
Silvi melajukan mobilnya dengan sangat kencang, menuju sebuah gudang tua ditengah perkebunan yang letaknya agak jauh dari pemukiman warga. Hatinya begitu dongkol dan marah, ia tidak menyangka rencananya akan sangat cepat terbongkar. Dia tidak bisa meremehkan kemampuan kakak sepupunya. Alan memang sangat cerdik dan pintar. Silvi keluar dari mobilnya, dia masuk ke dalam gudang tua itu. Gudang yang sangat tua dan besar, ternyata dibalik gudang yang dipenuhi dengan ilalang dan akar belukar itu, terdapat rumah yang lumayan sederhana dan nyaman. Disitulah Silvi menyembunyikan ayahnya, Xavier.
"Silvi?" panggil ayahnya.
"Ayah." Silvi mendekat ke arah Xavier dan memeluknya erat.
"Bagaimana kabar ayah?" tanya Silvi.
"Ayah baik-baik saja, seperti yang kau lihat sendiri," ucapnya.
"Ada apa? Kenapa mukamu sangat masam?" tanya Xavier.
"Aku gagal, Ayah! Aku tidak berguna," jawabnya sambil menundukkan kepalanya.
"Kenapa?" tanya Xavier bingung.
"Kak Alan ternyata sangat cerdik, Yah," sedihnya. "Dengan cepat dia membongkar semuanya," ucap Silvi.
"Hampir saja aku tertangkap, untunglah anak buah Josh membantuku melarikan diri dari kejaran orang-orangnya kak Alan," jelasnya.
"Kau tenang saja, Sayang! Masih banyak cara untuk menghancurkan keluarga mereka," cakap Xavier kepada Silvi. Silvi nampak mengernyitkan alisnya.
"Cara apalagi yang ayah miliki?" tanya Silvi penasaran. Xavier membisikkan sesuatu kepada putrinya, Silvi manggut-manggut mendengarkan penjelasan ayahnya dan dia tersenyum devil, menampilkan deretan gigi putihnya.
Masalah yang dihadapi Zee dan suaminya terdengar sampai di telinga Mama Nola. Mama Nola nampak sangat khawatir. Berulang kali, mama meminta kepada papa untuk mengantarkannya ke rumah besannya. Akhirnya mereka pun berencana untuk ke rumah besannya siang ini juga. Melihat papa dan mamanya sudah rapih dan wangi, Ratu pun merasa heran.
"Papa dan mama mau kemana?" tanya Ratu.
"Kami mau ke rumah mertuanya Zee," kata Mama.
"Memang ada apa dengan Zee?" tanya Ratu. Mama pun menceritakan masalah yang baru saja dialami oleh Zee dan keluarga suaminya kepada Ratu. Dia nampak terkejut mengetahui masalah yang dihadapi oleh saudara tirinya.
"Apakah kau mau ikut, Sayang?" tanya papa.
"Ehm, boleh deh, Pah! Ratu juga ada kepentingan dengan Zee, " ucap Ratu.
__ADS_1
"Tunggu Ratu sebentar, ya, Pa, Ma!" Ratu bergegas ke kamarnya untuk bersiap-siap.
Mobil mereka melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah keluarga Xaquille. Rumah yang sangat besar dan megah bergaya Eropa. Dengan cat dinding berwarna putih dan hitam. Memiliki pintu gerbang yang tinggi menjulang, dengan empat security yang menjaganya. Mobil mereka langsung diperbolehkan masuk setelah mengetahui bahwa mereka adalah keluarga dari istri Tuan mudanya.
Papa Aghar, mama Nola dan Ratu turun dari mobil. Mereka disambut hangat oleh Papa Harun dan Mama Sarah. Mereka dipersilahkan masuk ke dalam dan duduk di ruang tamu. Ini adalah pertama kalinya orang tua Zee datang ke rumah besannya sekian purnama. Zee turun kelantai satu dengan perut buncitnya. Alan melarang istrinya terlalu capek dan lelah, oleh sebab itu, jika tidak ada jadwal kuliah Alan akan menyuruh istrinya untuk beristirahat di rumah.
Pelayan sudah menyiapkan minuman dan cemilan untuk para tamunya. Zee begitu senang melihat papa dan mamanya berkunjung. Mereka nampak sangat khawatir dengan keadaan putrinya. Setelah mama Sarah menjelaskan apa yang terjadi semuanya, barulah papa dan mama nampak tenang.
Cukup lama mereka berbincang-bincang, sampai waktunya makan siang, Mama Sarah mempersilahkan tamunya untuk makan siang bersama di rumah keluarga Xaquille. Baru saja papa menanyakan kabar menantunya, sang menantu tiba-tiba datang, tenyata ia sengaja pulang ingin makan siang bersama. Zee sangat begitu bahagia, dan langsung menyambut kedatangan suami tercintanya.
Alan menyalami kedua mertuanya, dan menyapa Ratu. Mereka pun makan siang bersama di kediaman keluarga Xaquille.
Dimeja makan sudah tersaji banyak makanan. Mengetahui tamu keluarga Xaquille akan makan siang disini, tukang masak keluarga Xaquille menambahkan menu istimewa di meja makan. Ada lobster ukuran besar asam pedas manis, cumi tepung, ayam goreng crispy, tumis tahu kuning telur asin, sup ayam kampung dan berbagai jenis lauk lainnya. Mereka menikmati makan siangnya dengan sangat lahap. Zee juga sangat menikmatinya, ia menambah nasinya sampai dua kali. Membuat semua orang melirik ke arahnya.
"Kenapa? Apakah ada yang salah?" tanya Zee.
"Sayang, kamu makannya banyak sekali! Apakah perutmu baik-baik saja?" tanya mama Nola merasa khawatir.
"Nggak kenapa-napa, Mah! Zee memang lagi doyan makan," ujarnya santai.
"Pantesan kamu agak gemukan, Zee," kata papa. Kemudian Zee menghentikan makannya, dia memegangi pipinya.
"Benarkah aku gendut?" tanyanya.
"Bukan gendut, tapi, gemukan!" ucap suaminya. Membuat Zee memanyunkan bibirnya.
"Nggak apa-apa, Sayang! Namanya juga sedang hamil! Walaupun kamu gendut? Papih tetap suka kok?" ujar suaminya, membuat Zee tersenyum kembali.
"Beneran, Pih?" tanya Zee.
"He'em," jawab suaminya.
Selesai makan, mereka semua berbincang-bincang sebentar. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Mobil papa dan mama melaju meninggalkan rumah keluarga Xaquille, sampai tidak terlihat Zee dan suaminya masuk ke dalam. Zee langsung masuk ke kamarnya dan berkaca didepan cermin. Dia meraba pipi dan perutnya, memang pipinya agak gembul, dan perutnya sudah terlihat sangat membuncit. Dia mengelus-elus perutnya dan mengajak bicara baby-nya.
Alan masuk ke kamar mereka dan memeluk istrinya dari belakang, mencium tengkuk istrinya.
__ADS_1
"Pih, ngagetin Mamih saja," ucapnya.
"Lagi apa, Sayang?" tanya suaminya mesra.
"Nih, lagi mengajak bicara baby kita," ujarnya.
"Nih lihat, dia akan senang sekali kalau diajak bicara dan bercerita," ucapnya lagi sambil meletakkan tangan suaminya di perut.
"Ajaklah bicara, Pih?" perintah istrinya.
"Hey, Sayang! Ini papih, Sayang! Baik-baik di perut Mamih, ya?" ucapnya. Tiba-tiba saja ada pergerakan dari dalam, pergerakan yang sangat aktif.
"Apakah menurut Papih, Mamih terlihat gendut?" tanya Zee.
"Nggak, kok, Sayang! Pipi kamu saja yang terlihat gembul!" ucapnya. "Itu sudah biasa dialami wanita hamil, Sayang! Jangan cemberut dong, nanti cantiknya hilang," tutur suaminya. Alan lihat Zee masih terlihat sedih.
"Papih akan tetap mencintai Mamih, meskipun Mamih gendut," ujarnya.
"Benarkah?"
"Iya, Sayang! Mamih adalah wanita yang terbaik yang Tuhan kirimkan buat Papih! Dan Papih merasa sangat bersyukur mendapatkan istri seperti Mamih," ucapnya sambil mencium kening istrinya.
"Terima kasih, ya, Pih!" jawab Zee.
Hari semakin sore, dia pun langsung mandi dan bersih-bersih. Badannya terasa gerah dan lengket. Berendam di bathtub adalah cara paling menyenangkan dan paling efektif. Sedangkan Zee, menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya.
to be continued...
Hey, teman-teman minta dukungannya, please like and komentarnya. Kasih vote dan bintang juga boleh banget. Semoga kebaikan para pembaca dibalas dengan rezeki yang melimpah. Amin.
__ADS_1
