
...“Apapun yang terjadi, dunia harus tahu bahwa Oleander ini begitu berarti untukku.”...
...“Aku akan menjadikannya bunga teristimewa yang pernah ada di dunia ini."...
...- Rain Ravindra -...
...🌸🌸🌸...
Di sebuah ruangan yang gelap gulita, Joey berdiri sambil melihat ke sekelilingnya. Gadis itu menoleh ke kiri dan ke kanan dengan gurat wajah yang cemas dan kebingungan. Sesekali ia memutarkan tubuhnya.
“A-aku di mana?” gumamnya pelan.
Sesaat setelah ia bergumam sendiri, tiba-tiba ada sebuah suara pria yang menggema di ruangan yang gelap gulita tersebut.
“Aku tak segan-segan menyingkirkannya…”
“Aku tak segan-segan menyingkirkannya…”
“Aku tak segan-segan menyingkirkannya…”
Joey kembali memutarkan tubuhnya melihat ke sekeliling. Menajamkan pendengarannya untuk mengetahui dari mana suara itu berasal.
“Aku tak segan-segan menyingkirkannya…”
Suara itu terdengar semakin kuat dan saling bersahutan dan menggema. Saking banyaknya suara itu terulang, Joey sampai menggunakan kedua tangannya untuk menutup kedua telinganya dan ia memejamkan matanya.
“Diam!” pekiknya sambil terduduk dan meringkuk ketakutan.
“Ku bilang diam!”
Gadis itu menyuruh suara tersebut diam dengan tubuh yang bergetar ketakutan. Keringatnya begitu banyak mengucur di seluruh tubuh. Namun, suara tersebut tak kunjung hilang. Rasa takut tersebut membuatnya semakin terpojok dan nafasnya menjadi sesak.
Rain. Satu nama tersebut yang kini terlintas dipikirannya. Ia harus menemukan pria itu dan segera memeluknya, karena hanya pria itu yang dapat membantu dan mengeluarkannya dari tempat yang sesak itu.
“Om Rain!!!” pekiknya sekuat tenaga sambil menangis terisak-isak. “Hikss… hikss… hikss…”
Di saat yang sama, gadis itu berteriak sambil memanggil nama Rain dan terduduk dengan paksa dari tidurnya. Mata dan pipinya basah karena linangan airmata, serta tubuhnya bergetar karena ketakutan dan panik yang bercampur menjadi satu.
__ADS_1
“Sayang!” seru Rain saat itu juga. Pria itu panik saat melihat Oleander yang ia cintai dalam keadaan seperti itu. Ia yang saat ini sedang duduk di atas kursi roda tepatnya di sisi ranjang, ia berusaha meraih tubuh Joey ke dalam pelukannya.
Joey bergegas mendekat ke arah Rain dan memeluk prianya itu dengan sangat erat. “Om… hikss.. hikss.. a-aku takut.”
“Kamu mimpi buruk ya?” bujuk Rain menenangkan. Pria itu mengusap-usap lembut punggung Oleander-nya sembari berkali-kali mengecup lembut kepala gadis itu yang berada di bawah dagunya.
“Om jangan tinggalin aku, hikss… hikss…”
“Nggak, Sayang. Aku nggak akan pernah meninggalkanmu,” sahut Rain dengan sangat lembut.
“Om …” panggil Joey dengan suara yang tersedu-sedu.
“Iya, Sayang.”
“Aku nggak mau di madu,” isak gadis itu sambil menenggelamkan wajahnya di dada bidang Rain.
Rain mengerutkan keningnya. Ia penasaran, mimpi apa Oleander-nya sampai-sampai gadis itu bergetar ketakutan dan menangis terisak-isak. Lalu, apa yang mengusik gadis itu sampai-sampai ia bisa mendapatkan mimpi buruk?
Rain menghela napasnya pelan. Kemudian pria itu meraih segelas air putih yang ada di meja samping ranjang.
“Minum dulu ya,” Rain menyodorkan gelas tadi ke Oleander-nya.
“Udah?” tanya Rain. Ia mengambil gelas yang Joey sodorkan dan meletakkan ke atas meja.
“Udah.” Sahut Joey pelan dengan mata yang sembab dan nafas yang mulai teratur.
Rain tersenyum menatapi Oleander-nya. Pria itu merapikan rambut Joey yang berantakan, lalu kedua tangannya memegang kedua tangan Joey. Ia menatap ke arah gadis yang ada di depannya dengan penuh cinta.
“Tell me. Apa yang terjadi?” tanya Rain lembut.
Joey menggigit bibirnya. Gadis itu ragu, apakah ia harus mengatakan yang sejujurnya atau tidak pada Rain.
Melihat gadis itu ragu untuk mengatakan apa yang terjadi, Rain memanggil gadis itu dengan sangat lembut. “Sweetheart?”
“Remember our promise?” imbuhnya.
Joey mengangguk pelan dengan sorot mata yang gusar dan menggigit bibirnya ke dalam mulut.
__ADS_1
Benar, apapun yang terjadi, ia harus jujur dan memberitahukan semua hal yang terjadi kepada Rain. Berkat janji kelingking yang mereka lakukan tempo hari, Joey menceritakan dengan detail apa yang telah terjadi antara dia dan ayah mertuanya.
“Brengsek!” umpat Rain sesaat setelah mendengarkan seluruh cerita Oleander-nya. Rahang pria itu menegang dengan mata yang melotot. Bibirnya bergetar karena emosi.
“Si Tua Bangka itu nggak akan pernah sadar sampai mati!” imbuhnya dengan lantang.
“Apa yang harus kita lakukan, Om?” tanya Joey sambil menatap nanar ke arah Rain.
Rain memegang kedua pipi Joey. Kemudian ia menatap lurus ke arah gadis yang ia cintai itu.
“Pertama … aku ingin berterima kasih padamu,” ucap Rain pelan dengan suara baritonnya yang terdengar begitu hangat.
“Hmm? Terima kasih?” tanya Joey memasang wajah manja dan lengkungan bibir yang ke bawah.
“Hmm… terima kasih karna mengatakan semuanya padaku,” tutur Rain lega, “aku tak tahu akan ada kesalah pahaman seperti apa di antara kita kalo kamu tak berkata jujur seperti sekarang.”
“Terus lah seperti ini,” sambungnya.
Joey tersenyum lega mendengarkan ucapan prianya. Entah kenapa, rasa khawatir dan gundahnya sedikit terobati saat mendengarkan tutur kata yang lembut dan hangat pria itu. Gadis itu mengangguk pelan dengan mata yang berbinar-binar. Benar … apapun masalahnya, pria itu selalu menjadi obat yang ampuh untuk menenangkan hatinya.
“Yang kedua … ayo atasi masalah ini berdua? Kamu nggak masalah, ‘kan?”
Joey semakin senang saat mendengarkan ucapan Rain. Pasalnya, pria itu mengajaknya ikut serta dalam mempertahankan hubungan ini. Ia merasa kehadirannya benar-benar dianggap dan dihargai.
Ini lah hubungan yang sebenarnya. Hubungan di mana keduanya saling bahu membahu dan bersatu. Bukan hubungan yang hanya salah satunya berjuang, sedangkan yang satu lagi dipaksa menerima atau hanya menonton saja.
“Hmm… dengan senang hati aku akan ikut mengatasinya,” sahut Joey.
Rain menghela napas lega. Ia memeluk tubuh gadis itu dengan penuh kasih sayang. Rasanya, ia beruntung sekali memiliki gadis seperti itu. Sebelumnya, ia telah bertemu dengan ribuan gadis. Meskipun banyak yang cantik dan menarik, entah kenapa tak ada satu pun yang dapat mencuri hatinya dan mampu membuat dirinya bertekut lutut. Tapi gadis yang ada di depannya sekarang? Hanya dengan menatap gadis itu saja, rasanya seluruh dunianya berhenti bergerak dan semua tertuju padanya. Sampai-sampai ia rela melakukan apapun dan rela kehilangan semua yang ia miliki demi gadis itu.
Kini, Rain bertekad untuk memperjuangkan Oleander-nya yang berharga dan membuat gadis itu dihargai oleh semua orang, termasuk ayah kandungnya.
“Apapun yang terjadi, dunia harus tahu bahwa Oleander ini begitu berarti untukku.” Tekad Rain dalam hati.
“Aku akan menjadikannya bunga teristimewa yang pernah ada di dunia ini."
...****************...
__ADS_1
BERSAMBUNG…