Om I Love You

Om I Love You
Episode 77


__ADS_3

"Ah, Elmar, jasamu pasti akan aku ingat!" ucapnya, sambil bergegas menuju kamar mandi untuk bersiap-siap. Alan menyiapkan koper kecil untuk membawa baju ganti istrinya dan untuk dirinya. Ia yakin butuh waktu dan perjuangan untuk membujuk istrinya yang sedang marah, ia butuh beberapa hari untuk tinggal di villa. Alan juga membawa peralatan makeup istrinya, Zee pasti tidak membawanya. Dia juga menyiapkan susu, obat dan vitamin juga untuk istrinya. Kepergian istrinya memang tidak direncanakan, makanya Alan membutuhkan itu semua. Alan yang sangat perhatian kepada istrinya, dia tidak mau terjadi sesuatu kepada istrinya. Alan langsung menyambar jaket dan kunci mobilnya.


Sekitar 4 jam perjalanan, Alan sampai di Bogor. Memang perjalanan sempat macet total, namun demi Zee, dia rela menunggu lumayan lama. Alan memarkirkan mobilnya di halaman Villa. Ratu sempat terkejut dengan kedatangan Alan yang tiba-tiba, namun Ratu tidak mau terlalu ikut campur dengan rumah tangga saudara tirinya, dia pun menunjukkan keberadaan istrinya.


Alan menuju kamar Zee, dia membuka pelan pintu itu, lalu menguncinya.


Alan melihat istrinya masih tertidur dengan pulas, padahal jam dinding sudah menunjukkan waktu Ashar setempat. Ia menghampiri tempat tidur istrinya, Alan yang sangat merindukan istrinya, ikut merebahkan tubuhnya dibelakang Zee, sambil memeluknya dari belakang. Ia pun ikut tertidur di samping istrinya.


Zee merasa ada tangan yang memeluknya, Zee sangat terkejut, dengan refleks Zee mendorong tubuh suaminya hingga terjatuh.


Bugh...


"Auw," pekik Alan, sambil memegangi pantatnya.


"Papih?" sentak Zee kaget.


"Bagaimana Papih bisa disini? Siapa yang memberitahukan kalau Mamih di sini? Atau jangan-jangan Papih menyuruh mata-mata untuk mengikuti Mamih?" cecar istrinya dengan banyak pertanyaan.


"Nggak, Sayang! Papih nggak menyuruh orang untuk memata-matai Mamih, beneran Mih?" ujarnya.


"Papih pergi! Mamih sedang tidak ingin berbicara dengan Papih! Mamih sangat marah sama Papih! Sekarang Papih, keluar!" marah Zee.


"Mamih harus mendengarkan penjelasan dari Papih!" ucap Alan, "Papih minta maaf, Mih! Papih sudah nggak ada hubungan apapun dengan Marsha, dia masa lalu Papih!" ujarnya.


"Lalu kenapa Papih harus berbohong? Dari awal bertemu, Papih dan Tante pura-pura tidak saling mengenal! Bahkan sampai sekarang Papih masih berpura-pura tidak mengenal! Dan secara diam-diam kalian bertemu, berpelukan di tempat yang sepi!"


"Ck, Apakah kalian tidak malu?" tanya Zee sangat marah.


"Hiks ... Hiks .... Hiks." tangis Zee.


"Astaghfirullah, bukan seperti itu kejadiannya," ucap Alan. "Tante kamu datang secara tiba-tiba, Papih pikir itu Mamih! Ternyata Marsha yang memeluk Papih, Papih sudah berusaha untuk melepaskan pelukannya, tapi Marsha terlalu erat memeluk!" jelas Alan.


"Sudah cukup! Jangan diteruskan!" ucap Zee., "Mamih nggak mau mendengar penjelasan, Papih, sekarang Papih keluar dari kamar Mamih! Mamih mau sendiri!" perintah Zee.


"Mih?" mohon suaminya.


"Ayolah, Mih, jangan marah lagi." Zee masih tidak bergeming, hatinya masih marah dan dongkol. Alan pun keluar dari kamar istrinya dengan raut muka yang masam, ia menuju ruang tamu, di sana sudah ada Elmar dan Ratu yang sedang mengobrol.


Alan mendudukkan pantatnya di sofa, namun raut mukanya masih seperti benang kusut.


"Bagaimana, Om? Apakah berhasil?" tanya Elmar.

__ADS_1


"Ah, kalau sudah marah, sangat susah untuk meluluhkan hatinya," sungut Alan.


"Ha .. ha .. ha."


"Biasa, Om, kasih saja cokelat, bunga, perhiasan mahal atau apapun yang wanita suka!" saran Elmar.


"Zee tidak suka semua itu, kau kan tahu dia seperti apa!" ujar Alan.


"Iya juga, Zee itu kan tomboi!" kata Elmar.


"Sebaiknya, Om, datangkan Tante Marsha ke sini," saran Ratu tiba-tiba, membuat pandangan kedua laki-laki itu menatap ke arahnya.


"Karena hanya dengan kesaksian Tante Marsha yang bisa meredakan kemarahan Zee," ucapnya lagi. Alan dan Elmar hanya manggut-manggut saja mendengar penjelasan Ratu.


"Kau benar! Hanya dengan mendengar penjelasan Marsha, Zee akan percaya!" ujar Alan.


"Baiklah, nanti aku akan segera menghubunginya untuk datang ke sini, mudah-mudahan saja Marsha bersedia datang kesini dan mau menjelaskan semuanya!" ucap Alan.


"Benar, Om, jika memang Tante Marsha adalah tantenya Zee, pasti dia akan mementingkan kebahagiaan keponakannya," timpal Elmar.


"Terima kasih, Elmar, Ratu," ucap Alan.


"Amin," timpal keduanya.


Amerika


Satu Minggu berlalu, akhirnya Yuda diperbolehkan untuk pulang. Latihan berjalan dilanjutkan di rumah bersama papa dan mamanya, akan tetapi Yuda masih harus fisioterapi minimal satu Minggu sekali.


Yuda memang sudah bisa menggerakkan kaki dan pinggulnya, namun gerakan kakinya berjalan masih sangat lambat.


Setelah Astrid membantu Yuda untuk mandi dan bersih-bersih, Astrid juga membantu Yuda untuk mengambilkan sarapan paginya. Yuda menikmati sarapan paginya dengan sangat lahap. Satu piring nasi goreng, tandas tanpa sisa. Selesai sarapan, Astrid membawa putranya berjalan-jalan di taman dekat dengan rumah. Taman di sana sangatlah bersih, banyak anak-anak dengan orang tua mereka menghabiskan waktunya ditaman. Yuda duduk di kursi rodanya sambil melihat anak-anak bermain, sedangkan Astrid meminta izin untuk ke toilet sebentar. Tanpa sengaja, seorang gadis kecil berambut pirang menendang bola jatuh tepat di kaki Yuda. Yuda sempat terkejut dan jengkel, namun melihat gadis kecil yang mukanya sangat lucu dengan pipi gembulnya, Yuda tidak jadi memarahinya.


"I'm sorry, Uncle." ucap gadis kecil itu, memperhatikan Yuda dengan seksama.


"Next time be careful." tutur Yuda.


"Okay, Uncle," jawabnya.


"Om, orang Indonesia?" tanya gadis kecil itu, ternyata bahasa Indonesia sangat fasih.


"Iya, kok kamu tahu?" tanya Yuda penasaran.

__ADS_1


"Karena Daddy saya juga orang Indonesia, rambutnya seperti, Om!" tuturnya sangat menggemaskan.


"Oh, ya," jawab Yuda.


"Tapi, dia sudah meninggal sejak Laura masih bayi," tambahnya lagi, gadis kecil itu nampak sedih, ada kesedihan di pelupuk matanya.


"Siapa yang mengatakan itu semua?" tanya Yuda.


"Mommy," timpalnya.


"Siapa nama kamu?" tanya Yuda.


"Laura," jawabnya.


"Dan Om, siapa?" balik tanya.


"Panggil saja, Om Yuda," jawabnya.


"Oh, Om Yuda," Laura ber'oh ria.


"Laura?" panggil seseorang.


"Mommy," jawab gadis kecil itu melambaikan tangan.


"Mommy cari-cari, ternyata disini!" tuturnya.


"Ayo, pulang?" ujarnya.


"Okey, Om, Laura pulang!"


"Dah, Om," ucap gadis kecil tersebut sambil melambaikan tangannya.


"Mari, Tuan!" sapanya, Yuda menganggukan kepalanya. Seorang wanita cantik berambut pirang menggandeng tangan gadis cilik itu.


Beberapa menit kemudian Astrid datang dari arah toilet.


"Matahari sudah terik, Ayo, kita pulang!" ajaknya.


"Oke, Mah!" jawab Yuda. Astrid mendorong kursi roda putranya sampai rumah. Didepan rumah, ia melihat suaminya menenteng koper kecil. Aditama berpamitan kepada istrinya untuk pulang terlebih dahulu ke Indonesia, karena ada proyek besar yang harus segera dilaksanakan. Mungkin sekitar satu Minggu, Aditama akan kembali menyusul istri dan putranya.


to be continued......

__ADS_1


__ADS_2