
..."Darah harus dibalas dengan darah!!!" - Rain...
...🌸...
..."Kamu udah bertahan sejauh ini, jadi tolong bertahan sedikit saja lagi." - Rain...
...🌸🌸🌸...
"Mas!" pekik Anya saat mendengarkan ucapan Rain pada Joey.
"Mas nggak beneran mau nyakitin aku, 'kan?!!!"
Lagi-lagi Rain tak mempedulikan ucapan Anya. Ia lebih tertarik memanggil Harry untuk menjaga Joey sebentar. Sementara Leons, sebagian dari mereka kembali ke luar menjaga situasi di luar dan ada juga yang berdiri berkerumun di ruangan melihat dengan iba Miss A mereka yang benar-benar tak berdaya tersebut.
"Harry!" panggil Rain. "Jaga Oleander-ku!"
Anya semakin dibuat terbelalak saat Rain menyebutkan Oleander. Bukankah itu nama hotel terbesar se-Asia Tenggara yang belum lama ini di resmikan?
"Hahaha... ternyata nama hotel yang diresmikan kemaren dari pela.cur itu?!!!" sergah Anya geram.
Meskipun bawahannya telah lumpuh dan kini ia sedang terikat, tetap saja ia merasa tak puas hati saat mendengarkan nama panggilan kesayangan Rain untuk Joey.
Rain bangkit dari duduknya dan membiarkan Joey menyandarkan tubuhnya ke arah Harry. Kemudian pria itu berjalan mendekati Anya yang sedang terikat bersebelahan dengan Pak Dandy.
Pria tua yang tadinya begitu bengis, ia hanya terdiam membisu sejak saat Anya tiba hingga sekarang. Sepertinya ia sedang ketakutan sekarang. Namun Rain sedang tak ingin mempedulikannya, karena yang ingin ia berikan pelajaran sekarang adalah Anya, si ja.lang tak tahu diri itu.
Setelah Rain mendekati tubuh Anya, ia menjambak rambut wanita tersebut sampai kepala wanita itu mendongak ke atas, persis seperti apa yang telah wanita itu lakukan pada Joey tadi.
"M-Mas... jangan bodoh!" ucap Anya gugup namun dengan nada yang penuh penekanan. "Aku ini perempuan!"
Rain terkekeh mendengarkan ucapan Anya tersebut. Ia semakin menarik rambut wanita itu dengan sangat kuat sehingga wanita itu meringis kesakitan.
"Perempuan?!!!" bentak Rain lantang. "Lalu bagaimana dengan Oleander-ku?!!! Kamu memperlakukannya seperti binatang!"
"Padahal kamu yang binatang di sini!!!" sambung Rain lagi dengan mata yang melotot sempurna karena darahnya yang mendidih. Ia sudah tak tahan lagi ingin membalaskan rasa sakit yang gadisnya terima tadi.
"S-sakittt..." ringis Anya lirih.
Rain melepaskan jambakan tersebut. Anya mendadak senang karena pria itu melepaskan jambakan di kepalanya.
PLAK!!!
Belum sempat Anya tersenyum dan berbicara karena merasa Rain mengasihaninya, sebuah tamparan melayang dengan kuat ke pipi kanan Anya.
__ADS_1
"Darah harus dibalas dengan darah!!!" tukas Rain geram.
PLAK!!!
Saat mulut Anya setengah terbuka karena kembali ingin berbicara, Rain kembali menampar pipi wanita tersebut dengan sekuat tenaga.
"M-Mas ... a-ampun," ringis Anya yang perlahan menangis. Karena tamparan dari pria itu sangat menyakitkan.
Akibat tamparan keras dari tangan besar dan kasar Rain, pipi Anya dibuat bengkak serta memerah. Dari sudut bibirnya juga keluar darah segar yang mengalir sama persis seperti Joey.
Bagi Rain, apa yang ia lakukan sekarang belum setimpal dengan apa yang diterima oleh Oleander kesayangannya. Karena, Oleander-nya merasakan ketakutan akan trauma yang masih belum sembuh ditambah lagi gadis kesayangannya itu mendapatkan perlakuan kasar dari dua orang. Singa yang sedang tidur di diri Rain telah diganggu dan dibuat terjaga gara-gara singa betinanya di usik.
PLAK! PLAK! PLAK!!!
Rain mengayunkan tamparan pada kedua pipi Anya dengan sekuat tenaga. Ia membayangkan bagaimana Oleander-nya tadi di siksa tanpa belas kasih.
"Aku sudah pernah bilang, 'kan? Jangan pernah menyentuh gadisku! Tapi kamu telah melewati batas!"
PLAK!!!
Suara lantang Rain membuat seluruh orang yang ada di ruangan tersebut terdiam. Leons yang sedari tadi menyaksikan, mereka benar-benar tak menyangka bahwa Alpha yang selama ini membenci kekerasan, ternyata menjadi sangat bengis pada seorang wanita yang telah mengusik bunga kesayangannya.
Mata yang melotot dengan urat yang terlihat tegang, rahang yang bergetar dan deruan napas yang tak teratur, membuat Rain lebih terlihat seperti seekor singa yang sedang mengamuk.
"Om..." panggil Joey lemah. Wajahnya meringis kesakitan.
"Yes, Sweetheart?" jawab Rain lembut.
"D-darah," ucap Joey sambil menunjuk ke arah baju dan celana Rain. "Om ... berdarah."
Kebetulan malam ini pria itu mengenakan celana cream dan baju putih. Namun pakaiannya telah kotor karena berguling di lantai dan terkena darah.
Rain memeriksa seluruh tubuhnya. Ia mencari-cari dari mana sumber darah tersebut. Namun tak ia temukan.
"Mungkin itu darah orang lain," ucap Rain menenangkan Joey. "Aku baik-baik saja. Tenanglah."
Kemudian pria itu meraih pistol yang ada di lantai. Lalu ia menodongkan pistol ke kepala Anya.
Anya terkekeh melihat keberanian Rain saat ini. Bagaimana bisa seorang pria yang dingin mendadak mengerikan hanya karena sebuah cambukan yang diberikan pada gadisnya.
"Kata-kata terakhir?!" kecam Rain tanpa belas kasih dan tanpa ampun. Ia ingin segera membunuh wanita itu. Karena jika wanita itu tetap hidup, maka Oleander-nya tak akan baik-baik saja.
Lagi-lagi Anya tersenyum menyeringai. Namun kini sorot mata wanita itu tertuju kepada Joey yang sedang meringis kesakitan menekan-nekan perutnya. Harry tak sadar akan itu, ia masih terpaku membisu melihat kebengisan Rain.
__ADS_1
"Aku akan menemani anakmu di neraka!" tutur Anya sambil tertawa dengan sangat menyeramkan.
Rain menghela napasnya saat mendengarkan ucapan wanita tersebut. Wanita itu benar-benar telah menjadi gila dan tak terkontrol. Entah apa maksudnya.
"Darah? Menemani anakku ke neraka?" pikir Rain saat itu sambil memiringkan kepalanya.
Namun, Rain tiba-tiba tersentak kaget. Tanpa berpikir panjang, Rain segera menoleh ke arah Joey dan ia melihat dengan seksama seluruh tubuh Joey dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia ingin memastikan bahwa gadisnya baik-baik saja. Gadis itu tak terkena besi panas yang dilepaskan oleh Anya tadi 'kan?
Pandangannya terhenti dan terfokus pada betis Joey yang merah. Apa itu darah pikirnya? Ia memicingkan mata untuk melihat dengan jelas benda apa yang mengalir di paha gadisnya saat ini.
Wajah Joey yang memucat dan bergetar menahan sakit serta kedua tangannya yang memegang dan menekan-nekan perut karena rasa sakit yang tertusuk-tusuk.
"Ugh," ringis Joey dengan wajah yang pucat pasi.
Harry yang sadar akan tatapan Rain, ia langsung menoleh ke arah Joey yang sedang bersandar ke tubuhnya.
"BRENGSEKKK!!!!" umpat Rain sambil pistol yang di tangannya terlepas. Ia bergegas berlari ke arah Joey.
Namun belum sempat Rain mendekati gadis itu, Joey langsung pingsan sesaat setelah Rain tersadar bahwa gadis itu sepertinya sedang mengalami pendarahan.
Tawa Anya yang terpingkal-pingkal mendengung-dengung di ruangan kosong tersebut. Meskipun ia kalah dan tak mendapatkan Rain, setidaknya ia merasa sangat puas karena berhasil menyingkirkan bayi yang sangat dicintai oleh Rain.
"JOEYYY!!!" pekik Rain. Ia mengguncangkan tubuh gadis yang pingsan tersebut.
"Bangun, sayang! Bangunn!!!"
Karena tak ada respons dari tubuh tersebut, Rain bergegas menggendong tubuh Joey. Kaki gadis itu penuh dengan darah segar yang mengalir dari se.lang.kangannya.
"Siksa mereka berdua sesuka hati kalian!" titah Rain dengan wajah yang sangat mengerikan. Jangan sampai aku melihat mereka lagi di dunia ini.
Pria itu menggertakkan giginya dan kini matanya berkaca-kaca akibat gadis yang ia cintai harus mengalami hal menyakitkan ini. Jika bayi itu tak terselamatkan, berarti ini yang kedua kalinya ia harus kehilangan bayi dari kandungan. Yang pertama adik kandungnya dan yang kedua anak pertamanya.
Harry bergegas berdiri dan mengikuti Rain keluar dari gedung itu. Ia akan membawakan kedua orang tersebut ke rumah sakit dengan segera.
Sebagian anggota Leons yang saat itu tak berada di ruangan tadi, mereka dibuat terheran-heran melihat darah segar yang mengalir di paha Miss A mereka. Apa yang terjadi pada gadis malang itu? Pikir Leons hampir semuanya. Namun tak ada seorangpun yang berani bertanya karena wajah Rain saat itu begitu suram dan menakutkan.
Rain bergegas masuk ke dalam mobil sambil memangku tubuh Joey. Ia memeluk tubuh tersebut dengan sangat erat dan ketakutan. Sesekali ia menciumi kepala dan dahi gadis tersebut dengan raut wajah cemas, khawatir dan takut.
"Kamu udah bertahan sejauh ini, jadi tolong bertahan sedikit saja lagi," gumam Rain lirih. Kerongkongannya tercekat dan ia merasa sesak serta kesulitan bernapas.
"Sabar bentar ya, Sayang."
"Kamu harus kuat! Harus! Kebahagiaan udah menunggu kita," ucap Rain tanpa henti.
__ADS_1
...****************...
BERSAMBUNG...