
...“Lanjutkan olahraga malam yang menyenangkan itu.” - Rain...
...🌸🌸🌸...
Di kamar mewah yang baru saja mereka tempati sore tadi, tepatnya di balkon, Rain terlihat kesal dengan sorot matanya yang menatap lurus ke arah ombak yang memecahkan karang. Malam itu, bintang banyak bertebaran menghiasi langit dengan bulan yang penuh.
“Sayang,” panggil Joey dari belakang sambil mendekat ke arah Rain yang duduk termenung di atas kursi roda di depan kamar.
Di sela-sela perasaan kesalnya itu, Rain mendadak tersenyum. Pasalnya gadis itu memanggilnya dengan panggilan ‘Sayang’. Rain menoleh ke belakang ke arah Joey yang berjalan mendekatinya.
Cup!
Sebuah ke.cup.an hangat mendarat sejenak ke bibir Rain. Joey menciumi bibir suaminya sambil sedikit membungkuk memegang kedua bahu suaminya dari belakang, kemudian ia memeluk pria itu.
“Besok, kita pulang aja yuk?” ajak Joey. Meskipun ia sangat ingin meneruskan bulan madu kali ini, sepertinya terlalu egois jika dia memaksakan kehendaknya. Pasalnya, Rain tak akan pernah baik-baik saja selagi ada Zayn di sini.
Rain mengerutkan keningnya. Kemudian, kedua tangannya mengelus lembut tangan Joey yang memeluknya dari belakang. “Maaf, aku merusak honeymoon kita.”
“Cecunguk itu yang merusak, bukan, Om!” geram Joey. Wajahnya menunjukkan ekspresi kesal jika mengingat lagi kejadian yang sempat mereka lewati saat makan malam tadi. Untungnya, setelah meninggalkan Zayn, ia memesan makanan dan di antarkan ke kamar. Setidaknya, perut mereka tidak kelaparan.
Rain menarik Joey ke depan dan duduk menyamping ke atas pangkuannya. Lalu ia memeluk dengan erat tubuh istri kesayangannya itu. “Aku khawatir.”
Joey menatap ke arah Rain dengan seksama. Wajah sendu pria itu entah kenapa membuatnya gusar dan tak tenang. Apa karena kini ikatan batin mereka semakin kuat?
“Gimana kalo aku nggak bisa kasih kamu anak? Aku ‘kan lump—”
Cup!
Joey mengecup bibir suaminya. “Aku menikahi Om karena cinta dan ingin menghabiskan waktu bersama.”
“Urusan anak dan lain-lain, itu adalah bonus,” imbuhnya dengan nada yang lemah lembut.
“Haaa… kamu benar-benar membuatku semakin cinta,” gumam Rain sambil memeluk erat tubuh istrinya.
“Ngomong-ngomong, hotel ini berapa semalam?” Joey bertanya penasaran. Karena saat tadi sore mereka tiba di kamar tersebut, ia sempat menikmati indahnya pemandangan yang diberikan dari kamar yang mereka tempati. Kamar yang terletak di atas tebing yang menghadap laut lepas dengan interior mewah yang sangat bagus. Hotel itu juga disuguhi private pool yang menghadap langsung ke laut. Ditambah lagi servis yang baik dan makanan dari hotel itu sangat enak.
“Kurang lebih tujuh puluh jutaan semalam,” jawab Rain santai.
__ADS_1
“Hah? Tujuh puluh juta semalam?” Joey terbelalak sambil menatap ke arah Rain.
“Terus, kalo kita pulang besok, masak hotelnya di anggurin selama enam hari? Kan rugi?” timpalnya lagi. Jiwa perhitungan emak-emaknya mulai timbul.
“Nggak bisa refund juga,” ucap Rain pasrah sambil mengangkat kedua alisnya.
“Om Harry!” seru Joey. “Gimana kalo kita suruh Om Harry aja ke sini? Kasian, selama ini dia udah kerja keras.”
Tanpa berlama-lama, Rain pun memutuskan untuk menghubungi Harry.
“Aneh, dia nggak pernah mengabaikan panggilanku lebih dari tiga kali,” ucap Rain sambil mengerutkan keningnya.
“Coba telfon sekali lagi, Om. Takutnya Om Harry kenapa-napa,” pinta Joey khawatir.
Akhirnya, panggilan yang terakhir ini di angkat oleh Harry. Nafas pria itu terdengar terengah-engah dari balik panggilan tersebut.
^^^“Halo … haaa… Pak.”^^^
Rain mengerutkan keningnya. “Ada apa dengan suaramu?”
Rain melirik jam di ponselnya, kemudian ia membesarkan suara tersebut agar istrinya juga bisa mendengarkan.
“Olahraga pukul sebelas malam?”
^^^“Haaa… i-iya.”^^^
^^^“Soalnya tadi saya abis makan banyak.”^^^
^^^“Ada apa, Pak?”^^^
“Besok kamu ke Bali ya.”
^^^“Hah? Ke Bali?”^^^
^^^“A-ada apa, Pak?!”^^^
Harry terkejut bukan kepalang. Pasalnya, ia ingin berlama-lama bermesraan dan bercengkerama dengan Zea.
__ADS_1
“Aku dan—”
^^^“Hmphh…”^^^
Joey dan Rain saling melirik. Sepertinya beberapa saat tadi mereka berdua mendengarkan suara leng.uhan seorang wanita. Kemudian kedua tertawa cekikikan karena mengerti dengan situasi yang sedang Harry hadapi saat ini.
“Besok aku dan Joey akan kembali ke Jakarta. Kamu ke Bali dengan pacarmu. Nikmati waktu liburnya selama enam hari di hotel yang seharusnya aku tempati.”
“Om Harry, di sini suasananya romantis, loh!” celetuk Joey tak tahan. Gadis itu daritadi cekikikan sambil berusaha menutup mulutnya.
^^^“P-Pak—”^^^
“Sudah. Aku tutup dulu ya. Lanjutkan olahraga malam yang menyenangkan itu,” tutur Rain sambil menutup panggilannya tanpa membiarkan Harry menjawab ucapannya.
“Sepertinya Harry punya pacar,” gumam Rain sambil tersenyum. “Aku sempat takut dulu dia menyukaiku.”
“Ish! Om kepedean!” celetuk Joey sambil mencubit dada suaminya.
...****************...
Harry merebahkan tubuhnya ke samping Zea. Lalu ia memeluk tubuh gadis yang kelelahan itu.
“Besok kita ke Bali, ya?” tutur Harry lembut.
“Bali?” tanya Zea sambil menatap ke arah Harry.
“Hmm… Joey dan Pak Rain akan pulang, jadi kita akan menempati kamar hotel yang nggak jadi mereka tempati itu,” ucap Harry.
Zea menggigit bibirnya ke dalam. Ia menahan senyum dan rasa senangnya. Berulang kali iya mengumpat dirinya sendiri karena terlalu agresif dan mesum, tapi ia juga tak dapat menolak kenyataan bahwa ia sangat senang dapat menghabiskan waktu lebih lama lagi dengan Harry. Cinta memang indah di awal-awal.
Zea mengangguk pelan. Ia balas memeluk tubuh Harry dan menenggelamkan wajahnya ke dalam dada bidang pria itu.
“Kita bulan madu dulu, setelah itu menikah,” ucap Harry sambil mengelus pelan kepala gadis kecil itu.
...****************...
BERSAMBUNG…
__ADS_1