Om I Love You

Om I Love You
Episode 25


__ADS_3

Mentari pagi menyelimuti bumi, suara burung berkicau dari ranting pohon satu ke ranting pohon yang lain.


Hujan tadi malam, mengguyur tanah dan pepohonan memberikan jejak di alam sekitar.


Hawa dingin menyeruak, menusuk tulang.


Seperti biasa pasangan pengantin ini melakukan aktivitas barunya di pagi hari dengan joging mengelilingi kompleks atau taman.


Perangai Alan dan Zee yang ramah membuat tetangga sekitar merasa senang dan kagum.


"Lari pagi ya, Pak Alan?" tanya Bu Siska salah satu tetangga depan rumah.


"Iya, nih Bu!"


"Jangan panggil Pak, Bu! saya belum tua-tua amat kok!"


"Ah, Pak Alan bisa saja!"


"Kalau begitu saya panggil, Mas Alan saja yah!" canda Bu Siska.


"Boleh tuh, Bu!"


Beberapa menit setelah itu Zee keluar, dengan kaos panjang dan celana training ketat.


Melihat suaminya sedang ngobrol dengan tetangga, nggak mungkin dong Zee panggil dengan panggilan Om.


"Pih, Ayo kita joging! Zee sudah siap!" ucap Zee mendekati suaminya, Alan yang mendengar istrinya berbicara begitu manis tentu saja merasa senang.


"Ayo, mih!"


"Ibu Siska, kami joging dulu, keburu kesiangan!" ucap Alan.


"Silahkan .. Silahkan!" jawab Bu Siska.


"Mari, Bu!" pamit Zee, di jawab anggukan oleh Bu Siska.


"Duh, pasangan yang serasi, Prianya tampan dan dewasa, wanitanya cantik!"


"Pokoknya top markotop deh!" ucap Bu Siska memuji pasangan pengantin baru itu.


Alan dan istrinya berlari mengelilingi kompleks, berhenti di perempatan jalan Zee merasa kelelahan.


"Om, berhenti dulu! Zee capek!" ucap Zee sambil ngos-ngosan.


"Ya udah, kita istirahat di sana saja!" Alan menunjuk kios bubur ayam, yang sedang ramai pengunjung.


"Baiklah!" mereka berdua berjalan beriringan mencari tempat duduk yang kosong, mereka memilih duduk lesehan dengan alas tikar, Ada meja kecil di tengahnya. Alan memesan dua mangkuk bubur ayam dan satu piring sate telur puyuh. Mereka makan dengan lahap, menikmati suasana baru dan kebiasaan baru selama menikah.


"Aku senang kau memanggilku Papih!" ucap suaminya tiba-tiba, membuat Zee menghentikan makannya.


"Oh, itu, itu karena ..... !" Zee tergagap, bingung harus menjawab apa.


"Zee belum terbiasa, Om!" lalu jawabnya.


"Kalau begitu biasakanlah, kita ini sekarang sudah suami istri, masa kau memanggilku dengan sebutan, Om!" gerutunya.


"Ehm, baiklah nanti Zee akan coba!" Zee nampak berpikir.


"Aku suka dengan panggilan barumu itu!" ucap suaminya lagi.


"Yang mana?" Zee pura-pura lupa.

__ADS_1


"Yang itu?"


"Panggilan Papih!"


"Aku suka! Kelihatan romantis!"ucapan Alan membuat wajah Zee memerah.


"Suaminya ini benar-benar to the point sekali!" pikir Zee.


"Baiklah, Zee coba Om, eh maksudnya Papih!" Zee tersenyum manis menampilkan deretan gigi putihnya.


"Good, kamu memang istri yang penurut!" puji suaminya.


"Om, eh maksudnya Papih, Apakah Papih sering makan di pinggir jalan seperti ini?" tanya Zee sambil mulutnya penuh dengan telur puyuh.


"Sering, habiskan dulu makanan di mulut mu!"


"Apakah Papih nggak malu?" tanya Zee lagi.


"Kenapa harus malu?"


"Justru saat kita membeli dagangan orang, secara tidak langsung kita ikut membantunya menjadi penglaris!"


"Habiskan makananmu! Setelah ini kita pulang!"


"Okey,"


Selesai menghabiskan makanannya, mereka pun pulang ke rumah. Zee memilih langsung mandi dan bersih-bersih, karena badannya terasa gerah dan lengket. Sedangkan suaminya mandi di kamar lain, karena akan mempersingkat waktu. Keluar dari kamar mandi, Zee melihat suaminya sudah rapi dengan jas warna hitam dan sepatu warna hitam.


"Wah, Om sudah siap saja!" Alan membulatkan matanya dengan sempurna.


"Eh, Papih maksudnya!" Zee tersenyum geli, pasalnya suaminya protes di panggil Om.


"Cepatlah, nanti kau terlambat!"


"Iya, Pih!"


"Baiklah!"


Zee berdandan secepat mungkin, agar suaminya tidak menunggu lama.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju kampus, sampai di kampus Zee lihat sudah ada Echa yang menunggu di area parkiran.


Setelah menyalami punggung tangan suaminya, Zee hendak keluar namun tangannya di tahan suaminya.


"Ada apa, Pih?" tanya Zee.


Alan mencium kening istrinya dengan sayang, membuat wajah Zee seperti udang rebus yang sangat merah .


"Saat sang suami mencium puncak kepala istrinya setiap pagi, maka akan selalu di beri keberkahan di rumah tangganya!" ucap Alan, membuat hati Zee tercubit.


"Iya, Pih!" Zee keluar dari mobil suaminya, sampai tidak tahu HP nya terjatuh, Zee turun dari mobil dan melambaikan tangan.


"Bye .. bye!"


Zee berjalan menuju Echa yang sedari tadi berdiri menunggunya.


"Selamat pagi, Ca?" sapa Zee.


"Pagi, Zee!"


"Kok suami kamu gak keluar mobil? gue mau ngomong sama suami kamu?" ucap Echa.

__ADS_1


"Buat apa?" tanya Zee.


"Ya, aku mau omelin tuh Om-om! karena udah nikahin anak di bawah umur! pedofil tuh namanya!" kesal Echa.


"Hush, sembarangan banget kamu ngomongnya!" jawab Zee.


"Lah, emang bener kan?"


"Bodo amat!" Zee malas menjawab pertanyaan Echa, Zee melangkahkan kakinya menuju kelas, disusul oleh Echa di belakangnya.


Hendak menuju kelasnya, Zee melihat kerumunan orang di depan papan pengumuman.


Zee sempat heran, karena teman-temannya menatapnya sinis dan juga menghibahnya.


"Ternyata seorang Zee adalah istri Om-om!" salah satu temannya mengghibah.


"Ha ... ha .. ha! nggak menyangka saja, yah!" kata teman yang lain.


"Dulu simpanannya kali !" jawab seseorang lagi.


"Simpanan atau hamil duluan!"


"Ha...ha...ha!" mereka tertawa mengejek.


Zee yang penasaran menghampiri papan pengumuman tersebut, di sana ada banyak poster karikatur mirip dengan dirinya dan seorang Om-om yang tua, gendut dan botak.


Di sana banyak tertulis ejekan dan sindiran yang di tujukan jelas untuk Zee.


Zee yakin ini pasti ulah saudara tirinya,Zee yang di bantu Echa mengambil semua poster tersebut menyobek dan membuangnya ke sampah.


Zee mendatangi kelas Ratu, Zee lihat Ratu sedang tertawa puas bersama teman-temannya.


Zee melabrak Ratu, dan menjambak rambut saudara tirinya dengan brutal.


"Aku tahu ini perbuatanmu!"


"Kau kan yang memasang poster murahan itu!"


"Aduh sakit, dasar cewek gila, cewek bar-bar, lepaskan rambut ku!"


"Ah, sakit!" Ratu mengaduh kesakitan.


Teman-teman Ratu yang menyaksikan hanya berteriak histeris tidak berani menolong takut kena amukan singa betina.


"Lepaskan aku Zee!"


"Kau berani bikin masalah dengan ku, hah!"


"Sudah ku bilang, jangan ikut campur urusan ku!"


"Sakit Zee, kau wanita gila." Ratu hendak menendang Zee, dengan gerakan cepat Zee menghindar dan memelintir tangan Ratu ke belakang.


Semua teman-teman Ratu dan anak-anak yang lain riuh ramai menyaksikan pertengkaran dua saudara itu, membuat para dosen mendengar dan menghampiri mereka.


"Hentikan!" teriak Pak Candra, salah satu dosen senior di kampus, Zee menghentikan aksinya.


"Apa-apaan kalian?"


"Ini kampus bukan ring tinju! Kenapa kalian membuat keributan, sekarang juga kalian ke kantor Dekan!" tegas Pak Candra.


Membuat mereka terdiam dan mengikuti langkah Pak Candra untuk ke kantor Dekan.

__ADS_1


to be continued....


__ADS_2