
Seorang wanita cantik nan seksi, berbalut dress warna navy di atas lutut. Menampilkan pahanya yang mulus dan putih, berjalan sangat anggun dengan high heels tinggi ke arah meja resepsionis.
"Permisi! Apakah Tuan Harun Xaquille ada di tempat?" tanyanya kepada petugas resepsionis.
"Maaf, Nona siapa?" tanya petugas resepsionis balik bertanya.
"Sekarang yang menjabat sebagai CEO di Perusahaan ini adalah putranya yang bernama Tuan Alan Xaquille! Jadi Tuan Harun sudah tidak pernah ke kantor lagi," ucapnya.
"Oh, ya," wanita cantik itu nampak sedang berfikir.
"Ehm, kalau begitu, bisakah saya bertemu dengan Ceo-nya?" tanya wanita itu lagi.
"Apakah Anda sudah ada janji ketemu dengan beliau? Karena tidak sembarang orang yang bisa bertemu dengan CEO kami!" jelasnya.
"Katakan saja kalau aku sepupunya yang baru datang dari Australia," ujarnya.
"Dia pasti akan tahu," ujarnya lagi.
"Baiklah, akan saya coba! Tapi jika Pak CEO tidak mau menemui Anda, Tolong Anda pergi dari sini!" ucap petugas tersebut.
"Baiklah, saya setuju,"
"Katakan pada padanya, kalau Silvi ingin bertemu," ucapnya.
"Oke," jawabnya. Kemudian petugas resepsionis itu menghubungi Ceo-nya yang kebetulan masih di Kantor. Alan pun menyuruh petugas resepsionis tersebut untuk mengantarkan Silvi ke ruangannya.
Tok ... tok .... tok
Suara pintu diketuk, Alan mempersilahkan tamunya masuk. Dia sangat mengenal wanita yang berdiri di depannya. Dia adalah Silvi sepupunya, putri dari paman Xavier, Paman Xavier adalah adik angkat dari papanya.
"Kak Alan?" sapanya.
"Silvi," Alan benar-benar terkejut dengan kedatangan sepupunya. Pasalnya lumayan lama sekali mereka tidak bertemu. Alan pun terkejut melihat penampilan Silvi yang sekarang. Pakaian Silvi sangat minim, nampak sangat terbuka di bagian dadanya, hingga membuat gunung kembarnya menyembul keluar. Alan menelan salivanya, laki-laki siapa yang tidak tergoda dengan wanita yang berpenampilan seperti itu. Dengan centil Silvi melenggang ke arah Alan memeluk tubuh tinggi tegap itu.
"Kak, Apa kabar? Aku rindu sekali!" ujarnya sambil memeluk tubuh Alan, Alan yang tidak siap dengan perlakuan Silvi merasa kaget, dia hanya terpaku di tempatnya berdiri.
"Tolong, jangan seperti ini Silvi!" pinta Alan seraya melepaskan diri dari pelukan sepupunya, karena menurutnya tindakan Silvi terlalu berlebihan.
"Okey, Maafkan Silvi," ucapnya.
"Silahkan, duduk!" Alan mempersilahkan Silvi untuk duduk di sofa.
__ADS_1
"Terima kasih, Kak," ujarnya, Silvi mendudukkan pantatnya di sofa.
"Bagaimana kabarmu? Bukankah kau di Australia?" tanya Alan.
"Iya, selama ini aku memang di Australia dan aku baru balik dari Australia," ucapnya. "Dan aku sangat merindukanmu, Kak!" godanya.
"Tidak pantas kamu mengucapkan kata seperti itu, Silvi!" tegas Alan. "Kita ini bersaudara," ucapnya lagi.
"Ayolah, Kak! Kita tidak memiliki ikatan darah! Jadi aku bebas menyukaimu!" jawabnya.
"Silvi, Jaga batasan mu!" hardik Alan. "Aku sudah menikah," jawab Alan.
"Menikah? Dengan siapa? Kok kakak tidak memberitahukan kepadaku!" tanyanya penasaran.
"Itu bukan urusanmu! Sekarang katakan! Apa mau mu?" tegas Alan, karena Alan tidak mau terlalu berlama-lama berurusan dengan anak dari Paman Xavier.
"Kakak! Kenapa kau kasar sekali?" tanyanya, "Padahal aku datang kesini dengan maksud baik!" ujarnya.
"Ada apa? Kenapa kau mencari ayahku?" tanya Alan lagi.
"Astaga! Santai dong, Kak!"
"Kedua, Silvi ingin meminta pekerjaan kepada Paman Harun! Ternyata Paman Harun sudah tidak bekerja di sini!" imbuhnya.
"Memang benar, Papaku sudah tidak bekerja di Perusahaan! Dan akulah yang menggantikannya!" tegas Alan.
"Begitukah! Bagaimana kalau kakak saja yang menerimaku sebagai sekertaris kakak di kantor ini?" senang Silvi.
"Ck, dengar ya, Silvi! Di Perusahaan ini sedang tidak ada lowongan kerja, jadi lebih baik kau cari pekerjaan di tempat lain saja!" ketus Alan.
"Astaga, Kak! Kau tega sekali, membiarkan adikmu yang cantik ini bekerja ditempat yang lain!" cetusnya. "Kau bilang sendiri, kalau kita bersaudara! Tapi, Kenapa kakak begitu tega membiarkan aku bekerja di tempat lain? Sedangkan masih ada saudara yang kaya raya dan memiliki Perusahaan besar seperti kakak," cakapnya.
"Ck, setelah apa yang ayahmu perbuat kepada keluargaku? Aku sudah tidak mau berurusan dengan keluargamu lagi! Jadi mengertilah!" tegasnya.
"Iya, Kak, Silvi tahu! Tapi aku sama sekali tidak terlibat, Kak! Jadi aku mohon, terimalah aku di Perusahaan kakak!" mohon Silvi.
"Tapi aku sudah mengatakan kepadamu, bahwa di Perusahaan ini sedang tidak ada lowongan," ucap Alan lagi.
"Kakak bisa memindahkan sekertaris kakak ke devisi lain," ujarnya.
"Kau sudah tidak waras ya? Bagaimana bisa seenaknya memindahkan seseorang ke devisi lain!" kesal Alan.
__ADS_1
"Ini Perusahaan besar, memiliki peraturan dan aturan sendiri! Jadi kau tidak bisa seenaknya memberikan perintah kepadaku!" tegas Alan.
"Sudahlah! Sekarang kau pergilah dari sini, aku tidak ada waktu berurusan dengan mu!" perintah Alan kepada Silvi. Silvi merasa marah dengan kata-kata Alan, ia pun memutuskan untuk keluar dari ruangan sepupunya tanpa berpamitan kepadanya.
"Huft," Alan menghela nafas panjang.
"Aku memiliki firasat tidak baik dengan kedatangannya kemari," batin Alan. Dia pun menyuruh seseorang untuk menyelidiki kedatangan Silvi, dan menyelidiki tentang Paman Xavier yang berada di penjara.
Silvi berjalan ke luar Perusahaan tersebut dengan amarah yang menggebu-gebu. Tatapannya sangat tajam dengan mata yang memerah.
"Sialan, berani-beraninya dia menolak ku untuk bekerja di sana! Bagaimana aku bisa mendekatinya, kalau dia sendiri sudah tidak mau berdekatan denganku lagi?" Silvi berdialog dengan dirinya sendiri.
"Tenang Silvi! Kau harus bisa meluluhkan hatinya dan keluarganya," ucap Silvi meyakinkan dirinya sendiri.
Silvi pun melangkahkan kakinya menuju area parkir di mana dirinya memarkirkan mobilnya.
Dia melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi membelah keramaian kota Jakarta. Hatinya masih sangat dongkol dengan perlakuan Alan kepadanya. Dia memukul-mukul stir mobilnya, mengucapkan sumpah serapah yang ditujukan kepada Kakak sepupunya. Mobilnya berhenti di sebuah danau, sepi dari orang-orang. Ia mengambil satu botol Vodka, dan menenggaknya sampai habis. Kemudian ia lempar botol kosong tersebut ke arah danau.
"Dasar Keluarga Xaquille sialan! Kalian akan mendapatkan balasannya! Kalian akan hancur!" ceracaunya.
"Aku akan membuat perhitungan dengan kalian," ucapnya lagi.
to be continued....
******************************************
Hey, temen-temen semuanya! Apa kabar semuanya? Semoga sehat-sehat selalu yah, Amin.
Setelah membaca per episode, please klik Like, komentar, rate bintang lima dan klik Favorit biar Authornya tambah semangat lagi.
Yang masih setia menunggu kelanjutannya, sebelumnya saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas dukungannya. Semoga amal kebaikan para Readers di balas oleh Allah, Amin.
Jangan lupa juga mampir ke novel pertama saya berjudul: "Ketulusan Cinta Dara", Insyaallah ceritanya juga nggak kalah bagus, meskipun tulisannya masih semrawut.
Terima kasih banyak...🙏🙏
Terima kasih banyak...🙏🙏
__ADS_1