Om I Love You

Om I Love You
Episode 111


__ADS_3

Berita soal Ratu yang sudah melahirkan sudah didengar oleh Zee dan suaminya. Mereka menyampaikan kabar bahagia ini kepada Papa Harun dan Mama Sarah. Mereka selaku kakek buyut dan nenek buyut juga merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh keluarga besar Zee. Mereka semua berencana untuk datang menjenguk Ratu secara bersama-sama.


Dengan menggunakan mobil Alan, mereka secara bersama menjenguk Ratu di Rumah Sakit. Sekitar tiga puluh menit, mereka sampai di Rumah Sakit. Alan memarkirkan mobilnya di parkiran Rumah Sakit. Mereka semua turun dan masuk melewati pintu masuk Rumah Sakit. Kebetulan Alan dan Zee juga sudah tahu tempat Ratu dirawat. Mereka semua menuju ke ruangan kelas satu Rumah Sakit ini.


Tok ... tok ... tok


"Assalamualaikum?" Mereka kompak memberikan salam.


"Walaikumsalam," jawab semua orang yang ada di dalam ruangan. Ada papa Roger, Mama Nola, Elmar dan Ratu di dalam ruangan itu.


"Ratu?" teriak Zee, membuat bayi Ratu yang sedang tidur di box bayi menangis kencang.


"Oek ... Oek ... Oek." Tangisnya. Papa dan mama menatap tajam ke arah putri badungnya itu.


"Sssttttt."


"Kau pikir ini lapangan!" cebik Elmar, yang juga ada di sana.


"He .... he .... he."


"Maaf!" ucap Zee. Alan, Papa Harun dan Mama Sarah menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Zee! Kamu mengagetkan Arsy," ucap papa Aghar.


"He ... he ... he."


"Habis sudah kebiasaan, Pah! Kalau Zee teriak-teriak ngejar maling," kelakarnya.


"Astaga anak ini!" kata mama Sarah mengelus dada.


"Kau pikir bayinya Ratu, maling!" kesal Elmar.


"Ciiiieee, calon bapak marah!" goda Zee.


"Sudah, sudah! Apakah di sini kalian akan berdebat?" kesal Alan.


"Zee, sini?" panggil Mama Nola. Zee mendekat ke arah bayi yang sedang digendong Ratu.


"Wah, bayinya cantik!" ucapnya, membuat Ratu memberengut kesal.


"Zee, ini bayi laki-laki! Apakah kau tidak lihat kalau bayinya memiliki burung perkutut?" sela papa Aghar. Semua orang menoleh ke arah papa.


"Burung perkutut? Dimana ada burung perkutut?" tanya Zee sambil mencari burung perkutut dicelana baby-nya Ratu.


"Hush, kau ini! Kalau kau mau cari burung perkutut, tuh dibalik celana Alan!" timpal Mama Sarah, membuat semuanya tertawa terbahak bahak.


"Itu bukan burung perkutut lagi, tapi burung gagak!" cemberut Zee, membuat Alan membulatkan matanya dengan sempurna. Semua orang tertawa terbahak-bahak, membuat bayi Zee kembali menangis.

__ADS_1


"Cup ... cup ... cup, Sayang! Jangan dengarkan obrolan para orang dewasa!" cakap Ratu, mencoba menenangkan anaknya.


"Cup .... cup .... cup! Bocah gundul, siapa namamu?" ujarnya, membuat sang bayi tambah menangis dengan keras. Memang bayi Ratu tidak memiliki rambut.


"Zee?" pekik semuanya. Zee sampai kaget mendapat teriakan dari semuanya.


"Zee, kau ini!" manyun Ratu.


"He ... he ... He." tawa Zee.


"Dari tadi kau membuat Arsy menangis terus," ucap Mama Nola.


"Selamat, ya, Ratu! Sekarang kamu sudah menjadi ibu!" ucap Zee sambil memeluk Ratu.


"Nah tuh bener!" cibir mama.


"Ha ... ha .... ha." semuanya tertawa.


"Selamat, ya, Nak! Sekarang kamu sudah


menjadi ibu!" ucap Mama Sarah kepada Ratu.


"Terimakasih, Oma, Opa, Om Alan dan Zee!" jawab Ratu. Mama Sarah menggendong bayi Ratu, mencium bayi mungil tersebut dengan sayang.


"Siapa namanya, Sayang?" tanya Mama Sarah.


"Wah, bagus sekali!" ucap Mama Sarah.


"Mukanya mirip sekali dengan Yuda!" kata Mama Sarah lagi.


"Apakah Yuda tahu kalau anaknya sudah lahir?" tanya Mama.


"Belum, Oma! Mungkin nanti Ratu akan memberitahukannya kepada Yuda! Bagaimanapun juga dia adalah papanya," jawab Ratu.


"Bagus, Nak! Yuda memang berhak tahu! Meskipun kalian bukan suami istri lagi, Oma harap kalian bisa menjalin silahturahmi dengan baik! Semuanya demi Arsy, agar Arsy merasa memiliki seorang ayah," jelas Oma Sarah panjang lebar.


"Iya, Oma! Ratu akan menghubungi Yuda! Ratu akan memberitahukan kepada Yuda, bahwa putranya sudah lahir ke dunia ini!" jawab Ratu.


"Iya, Sayang!" ucap Mama Sarah sambil memeluk Ratu dengan sayang. Cukup lama mereka mengobrol, banyak hal yang dibicarakan dan dibahas. Akhirnya mereka semua memutuskan untuk pulang, mereka berpamitan kepada semuanya. Zee memeluk tubuh Ratu dengan sayang.


"Apakah itunya sakit?" bisik Zee.


"Sakit! Aku harus dijahit tiga puluh jahitan," jawab Ratu dengan berbisik pula. Zee menelan ludahnya sendiri, sambil pikirannya traveling kemana-mana.


"Sayang? Ayo pulang! Apa yang kau lakukan di sana?" tanya suaminya. Zee langsung menghampiri suaminya, dan berpamitan kepada papa dan mama. Ratu tersenyum puas karena bisa mengerjai saudara tirinya.


Sepanjang perjalanan Zee tidak berhenti mengoceh, membuat suaminya, papa dan mama tertawa mendengar celotehan menantunya, yang tidak capek bercerita. Tidak terasa mobil suaminya sudah sampai di depan rumah, mereka turun dari mobil. Papa dan Mama berpamitan langsung masuk ke kamar, karena tubuhnya terlalu capek dan lelah. Sedangkan Zee merasakan lapar diperutnya, Alan menyuruh sang juru masak untuk membuatkan makanan untuk istrinya. Zee menunggu di meja makan bersama suaminya.

__ADS_1


"Pih? Sepertinya papa sudah merestui hubungan Elmar dan Ratu," ujar Zee tiba-tiba.


"Sepertinya iya, Mih!" jawab Alan.


"Kok papa nggak cerita apa-apa sama aku," ucapnya.


"Mungkin papa lupa," kata suaminya.


"Kok bisa papa dengan mudah merestui hubungan Elmar dan Ratu?" tanya Zee kepada suaminya.


"Mana papih tahu," jawab suaminya.


Beberapa menit kemudian, makanan yang dipesan Zee sudah matang dan disajikan oleh pelayan di rumah itu. Aromanya sungguh sangat menggugah selera. Zee dan suaminya langsung mencuci tangannya dan menyantap hidangan tersebut. Dua piring nasi goreng dan dua gelas jus buah naga, habis tanpa sisa.


"Pih! Kata Ratu melahirkan itu sakit," ujarnya.


"Tentu saja sakit, Sayang! Kamu tahu yang enak itu apa?" goda suaminya.


"Apa?" tanya Zee.


"Bikin anak,"


"Ha ... ha ... ha." tawa Alan.


"Ish, Papih mesum!" manyun Zee.


"Memang betul kan?" goda suaminya lagi, membuat pipi Zee memerah.


"Ah, sudah! Mamih mau tidur, ngantuk!" ucap Zee sambil berlalu ke kamar. Dari belakang suaminya membopong tubuh Zee ala bridal style masuk ke kamar.


"Astaga, Papih mengagetkan saja!" manyun Zee.


"Bersih-bersih dulu sebelum tidur!" tutur suaminya.


"Iya, Pih!" Zee pun langsung mengganti bajunya dengan piyama tidur. Dia mencuci mukanya dan tidak lupa menggosok giginya. Setelah cukup bersih, ia pun langsung naik ke tempat tidur. Suaminya sedang duduk di kasur dengan memangku laptopnya. Sepertinya suaminya sedang memeriksa sedikit pekerjaannya.


"Pih? Apakah ada pekerjaan yang belum selesai?" tanya Zee.


"Sedikit, Sayang! Kalau Mamih mengantuk, sebaiknya tidur saja," ujarnya.


"Hoam,"


"Sepertinya Mamih sudah mengantuk! Mamih tidur dulu ya, Pih!" ujarnya.


"Iya, Sayang! Papih tahu, kamu kecapean! Sebaiknya kamu istirahat dulu," ucap suaminya sambil mencium kening istrinya dengan sayang.


to be continued....

__ADS_1


__ADS_2