Om I Love You

Om I Love You
Episode 132


__ADS_3

Acara Syukuran


Mama Sarah menyiapkan acara syukuran untuk menyambut kedatangan Aisha kembali. Syukuran kali ini agak berbeda karena Mama Sarah mengundang anak-anak jalanan yang senasib dulu dengan Aisha, dimana mereka sama-sama diculik dan dikurung di tempat yang sama.


Mama Sarah memberikan mereka satu set baju yang pantas, untuk mengikuti acara syukuran tersebut. Aldo juga turut diundang ke acara syukuran, Aisha sangat bahagia. Bukan hanya anak jalanan yang diundang, anak-anak panti asuhan juga mendapat undangan. Anak-anak duduk secara rapi di ruang tamu dengan beralaskan tikar. Mama Sarah juga mengundang salah satu ustadz untuk mengisi acara tersebut.


Acara sudah akan dimulai, Mama Sarah menyuruh anak-anak untuk duduk manis mendengarkan Pak Ustadz memberikan tausiah. Acara syukuran berlangsung selama dua jam, setelah itu acara makan-makan dan dilanjutkan dengan pembagian baju, makanan dan uang. Mereka yang hadir sangat bahagia, dan mereka mengucapkan terima kasih kepada Aisha dan keluarganya.


Selesai acara, mereka semuanya diantarkan pulang ke rumah masing-masing, kecuali lima anak yang merasa bingung hendak pulang kemana karena memang mereka tidak memiliki tempat tinggal selain tidur di kolong jembatan. Aisha yang merasa kasihan kepada ke lima temannya meminta Papih dan Mamihnya untuk melakukan sesuatu untuk mereka.


Alan dan Zee pun memutuskan untuk menempatkan mereka di panti asuhan, milik salah seorang kenalan Alan. Alan juga berjanji akan menjadi donatur tetap Panti asuhan tersebut. Mereka berlima mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua Aisha, Aisha turut bahagia melihat teman-temannya bahagia di panti tersebut.


Pulang dari panti, Aisha merengek meminta membeli mainan baru. Alan tidak bisa mengabaikan permintaan putrinya, dia pun langsung berburu mainan ke Toko mainan.


Aisha sedang memilih-milih mainan yang dia suka. Semua barang-barang yang Aisha pilih, semuanya untuk anak laki-laki. Zee sudah menyuruh Aisha untuk membeli mainan boneka, alhasil justru Aisha ngambek. Terpaksa Alan harus membayar semua yang di ambil oleh putrinya Aisha.


Dari toko mainan mereka langsung pulang ke rumah, Aisha juga terlihat sangat lelah. Gadis kecil itu tertidur di kursi belakang. Sedari tadi istrinya masih diam, mungkin efek ngambek gara-gara di toko mainan kalah berdebat dengan Aisha. Alan menggenggam jari jemari istrinya. Dan mencium tangan itu dengan sayang.


"Kenapa? Kok cemberut?" tanya Alan kepada istrinya.


"Ngak apa-apa, Mamih cuma lagi sensitif saja," jawab Zee.


"Apakah karena masalah Aisha?" tanya Alan.


"Iya, Pih! Masa Papih harus menuruti semua keinginan Aisha yang tidak masuk akal," cibirnya. Memang sebagian besar mainan yang diambil Aisha adalah mainan buat anak laki-laki. Alan tersenyum lebar ketika istrinya cemberut gara-gara masalah Aisha.


"Namanya juga anak kecil, Mih," ucap Alan. "Kita maklumi saja," imbuhnya lagi.


Tidak terasa mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di depan rumah besar itu. Mereka berdua turun dari mobil, dan Alan membopong tubuh Aisha yang sudah terlelap di alam mimpi.


"Wah, ketiduran?" tanya Mama Sarah yang sedari tadi menunggu kedatangan mereka.


"Iya, Ma, Aisha kecapean," ucap Zee.


"Ya, sudah cepat letakkan saja di tempat tidur!" suruh Mama Sarah. Alan langsung menuju ke kamar Aisha, Zee mengekor dibelakang suaminya.


Satu Bulan Berlalu


Sejak semalam Zee merasakan perutnya tidak enak, bagian pinggangnya ngilu, Wajahnya juga sudah pucat. Dia memberitahukan perihal tersebut kepada suaminya, tentu saja Alan merasa cemas. Alan menyiapkan barang-barang yang diperlukan istrinya untuk dibawa ke RS, mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

__ADS_1


Ternyata benar saja, dua jam berlalu istrinya mengalami kontraksi hebat. Zee merasakan sakit di bagian perutnya. Ia mengeluarkan keringat dingin karena menahan rasa sakit di bagian perutnya.


"Pih, sepertinya Mamih mau melahirkan!" ucap Istrinya.


"Melahirkan?" dugaannya tepat, sang istri memang mau melahirkan. "Oke ... Oke, kita ke Rumah Sakit," ujarnya.


"Cepetan, Pih! Rasanya sakit banget," ucapnya lagi. tiba-tiba ada cairan bening merembes di bagian pangkal pahanya.


Alan yang sudah menyiapkan barang-barang yang hendak di bawa, dia langsung membawa istrinya menuju Rumah Sakit. Mama Sarah dan Papa Harun tidak ikut ke Rumah Sakit karena dia harus menjaga Aisha di rumah. Zee langsung masuk ke ruangan persalinan agar secepatnya di tangani oleh Dokter kandungan.


Selama beberapa jam, akhirnya baby Zee lahir ke dunia ini. Alan sangat bahagia, akhirnya anak keduanya lahir dengan selamat dan dalam keadaan yang sangat sehat. Anak kedua mereka adalah anak laki-laki.


"Oek ... Oek ..... Oek." Suaranya sangat keras dan memekikkan telinga. Alan mengadzani buah hatinya. Seakan-akan mengerti apa yang telah dilakukan oleh Papihnya, si bayi terdiam sejenak mendengarkan lantunan adzan.


Suster membawanya untuk mandi, setelah bersih dan wangi, barulah bayi tersebut di berikan kepada ibunya. Zee langsung memberikan ASI pertamanya kepada sang baby. Si baby sangat bersemangat untuk menyusu.


Kabar Zee sudah melahirkan sudah terdengar sampai di telinga Papa dan Mamanya. Mereka pun langsung datang ke Rumah Sakit ingin menjenguk Zee dan cucunya.


"Assalamu'alaikum?" salam Papa dan Mama.


"Walaikum salam," di jawab serentak oleh keduanya.


"Zee? Selamat ya, Sayang! Akhirnya kamu melahirkan dengan lancar, Mama sangat senang saat Alan memberi tahukan kabar ini. Papa dan Mama langsung datang ke Rumah Sakit," jelas Mama Nola.


"Kau ini bicara Apa, Lan? Ini sudah menjadi tugas kami sebagai orang tua," ucap Papa.


"Eh, dimana cucuku?" tanya Mama Nola.


"Itu, Ma, di box bayi," tunjuk Zee.


"Wah, gantengnya, seperti Papihnya," puji Mama mertuanya. Alan jadi tersipu malu.


"Mah, itu mirip Zee," cibir Zee. "Kan saat bikin adonan, Zee yang mempunyai andil paling besar," ujarnya.


"Ish, Mamih?" ucap Alan membelalakkan matanya.


"Ha .... Ha .... Ha." tawa Papa dan Mama.


"Kau memang tidak pernah berubah, Nak! Selalu asal bicara, padahal kau sudah memiliki dua orang anak," tutur papanya.

__ADS_1


"Zee bukan asal bicara, Pa! Tapi jujur apa adanya," tambah Mama.


"Ha ... Ha .... Ha." Mereka tertawa terbahak bahak.


"Lan, siapa nama baby tampan ini?" tanya Mama.


"Namanya Zidan Abelard Xaquille, Ma, Pa," ucap Alan. "Dan kami panggil dengan nama Baby Zidan."


"Wah nama yang sangat bagus," ucap Mama. "Hey, tampan selamat datang ke dunia ini, sekarang namamu Zidan, Baby Zidan." senang Mama sambil menoel hidung mancung Baby Zidan.


Setelah kepulangan papa dan mama, justru Aisha, Opa dan Omanya baru datang.


"Mamih?" teriak Aisha membuat baby Zidan menangis karena kaget.


"Aisha, tidak bisakah pelan-pelan?" ucap Zee, justru Aisha terkekeh.


"Mamih, Aisha kangen, kenapa Mamih dan Papih nggak pulang-pulang?" tanya Aisha manja.


"Kan Mamih baru melahirkan, Sayang," ucap Alan kepada putrinya. "Mungkin sampai tiga hari Mamih ada di Rumah Sakit," jelas Alan.


"Tapi, Pih, Aisha kesepian di rumah. Di rumah hanya ada Opa dan Oma," berengutnya.


"Sabar ya, Sayang! Mamih dan dedek bayi pasti pulang kok," terang Zee.


"Eh, ngomong-ngomong di mana cucu kami?" tanya Opa Harun.


"Sedang dimandikan sama suster, Pah, paling sebentar lagi kesini!" jawab Zee.


"Sudah nggak sabar ingin menggendong cucu," ucap Mama Sarah.


"Nanti Aish juga boleh kan, Mih, gendong adik bayi, Aisha kan sering gendong Jean," ucap Aisha polos. Zee dan Mama Sarah saling berpandangan.


"Jean, Siapa Jean?" tanya Zee.


"Kucingnya Helen," jawabnya. Sontak mereka tertawa terbahak-bahak, mendengar celotehan lucu Aisha.


to be continued....


****************************************

__ADS_1


Yuk, mampir juga di novel teman Author. Nggak kalah seru juga ceritanya



__ADS_2