
...“I’m here, Sweetheart. Mimpi yang indah-indah aja karna aku ada di sisimu.” - Rain...
...🌸🌸🌸...
Sore itu, Rain dibuat tak tenang memikirkan Oleander kesayangannya. Apa yang terjadi pada gadisnya? Apa benar gadis itu hamil? Jika benar, dia akan merasa sangat bahagia karena akan menjadi seorang ayah. Tapi, setidaknya dia harus membawa gadis itu ke rumah sakit dulu untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Lalu, jika benar Joey hamil, ia benar-benar tak akan melepaskan gadis itu ke pelukan pria lain. Entah gadis itu telah disentuh pria mana pun, ia tak peduli. Ucapannya tak akan pernah berubah, sekalinya miliknya, selamanya gadis itu akan menjadi miliknya. Meskipun tak semudah membalikkan telapak tangan untuk bersatu dengan gadis itu, ia tetap harus memiliki gadis tersebut.
“Mas?” panggil Anya. Wanita tersebut terlihat kesal karena pria yang ada di depannya saat ini, pikirannya tak di sana. Hanya tubuh pria itu saja yang berada di restoran di mana mereka sedang makan saat ini.
“Mikirin pengemis itu?” tanya Anya kesal. Ia mengerlingkan matanya sambil menyuapi es krim coklat ke mulut.
Rain tak menggubris ucapan wanita yang ada di depannya. Menurutnya, jika ia menanggapi ucapan tersebut, sama saja dengan menanggapi ucapan orang gila. Karena tak pernah benar. Ia lebih tertarik menyeruput white coffee yang ia pesan tadi sambil menghela napasnya.
“Kalo anaknya cewe, ku kasih nama apa ya? Terus kalo cowo, juga nama apa?” pikir Rain dalam hati. Entah kenapa, tiba-tiba saja pria itu tersenyum sendiri saat membayangkan Joey sedang menggendong bayi dipelukannya.
“Haaa… aku nggak sabar pulang,” batin Rain. Pikirannya benar-benar sudah dibawa pergi oleh Joey.
“Mas? Ish! Aku ngomong loh, Mas,” rengek Anya dengan wajah yang cemberut.
“Udah selesai? Ayo pulang,” tegas Rain datar.
Rain melambaikan tangannya pada seorang pelayan pria yang ada tak jauh dari meja mereka, lalu pelayan tersebut berjalan menghampirinya. “Minta bill ya, Mas.”
“Baik, Pak.”
...****************...
__ADS_1
Setelah mengantarkan Anya pulang, Rain bergegas menancap gas dan melaju menuju apartemen. Senyuman tak pernah putus bahkan hilang sedetikpun dari wajahnya. Jantungnya dibuat berdebar saat memikirkan bahwa Joey hamil.
“Duhhh… kenapa pake macet segala sih!” gerutu Rain sambil menepuk stir mobilnya. Ia merasa kesal karena terjebak kepadatan lalu lintas. Matanya melirik ke arah jam digital yang ada di mobil. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
“Apa aku beli makanan dulu? Kayaknya dia belum makan,” gumam Rain di sela-sela kepadatan lalu lintas saat ini.
Sambil menempuh kepadatan lalu lintas di malam itu, Rain melihat ke kiri dan ke kanan. Makanan apa yang sebaiknya ia belikan untuk gadis itu. Bukankah selera ibu hamil menjadi berubah? Atau dia tetap belikan saja makanan yang biasanya disukai gadis tersebut?
Tanpa berfikir panjang, Rain singgah dan berhenti di sebuah restoran makanan cepat saji yang sering Joey beli. Ia membeli beberapa menu sekaligus, karena dibenaknya saat ini, orang hamil itu suka makan.
Setelah itu, Rain bergegas masuk mobil dan kembali melaju menuju apartemen. Setibanya ia di parkiran mobil, ia bergegas keluar sambil membawa makanan yang ia beli tadi dan berlari-lari kecil menuju lift.
Jantung Rain semakin berdebar dengan kencang saat memikirkan bahwa ia akan segera bertemu dengan Joey. Ia sudah tak peduli dengan apa yang terjadi antara mereka beberapa hari yang lalu. Baginya, biarkan saja peristiwa tersebut, kini saatnya dia memikirkan masa depan anak dan istrinya. Dan yang terpenting saat ini adalah kesehatan Joey.
TING!!!
Pintu lift terbuka. Rain bergegas berlari menuju unitnya dan segera membuka pintu. Saat pintu apartemen tersebut dibuka, seluruh ruangan gelap gulita. Ia bergegas menghidupkan lampu dan meletakkan semua makanan yang ia beli tadi ke atas meja makan. Lalu, ia bergegas menuju kamar Joey.
“Ketuk dulu? Atau langsung masuk aja? Ntar langsung peluk aja kali ya?” gumam Rain lirih. Pria itu benar-benar dibuat konyol gara-gara gadis yang ia cintai.
“Uhukkk… uhukkk…” suara batuk terdengar di balik pintu. Itu merupakan suara Joey.
Tanpa berpikir panjang, sesaat setelah mendengarkan suara batuk gadis tersebut, Rain langsung membuka pintu kamar gadis itu. Ia melihat Joey yang sedang terkapar lemas di atas ranjang dengan selimut tebal. Tubuhnya benar-benar pucat karena menahan sakit.
“J-Joey!” seluruh tubuh Rain bergetar saat melihat gadis kesayangannya sedang sakit. Ia langsung berlari ke ranjang tersebut dan merasakan suhu tubuh gadis itu menggunakan punggung tangannya.
Panas. Benar-benar panas. Gadis itu sedang sakit parah.
__ADS_1
“Kita ke rumah sakit sekarang!” tegas Rain. Ia berniat memutar tubuhnya menuju lemari gadis itu untuk mengambil jaket, namun lengan kekarnya ditahan oleh tangan mulus Joey yang panas.
“A-aku nggak mau,” tutur Joey lemah. Suara gadis itu terdengar serak dan tak berdaya.
“Nggak, pokoknya ke rumah sakit!” Rain mengatakannya dengan lantang. Ia tak sampai hati melihat gadis yang ia cintai sedang kesakitan.
Joey bersikukuh untuk tidak ke rumah sakit. Ia benar-benar belum siap jika harus mendengarkan kabar bahwa ia hamil. Rasanya, kebahagiaan yang ia cicipi siang tadi mendadak sirna.
“Om, tolong kompres tubuhku pake air dingin,” pinta Joey pelan. Gadis itu memelas menggunakan wajahnya yang pucat dan tak berdaya.
Merasa tak tega, Rain memutuskan untuk mengikuti permintaan gadis itu. Ia bergegas menuju dapur, lalu ia membuka jas dan dasinya lalu dilemparkan ke kursi meja makan. Kemudian ia melepaskan kancing di lengan dan melipat lengan bajunya hingga ke siku.
Rain mengambil wadah dan mengisi es batu beserta air dingin ke dalamnya. Lalu ia ke kamar Joey dan menuju lemari mencari handuk kecil. Setelah itu ia duduk di sisi ranjang, mencelupkan handuk kecil tadi, lalu meme ras handuk kecil tersebut dan diletakkannya ke dahi gadis tersebut. Beberapa menit kemudian, gadis itu terlelap.
“Om…” tanpa sengaja Joey mengigau memanggil Rain. “Om…”
“Aku di sini, Sayang,” ucap Rain sambil meraih tangan Joey dan mengecupnya lembut.
“Om Rain… Om…” panggil Joey.
Melihat gadis tersebut tak tenang, Rain merebahkan tubuhnya ke samping Joey, ia juga ikut masuk ke dalam selimut. Lalu ia memeluk gadis tersebut dari samping. Ia juga tak lupa mengecup lembut pipi dan bibir panas gadis tersebut. Kemudian ia melingkarkan tangan kekarnya ke tubuh Joey.
“I’m here, Sweetheart,” bisik Rain lembut. “Mimpi yang indah-indah aja karna aku ada di sisimu.”
“Aku rindu, Om,” gumam Joey pelan dengan mata yang tertutup. Sepertinya di dalam mimpi ia sedang bertemu dengan Rain dan meluapkan semua kerinduan yang sempat tertahankan beberapa hari ini. Padahal, tanpa ia sadari, Rain benar-benar ada di sampingnya saat ini.
“Aku juga rindu,” sahut Rain sambil mendekatkan kepalanya ke kepala Joey lalu memeluk erat tubuh hangat gadis itu.
__ADS_1
...****************...
BERSAMBUNG…