
"Hiks ... hiks .... hiks."
"Echa, bagaimana ini? Pasti suamiku sangat marah sekali," ucap Zee terus-menerus terisak karena kehilangan Aisha.
"Tenang, Zee! Tapi, sebaiknya kamu memang harus jujur," ujar Echa. "Bagaimanapun juga dia adalah suami kamu," jawabnya.
Zee pun langsung menelfon suaminya agar datang kesini, Alan yang sedang meeting pun terpaksa harus meninggalkan klien penting disaat meeting berlangsung. Zee menangis dan menyuruh suaminya untuk datang ke mall tanpa menjelaskan apapun.
Alan mengendarai mobilnya seperti orang kesetanan, dia membelah jalan raya dengan kecepatan tinggi. Dengan hitungan beberapa menit saja, dia sampai di mall, tempat istrinya berada. Alan langsung menuju pos security, karena Zee yang mengatakan bahwa dia ada disana dengan Echa.
"Sayang?" panggil Alan, Zee sedang bersandar di bahu Echa sambil menangis. Zee menoleh ke arah sumber suara, ternyata suaminya yang datang. Zee berhambur kepelukan suaminya, dia terisak di dada bidang suaminya.
"Ada apa? Kenapa kamu menangis? Aku sangat mencemaskanmu," cecarnya.
"Hiks .. Hiks ... Hiks."
"Pih, maafkan Mamih! Mamih sudah lalai menjaga putri kita," lirihnya dengan rasa takut. Alan yang mendengar penuturan istrinya sangat terkejut.
"Apa?" tanyanya menatap tajam ke arah Zee. "Maksudmu, apa?" Alan mengulangi pertanyaannya.
"Aisha hilang, Pih," jawabnya.
"Hiks ... Hiks .... Hiks." isak Zee.
"Kau bohong kan?" tanya Alan tidak percaya. "Bagaimana bisa?" marahnya.
Zee pun menceritakan awal kejadiannya kepada suaminya, hingga Aisha tidak terlihat lagi. Dan sekarang dia sangat menyesalinya.
"Kau memang teledor," murkanya. "Menjaga anak satu saja nggak bisa! Ibu macam apa kau ini?" kesal Alan menatap tajam ke arah Zee. Zee tersentak, dia begitu kaget karena suaminya bisa semarah itu. Echa juga sangat terkejut, karena suami sahabatnya sangat marah.
"Maafkan Mamih, Pih," ucapnya meminta maaf. Alan terus berjalan ke arah kantor tanpa memperdulikan kata-kata istrinya. Zee dan Echa mengekor di belakangnya. Alan meminta kepada petugas ruang CCTV, untuk memutar rekamannya pada saat jam hilangnya Aisha. Alan mendapatkan petunjuk dari rekaman tersebut, bahwa Aisha diajak oleh seorang wanita berpakaian serba hitam.
"Apakah bisa cek plat nomer mobilnya?" tanya Alan kepada petugas CCTV.
__ADS_1
Petugas cctv memutar rekaman ke arah parkiran, ternyata teman-teman dari wanita tersebut sudah menunggu di parkiran mall. Security yang menjaga tidak merasa curiga karena anak tersebut pun menurut saja saat digandeng.
"Pih, itu Aisha," tunjuk Zee ke arah layar monitor.
"Aisha, Aisha," teriaknya.
"Hiks ... Hiks .... Hiks! Maafkan Mamih, Sayang! Mamih bersalah," tangis Zee histeris.
"Maafkan, Mamih," jerit Zee.
Alan yang melihat istrinya terisak dan merasa bersalah, dia pun tidak tega. Alan mendekap tubuh Zee ke dalam pelukannya.
"Nanti akan kita temukan," ucap suaminya.
"Hiks ... Hiks .... Hiks." tangis Zee bertambah histeris.
"Maafkan Mamih, Pih," ujarnya.
"Iya, ini adalah peringatan dari Allah untuk kita, agar kita tidak boleh lengah sebagai orang tua," jelasnya. "Sudah, pasti dia akan baik-baik saja! Aish kita adalah anak yang cerdik dan cerdas," ucap suaminya. "Kita pasti bisa menemukannya," yakin suaminya.
"Iya, Sayang, pasti Papih akan menemukan Aisha," jawab Alan.
Alan dan Zee langsung melaporkan kasus penculikan putrinya ke kantor polisi. Polisi pun langsung menindaklanjuti laporan dari orang tua korban. Alan dan Zee memutuskan pulang ke rumah. Papa Harun dan Mama Sarah yang mendengar kabar tersebut, langsung mencecar Zee dengan banyak pertanyaan. Zee pun menjelaskan bagaimana kronologi kejadiannya sampai Aisha di culik seseorang.
"Sabar, Sayang," ucap Mama, "Alan masih mencari keberadaan Aisha," ujar Mama berusaha menenangkan Zee. Memang setelah mengantarkan Zee pulang, suaminya langsung berpamitan untuk mencari Aisha dengan para polisi.
"Hiks ... Hiks ... Hiks."
"Semuanya salah Zee, Ma! Zee adalah Mamih yang buruk buat Aisha," ujarnya.
"Jangan berkata begitu, Sayang! Yang terjadi pada Aisha adalah suratan takdir dari Allah! Kita sebagai manusia harus lebih ikhlas dan berhati-hati," tutur Mama Sarah. "Yang harus kita lakukan adalah berdoa, supaya Aisha tidak apa-apa, dan cepat berkumpul kembali dengan kita," ujar Mama. Mama Sarah memeluk Zee dengan sayang. Bagaimanapun Zee sedang mengandung, dia tidak boleh terlalu banyak pikiran.
"Ma, bawa Zee ke kamar, biarkan dia beristirahat terlebih dahulu," perintah Papa Harun.
__ADS_1
"Iya, Sayang, kamu harus beristirahat! Ayo kita beristirahat terlebih dulu!" ajak Mama, " Apakah kamu sudah makan?" tanya Mama. Zee menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu, Ayo kita makan!" ajak Mama lagi.
"Bagaimana Zee bisa makan, Ma?" tanya Zee. "Aish juga belum makan, pasti dia juga kelaparan," ujarnya. Zee kembali menangis, hatinya benar-benar sangat sedih sekarang.
Mama Sarah memapahnya ke kamar, agar menantunya bisa beristirahat. Mama juga melihat Zee nampak kelelahan. Zee merebahkan dirinya di kasur yang empuk. Dia memandangi foto putri cantiknya. Ia pun kembali meneteskan air matanya kembali.
Alan mendapatkan informasi dari kepolisian bahwa mobil penculik itu sudah ketemu. Alan dan pihak polisi pun mendatangi tempat mobil itu diparkirkan. Ternyata mobil tersebut adalah mobil sewaan. Setelah diselidiki, mereka memberikan KTP palsu kepada pemilik mobil.
Pak Polisi meminta kesaksian kepada pemilik mobil, agar memberikan informasi terkait.
Setelah diselidiki lebih dalam ternyata orang-orang itu adalah sindikat penculik anak. Mereka sengaja menculik anak-anak untuk diperjualbelikan dan diselundupkan ke luar negeri. Sekarang pihak kepolisian sedang menjadikan orang-orang itu sebagai buronan yang sangat membahayakan. Bahkan dari keterangan pemilik mobil itu, pihak polisi dengan cepat mendapatkan wajah-wajah pelakunya.
Alan terpaksa harus pulang, karena jam juga sudah menunjukkan pukul dua malam. Dia melangkahkan kakinya dengan kaki lunglai. Di depan pintu ternyata Zee sudah menunggu kedatangan suaminya. Zee langsung menghampiri Alan, dan mencecar suaminya dengan banyak pertanyaan.
"Bagaimana, Pih? Apakah sudah ada titik terang?" tanya Zee.
"Sudah, Mih! Ayo kita masuk dulu, disini dingin!" ajak Alan kepada istrinya.
Alan dan istrinya masuk ke dalam rumah, ternyata Papa dan Mama juga masih terjaga. Menanti kedatangan Alan untuk dimintai keterangan.
"Bagaimana, Nak?" tanya papa.
"Huft," Alan menghela nafas panjang. Dia mendudukkan pantatnya di sofa. Zee langsung pergi ke dapur membuatkan minuman untuk suaminya. Zee menyerahkan minuman itu kepada suaminya, Alan langsung menghabiskan minuman tersebut dengan sekali teguk.
"Bagaimana, Pih?" tanya Zee.
"Mereka semuanya adalah sindikat penculik anak," terangnya.
"Apa?" Zee terkejut dengan penuturan suaminya.
"Mereka bekerja sama, si wanita mencari anak kecil sebagai mangsa yang empuk, kemudian beberapa orang lagi menunggu di mobil," jelasnya. "Mereka memperdagangkan anak kecil ke luar negeri," imbuhnya lagi.
__ADS_1
"Apa? Papih pasti bohong kan? Papih pasti bercanda," teriak Zee tidak percaya. Zee sangat histeris mendengarkan penjelasan dari suaminya, dan karena histerisnya dia jatuh tidak sadarkan diri. Alan menangkap tubuh istrinya dan berusaha untuk menyadarkannya.
to be continued......