OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Bersyukur Karena Kita Dipertemukan


__ADS_3

..."Aku bersyukur karna Om menemukanku enam belas tahun yang lalu." - Joey...


...🌸🌸...


..."Andai kamu nggak mendekat ke mobilku, mungkin ... sekarang hidupku nggak akan pernah sebahagia ini." - Rain...


...🌸🌸🌸...


"Joey," panggil Zea.


Gadis yang sedang hamil itu mendekat ke arah Joey dan duduk tepat di sebelah sahabatnya.


"Kayaknya, udah saatnya buat lu dan Om Rain go public deh," saran Zea sambil menatap ke arah Joey.


"Gue pengen Zea. Pengen banget," sahut Joey sambil duduk memposisikan tubuhnya menghadap Zea.


"Bertahun-tahun gue menjalani hubungan dengan Om Rain secara backstreet, jujur ... gue sedih. Gue pengen kayak pasangan lain yang bisa sebebasnya pacaran di luar, gandengan tangan, nonton di bioskop dan liburan ke mana aja bareng. Tapi situasi gue dan Om Rain itu nggak se-simple yang terlihat," sambungnya dengan dada yang sesak.


Kedua mata Joey terlihat berkaca-kaca. Benar ... selama berhubungan dengan Rain, ada banyak hal yang ingin ia lakukan layaknya pasangan biasa. Tapi tak bisa karena Rain tak beda dengan tokoh publik yang dikenali seantero jagat.


"Gue ... cuma pengamen kecil yang dipungut di jalanan. Sedangkan Om Rain, dia penerus grup dengan label anak orang terkaya se-Asia Tenggara," jelas Joey lagi.


Tanpa terasa, airmata mengalir membasahi pipi Joey. Ia tak sadar kembali teringat akan kenangan silam yang cukup menyakitkan.


"Andai ... andai Om Rain nggak bawa gue hari itu, gue nggak tau gimana nasih gue sekarang. Makanya, gue nggak mau jadi beban buat dia, gue bakalan support apapun yang dia mau dan apapun yang dia inginkan," isak Joey sambil menangis pilu.

__ADS_1


"Joey ... m-maaf. Gue nggak bermaksud bikin lu sedih," Zea merasa bersalah dan memeluk tubuh sahabatnya itu,


"Nggak kok, lu nggak bikin gue sedih. Gue cuma sedih karna sampe sekarang gue nggak bisa ngebantuin Om Rain apa-apa. Malah sekarang gue jadi nyusahin Om Rain dan-"


"Kata siapa istri aku nyusahin?" Rain yang entah sejak kapan berada di penthouse tiba-tiba memotong pembicaraan istrinya.


Zea dan Joey yang sedang berpelukan saling melepaskan pelukan mereka dan melihat ke arah suara bariton tadi berasal.


"Om Rain?" seru Zea dan Joey bersamaan.


Rain tersenyum sambil mengangkat kedua alisnya sambil berjalan mendekat ke arah ruang tamu diikuti Harry.


"Beberapa hari ini, kalau kalian nggak keberatan, tinggal aja di penthouse. Ada tiga kamar kosong. Pilih aja mau yang mana," ucap Rain pada Harry dan Zea saat berada di depan istrinya.


"Maaf ya, Zea. Mungkin Harry akan sibuk beberapa minggu ke depan, tapi nggak bakalan lama. Ada hal yang harus dibereskan," sambung Rain kepada Zea.


"Ya udah, kalian ke kamar aja. Kalo lapar, tinggal pesan apapun yang kalian mau ke orang kitchen," kata Rain. Ia yang sedang berdiri meraih kepala Joey dan memeluk kepala istrinya yang sedang duduk.


"Makasih, Pak," Harry tersenyum dan meraih bahu istrinya, Zea. "Kalau gitu, kami ke kamar dulu."


Saat Zea dan Harry menuju kamar, Rain duduk di samping Joey. Kemudian ia duduk menghadap istrinya.


"Hey, Sweetheart," sapa Rain lembut sambil tersenyum. Kedua tangannya memegang pipi Joey. Lalu, ia menyeka lembut airmata yang masih membasahi pipi istrinya.


"Om nggak dengerin semuanya, 'kan?" tanya Joey sambil cemberut. Wajahnya memerah karena malu saat tertangkap basah karena sedang berkeluh kesah ke sahabatnya.

__ADS_1


"Semua? Hmm ... sepertinya ng- ... iya. Aku dengar semua," ucap Rain sambil menempelkan dahinya ke dahi Joey.


"Ish! Om pencet bel kek, 'kan aku jadi malu kalau kayak gini," rengek Joey manja.


"Ngapain aku pencet bel penthouse ku sendiri?" Rain mendekatkan hidungnya ke hidung Joey. Kemudian hidung mancung mereka beradu.


Joey hanya mencebik karena tak dapat melawan apa yang suaminya katakan. Pasalnya, itu benar dan tak salah.


"Om ..." Joey langsung memeluk Rain. Kemudian ia menenggelamkan kepalanya ke dada bidang Rain yang masih tertutup jas.


"Yes, My Sweetheart," sahut Rain sambil memeluk tubuh istrinya dengan hangat. Kemudian, ia membelai lembut rambut hitam berkilau istrinya itu.


"Aku bersyukur karna Om menemukanku enam belas tahun yang lalu," ucap Joey pelan.


"Hmm ... kamu salah," bantah Rain sambil mendaratkan dagunya ke kepala Joey.


"Salah?" tanya Joey.


"Andai kamu nggak mendekat ke mobilku, mungkin ... hidupku nggak akan pernah sebahagia ini. Bisa jadi sekarang aku nikah dengan Anya tanpa cinta," tutur Rain pelan.


"Leons juga nggak akan ada kalau kita nggak bertemu."


...****************...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


...****************...



__ADS_2