
Dengan menggunakan lift khusus, Zee sampai di depan kantor suaminya. Zee sangaja tidak memberitahu kedatangannya ke kantor. Zee membuka pintu tanpa mengetuk, ternyata suaminya sedang kedatangan tamu penting.
Zee sangat malu, dia pun hendak pergi dari kantor suaminya. Namun suaminya mencegah kepergian istrinya, justru Alan memperkenalkan Zee kepada semua rekan bisnisnya. Dengan sangat ramah Zee menyapa mereka semua, mereka pun sangat senang mengenal istri CEO Perusahaan Xaquille. Bahkan mereka semua memuji kecantikan Zee, membuat suaminya sedikit cemburu.
Sepulang rekan-rekan bisnis suaminya, Alan mengajak istrinya untuk makan siang di luar kantor.
"Pih, itu tadi rekan-rekan bisnis Papih?" tanya Zee.
"Iya, Mih!" jawab Alan.
"Kok tua-tua ya, Pih?" tanya Zee lagi.
"Apakah Papih yang termuda dari pengusaha-pengusaha itu?" tanya Zee lagi.
"Hem!" senyum Alan, ternyata jiwa keingintahuan istrinya sangatlah besar.
"Teman-teman Papih masih ada yang lebih muda lagi! mereka sudah dilatih menjadi seorang pengusaha sejak dini!" jawab suaminya.
"Benarkah, Pih?"
"Iya, kebanyakan mereka meneruskan bisnis keluarganya!" jelas Alan.
"Kalau Papih! sebelum meneruskan bisnis keluarga, Papih sudah memiliki bisnis sendiri di Jerman!"
"Bisnis apa,Pih?" tanya Zee lagi sambil mengunyah bistik daging, mulutnya belepotan dengan bumbu bistik, sehingga Alan dengan telaten membersihkannya.
"Produksi mobil! Papih berkerja sama dengan teman Papih di Jerman! sekarang Papih serahkan semuanya ke teman Papih!"
"Hasilnya delapan puluh kami bagi dua, dan dua puluh kami sumbangkan ke yayasan amal di Jerman!" jelas Alan.
"Wah, Papih hebat! Mamih bangga sama Papih!" puji istrinya.
"Oya, Mih! Bagaimana tadi pertemuannya?" tanya Alan disela makannya.
"Lancar, Pih!"
"Sebenarnya Mamih ingin memperkenalkan Papih sama Tante! tapi, Tante sangat sibuk! Dia kan model!" jelas Zee.
"Model!" ucap Alan, seketika dia teringat dengan mantan kekasihnya.
"Kapan-kapan akan Mamih perkenalkan dengan Tante Mar.......!" Zee memotong kalimatnya, karena ponsel suaminya bergetar. Suaminya menjawab panggilan dari asistennya, terlihat sangat serius.
"Makannya sudah selesai? kalau sudah, Ayo kita pulang?" ajak Alan.
"Ada apa, Pih? mukanya serius banget!" tanya Zee ikut cemas.
__ADS_1
"Ada meeting mendadak! investor dari Jepang, tiba-tiba ingin bertemu Papih! Papih harus datang tepat waktu, karena orang satu ini sangat memperhatikan kedisiplinan!" terang suaminya.
"Ya, sudah kalau begitu! Papih langsung ke kantor saja! nanti biar Mamih naik taksi!" ujar Zee.
"Yakin, gak apa-apa, Sayang?" tanya Alan cemas.
"Iya, Pih! Mamih bisa kok pulang sendiri! Papih jangan khawatir!" jawab istrinya.
"Baiklah! terima kasih banyak, Sayang! kamu harus hati-hati! kalau sudah sampai rumah kabari Papih!"
"I love you!" Alan mencium bibir istrinya, tidak memperdulikan kalau dirinya masih di Restaurant.
"Ish, Papih! malu tahu?" manyun Zee, namun suaminya tersenyum, cuek saja dengan tatapan dari pengunjung lain.
"Dah, Sayang!" pamit Alan meninggalkan Restaurant.
"Dah! Sukses ya, Pih!" ucap Zee memberi semangat.
Zee keluar dari Restaurant, berjalan ke arah halte. Namun tiba-tiba namanya dipanggil oleh seseorang.
"Zee?" panggilnya, Zee menoleh ke arah sumber suara.
"Melly!" ucap Zee kaget.
"Aku baik! Ada apa?" tanya Zee.
"Ikutlah denganku, aku mau ngobrol!" ucapnya.
"Sorry, Mel! Aku gak punya waktu! karena aku harus secepatnya pulang!" jawab Zee sambil berlalu meninggalkan Melly, namun karena Melly yang sedari dulu memiliki dendam kepada Zee, tas milik Zee, ia rebut dan dibawa lari. Sontak Zee kaget, dan mengejar Melly.
Melly berlari ke gang sepi, dan bersembunyi di sana. Zee memanggil-manggil nama Melly, namun Melly keluar dengan beberapa preman.
Zee sangat terkejut, ternyata sedari awal Melly sudah mengincarnya.
"Mau apa kalian semua?" tanya Zee, membuat Melly dan teman-teman premannya tertawa terbahak-bahak.
"Gue benci banget sama Lo!"
"Gue ingin hari ini, Lo mati!" ucapnya, dan memberikan kode kepada teman-temannya untuk menghabisi Zee.
Zee melawan empat preman itu, karena Zee yang sedang hamil muda, membuat dirinya tidak bisa bergerak bebas seperti biasanya.
Tentu saja Zee kalah dalam jumlah dan tenaga, Zee ditendang sampai tersungkur di tanah.
Namun tangannya menahan, agar perutnya tidak sampai terbentur ke tanah. Melly datang dengan membawa sebilah kayu, matanya menatap sinis ke arah Zee, dia angkat kayunya dan dia hantamkan kayu tersebut ke arah Zee, tiba-tiba ada tangan kekar menahannya.
__ADS_1
"Aaaaaaaaaa!" teriak Zee sambil memejamkan matanya, namun dirinya masih baik-baik saja.
"Bisanya kalian keroyokan!" teriak seorang laki-laki, laki-laki tersebut menghajar para preman tersebut sampai babak belur, hingga mereka lari terbirit-birit.
Sedangkan Melly menatap ketakutan, karena laki-laki yang berdiri di depannya adalah dosennya sendiri.
Dia adalah Pak Ridwan, dosen killer yang sering ditakuti oleh banyak mahasiswa.
"Kau akan aku pastikan mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatanmu!" tegas Pak Ridwan. Melly sangat ketakutan, dan dia langsung berlari entah kemana.
"Zee!" panggil seseorang.
"Echa! Pak Ridwan!" ternyata tangan kekar yang menolongnya adalah tangan kekar Pak Ridwan.
Zee ingin bertanya banyak, namun tiba-tiba perutnya sangat sakit, dan ada darah yang merembes di bagian pangkal pahanya.
"Sakit!" pekik Zee, sambil memegangi perutnya.
"Zee, Kau kenapa?" tanya Echa cemas. Zee masih merasakan sakit di bagian perutnya, sampai akhirnya dia kehilangan kesadaran.
Echa sangat khawatir dengan kondisi sahabatnya, dan menyuruh Pak Ridwan untuk membawanya ke Rumah Sakit.
Pak Ridwan dan Echa pun membawa Zee ke Rumah Sakit, dengan mobil Pak Ridwan.
Selesai pertemuannya dengan para investor, Alan merasa gelisah. Bahkan tadi saat meeting pun, perasaannya tidak menentu. Alan tidak tahu kenapa tiba-tiba dia ingin menelfon istrinya, sekedar ingin tahu apakah istrinya sudah sampai ke rumah atau belum.
Kemungkinan Zee sudah sampai, karena sudah dua jam lewat dihitung saat berpisah dengan Zee di Restaurant tadi.
Alan mendial nomor istrinya, namun masih belum diangkat.
Hingga panggilan ke tiga, ponsel Zee diangkat oleh seorang laki-laki. Tentu saja membuat Alan sangat marah dan emosi, namun saat laki-laki tersebut menjelaskan bahwa istrinya sedang berada di Rumah Sakit, tiba-tiba raut wajahnya berubah pucat. Alan langsung menyambar kunci mobilnya, dan menuju Rumah Sakit.
Di sepanjang perjalanan hatinya sangat gelisah, dia merutuki kebodohannya, karena tidak bisa menjaga istrinya dengan baik. Berkali-kali Alan memukul stir mobilnya.
Mobil Alan sampai di Rumah Sakit, Dia berlari menuju kamar IGD. Di sana sudah ada Echa dan seorang laki-laki yang berdiri di depan ruangan IGD.
"Echa?" panggilnya.
"Om!" jawabnya.
"Apa yang terjadi dengan Zee?" tanya Alan cemas. Melihat Echa yang sedari tadi menangis, akhirnya Pak Ridwan yang menjelaskan semua kejadiannya, hingga Zee harus masuk ke IGD.
Alan sangat syok, dia tidak menyangka kalau ada orang yang tega menyakiti istrinya.
to be continued.....
__ADS_1