
Villa
Hari ini Elmar mengajak Ratu berjalan-jalan ke perkebunan. Ratu sangat bahagia setiap kali Elmar mengajaknya berkeliling perkebunan. Di perkebunan, dia bisa menikmati pemandangan yang sangat indah. Kali ini Elmar mengajaknya ke puncak bukit, dari atas bukit Ratu bisa melihat hamparan bunga Krisan dengan corak warna-warni yang sangat memukau. Elmar menyuruh masyarakat sekitar untuk membuat beberapa gubug dengan berbagai hiasan untuk berteduh bagi para wisatawan ataupun pelancong. Di setiap gubugnya, sengaja dipasang lampu kelap-kelip yang saling menyatu. Jika lampu dinyalakan, lampu yang lain akan ikut berkelap-kelip. Akan membuat pemandangan terlihat lebih indah di malam hari. Elmar mengajak Ratu duduk di gubug tersebut, sambil menikmati hamparan bunga Krisan.
"Bagaimana pemandangannya dari atas sini?" tanya Elmar.
"Indah sekali, El," ucapnya. "Aku baru tahu kalau di bukit ini ada tempat seindah ini!" katanya.
"Tentu saja! Karena aku baru saja merenovasinya! Kau suka?" tanya Elmar.
"Aku sangat suka," jawabnya.
"Aku sengaja membuat ini! Supaya desa kita dilirik oleh banyak orang," jawabnya. "Rencananya aku ingin menjadikan desa ini salah satu tempat wisata! Aku akan membuat desa ini seperti taman bunga yang sangat indah," jelasnya, Ratu mendengarkannya dengan antusias.
"Di sini, aku akan menaruh kursi taman bergaya klasik! Di sana juga!" tunjuk Elmar kepada Ratu.
"Kau sangat pandai, El," puji Ratu.
"Hei, bukankah kita sudah berpacaran? Kenapa hanya memanggil nama?" sungutnya.
"Lalu aku harus memanggil apa, El?" tanya Ratu.
"Panggil Sayang atau Hubby juga bagus?" tawar Elmar.
"Ah, aku malu, El! Belum terbiasa," ucap Ratu, pipinya jadi merah merona.
"Kenapa harus malu? Kamu harus terbiasa sayang?" perintah Elmar.
"Coba sekarang kau panggil aku dengan sayang!"
"Aduh, aku sangat malu!" Ratu menutupi wajahnya karena malu. Dia memang belum pernah berpacaran, makanya dia terlalu kaku mengucapkan kata-kata yang mesra seperti tadi.
"Ayo, dong, kamu pasti bisa! Ayo coba katakan!" perintahnya.
"Sayang!" lirih Ratu.
"Apa? Aku tidak dengar! Hanya semut saja yang bisa mendengarnya!" ucapnya.
"Ayo ulangi!" pintanya lagi.
"Sayang?" ucap Ratu agak keras, Elmar berpura-pura tidak mendengarnya.
__ADS_1
"Apa? Aku tidak mendengar!" kata Elmar sambil mendekatkan telinganya di mulut Ratu.
"Sayaaaaang?" teriak Ratu sangat keras membuat telinga Elmar sakit.
"Astaga! Kenapa keras sekali?" tanya Elmar sambil menutup telinganya.
"Kau bilang aku harus keras! Kenapa kau malah protes?" cemberut Ratu.
"He ... He ... He." tawa Elmar.
"Aku sangat bahagia, Sayang!" ucap Elmar membuat Ratu malu.
Tidak terasa awan berubah menjadi hitam, tiba-tiba saja hujan deras mengguyur Kota Bogor. Terpaksa mereka berdua berteduh di gubug menunggu hujan reda. Hingga sore hari hujan semakin deras, petir menyambar. Ratu tidak berani untuk pulang, karena dia terlalu takut dengan petir yang menggelegar. Elmar yang tahu bahwa Ratu ketakutan, dengan refleks dia memeluk tubuh wanita hamil itu.
Hingga jam empat sore, hujan mulai reda dan petir berhenti menyambar. Mereka memutuskan untuk pulang. Elmar menggandeng tangan Ratu dengan sangat erat. Takutnya Ratu terpeleset, karena aspal yang licin akibat siraman hujan tadi.
"Hati-hati, jalannya sangat licin!" tutur Elmar kepada Ratu.
"Aku takut, El," jawabnya, dan hampir saja Ratu terpeleset, jika beban tubuhnya tidak langsung ditangkap oleh Elmar.
"Auw," teriak Ratu, memegang erat tangan kekasihnya.
"Iya, aku tidak apa-apa!" ucapnya. Ratu membonceng motor Elmar, duduk dibelakang. Elmar melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Tidak lama motor mereka sampai di depan Villa, karena memang jaraknya tidak terlalu jauh. Ratu turun dari motor Elmar, namun dress yang Ratu kenakan menyangkut di boncengan motor. Hingga Ratu kehilangan keseimbangan dan hampir saja terjatuh. Dengan sigap Elmar menarik tubuh Ratu kepelukannya. Manik mereka saling bertemu, saling menatap penuh arti.
"Ehm ... Ehm .... Ehm." Suara seseorang batuk, membuat keduanya saling melepaskan pelukan. Mereka melirik ke sumber suara ternyata suara itu adalah suara papa Aghar. Betapa terkejutnya mereka berdua, Ratu langsung menundukkan kepalanya tidak berani menatap ke arah mata papa yang sangat tajam.
"Bagaimana papa bisa sampai di Bogor?" batin Ratu.
"Kemana saja kalian?" tanya papa dengan suara baritonnya yang khas.
"Kami dari ...." Elmar menjeda kalimatnya.
"Kami dari perkebunan, Tuan," jawab Elmar.
"Ratu?" panggil mama yang baru saja keluar dari Villa.
"Ada apa ini?" tanya Mama bingung, karena tiba-tiba saja suasana menjadi panas.
"Sekarang kalian berdua masuk! Dan jelaskan kepada kami!" tegas papa. Membuat Ratu dan Elmar saling berpandangan.
"Ada apa, Pah?" tanya Mama, karena mama penasaran.
__ADS_1
"Sudah, Mah! Ayo masuk dulu! Biar mereka menjelaskan semua," ucap papa.
Mereka semua pun masuk ke dalam Villa. Papa menyuruh Elmar duduk, dan Ratu juga ikutan duduk di sebelah Mama. Elmar dan Ratu, sama-sama terdiam. Mereka tidak bicara sepatah kata pun sebelum papa membuka percakapan.
"Sekarang jelaskan! Ada hubungan apa diantara kalian?" tanya papa membuka percakapan.
"Eh, itu, Tuan .....!" gagap Elmar.
"Apanya yang itu?" tegas papa.
"Huft," Elmar menghela nafas berat, saatnya dia jujur kepada Tuan Aghar dan Nyonya Nola, sebagai laki-laki, dia harus berani.
"Tuan! Saya sangat mencintai putri, Tuan! Dari dulu sampai sekarang, saya menyukainya! Perasaan saya tidak pernah berubah kepada putri, Tuan! Sekarang, saya meminta izin kepada Tuan Aghar dan Nyonya Nola! Tolong terima saya sebagai menantu Tuan dan Nyonya!" jujur Elmar. Aghar dan istrinya saling berpandangan, mereka tidak tahu harus menjawab apa.
"Kau sadar dengan apa yang kau bicarakan? Kau pikir dirimu siapa?" tegas papa.
"Pah?" panggil Ratu, dia sangat cemas dan sangat khawatir kalau Elmar ditolak mentah-mentah oleh sang papa, karena Elmar hanyalah anak seorang penjaga Villa.
"Ratu juga mencintai, Elmar," ucapnya. Mama yang mendengar menutup mulutnya tidak percaya, bahwa secepat itu putrinya menyukai seseorang, padahal dirinya baru saja menjadi janda.
"Nak, apa yang kau bicarakan?" tanya Mama tidak percaya.
"Mah, biarkan Ratu jujur dengan perasaannya!" cakap papa.
"Ratu sangat mencintai Elmar! Dia selalu membuat Ratu merasa nyaman! Bahkan dalam keadaan hamil besar seperti ini, dia selalu ada untuk Ratu dan bayi Ratu, Pa, Ma!"
"Jika didekatnya, Ratu sangat bahagia," imbuhnya lagi.
"Tapi, Nak, kamu seorang janda!" ucap Mama.
"Apakah seorang janda tidak diperbolehkan mencintai laki-laki lain?"
"Apakah seorang janda akan menyandang statusnya sebagai janda seumur hidupnya?" cecar Ratu kepada papa dan mamanya.
"Hiks ... hiks ... hiks " tangis Ratu.
"Tuan, Nyonya? Saya memang bukan laki-laki yang berada! Saya juga bukan orang kaya! Saya hanya memiliki cinta yang sangat besar kepada putri Tuan dan Nyonya," ucapnya. "Dan saya pastikan, bahwa saya akan membuat putri Tuan dan Nyonya bahagia! Saya akan menjaga Ratu dan bayinya dengan sangat baik," ucapnya.
"Jadi saya mohon, terimalah saya menjadi menantu Tuan dan Nyonya," ucapnya dengan sangat jelas.
to be continued....
__ADS_1