Om I Love You

Om I Love You
Episode 14


__ADS_3

Iya adalah Ratu, saudara tiri Zee. Yang sejak lama menaruh hati kepada Yuda, namun tidak pernah berani untuk mengungkapkannya. Setiap hari melihat kemesraan Yuda dan Zee, membuat hatinya terbakar dan marah. Sekarang Dewi cinta sedang berpihak kepadanya, di klub malam dia mendapati Yuda tengah mabuk sendiri. Ratu mengamati sekitarnya, mengikuti langkah Yuda saat hendak keluar klub. Yuda yang dalam keadaan sangat mabuk, mencari-cari kendaraannya yang ia parkirkan.


Yuda berjalan menuju mobilnya, mengambil kunci dan hendak memasukkannya ke lubang kunci, namun terpeleset.


Ratu menangkap tubuh Yuda dan membantunya masuk mobil. Melihat kondisi Yuda yang tidak sadarkan diri, Ratu memutuskan membawanya ke suatu tempat di mana seseorang tidak menemukannya.


Hari Pernikahan


Hari ini Zee memakai kebaya pengantinnya, berwarna putih terlihat sangat cantik sekali.


Sembari menunggu pengantin pria datang, Zee duduk di ruangan makeup menunggu di panggil. Semua keluarga Yuda sudah berkumpul. Papa dan mamanya, Opa dan Omanya, serta Om Alan.


Mama Yuda, berusaha menghubungi nomer Yuda, namun tidak aktif. Mama Yuda sangat cemas dan khawatir, karena sebentar lagi acaranya segera di mulai namun putranya masih belum menampakkan batang hidungnya.


"Astrid, cepat telpon Yuda!"


"Acaranya akan di mulai!" suruh Oma.


"Udah, Ma! HP nya tidak aktif!" jawab Astrid.


"Ya Ampun, Apa mungkin Yuda meninggalkan pernikahannya?" reka Oma .


"Ma, Tolong jangan berkata begitu !"


"Astrid yakin! Yuda akan datang!"


"Dia sudah berjanji sama Astrid!"


"Dia akan bertanggung jawab!"sedih Astrid.


"Tapi lihatlah pak Penghulu sudah datang," ucap mama Sarah.


Semua mata tertuju kepada Roger Aghar, yang datang secara tergopoh-gopoh, matanya nampak merah, sepertinya sedang menahan amarah di dalam hatinya.


Aghar membawa sepucuk surat, yang di kirimkan lewat kurir. Kebetulan Aghar sedang menyambut para tamu, ia yang menerima surat itu. Betapa terkejutnya dia, membaca surat tersebut. Dia langsung menghampiri keluarga Xaquille untuk meminta penjelasan.


"Aku sudah cukup bersabar!" ucapnya, di dampingi mama yang berusaha menenangkan papa.


"Bacalah!" papa menyerahkan sepucuk surat yang barusan ia terima.


Astrid membacanya, dia terpaku membaca surat itu. Surat yang menjelaskan bahwa Yuda tidak mau menikah muda, dia masih ingin bersenang-senang, Masa depannya masih panjang, Yuda juga menjelaskan bahwa ia belum sempat mengobrak-abrik mahkota Zee.


Dia meminta maaf harus meninggalkan pernikahannya.


Astrid menangis dan memberikan surat itu kepada suaminya, papa Yuda nampak marah.


Bagaimana bisa dia pergi di saat semuanya telah di sepakati ?


Yuda putranya telah meninggalkan tanggung jawabnya, Yuda putranya menjadi seorang pengecut dan mencoreng nama Nalendra, nama besar keluarga papanya .


"Bagaimana ini?"


"Bagaimana dia pergi saat semuanya sudah di persiapkan?"


"Bagaimana kalian bisa mendidik seorang baj******n di rumah kalian?" semuanya terdiam merasa bersalah.


Astrid dan suaminya hanya bisa menundukkan kepalanya, merasa malu, kecewa dan sedih.


"Biarkan putraku yang menggantikan!" ucap Oma tiba-tiba, membuat yang mendengarnya kaget bukan kepalang.

__ADS_1


"Di surat itu,Yuda bilang! dia tidak sempat menyentuh mahkota putrimu kan?"


"Jadi aku yakin! Yuda tidak menyentuhnya!"


"Kenapa Anda bisa percaya dengan perkataan, ba*******n itu?" tanya papa.


"Aku tidak yakin! tapi aku yakin putri mu tidak akan berbohong!"


"Tanyakan padanya? Apakah Yuda melakukannya atau tidak!"


"Bila jawabannya tidak! Aku akan menyuruh putraku Alan untuk menikahinya!" tegas Oma Sarah.


"Baiklah, Aku akan bertanya!" Roger dan istrinya segera menemui Zee, dan bertanya langsung kepada Zee.


Sedangkan Alan, menatap sedih mamanya.


Alan mengerti, kenapa mama sampai melakukan hal itu.


Dia sudah cukup mendengar lontaran kata-kata kasar yang di tujukan pada keluarganya.


"Mama, percayakan kepada ku!"


"Mama tenanglah!" Alan menggenggam lembut tangan wanita berkeriput itu.


"Zee?" panggil papa.


Papa menjelaskan masalah surat itu , Zee nampak terpukul dan sedih.


"Sekarang papa tanya! Apakah Yuda sempat melakukan hubungan itu kepada mu?" papa menatap tajam, meminta kepastian kepada Zee.


"Sumpah demi Allah, Pah!"


"Untuk menyelamatkan pernikahan ini, menikahlah dengan Om nya Yuda!" ucap papa.


JEDERRR


Zee sangat tidak percaya ,papa menyuruh Zee menikahi om-om.


Hatinya sangat terpukul, apakah untuk menyelamatkan kehormatan keluarga, Zee harus menikah dengan Om-om.


"Pa, Zee tidak mau menikah dengan om-om?" rengek Zee.


"Papa terpaksa, Nak?"


"Hiks.... hiks.... hiks!" tangis papa.


"Papa sudah tua!"


"Papa ingin melihatmu bahagia!" Zee benar-benar tidak tega melihat papa yang sangat di sayangi nya harus menangis dan bersedih memikirkan nasib dirinya.


"Baiklah, Pa! Zee bersedia!"


"Semoga Zee bisa menjalani pernikahan tanpa cinta ini!" sedih Zee.


"Apakah om itu bersedia menikah dengan Zee?" tanya Zee tiba-tiba.


"Merekalah yang merencanakan ini semua!" jawab papa.


"Baiklah, Pa!" jawab Zee.

__ADS_1


Zee keluar dari ruangan make up, berjalan beriringan dengan sang papa. Zee terlihat sangat cantik dan mempesona, mata laki-laki yang memandang pasti akan langsung bertekuk lutut padanya, termasuk Alan sendiri.


Semua tamu undangan yang melihat, sangat terkagum-kagum dengan kecantikan pengantin wanita. Tidak berhenti mereka memuji dan menghibah.


Termasuk Oma Sarah, dia merasa terkejut dengan calon mempelai wanita, karena dia sepertinya mengenal wanita tersebut.


Alan yang langsung berganti baju, menggunakan baju pengantin yang sebelumnya akan dipakai oleh Yuda, duduk persis di depan penghulu.


Zee duduk di sebelah mempelai pria, tanpa menoleh seperti apa rupa mempelai pria.


"Kalian siap?" pak penghulu bertanya kepada kedua calon mempelai.


"Siap!" jawabnya.


Zee nampak diam saja, banyak berjuta pertanyaan di dalam benaknya. Papa menyenggol lengan Zee, dan berbisik kepada Zee.


"Jawab pertanyaan pak penghulu!" bisik papa.


"Siap!" jawab Zee malas.


Pak penghulu menjabat tangan Alan, dan membacakan janji suci pernikahan.


"Saya terima nikahnya, Zevanya Putri Sabila binti Roger Aghar dengan mas kawin emas seberat 500 gram dan peralatan sholat di bayar tunai !" Alan mengucapkan ijab qobul dengan suara yang lantang dan mantap.


"SAH!!!"


"SAH!!!" semua bertepuk tangan meriah, merasakan kebahagiaan yang di rasakan oleh kedua keluarga.


Alan menyematkan cincin pernikahan, di jari manis Zee. Cincin yang di berikan mama sebelum acara dimulai, Alan tidak sempat membeli cincin, karena dia tidak tahu kalau hari ini menjadi hari pernikahannya.


Alan bersyukur, karena cincin pemberian mama pas di jari Zee.


Masih menundukkan pandangan matanya, Zee mencium tangan suaminya dengan takzim. Tanda bakti pertama istri kepada suaminya.


Selesai acara ijab qobul, mereka duduk di kursi pengantin. Semua orang memberikan selamat kepada kedua pengantin. Terakhir pengantin sungkem kepada kedua orang tua masing-masing.


Pertama sungkem kepada orang tua mempelai wanita, Alan dan Zee mencium punggung tangan papa dan mama. Mama sangat terharu, karena anak gadisnya sekarang di miliki seseorang. Mama mencium Zee dengan sayang.


"Jangan menangis di hari bahagia ini!"


"Mama selalu mendoakan kau akan lebih bahagia dengan Alan!" do'a mama.


"Makasih, Ma!" jawab Zee.


Alan juga mencium punggung tangan mertuanya, meskipun tadi Alan sempat tidak suka dengan sikap papa Zee, namun dia mengerti kalau papa Zee berbuat demikian karena sangat menyayangi putrinya.


Bergantian mereka melakukan sungkeman kepada orang tua mempelai pria. Mama Alan memeluk Zee dengan sayang .


"Masih ingat,Tante?" Zee nampak berpikir.


Bugh....Bugh ...Bugh


Mama memperagakan ilmu silat ala Berry Prima, Zee teringat dengan seorang wanita yang hampir di jambret dan Zee menolongnya.


"Tante Sarah?" teriak Zee, membuat semua mata tertuju kepada keduanya, termasuk Alan dan papa terkejut karena teriakan keduanya.


Mereka berpelukan hangat, seolah-olah mereka kenal sangat lama.


"Ha... ha... ha, " mereka tertawa gembira.

__ADS_1


to be continued......


__ADS_2