Om I Love You

Om I Love You
Episode 65


__ADS_3

Tok.....tok.....tok...


Lama Marsha menunggu.


Tok....tok.....tok


Hingga mengetuknya kembali.


CEKREEK....


"Mas Roger ?" kebetulan Papa Roger yang membuka.


"Masih mengingat ku ?"


"Kau ?" Papa Roger tampak mengingat-ingat gadis cantik dengan rambut pirang yang sekarang berdiri di depan pintu rumahnya.


"Marsha !"


"Kau Marsha kan ?"


"He'em !"


"Astaga ! kau cantik sekali Marsha !"


"Mas sampai tidak mengenalimu !"


"Ayo masuk !" Roger mempersilahkan Marsha masuk.


Marsha masuk ke dalam rumah, mengamati setiap sudut rumah ini.


"Masih sama seperti dulu , tidak ada yang berubah !" batin Marsha.


"Duduklah,Marsha !"


"Mah ?" panggil Roger kepada istrinya.


"Mah ? lihat siapa yang datang ?"


Mama Nola keluar dari kamarnya .


"Siapa Pah ?" tanya Mama Nola , yang memang Mama Nola belum mengenal siapa Marsha .


"Mah , kenalkan ini Marsha ! dia adalah adik dari Mamanya Zee ! Marsha Zein ! Papa pernah menceritakannya sama Mama !"ucap Papa Roger.


"Oh, perkenalkan ! saya Nola , Mama sambungnya Zee !" ucap Mama Nola ramah menjabat tangan Marsha.


"Marsha !"


"Silahkan duduk !" Mama Nola mempersilahkan tamunya.


"Terima kasih !" jawab Marsha.


"Oya , Di mana keponakan ku ?" tanya Marsha tiba-tiba, yang sedang mengamati sekeliling mencari keberadaan Zee.


Papa dan Mama saling pandang , memberikan kode satu sama lain.


"Oh, itu ! Zee sudah menikah ! dan sekarang ia ikut suaminya?" jawab Papa .


"Menikah ?" heran Marsha.


"Bukankah Zee masih kuliah ?"


"Iya ,Marsha !"


"Semuanya terjadi begitu cepat !"


"Tapi kau jangan khawatir ,Zee masih kuliah kok !"


"Meskipun Zee sudah menikah , tapi dia masih melanjutkan pendidikannya ! suaminya sangat pengertian karena tidak mengekang kemauan Zee melanjutkan pendidikannya !" terang Papa Roger .


"Sekarang Zee sudah diangkat menjadi asisten dosen !"


"Ia ingin seperti Mamanya ! menjadi seorang Dosen !" jawab Papa.


"Huft !"


"Tapi Mas ? dia masih terlalu muda untuk berumah tangga !"


"Apakah semuanya akan baik-baik saja ?"


"Kau tenang saja ,Marsha !"


"Zee menikah dengan seseorang yang dewasa !"

__ADS_1


"Pemikirannya sangat matang ! ia sosok laki-laki yang sabar dan bisa membimbing Zee menjadi seorang istri yang baik !"


"Mas yakin , suami Zee bisa menjadi imam yang baik untuk keponakan mu !"jelas Papa meyakinkan Marsha.


"Oh, begitu !"


"Sebenarnya ya ,Mas ! aku datang kesini ingin mengajak Zee ke Jerman !"


"Siapa tahu dia ingin menjadi model seperti ku ?"


"Ha....ha....ha !"


"Mana mungkin dia mau menjadi seorang model ?"


"Yang dia tahu , hanya berkelahi dan mengejar jambret !"


"Apa ?" Marsha heran.


"Berkelahi ?"


"Sudah , sudah ! Ehm ,Marsha kamu mau minum apa ?" potong Nola .


"Eh,gak usah Kak !"


"Marsha cepet-cepet kok ! soalnya masih banyak urusan !" ucap Marsha.


"Apakah kamu lama di Indonesia,Marsha ?" tanya Roger.


"Tidak , paling cuma satu bulan saja ,Mas !"


"Aku ada wawancara di 6 stasiun TV ,dan menjadi ambasador sebuah Cream kecantikan wanita !"


"Oh, begitu !"


"Ehm,ya sudah Mas ! Marsha pamit dulu , karena masih ada pertemuan lagi dengan agensi !"


"Lain waktu Marsha mampir lagi !"


"Salam buat Zee ya ,Mas !"


"Baik nanti Mas sampaikan !"


"Sering-seringlah main kesini ! Zee pasti sangat senang !" ucap Roger.


"Baik,Mas ! terima kasih !"


"Iya , hati-hati di jalan !" ucap Mama Nola.


Marsha pun kembali ke hotel tempatnya menginap,ia harus bersiap-siap karena ada jadwal pertemuan.


Ia menjadi ambassador di sebuah produk kecantikan di Jakarta.


Sepulang kerja dan pulang ke rumah ,Alan merasakan ada yang lain.


Biasanya ia pulang ke rumah dengan istrinya , dilanjutkan dengan mandi bareng dan bersih-bersih.


Kemudian akan ada acara masak memasak atau pesan makanan online , makan bersama di meja makan.


Menonton televisi bersama , sambil bermesraan.


Mau tidur langsung memeluk istrinya , sebagai penghangat di ranjang.


Namun tidak ada Zee , rasanya benar-benar ada yang kurang.


"Hah ,Mamih sedang apa ya ?"


"Aku benar-benar merindukannya !"


Alan melangkahkan kakinya ke kamar, menyambar handuk dan langsung mandi.


Selesai mandi dan memakai baju santai,ia menyambar ponselnya ingin segera Video Call dengan Zee.


Satu hari tidak melihat wajah istrinya saja rasanya benar-benar tersiksa , apalagi tiga hari.


Alan mencoba menelfon Zee , namun tidak diangkat oleh istrinya.


"Ish , Mamih kemana sih ?"


"Kenapa tidak diangkat-angkat ?" Alan berdialog dengan dirinya sendiri.


Berkali-kali menghubungi istrinya , namun belum juga diangkat.


Membuat hati Alan gusar dan gelisah.

__ADS_1


Berkali-kali ia mondar-mandir ,mencoba menghubungi istrinya lagi.


Namun tiba-tiba ponselnya tidak aktif membuat Alan semakin gelisah dan dongkol.


"Mamih kemana sih ?"


"Apakah ponselnya ditinggal ? sampai tidak tahu Papih menelfon !"


"Sekarang ponselnya malah tidak aktif !" sungut Alan jengkel.


Alan tidak bisa menunggu lagi, hatinya terasa tidak tenang dan gelisah.


Alan mengganti bajunya ,dan menyambar jaket serta kunci mobil.


Ia memutuskan untuk menyusul ke Bogor.


Walaupun belum tiga hari, namun rasa rindu dan cemasnya seakan-akan sedang bekerja sama untuk membuat seorang Alan kalang kabut.


Alan menjalankan mesin mobilnya , mobil melaju dengan kecepatan sedang.


Ia melirik ke arah jam tangan yang terpasang di tangannya.


Masih jam 6 sore , ia berhenti sebentar di masjid untuk sholat Maghrib.


Memang waktunya sudah memasuki waktu Maghrib setempat.


Selesai sholat dan berdo'a ia melanjutkan perjalanannya menuju Bogor.


Namun ditengah jalan, tiba-tiba jalanan yang ia lewati macet.


Ternyata ada kecelakaan di sana , membuat jalan raya macet total.


Posisi mobil Alan yang berada di himpitan mobil yang lain yang sama-sama terjebak macet , akhirnya memilih mengalah dan menunggu.


Sekitar dua jam Alan harus menunggu , yang akhirnya kemacetan itu bisa teratasi.


Mobil Alan kembali melaju ,ia tengok ke jam tangannya ternyata sudah jam delapan lewat.


Sampai di Bogor sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


Mobil Alan sampai di Villa tengah malam ,Alan turun dari mobilnya.


Bibi Hamidah yang membuka pintunya.


"Tuan ?"


"Maaf Bi ,saya datang malam-malam !"


"Saya khawatir dengan keadaan Zee !"


"Oh ,iya!" Bi Hamidah tersenyum , seakan mengerti.


"Kamar Non Zee ada di ujung !" jelasnya.


"Iya ,Bi ! saya tahu !" ucap Alan sambil berlalu pergi meninggalkan Bibi Hamidah di ruang tamu.


CEKREEK.....


Pintu di buka ,Alan masuk ke kamar Zee, kamar yang tidak terlalu besar namun sangat rapi dan wangi.


Ia lihat istrinya sedang tertidur memeluk bantal guling.


"Ternyata kau sudah tidur ?"


"Aku benar-benar merindukan mu , Sayang !"


Alan ikut naik ke tempat tidur ,dan masuk ke selimut yang dipakai istrinya.


Alan memeluk istrinya dari belakang.


Zee merasakan berat dibagian perutnya ,ia menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya.


Ada tangan kekar yang memeluknya dari belakang,sontak Zee terkejut.


Lalu ia layangkan bogemnya ,dan menyikut perut laki-laki yang berani memeluknya dari belakang.


Tempat tidur yang memang tidak terlalu lebar , membuat tubuh Alan terjatuh ke lantai.


BUGH....


"Auw !" pekiknya.


Zee mendengar teriakkan seorang laki-laki, sepertinya suaranya tidak asing.

__ADS_1


Ia menoleh ke arah lantai, betapa terkejutnya Zee.


to be continued......


__ADS_2