Om I Love You

Om I Love You
Episode 116


__ADS_3

PLAKK ...


"Auw," pekik Zee sambil memegangi pipinya.


"Kau mau kabur ya?" Silvi menarik rambut Zee, Josh yang melihat kejadian itu langsung berlari ke arah mereka, dan berusaha melepaskan tangan Silvi yang menjambak rambut Zee.


"Silvi, berhenti! Kau menyakitinya!" bentak Josh.


"Dia hendak kabur! Siapa yang berani melepaskan ikatannya?" tanya Silvi.


"Aku yang melepaskannya," ucap Josh.


"Dia akan ke kamar mandi! Tentu saja aku melepaskan ikatannya!" jelas Josh lagi. Silvi pun memerintahkan anak buahnya kembali mengikat sanderanya.


Silvi menarik tangan Josh, dia menampar pipi kekasihnya.


"Apakah kau menyukainya?" bentak Silvi.


"Ayo jawab!" bentak Silvi lagi.


"Apa yang kau katakan?" elak Josh.


"Aku bisa melihat dimatamu, kau menyukai wanita itu!" hardiknya.


"Kau jangan menuduhku yang bukan-bukan!" elaknya lagi.


"Aku ini kekasihmu! Ingat itu?" ujarnya. Josh menoleh ke arah Silvi.


"Sekarang aku minta, nikahi aku?" pinta Silvi.


"Ha ... ha .... ha."


"Menikah? Kau lupa dengan komitmen kita? Tidak akan pernah ada kata menikah diantara kita," ujarnya.


"Lalu, hubungan kita selama ini kau anggap apa?" tanya Silvi.


"Kau ini hanyalah penghangat ranjang ku saja! Tidak lebih! Jadi jangan pernah berharap lebih dari hubungan kita," jelasnya. Josh meninggalkan Silvi yang masih terpaku di sana. Hati Silvi begitu sakit, lagi-lagi dia harus ditolak oleh laki-laki yang ia cintai. Silvi begitu marah kepada Zee, dia pun kembali ke ruangan Zee disekap. Silvi mencengkeram dagu Zee dengan kuat.


"Dasar wanita murahan! Kau sudah bersuami tetapi kau masih menggoda kekasihku!" marah Silvi.


"Apa maksudmu?" tanya Zee tidak mengerti.


"Aku yakin bahwa kaulah yang merayunya terlebih dahulu!" ucapnya lagi penuh amarah.


"Sakit," pekik Zee.


"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti!" cakap Zee. Silvi pun melepaskan cengkeraman tangannya. Dia menatap Zee dengan penuh amarah.


"Dia tertarik kepadamu! Aku bisa melihat dari sorotan matanya! Kau yang merayunya kan?" teriak Silvi.


"Siapa? Maksudmu Josh," jawabnya.

__ADS_1


"Kau jangan salah paham dulu! Mana mungkin aku jatuh cinta padanya! Aku ini sudah bersuami, mana mungkin aku tertarik pada laki-laki model seperti dia," tuturnya.


"Awas kau, jika sampai aku tahu kau macam-macam dengannya!" ancamnya, sambil berlalu pergi.


"Yeay, dasar wanita gila! Dia pikir aku ada main dengan laki-laki macam Josh! Dasar wanita tidak waras! Bahkan suamiku saja lebih baik dari Josh," umpat Zee.


"Sialan, tamparannya keras sekali! Bibirku sampai berdarah," pekik Zee merasakan perih di sudut bibirnya.


Silvi begitu marah dengan kejadian itu, dia mengacak-acak rambutnya sendiri karena frustasi. Xavier yang melihat anaknya begitu emosi, berusaha untuk menenangkannya.


"Sudahlah, Sayang! Fokuslah pada rencana kita!" tutur ayahnya.


"Hiks ... hiks ... hiks."


"Gara-gara wanita itu, aku kehilangan orang yang sangat aku cintai ayah!" ucapnya.


"Ayah mengerti, Sayang!" jawab Xavier sambil memeluk tubuh putrinya.


"Sekarang juga kirimkan pesan kepada keluarga Xaquille untuk datang ke gudang!" ujarnya.


"Apakah ayah akan menyerahkan Zee begitu saja?" tanya Silvi.


"Ha ... ha .... ha."


"Tentu saja tidak, Sayang! Ayah akan meminta tebusan untuk ditukarkan dengan wanita hamil itu! Dan setelah kita mendapatkan uangnya, kita singkirkan mereka semua!" ucapnya.


"Wow, itu ide yang sangat bagus! Ayah memang sangat pintar!" ucapnya.


"Tapi, aku menyukai Josh, Ayah!" jawabnya.


"Anggap saja itu cinta monyet! Seperti cintamu dulu kepada Alan!" ujar Xavier.


"Sekarang hubungi Alan!" perintah ayahnya.


"Baiklah." Silvi mendial nomor Alan.


Dret ... Dret .... Dret


"Hallo?" sapa Silvi.


"Silvi! Dimana istriku?" teriak Alan memekikkan telinga.


"Sabar, Kakak! Istrimu baik-baik saja!" ucapnya.


"Katakan dimana istriku! Sebenarnya apa mau kamu? Kamu mau uang, mobil atau harta? Akan aku berikan!" bentak Alan penuh dengan amarah.


"Kakak memang sangat pintar! Siapkan aku uang sebesar lima ratus milyar dan bawa Om Harun bersamamu!" perintah Silvi.


"Apa? Kau gila! Kau mau merampokku? Untuk apa kau melibatkan papaku?" marah Alan kepada Silvi.


"Aku yakin uang segitu tidak ada artinya bagi keluarga Xaquille!" ucap Silvi.

__ADS_1


"Kecuali jika ingin melihat istrimu mati! Bawa saja Om Harun bersamamu! Ada yang ingin bertemu dengannya!" ucapnya.


"Kau!"


"Oke, akan aku siapkan! Katakan saja dimana aku bisa mengirimkannya?" tanya Alan mencoba bersikap tenang.


"Nanti akan aku kirimkan lewat pesan, aku tunggu sampai hari ini! Jika melewati sampai besok pagi, maka istrimu akan tamat! Kau ingat betulkan, bagaimana ayahku menghabisi kakek dan nenekmu dengan racun? Sudah dulu, bye!"


Tut .... Tut ..... Tut


"Sial,"


"Dia mematikan ponselnya!" geram Alan. Alan langsung menghubungi bagian keuangan untuk menyiapkan uang yang dibutuhkan. Dari beberapa Bank di Indonesia, manager keuangan Perusahaan baru bisa menarik uang tiga ratus trilliun. Karena dalam waktu satu hari tidak mungkin mengumpulkan uang sebanyak itu. Dia pun meminta bantuan papa mertuanya untuk menggenapi sisa kekurangannya. Papa mertuanya langsung mengumpulkan sisa kekurangannya tersebut, dia memberikan pesan kepada menantunya supaya Alan bisa menyelamatkan putri dan cucunya dalam keadaan sehat dan hidup.


Perusahaan Xaquille


Alan menghubungi nomer ponsel Elmar, menyuruhnya agar dia datang ke Perusahaan Xaquille. Elmar langsung memenuhi panggilan Om Alan untuk datang ke Perusahaan Xaquille.


"Masuklah, Elmar!" perintah Om Alan.


"Duduklah!" perintahnya.


"Ada apa Om? Apakah ada kabar tentang Zee?" tanya Elmar penasaran.


"Iya, El! Om mendapatkan pesan dari penculik itu," ucap Alan. Elmar nampak mengernyitkan alisnya.


"Mereka meminta Om dan papa Om datang ke alamat ini!" imbuhnya, sambil menunjukkan notifikasi pesan dari penculik itu. Elmar membacanya dengan seksama.


"Dan Om menyuruh kamu kesini agar kamu membantu Om menyelamatkan Zee," ujarnya.


"Bantu Om! Om akan memberikan hadiah sebagai gantinya," ucap Alan penuh penekanan.


"Hadiah? Hadiah apa, Om?" tanya Elmar.


"Aku akan membelikan kamu rumah mewah tingkat tiga! Bila perlu tingkat sepuluh supaya Papa Roger langsung menikahkan mu dengan Ratu, hari itu juga!" tegasnya.


"Wah, benarkah?" senang Elmar.


"Tentu saja! Aku tidak pernah mengingkari ucapan ku sendiri," tegas Alan.


"Apa yang harus Elmar lakukan?" tanya Elmar. Alan membisikkan sesuatu ke telinga Elmar.


Setelah mengumpulkan semua uang yang dibutuhkan, Alan menjemput Papa Harun di rumah. Dia sengaja tidak memberitahukan Mama Sarah soal ini, karena melihat kondisi Mama yang kurang sehat, Alan takut terjadi sesuatu dengan sang Mama.


Alan melajukan mobilnya menuju tempat yang sudah dijanjikan oleh Silvi, Alan juga membawa Papa Harun bersamanya, namun Papa Harun mengendarai mobilnya sendiri. Entah kenapa Silvi bersikeras menyuruh dirinya untuk membawa Papa Harun bersamanya. Alan juga sudah menyiapkan lima belas koper berisi uang yang diminta oleh Silvi. Sepuluh koper dia letakkan di mobilnya sendiri, dan lima koper berada di mobil papa.


to be continued......


Capcuss, mampir juga di novel ku yang lain yang ceritanya nggak kalah seru. Dengan judul" Ketulusan Cinta Dara"


__ADS_1


__ADS_2