
Seperti biasanya, Alan dan istrinya bangun pagi, cuci muka dan gosok gigi, setelah itu mereka melaksanakan shalat berjamaah.
Selesai shalat, Alan sudah bersiap-siap dengan kaos panjang putih dan celana trainingnya. Istrinya yang melihat suaminya hendak lari pagi, merengek meminta ikut. Akhirnya Alan mengajak Zee bersamanya, namun Alan tidak berlari, akan tetapi menemani istrinya berjalan sampai ke taman.
Mereka berjalan ke arah taman, taman sudah ramai dengan orang, mereka sengaja datang sekedar berjalan-jalan ataupun cuci mata.
Ada juga yang sengaja datang untuk lari pagi mengelilingi taman.
Alan menyuruh istrinya untuk duduk di kursi taman, sedangkan Alan sendiri memulai jogingnya berkeliling taman. Taman tersebut terletak dekat dengan rumah mereka, tamannya lumayan luas, manfaat berdirinya taman ini bukan hanya untuk memperindah kota, tetapi juga membantu mereduksi polusi udara yang ada di Kota, serta digunakan sebagai wadah dalam menciptakan interaksi sosial sehingga membentuk budaya sehat bagi masyarakat perkotaan.
Setiap pengunjung bebas untuk menikmati fasilitas taman yang ada, asalkan mereka tidak merusak fasilitas tersebut, tidak membuang sampah sembarang tempat, karena di taman itu sendiri sudah disediakan tempat sampah besar untuk yang organik dan non-organik.
Di sepanjang bundaran taman juga banyak para pedagang kaki lima menjajakan dagangannya, mereka harus mengikuti protokol yang ada di taman tersebut, salah satunya tidak boleh mengotori taman dengan jajanan yang mereka jual, mereka harus membersihkan setelah selesai berjualan.
Alan sudah berkeliling taman, dua kali putaran mengelilingi taman tersebut. Sambil ngos-ngosan, matanya mencari sosok istrinya. Ternyata Zee sedang ngobrol dengan seorang laki-laki, dari jauh Alan merasa cemburu, dia pun menghampiri istrinya.
"Ehm .. Ehm .. Ehm!" Alan menirukan suara orang batuk, Zee dan pria itu yang sedang asyik mengobrol pun menoleh ke sumber suara.
"Papih!" ucap istrinya.
"Pih, nih kenalin teman SMA Mamih! Namanya Arya!" ucap istrinya memperkenalkan seorang laki-laki disampingnya, seorang laki-laki yang ditaksir usianya mungkin sama dengan usia istrinya.
"Arya, perkenalkan ini suamiku, mas Alan!" ucap Zee kepada Arya, Arya sempat mengerutkan alisnya, karena ternyata teman sekolahnya dulu sudah menikah dengan laki-laki yang menurutnya jauh lebih dewasa dibandingkan dengan usianya sendiri. Mereka berjabat tangan, saling memperkenalkan dirinya.
"Sayang, Ayo kita pulang!" ajak suaminya.
"Okey, Baiklah Arya! Aku harus pulang! Senang bertemu denganmu lagi!" pamit Zee.
"Okey, hati-hati, Zee!" ucap Arya seraya melambaikan tangannya.
"Senang bertemu dengan Anda!" ucap Alan, mereka pun berpisah.
__ADS_1
Disepanjang perjalanan Zee nampak kelelahan, suaminya tidak tega melihat istrinya kelelahan.
Alan pun berinisiatif, berjongkok di depan istrinya, agar Zee naik ke punggung suaminya.
"Naiklah!" ujarnya, Zee yang melihat suaminya sudah berjongkok di depannya, langsung naik ke punggung suaminya. Alan menggendong istrinya sampai di depan rumah, berhenti di pintu masuk Zee meminta turun.
"Capek nggak, Pih?" tanya Zee.
"Ehm, lumayan! Yang ini agak beratan, sepertinya Mamih gemukan deh!" ucap suaminya.
"Masa sih, Pih!" Zee meraba pipinya sendiri yang semakin gembul.
"Ah, Mamih jadi malu!" ucap Zee sambil menutupi mukanya sendiri.
"Nggak apa-apa, Sayang! Walaupun Mamih gemukan, papih tetap suka kok! Mamih kan sedang hamil, makanya badannya agak gemuk!" ucap Alan.
"Ah, Mamih jadi tambah malu!" ucap Zee pipinya merona.
Kediaman Nalendra
Hari ini Yuda dan keluarga bersiap-siap akan pergi ke Amerika Serikat, mereka mendengar informasi bahwa disana ada sebuah alat atau bantuan bagi penderita kelumpuhan permanen. Informasi ini menjadi jalan terang untuk Yuda, yang mengalami kelumpuhan tulang belakang hingga kaki. Awalnya Yuda menolak untuk berobat ke sana, namun karena dukungan dari kedua orang tuanya, akhirnya dia memiliki keinginan kuat untuk sembuh.
Sebelum ke Amerika, mereka sekeluarga berpamitan kepada Papa Harun dan Mama Sarah. Meminta restu dan do'a untuk kesembuhan putranya. Papa dan Mama pun merestui ketiganya untuk berangkat ke Amerika. Mereka juga menitipkan salam dan permintaan maaf untuk Alan dan Zee.
Pukul 5 pagi, pesawat mereka berangkat ke Amerika. Semuanya sudah dipersiapkan oleh Aditama di Amerika, untuk tempat tinggal dan kebutuhan hidup selama di negeri orang.
Sekitar 20 jam 45 menit, mereka sampai di Amerika Serikat. Dengan taksi mereka menuju sebuah rumah bergaya minimalis, tidak terlalu besar namun lumayan nyaman dan bersih.
Aditama sengaja menyewa rumah, karena mereka tidak akan menetap di Negeri ini. Rencananya, setelah Yuda mengalami perubahan, mereka akan pulang ke Indonesia.
Mereka turun dari taksi, dan pemilik rumah tersebut menyambut mereka dengan hangat, ternyata pemilik rumah ini ialah orang Indonesia, sudah lama menetap di Amerika. Pemilik rumah mempersilahkan mereka masuk untuk melihat-lihat, Yuda yang duduk di kursi roda, di bantu papanya untuk masuk rumah ini.
__ADS_1
Rumah ini terdapat dua kamar yang lumayan besar, satu buah gudang, ruang kerja, ruang keluarga, ruang tamu dan memiliki halaman belakang untuk menjemur pakaian.
Setelah melihat-lihat, pemilik rumah berpamitan.
Astrid mendorong kursi roda Yuda, mengantarkan putranya ke kamar untuk beristirahat.
"Istirahatlah dulu, Sayang! Mamah akan beres-beres!" ucap Astrid kepada putranya.
"Terima kasih banyak, Mah! Mamah sudah merawat dan menjaga Yuda," ucap Yuda. "Maafkan Yuda selama ini, Yuda selalu merepotkan Mama dan Papa!" ujar Yuda, menyesali perbuatannya. Astrid yang melihat Yuda dengan penyesalannya, memeluk tubuh putranya dengan sayang.
"Ini bukanlah kesalahan kamu, Sayang! Justru Papa dan Mama yang sudah gagal menjadi orang tua yang baik buat kamu!" sedih Astrid menyesalinya. Waktu kebersamaan dengan putranya terbuang, karena dia sibuk dengan bisnisnya.
"Papa dan Mama sangat senang, karena kamu memiliki keinginan untuk sembuh," ucap mama. "Mama yakin, pasti ada secercah harapan indah untuk kamu, Sayang!" ujar Astrid.
"Terima kasih banyak, Mah!" ucap Yuda.
"Iya, Sayang." Astrid keluar dari kamar putranya dan menutup pintu kamar tersebut.
Astrid membenahi semua barang-barang miliknya dan suaminya, setelah itu dia membereskan dan membersihkan rumah, agar lebih nyaman untuk ditempati. Sekiranya sudah cukup bersih dan rapih, Astrid keluar untuk berbelanja kebutuhan pokok. Astrid berpamitan kepada suaminya, dengan taksi dia menuju ke supermarket terdekat.
Astrid berbelanja banyak kebutuhan, dari bahan-bahan makanan, bumbu, sayur-sayuran, susu, daging, ikan, ayam, dan telor. Astrid juga membeli kebutuhan mandi untuk dirinya dan putranya.
Hari ini dia membeli makanan yang sudah matang di dekat supermarket, karena badannya sudah terlalu lelah untuk memasak.
Astrid membeli tiga grits atau bubur jagung dan iga barbeque, dan tiga bungkus salad buah. Dia masukkan ke dalam kantong belanjaannya, cukup repot juga, karena hari ini Astrid berbelanja banyak sekali.
Astrid menolak ditemani suaminya berbelanja, karena dia tahu kalau suaminya kelelahan mendorong kursi roda putranya, dan membiarkan suaminya beristirahat sejenak.
Dengan dibantu oleh sopir taksi, Astrid menurunkan barang-barang belanjanya. Astrid memberikan ongkos lebih untuk sopir taksinya dan mengucapkan banyak terima kasih.
to be continued.....
__ADS_1