang melihat kejadian tersebut, ia benar-benar terbakar api cemburu. Pasalnya, selama ini sifat yang ditunjukkan oleh Rain padanya sangatlah dingin, ketus dan tak berperasaan. Berbanding terbalik dengan sifat yang ia berikan pada Joey. Bagaimana bisa pria itu bisa menjadi pria yang lemah lembut dan begitu hangat. Ia menggertakkan giginya karena kesal dan geram.


"Ikat mereka di kursi!" perintah Rain saat itu juga kepada Charlie dan David.


Tak membutuhkan waktu lama, kini Anya dan Pak Dandy yang sedang duduk di kursi dengan posisi terikat.


"Mas! Ayo kita bicarakan baik-baik!" sergah Anya tak terima karena ia di ikat seperti itu. "Jangan sampai Mas menyesal karena membatalkan pernikahan ini!"


Rain tak mengindahkan ucapan Anya. Ia masih memeluk Joey. Kemudian ia bertanya kepada Joey dengan sangat hati-hati.


"Sweetheart?" panggil Rain begitu lembut.


"Katakan padaku, apa yang telah mereka lakukan padamu?" sambung Rain dengan tubuh yang bergetar. Kini ia merasa amat sangat bersalah karena membuat gadis itu harus melalui hal menyakitkan ini.


Joey tak berkutik. Ia masih terdiam dan membisu akibat trauma dengan kehadiran ayahnya dan ketakutan setengah mati dengan hal-hal yang ia lalui malam ini.


"Tell me," pinta Rain lembut. "Aku akan membalaskannya untukmu."


Mendengar ucapan tersebut, Joey mendongakkan kepalanya ke arah Rain dengan wajah yang sendu dan pucat pasi. Lagi-lagi ia menangis dengan sangat pilu.


"Apa mereka menamparmu?" tanya Rain hati-hati. Ia menggigit bibirnya dengan kuat saat melihat pipi gadisnya yang lebam dan memerah.


Joey hanya mengangguk pelan sambil terisak dengan tatapan yang tak teralihkan ke mata Rain. Keduanya saling bertatapan dengan sangat dalam.


Melihat respon dari gadisnya, Rain mengepalkan tangannya dengan sangat kuat.


"Bibirmu berdarah," ucap Rain sambil menyeka darah kering di sudut bibir Joey menggunakan jempolnya. "Mereka juga yang melakukannya?"


Joey kembali mengangguk mengiyakan pertanyaan Rain.


"Baiklah, kamu tunggu di sini sebentar ya," sambung Rain.


"Aku akan membalaskan rasa sakitmu berkali lipat pada mereka."

__ADS_1


...****************...


BERSAMBUNG...


__ADS_2