OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Tak Ada yang Gratis di Dunia ini


__ADS_3

..."Jangan pernah melupakan hukum alam yang satu ini. Nggak ada yang gratis di dunia ini meskipun kau memiliki hubungan darah dengan orang yang bersangkutan." - Rain...


...🌸🌸🌸...


"Om apaan sih, aku masih polos, Om!" rengek Joey. Gadis itu memasang wajah ngambek. "Canda om nggak lucu deh!"


"Saya serius."


"Masa Om nikah sama ponakan Om sendiri?" tanya Joey sambil menyilangkan kedua tangannya ke dada, lalu mengarahkan pandangannya ke depan. Ia tak lagi melihat ke arah Rain yang sedang nyetir.


"Sejak kapan kamu jadi ponakan saya? Pede sekali," Rain menjawab dengan nada yang dingin.


"Terus, selama ini?" Joey menoleh ke arah Rain, ia berusaha mencari alasan kenapa selama ini Rain mau membiayai semua kebutuhannya. Sedangkan Rain, ia hanya diam dan tak menjawab pertanyaan gadis yang sedang menatapnya dengan tatapan yang tajam itu.


"Apa ... selama ini Om punya rencana?"


Rain menaikkan alisnya sebelah, lagi-lagi ia tak menjawab. Entah karena fokus berkendara atau memang tak ingin berkomentar.


"Om mau jual aku? A-atau Om mau jadiin aku s-su-su ...."


"Susu? Semua wanita punya susu," jawab Rain frontal.

__ADS_1


"Ih bukan, Om! Maksudku sugar baby!" ucap Joey kesal. Lagi-lagi gadis itu mencebik mendengar jawaban Rain yang terlalu vulgar.


"Benar."


"Hah?!" Joey terbelalak sembari kepalanya tersentak ke belakang saat mendengar perkataan Rain. Pria itu benar-benar tak bisa basa-basi, benar-benar langsung berbicara ke intinya.


"Katanya mau bantu?"


"Ya nggak gini juga, Om. Aku 'kan udah punya pacar," jawab Joey datar sambil mengarahkan kembali pandangannya ke depan, namun seketika matanya melebar dan membulat sambil menggigit bibir bawahnya. Ia lupa bahwa Rain menyuruhnya untuk memutuskan Ace.


"Belum juga?" tanya Rain dingin.


"Kenapa sih, Om?!" tanya Joey sengit. "Om nggak berhak-"


"Jangan pernah melupakan hukum alam yang satu ini. Nggak ada yang gratis di dunia ini meskipun kau memiliki hubungan darah dengan orang yang bersangkutan." Rain lagi-lagi mengucapkan kalimat yang menohok kepada Joey. Pria itu kembali membelai bibir sensual Joey dengan sentuhan-sentuhan yang membuat tubuh bergejolak.


"J-jadi, b-be-benar? Om minta aku jadi s-su-sugar baby, Om?" tanya Joey terbata-bata. Gadis itu menahan napasnya saat wajahnya saling berdempetan dengan pria penuh kharisma di depannya itu. Deruan napas Rain kembali menyapu lembut kulit wajah Joey, gadis itu dibuat tegang tak berani bergerak sama sekali, sampai-sampai jantungnya ingin meledak saat itu juga.


"Emangnya, kamu ada pilihan apa selain menerimanya?"


Mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Rain kepadanya, perlahan Joey memejamkan matanya. Rain benar, ada pilihan apa dia selain menerima menjadi sugar baby pria itu? Dua miliar? Tabungan yang selama ini dia kumpulkan dari uang saku yang Rain kirimkan saja belum bisa mencapai angka dua miliar itu. Ditabungannya hanya ada lima ratus juta, jadi kemana dia harus mencari satu miliar lima ratus juta lagi?

__ADS_1


Melihat gadis yang pasrah di depan matanya, Rain mendadak bergejolak. Deruan napasnya menjadi semakin tak terkontrol. Merasa keadaan ini semakin tak terkendali, Rain segera membuka seat belt Joey, lalu ia menjauhi tubuh gadis itu. Ia turun dari mobilnya dan membuka pintu depan mobil.


"Mau merem sampe besok?" tanya Rain dingin.


Joey membuka paksa matanya, ia melihat sekeliling. Sejak kapan Rain menjauhinya? Sejak kapan Rain turun? Lalu, sejak kapan mereka tiba di basement apartemen? Menyadari halohal tersebut, ia menghela napas lega karena pria itu tak melakukan hal-hal yang tidak ia inginkan.


Rain mencondongkan setengah tubuhnya masuk ke dalam mobil, lalu ia menggendong tubuh gadis itu. Sedangkan Joey menenteng plastik belanja yang berisikan makanan cepat saji yang mereka pesan melalui drive thru tadi.


...****************...


Setibanya mereka di apartemen, Rain mendudukkan tubuh gadis itu ke atas sofa. Ia pun duduk di atas sofa bersebelah dengan Joey dibatasin bantal sofa berwarna beige itu. Ia membuka plastik yang berisikan makanan tadi dan memberikan box yang berisikan nuget kepada Joey.


Joey menerima box kecil itu tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Gadis itu sedang bergulat dengan pikirannya sendiri. Apa yang harus ia katakan kepa Ace? Apa dia jujur saja kepada Ace? Lalu, apakah Ace akan menerimanya? Tapi, jika ia pergi meninggalkan Rain, bukankah itu sama saja seperti kacang lupa kulit? Ah. Semua itu benar-benar mengusiknya sampai ia tak berselera untuk makan.


"Kalo saya yang nyuapin, bukan pake tangan," ucap Rain tiba-tiba. Joey tersentak dari lamunannya.


"Emang bisa pake kaki?" celetuk Joey sambil membuka box makanan tadi.


Tak menjawab pertanyaan Joey, pria itu langsung mengambil box ditangan Joey. Ia mengeluarkan nuget yang ada, lalu pria itu menggigit setengah dari nuget tersebut. Tanpa jeda, pria itu meraih tengkuk Joey dan mendekatkan wajah mereka. Joey tak bisa menolak saat nuget yang ada dibibir Rain menempel dibibirnya.


...****************...

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2