OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Semua Ini Salahku


__ADS_3

...“Semua ini salahku.” – Rain...


...🌸🌸🌸...


Aroma pekat Karbol tercium dan begitu menusuk ke hidung Joey. Kelopak mata gadis itu perlahan terbuka. Ia berusaha melebarkan matanya meski kepalanya masih sedikit nyeri karena pusing. Sepintas ia teringat akan peristiwa semalam, peristiwa yang cukup membuatnya terguncang dan ketakutan.


Gadis yang sebentar lagi berusia sembilan belas tahun itu merasa tangan kirinya kram seperti tertimpa sesuatu. Ia pun penasaran dan menoleh ke sisi tubuhnya sebelah kiri dan melihat Rain yang sedang tertidur pulas sambil memeluk serta menggenggam erat tangan kirinya. Seperti tak ingin lepas darinya.


Joey menatap dengan seksama wajah tampan pria itu. Wajah lelah yang sedang pulas dengan nafas yang teratur. Tanpa sadar, ia tersenyum. Ingin sekali ia membelai kepala pria itu, sayangnya tangan kanannya sedang diinfus dan tak bisa banyak bergerak.


“Om Rain…” panggilnya pelan dengan suara yang samar-samar. Ia sengaja ingin memanggil nama pria tersebut tanpa berniat ingin membangunkan. “Aku mencintaimu, Om Mesum.”


Rain yang sedang tertidur tiba-tiba tersentak dan langsung mengangkat kepalanya dari sisi ranjang. Matanya yang masih mengantuk seketika terbuka dengan sempurna saat mendengarkan suara Joey. Ia bergegas berdiri dan menempelkan tubuhnya ke sisi ranjang.


“Joey?” panggil Rain sambil berusaha memegang kedua pipi Joey. Ia ingin memastikan bahwa gadis itu benar-benar telah sadar.

__ADS_1


“Haaaa… syukurlah,” gumam Rain lega sambil memeluk tubuh gadis tersebut.


Joey yang semula terbaring, tubuh atasnya terangkat akibat pelukan Rain. Matanya mengerjap-ngerjap kaget akibat kelakuan pria itu.


“Om kayak aku abis bangun dari mati aja deh,” celetuk Joey kaget.


“Jangan bicara sembarangan!” Rain mere.mas gemas bibir Joey.


Wajah lelah dan ngantuk pria itu perlahan ceria setelah melihat senyuman dari Oleander-nya. Ia akhirnya dapat bernafas lega setelah melihat Joey terbangun. Kemudian, ia kembali menidurkan tubur gadis itu ke atas ranjang dan ia duduk di kursi yang berada di sisi ranjang.


Rain meraih tangan kiri Joey dan menggenggamnya. Matanya tertuju pada gadis itu dengan tatapan yang penuh arti.


“Ma-maafkan aku,” gumam Rain lirih sambil tertunduk. “Semua ini salahku.”


Joey tak mengerti dengan ucapan pria itu. Yang ada dipikirannya saat ini adalah, pria itu meminta maaf atas peristiwa semalam. Peristiwa yang membuat ia kembali bertemu dengan pria yang ia benci seumur hidupnya sekaligus peristiwa menempatkannya dalam keadaan bahaya.

__ADS_1


Tapi, tak mengapa. Semua itu bukan karena keinginan Rain, pikir Joey. Pria itu juga tak akan mau menempatkan gadis yang ia cintai dalam bahaya, hanya saja keadaan yang menjebak mereka sampai harus berada di situasi mengenaskan itu. Andai Leons terlambat sedetik saja, mungkin sekarang Rain sudah terikat kontrak sebagai istri Anya.


“Itu bukan salah, Om,” ucap Joey menenangkan. Gadis itu tersenyum ke arah Rain meskipun wajahnya masih pucat.


“Lagian, sekarang aku dan bayi kita ‘kan udah selamat,” sambungnya sambil mengelus perut menggunakan tangan kanan.


Rain semakin merasa bersalah saat Joey mengatakan bahwa ia dan bayinya sekarang telah selamat. Hah! Bagaimana ia harus menjelaskan kepada gadis itu bahwa bayi mereka tak dapat diselamatkan? Apa Joey akan menerimanya? Apa Joey akan memarahinya, lalu pergi meninggalkannya?


“B-bayi kita … tak dapat diselamatkan,” tutur Rain singkat. Ia sudah kehabisan akal memikirkan bagaimana cara yang benar menyampaikan berita buruk tersebut. Setidaknya, ia berusaha untuk jujur dan tak menutupi sesuatu yang nantinya akan ketahuan juga.


Joey tersentak kaget. Wajahnya yang pucat semakin dibuat pasi saat mendengarkan bahwa bayi yang ia kandung tak dapat diselamatkan. Baru saja ia merasakan bahwa mereka akan memulai kebahagiaan mereka setelah melewati peristiwa mengenaskan semalam. Tapi, kenapa ada nyawa yang harus dikorbankan?


“Ke-kenapa?” tanya Joey terbata-bata. Ia sulit menerima jawaban yang diucapkan oleh Rain. Pasalnya, ia merasa kemaren hanya wajahnya saja yang ditampar, sedangkan perutnya baik-baik saja dan tak tersentuh sedikitpun.


“Om becanda, ‘kan?”

__ADS_1


...****************...


BERSAMBUNG…


__ADS_2