
"Apa? Papih pasti bohong kan? Papih pasti bercanda," teriak Zee tidak percaya. Zee sangat histeris mendengarkan penjelasan dari suaminya, dan karena histerisnya dia jatuh tidak sadarkan diri. Alan menangkap tubuh istrinya dan berusaha untuk menyadarkannya.
"Sayang?" panggilnya. Alan berusaha untuk menyadarkan istrinya.
"Lan, bopong ke kamar," perintah Papa. Alan pun membopong tubuh istrinya ke kamar.
Keesokkan paginya
Zee mengerjapkan matanya, kepalanya terasa sangat pusing. Dia mencari keberadaan suaminya, namun tidak ketemu. Setelah mandi dan bersih-bersih, Zee keluar dari kamarnya menuju meja makan. Di sana sudah ada Papa dan Mama sedang menikmati sarapan paginya. Zee menghampiri mereka.
"Eh, Sayang, sudah bangun! Ayo duduk, sarapan dulu!" ajak Mama. Zee mendudukkan pantatnya di kursi.
"Ma, Mana Mas Alan?" tanya Zee.
"Alan, tadi keluar, dia meneruskan pencariannya untuk menemukan Aisha," jawab Mama.
"Kok, Mas Alan nggak membangunkan Zee?" tanya Zee lagi.
"Iya, Sayang, itu karena dia tidak mau mengganggu istirahat kamu," jawab Mama. "Sudah ya, Jangan banyak berfikir, itu tidak baik buat kandungan kamu, Sayang!" ujar Mama.
"Apakah Mas Alan marah sama Zee, Ma?" tanya Zee lagi.
"Sayang, mana mungkin dia marah sama kamu! Dia hanya sedang mencemaskan keadaan Aisha," jelas Mama.
"Hiks ... Hiks .... Hiks."
"Semula salah Zee," tangis Zee. " Zee sudah menjadi ibu yang gagal," sesalnya.
"Nak, jangan terus menyalahkan dirimu!" tutur Papa. "Tidak ada seorangpun yang menginginkan musibah ini! Dan Allah sudah mengatur segalanya, jadi, kita harus banyak bersabar dan ikhlas! Dan jangan pernah berhenti untuk berdoa," nasehat Papa Harun.
"Apa yang dikatakan Papa ada benarnya, Nak?" timpal Mama.
"Terima kasih, Pa, Ma! Papa dan Mama masih mau memberikan dukungan untuk Zee," ucap Zee.
"Tentu, Sayang! Kamu adalah putri kami, dan kita semua adalah keluarga," tutur Papa.
Berita hilangnya Aisha, sudah sampai di telinga Papa, Mama, Elmar dan Ratu. Mereka semua datang ke rumah keluarga Xaquille untuk meminta penjelasan terkait kasus hilangnya Aisha.
Tok .... Tok .....Tok
"Assalamualaikum?" salam Papa.
"Walaikum salam," jawab salah satu ART keluarga Xaquille.
__ADS_1
"Oh, Bapak dan Ibu, Silahkan masuk," pelayan mempersilahkan tamunya masuk.
"Silahkan duduk, Pak, Bu, Mas, dan Non Ratu," pelayan mempersilahkan tamunya duduk.
"Terima kasih, Bi," jawab Mama.
"Saya panggilkan, Nyonya dan Tuan Besar," ujarnya. Di jawab anggukan oleh mereka. Tidak menunggu terlalu lama, Papa dan Mama menemui mereka, disusul Zee dibelakangnya.
"Eh, Bu Nola," sapa Mama Sarah, mereka saling berpelukan. "Bagaimana kabarnya?" tanya Mama Sarah.
"Alhamdulillah, sehat," jawab Mama Nola, "Ibu Sarah sendiri, Sehat?" tanya Mama Nola.
"Alhamdulillah sehat, Jeng," jawab MamaSarah.
"Zee?" panggil papa. Zee langsung berhamburan ke pelukan papanya.
"Pah," Zee terisak-isak.
"Papa sudah mendengar semua, Alan yang memberitahukan kabar ini kepada keluarga kita," kata Papa. "Sekarang, dimana Alan?" tanya Papa.
"Mas Alan masih melanjutkan pencarian Aisha, Pah," jawab Zee.
"Semoga Aisha cepat ketemu," ujar Papa.
"Apakah sudah laporkan ke polisi, Zee?" tanya Elmar.
"Sudah, Polisi masih mencari informasi," jawab Zee. "Mereka semua adalah sindikat penculik anak, dan kata polisi, mereka sering melakukan transaksi jual-beli anak-anak ke luar negeri," jawab Zee dengan bibir bergetar.
"Sabar, Sayang! Kita berdoa bersama-sama, Semoga Aisha cepat ketemu," tutur Mama Nola.
"Terima kasih atas dukungannya, Mah," cakap Zee, seraya memeluk tubuh Mama Nola.
Disebuah gudang tua
Banyak anak yang di kurung di gudang, mereka menangis dan berteriak-teriak. Sebagian ada anak jalanan dan sebagian lagi anak-anak yang masih memiliki orang tua. Salah satu diantara mereka semua adalah Aisha. Aisha merasa bingung kenapa dia bisa berada disini. Wanita yang membawanya kesini bilang, katanya dia akan dipertemukan dengan Mamihnya. Ternyata justru dia berada di ruang yang gelap, sedikit fentilasi, bau kencing dan sangat kotor. Aisha merasa ketakutan, karena semua anak-anak yang berkumpul di sana, tidak ada yang dia kenal. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukannya.
"Siapa namamu?" tanya salah satu anak kepada Aisha.
"Aisha," jawab Aisha.
"Hei, Aisha, namaku Aldo," jawabnya. "Apakah kau takut?" tanya anak kecil laki-laki bernama Aldo. Kemungkinan usia Aldo ditaksir lebih tua dari usia Aisha.
"Aish, ingin bertemu Mamih," tangis Aisha.
__ADS_1
"Jangan takut, ada aku," jawabnya.
Seketika dua orang laki-laki datang dan membagi-bagikan makanan untuk anak-anak. Mereka memakannya dengan sangat lahap, Kecuali Aisha. Ini pertama kalinya dia makan hanya dengan nasi, tempe dan tahu. Padahal di rumah apapun yang dia inginkan selalu dituruti oleh Mamih dan Papihnya. Terutama Oma dan Opa nya, mereka pasti akan memanjakannya dan memberikan perhatian-perhatian kecil kepada Aisha.
"Aish nggak au makan itu," tolak Aisha.
"Ssssttt, kau makan saja," perintah Aldo. "Jika kamu tidak mau makan, mereka nanti marah," ujarnya.
"Tapi, Aisha nggak suka makan ini," bisiknya.
"Siapa yang berisik?" tanya seorang penculik dengan nada tinggi. Semuanya terdiam karena ketakutan.
"Aish pokokna nggak mau makan makanan sepelti ini," ujarnya dengan nada yang keras. Penculik itu pun mendekat ke arah Aish dan menatapnya tajam.
"Kenapa tidak mau makan?" gertak penculik itu.
"Aish mau makan chicken, kalau tidak ada chicken bial Aish mati dan kalian pasti akan ditangkap polici," jawabnya sangat menggemaskan.
"Sudah makan saja yang ada," geram penculik itu.
"Pokoknya nggak mau, apa kamu tuli?" ujarnya, membuat sang penculik itu tambah geram.
"Aduh, Aish, Jangan seperti itu, nanti mereka semuanya marah! Kamu mau dibunuh dan di buang," bisik Aldo ke telinga Aisha.
"Kau jangan khawatir, Papih dan Mamihku pasti memukul meleka," bisik Aisha ke telinga Aldo.
"Apa yang kalian bisikkan?" geram penculik itu.
"Kami tidak belbisik," elak Aisha. Penculik itu menghampiri Aisha dan mengamati Aisha dari ujung kepala sampai ujung kakinya.
"Sepertinya kau anak orang kaya," gumam penculik itu hendak menyentuh kulit Aisha. Namun tangannya ditepis oleh Aisha.
"Jangan sentuh-sentuh!" larang Aisha. "Kalian semua pasti habis di tangan Mamih dan Papih," ancam Aisha, membuat penculik itu tertawa terbahak-bahak.
"Wah, ternyata kau berani sekali dengan kami," ujarnya.
"Kenapa Aish nggak boleh belani? Kalian cuma olang-olang bau dan dahat," ujarnya tidak jelas, namun bahasanya masih bisa dimengerti penculik itu. Mereka kembali menertawakan Aisha, seolah-olah Aisha adalah hiburan yang sangat lucu.
"Dasal olang gila," umpatnya, sambil memberengut sebal.
Beberapa menit kemudian bos mereka datang untuk melihat anak-anak yang sebentar lagi akan mereka jual dengan harga jual yang tinggi. Kebanyakan pesanan dari luar negeri adalah anak laki-laki. Kerena selain fisiknya kuat, anak laki-laki tidak gampang menangis, tidak seperti anak perempuan.
Bos penculik itu diketahui bernama Donny, dia memeriksa satu persatu anak-anak tersebut. Mana yang bagus dan mana yang tidak. Yang bagus dan fisiknya kuat, akan diperjualbelikan ke luar negeri. Sedangkan yang fisiknya rentan, paling akan dijual di dalam negeri dijadikan pengemis dan pengamen. Diantara mereka semua, Aisha anak yang paling bersih dan putih. Bos Dony sangat menyukai anak yang bersih dan putih sekaligus mempunyai nilai plus yaitu cantik. Itu justru memiliki nilai jual yang sangat tinggi, Donny tersenyum devil melihat Aisha yang nampak ketakutan.
__ADS_1
to be continued....