Om I Love You

Om I Love You
Episode 10


__ADS_3

Alan mengulurkan tangan membantu berdiri orang berhelm itu.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Alan.


"Terimakasih, Om!"


"Terimakasih banyak sudah membantu!"ucap orang berhelm sambil membuka helmnya.


"what?? is she a woman??" batin Alan.


"Are you okay?"


"Iya, saya baik-baik saja!" jawab Zee.


"Zee, motorku gak kenapa-kenapa kan?" tanya Echa.


"Woi, harusnya kamu menanyakan keadaanku?"


"Bukan motor yang ditanyain?" kesal Zee.


"Sorry Zee, ,habis tuh motor kredit!"


"Kalau sampai di begal! urusannya jadi panjang!"


"He...he...he!"


"Tapi kamu baik-baik saja kan, Zee?"


"Apa ada yang terluka? kalau ada, Ayo kita ke Rumah Sakit? tapi kamu yang membayar?"


"Ha...ha...ha!" tawa Echa.


"Dasar, temen ga punya akhlak!" cibir Zee.


"Wow, ada cowok ganteng!" Echa mengamati seorang cowok ganteng yang ada di depan sahabat nya.


"Terimakasih ya, Om! atas bantuannya! ngomong-ngomong Om namanya siapa? nama saya Echa, saya anak kuliah lho Om! dan ini sahabat saya namanya Zee, dia jago beladiri! dan saya gurunya, Om! namanya Om siapa sih? Om kok ganteng banget? mirip pemain film Fast and furious! siapa sih namanya Om?" cerca Echa tanpa tahu malu. Echa langsung maju, berdiri tepat di depan Zee dan menjabat tangan Alan.


"Wow, lihat nih Zee, tangannya halus! seperti boneka porselen!"


"Astaga! kamu kesambet apa sih?" Zee memegang kening sahabatnya, yang ia tempelkan dengan pantatnya sendiri.


"Oh, pantas! sama-sama panas!"


"Sialan!" kesal Echa.


Alan yang sedari tadi mendengar perdebatan keduanya, hanya tersenyum saja.


"Ya sudah, Om! siapapun nama Om, sekali lagi terimakasih yah!" ucap Zee, sambil menghidupkan mesin motor.


"Echa, kalau ga naik ke motor, aku tinggalin di sini nih! biar kamu dimakan setan alas !" ancam Zee.


"Ih, serem! Jahat banget sih, Zee!"


"Ini kan motorku!"

__ADS_1


"Bye....bye.....bye....Om!" Echa melambaikan tangannya.


Alan hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat sikap absurd kedua cewek cantik itu. Alan memasuki mobilnya kembali.


"Gimana Lan? kamu okey kan? kamu gak kenapa-kenapa kan?" cerca papa dengan banyak pertanyaan.


"I'M okey, Pah! papa tenang saja!" Alan pun menjalankan mobilnya kembali, menyusuri jalan raya menuju rumahnya.


Sampai di rumah Alan di sambut oleh sang mama, dengan bawelnya sang mama bertanya ini dan bertanya Itu, membuat Alan pusing tujuh keliling.


"Udah dong, Mah! Alan baru pulang!"ucap papa.


"Ih, papa ini! mama juga pengen tau, Apa semuanya lancar,Nak?"


"Alhamdulillah lancar, Ma! Mama gak usah khawatir!" Alan menenangkan mamanya.


"Ya sudah kalau begitu! sekarang kamu bersih-bersih gih! nanti kita makan malam bersama! Jangan lupa sholat Ashar, Nak?"


"Okey, Ma! Alan ke atas dulu yah! Alan mau mandi dan ganti baju! habis itu sholat!"


"Iya, Sayang!"


********************************************


Club Malam


Di sebuah klub malam, terdengar dentuman musik disco, banyak muda mudi berjoget di lantai dance, nampak terlihat Yuda dan teman-temannya sedang berpesta di temani beberapa botol Vodka .


"Cheers!" ucap mereka serempak.


"Kamu sudah baikan sama Zee?" tanya Angga.


"Sudah! tapi dia masih jaga jarak!"


"Ck, dasar wanita munafik!"


"Semua wanita itu sama saja, pertama menolak! tapi kalau sudah ketagihan, mereka akan meminta dan meminta terus!" jawab Tommy.


"Ha...ha...ha!" mereka tertawa.


"Hai, semuanya!" seorang wanita cantik duduk di pangkuan Yuda.


"Sayang, kok baru kelihatan! Apakah kamu tidak merindukanku? aku saja sangat merindukanmu!" ucap Listy, salah satu wanita malam di klub.


"Listy, kau memang semakin cantik saja!" Yuda mencium pipi Listy.


"Ah, bisa saja!" sambil menempelkan buah kenyalnya ke dada bidang milik Yuda.


"Apakah kau tidak merindukanku?" tanya Listy.


"Tentu! Aku sangat merindukanmu! benar kata teman-temanku! kau memang semakin cantik saja, Listy!" ucap Yuda.


"Cuit ....cuit.....cuit, tentu saja teman kami ini rindu padamu, Lis?"


"Yuda ingin kau menyervis nya!" timpal Roy.

__ADS_1


"Ha...ha...ha!"


"Kalau begitu, marilah!"


"Aku akan menyervismu, aku jamin kau akan puas!" Listy dengan nada nakalnya.


Yuda pun berdiri dari tempat duduknya, dia mengikuti langkah Listy ke lantai dua, di mana disana terdapat banyak kamar untuk melayani langganannya. Sampai di kamar paling ujung mereka masuk dan melakukan aksi terlarangnya.


Yuda dan teman-temannya sudah sering keluar masuk club malam ini. Jadi di klub ini, nama mereka cukup dikenal. Listy adalah salah satu partner ranjang Yuda, disaat Yuda membutuhkan pelepasan.


Dret....dret.....dret


Zee berusaha menelpon kekasihnya, karena seharian ini Yuda belum juga menghubunginya.


Zee mencoba menelfon lagi, Zee pun kembali kecewa, hanya suara operator telepon yang berbicara.


"Sebenarnya kamu tuh kemana sih, Beb?" batin Zee.


Zee turun ke lantai satu, di sana ada Ratu yang sedang menonton acara televisi kesayangannya.


"Kenapa? sedang galau di tinggal pacar?" ejek Ratu.


"Bukan urusanmu!" tegas Zee.


"Kamu tuh kasihan banget sih! di kadalin terus sama cowok brengsek macam Yuda!" ucapnya.


"Maksud kamu apa?" tanya Zee.


"Kamu apa gak tahu? Ceweknya Yuda tuh banyak! hampir semua wanita sudah pernah tidur dengan Yuda!" ketus Ratu.


"Aku gak percaya!"


"Terserah! mau percaya atau nggak! yang jelas aku sudah memperingatkan mu!"


"Kamu bisa tanya sama Melly! aku yakin seratus persen, dia juga salah satunya!"


"Cowok kamu itu penjahat ke******min!" hina Ratu.


"Ck," cibir Zee.


Zee nampak memikirkan apa yang dikatakan oleh Ratu. Bukannya Zee tidak tahu, dia tahu dan dia ingin merubah sifat buruk kekasihnya.


Dia sering mendengar desas-desus bahwa kekasihnya seorang playboy, suka bermain wanita, dan bla-bla masih banyak yang lain, namun semua itu tidak pernah Zee tanggapi. Pernah juga mantan Yuda, sengaja melabrak Zee untuk menjauhi Yuda, ada juga yang sengaja mengancam Zee untuk memutuskan Yuda, namun Zee hanya cuek saja.


Dia tidak mau ambil pusing, mantan-mantan Yuda yang membencinya.


Namun kata-kata Ratu seakan-akan sedikit mencubit hatinya, Zee merebahkan tubuhnya di kasur. Dia menerawang ke langit-langit kamarnya, dia masih teringat, dulu pertama kali Yuda menembak dirinya untuk menjadi kekasih hatinya, dia merasa sangat bahagia, karena selama menjadi kekasihnya, Yuda selalu membuatnya bahagia, memanjakannya, dan selalu ada saat dirinya membutuhkan.


Zee memang tidak pernah kekurangan apapun, apa yang diinginkan, oleh papanya selalu tersedia, namun terkadang juga dia rindu dengan sosok mama kandungnya, Yuda tempatnya untuk berkeluh-kesah.


Namun sekarang seakan-akan ada jarak yang memisahkan, ada tembok yang yang menghalangi.


Zee merasa Yuda sangat berbeda dengan Yuda yang dulu ia kenal, apakah memang Yuda sudah salah jalan?


To be continued.....

__ADS_1


__ADS_2