
Dua Minggu Berlalu
Sesuai janji papa, setelah acara cukur rambut Arsy selesai, satu Minggu sesudahnya papa menggelar acara pertunangan Ratu dan Elmar. Tujuannya supaya Elmar mengikat Ratu terlebih dahulu untuk melakukan persiapan untuk menikah. Keputusan papa membuat Elmar pusing tujuh keliling, pasalnya setelah pernikahan pasti dia harus dan wajib memikirkan persyaratan dari calon papa mertuanya.
Acara berjalan dengan khidmat sampai selesai, tidak banyak yang diundang, karena ini adalah acara pertunangan sederhana. Yang dihadiri oleh teman-teman dekat dan keluarga besar saja. Selesai menyematkan cincin di jari manis Ratu, dilanjutkan dengan acara makan-makan dan sedikit tausiyah dan do'a dari Pak ustadz.
Zee nampak kelelahan, kepalanya ia sandarkan di bahu suaminya. Mau pulang terlebih dahulu merasa tidak enak sama Ratu dan Elmar. Karena kehamilannya membuat tubuhnya semakin berat dan gampang lelah. Akhirnya acara pertunangan selesai tepat pukul empat sore, Alan dan istrinya memutuskan untuk langsung pulang. Sedangkan Papa Harun dan Mama Sarah masih setia menunggu di sana, mereka berencana pulang selesai sholat Maghrib. Papa membawa mobil sendiri ke acara tersebut.
Alan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia menoleh ke arah istrinya. Zee nampak tertidur pulas di mobil. Ditengah perjalanan Alan membelokkan mobilnya ke arah Supermarket, dia teringat bahwa stok susu hamil istrinya sudah habis. Dia pun berniat untuk mampir ke Supermarket. Mobil sudah Alan parkir kan di tempat parkiran. Dia berniat akan membangunkan sang istri, namun dia tidak tega membangunkannya. Alan pun meninggalkan istrinya sebentar di dalam mobil tanpa mengunci pintu.
Tok ... Tok ... Tok
Zee mendengar ada seseorang mengetuk kaca jendela mobilnya. Dia mengerjapkan matanya, ternyata mobil suaminya berhenti di depan Supermarket. Ada seseorang yang mengetuk kaca mobilnya, Zee pikir itu adalah tukang parkir. Zee keluar dari mobil, seseorang meminta tolong kepadanya. Namun dari arah belakang ada seseorang yang membekapnya dengan obat bius. Dan ......
BRUGH ......
Pandangan Zee buram, dia tidak sadarkan diri.
Alan kembali dari Supermarket, dia mendekat ke arah mobilnya. Pintu mobil terbuka, namun dia tidak menemukan keberadaan istrinya. Alan memanggil-manggil nama istrinya, tidak ada sahutan dari Zee. Dia begitu panik dan cemas. Alan mencoba menghubungi ponsel istrinya, namun ponsel Zee masih di dalam tas. Sedangkan tasnya tertinggal di dalam mobil. Alan menemukan secarik kertas yang terpasang di jok mobil, kertas tersebut bertuliskan bahwa istrinya sekarang berada di tangan orang yang sangat membencinya. Seketika kakinya terasa lemas dan lemah, tubuhnya tidak bertenaga. Tubuhnya merosot ke bawah, dia meremas kertas tersebut dengan geram.
Alan langsung melajukan mobilnya secepat kilat ke arah kantor polisi. Dia hendak melaporkan kejadian tersebut ke kantor polisi, tiba-tiba saja ada notifikasi masuk dari nomer yang tidak dia kenal. Dimana disitu melarang Alan untuk menelfon atau datang ke kantor polisi, sebagai gantinya para penjahat itu akan menyakiti Zee. Alan pun mengurungkan niatnya untuk menghubungi polisi. Dia memutar arah untuk pulang ke rumahnya.
Mobilnya sampai di depan rumah, namun langkahnya begitu malas untuk masuk ke dalam. Ternyata papa dan mama sudah sampai di rumah, mereka melihat putranya terlihat sangat lemas dan tidak bersemangat.
"Alan ada apa?" tanya mama cemas.
"Zee, Ma?" sesal Alan.
"Dimana Zee?" tanya mama menanyakan keberadaan Zee. Alan menyerahkan kertas yang didapatnya tadi. Mama membacanya, ia membelalakkan matanya tidak percaya dengan apa yang dibacanya.
"Zee?"
"Hiks ... hiks .... hiks." tangis Mama pecah membuat Papa sangat khawatir.
"Ada apa?" tanya papa penasaran. Mama pun memberikan kertas tersebut kepada papa, papa begitu terkejut membaca kertas tersebut.
"Lan, Apakah kau sudah melaporkan kejadian ini kepada polisi?" tanya papa begitu serius.
"Alan hendak melaporkan ke polisi, Pah! Namun ada notifikasi pesan masuk," ucap Alan memperlihatkan pesan tersebut kepada papa.
__ADS_1
"Siapakah yang tega melakukan hal ini?" tanya Papa.
"Alan yakin ini perbuatan Silvi," ucapnya. Papa dan Mama saling berpandangan.
"Lan, cari istrimu! Dia sedang hamil besar! Kasihan dia, Lan," kata Mama terus terisak.
"Alan sudah mencoba untuk menghubungi nomor itu lagi, tapi, nomor itu sudah tidak aktif! Alan juga bingung, Mah!" ucap Alan putus asa.
"Jika sesuatu terjadi kepada Zee, Alan bersumpah akan membuat perhitungan dengan Silvi!" marah Alan.
"Tenang, Lan! Jangan gegabah, kita akan menunggu sampai besok! Jika sampai besok, tidak ada kabar kita harus melaporkannya kepada pihak berwajib!" saran papa.
"Baiklah, Pah!" jawab Alan lesu.
Semalam suntuk Alan, Papa Harun dan Mama Sarah tidak bisa memejamkan matanya. Mereka begadang sampai pagi hari, memikirkan Zee yang tidak kunjung ada kabarnya.
"Ma, sebaiknya mama beristirahat! Alan tahu kalau mama sangat khawatir dengan keadaan Zee! Tapi, ingatlah dengan kesehatan Mama!" ujar Alan, merasakan kekhawatiran dengan kesehatan mamanya.
"Mama sangat cemas, Lan! Zee sedang mengandung! Bagaimana dengan keadaannya dan keadaan bayinya?" cemas Mama.
"Hiks .... hiks .... hiks." tangis mama lagi.
"Tapi, Bagaimanapun Zee sedang hamil, tentu saja sangat berbeda! Tenaganya tidak sama sebelum dia hamil! Ingat itu, Lan!" sedih Mama.
"Apakah dia sudah makan? Biasanya kalau pagi-pagi seperti ini dia meminta Mama untuk membuatkan bubur ayam! Dia sarapan dengan apa?" cemas Mama, tentu saja Mama Sarah sangat khawatir, karena dia sudah menganggap Zee seperti putrinya sendiri.
"Ma, sudah dong!" pinta papa. "Mama, jangan terlalu banyak pikiran! Sekarang Mama beristirahat ya? Semaleman Mama nggak tidur!" bujuk suaminya.
"Mama nggak bisa tidur, Pah! Mama terus kepikiran Zee! Kalian harus secepatnya menemukan Zee! Mama nggak berhenti memikirkannya! Dia sedang hamil besar, jika sesuatu terjadi kepadanya, siapa yang akan bertanggung jawab?" sedih Mama.
Alan dan Papa saling berpandangan, menyuruh Mama untuk beristirahat rasanya tidak mungkin, Mama terus menangis dan menyuruh Alan untuk mencari Zee. Beberapa menit kemudian, ponsel Alan kembali berdering nyaring.
"Hallo?" teriak Alan.
"Tenang, Kakak! Jangan berteriak! Silvi paling tidak suka dengan laki-laki kasar," ujarnya, membuat Alan naik pitam.
"Dasar kau wanita bre*****sek! Dimana istriku?" bentak Alan.
"Kau tenang saja! Istri kakak baik-baik saja! Dia masih tertidur pulas," ujar Silvi.
__ADS_1
"Apa yang kau inginkan?" tanya Alan.
"Ha .... ha .... ha." Silvi tertawa terbahak-bahak.
"Jangan marah-marah kakak! Nanti kau cepat tua," ejeknya.
"Lepaskan Zee! Dia tidak bersalah! Kenapa kau melibatkan Zee dengan urusan keluarga kita?" tanya Alan.
"Aku juga sangat membencinya! Dia juga salah satu musuhku! Dia pantas untuk menerima hukuman!" ujarnya.
"Silvi, istriku sedang hamil! Kakak mohon berbaik hatilah! Lepaskan Zee!" pinta Alan.
"Kakak bersedia menggantikan Zee," imbuhnya.
"Ha ... ha ... ha."
"Sepertinya kakak sangat mencintai Zee! Bahkan kakak rela mengorbankan diri kak Alan! Tapi sayangnya aku tidak mau! Aku ingin membuatnya menderita terlebih dahulu, seperti dia telah membuatku menderita!" selorohnya.
"Kau?" teriak Alan.
"Ssssttttt."
"Jangan berteriak! Silvi tidak tuli, Kak Alan!" ucapnya.
"Jika terjadi sesuatu dengan istri dan anakku! Akan aku pastikan kau tidak akan selamat," ancam Alan.
"Ha ... ha .... ha." Silvi kembali tertawa.
Tut ... Tut .... Tut
Silvi mematikan sambungannya secara sepihak, dia langsung membuang nomernya yang baru saja dibelinya ke tempat sampah, dia melakukan itu supaya tidak terlacak keberadaannya.
to be continued...
Mampir juga yuk ke novel aku yang lainnya,,,,
__ADS_1