Om I Love You

Om I Love You
Episode 112


__ADS_3

Hari ini adalah hari kepulangan Ratu dari Rumah Sakit. Mama membantu Ratu, menggendong Arsy. Karena Ratu sendiri sebelumnya belum pernah menggendong bayi, jadi dia harus banyak belajar dari mama untuk mengurus bayi. Mereka semua menaiki mobil yang dikemudikan oleh Elmar. Mobil melaju meninggalkan Rumah Sakit, menuju kediaman Keluarga Aghar. Sepanjang perjalanan papa membahas acara pertunangan antara Ratu dan Elmar, Ratu dan Elmar hanya mendengarkan dengan antusias apa yang disampaikan oleh papanya.


"Pokoknya kalian harus bertunangan dulu!" tegas papa. "Kalian akan menikah setelah Elmar memenuhi persyaratan dari papa," ucapnya lagi.


"Tapi, Pah, Ratu tidak ada masalah jika kami tinggal di Bogor dan menetap di sana," cakap Ratu.


"Nggak bisa dong, Nak! Kamu harus menetap di Jakarta! Kamu kan tahu kalau Mama sering kesepian di rumah! Jika kamu sudah memiliki rumah sendiri di sini, maka mama akan sering bermain ke rumah kamu," ucap papa.


"Tapi, Pah, kasihan juga Ibu Hamidah! Di Villa, dia sendiri, Pah!" ujar Ratu.


"Ibu Hamidah bisa ikut dengan kalian, kalau ibu Hamidah mau? Dan masalah Villa, papa bisa mencari orang untuk mengurusnya!" tutur papa.


"Elmar! Ini adalah waktunya ibu kamu beristirahat, dia sudah terlalu tua untuk mencari uang, sekarang giliran mu membahagiakan ibu mu! Dia harus berhenti, dan menikmati masa tuanya bersama menantu dan cucu-cucunya kelak," papar papa bijaksana. Sekarang Ratu mengerti apa maksud papa menyuruh Elmar untuk mencari rumah di Jakarta. Bagaimana pun papa sudah mempertimbangkan baik dan buruk untuk semuanya.


"Tapi, Pah, bagaimana dengan perkebunan? Elmar masih punya tanggung jawab di perkebunan itu," ucap Ratu lagi.


"Jakarta dan Bogor kan tidak begitu jauh! Banyak kendaraan yang bisa Elmar pakai untuk ke sana! Satu Minggu sekali atau dua Minggu sekali, Elmar bisa memantau ke sana!" jawab papa santai.


"Baiklah, Pah! Nanti akan Elmar pertimbangkan baik dan buruknya," ucap Elmar.


"Iya, terserah kamu, Elmar! Persyaratan papa cuma itu!" ucap papa penuh penekanan.


"Baiklah, Pah! Elmar pasti bisa membelikan rumah mewah untuk Ratu," ujarnya penuh percaya diri.


"Ya ampun, rumah mewah! Duit dari mana? Padahal rumah di Jakarta sangat mahal, apa aku bisa membelikan Ratu rumah mewah," batin Elmar berbicara dengan dirinya sendiri.


Tidak terasa mereka sudah sampai di kediaman keluarga Aghar, di sana sudah ada Alan dan Zee. Mereka menyambut kedatangan papa, mama dan Ratu dengan bahagia, ditambah dengan kedatangan bayi mungil dan tampan.


Berkali-kali Zee mencium pipi gembul bayi itu, bayi itu hanya menggeliatkan tubuhnya dan mengerjapkan matanya saja. Membuat Zee sangat gemas, dan kembali mencium pipi gembul itu hingga terbangun dan menangis. Mama Nola membulatkan matanya kepada Zee, dengan susah payah membuat Arsy tertidur, malah tantenya sengaja membangunkannya. Zee hanya terkekeh geli.

__ADS_1


Mereka semuanya masuk ke kamar bayi yang sengaja Zee renovasi sendiri sebelum mereka semua sampai ke rumah, tentunya dibantu oleh suami tercinta. Kamar dengan nuansa warna biru laut dipadukan dengan cat warna putih, dengan korden jendela juga berwarna biru laut. Ada satu buah box bayi yang Zee pesan khusus untuk hadiah bayinya Ratu. Memang Ratu tidak sempat memikirkan kamar bayi juga tempat tidur bayi, karena pikirannya disibukkan dengan masalah Elmar.


Di box tersebut dihiasi dengan banyak balon dan tulisan selamat datang. Zee juga menambahkan banyak mainan dan boneka. Ratu mengucapkan terima kasih atas usaha Zee dan suaminya untuk menyambut kedatangan dirinya dan bayinya.


Sedangkan para laki-laki di luar sana sedang mengobrol serius, entah apa yang mereka obrolkan, Zee tidak ambil pusing. Mama meletakkan Arsy di box bayinya, Arsy masih saja memejamkan matanya. Sepertinya dia sangat pulas dan merasa nyaman di tempat barunya.


Melihat anak dan anak menantunya berkumpul, mama memerintahkan pelayan untuk memasak masakan istimewa agar mereka bisa makan malam bersama. Semua hidangan sudah dipersiapkan oleh para pelayan di meja makan. Mama menyuruh semuanya untuk langsung menuju meja makan. Sembari mama menggendong Arsy, mama menyuruh Ratu untuk makan malam terlebih dahulu. Karena seorang wanita yang sedang menyusui harus terpenuhi gizi dan vitaminnya.


Mereka semua menikmati makan malamnya, hingga suara papa membuka percakapan.


"Setelah acara mencukur rambut Arsy selesai, rencananya papa dan mama akan mengadakan acara pertunangan Elmar dan Ratu," usul papa, membuat Zee terbatuk-batuk.


"Uhuk ... uhuk .... uhuk." Alan mengambilkan air putih untuk istrinya, Zee meminumnya hingga tandas tanpa sisa.


"Tunangan? Kenapa harus tunangan dulu? Kenapa nggak langsung dinikahkan saja?" cecar Zee kepada papa.


"Astaga, Pah! Kasihan Elmar dan Ratu, Pah! Elmar juga ingin merasakan belah duren! Eh, bukan durian lagi, tapi ....!" Alan membekap mulut istrinya yang tidak berhenti menyerocos seperti kereta tanpa rem.


"Ish, apaan sih, Pih?" sewot Zee.


"Kapan acaranya, Pah?" tanya Alan memotong pembicaraan Zee.


"Setelah acara cukur rambut Arsy," jawab papa.


"Lebih cepat lebih bagus, Pah!" ucap Alan.


"Tapi, Pih! Kasihan Elmar, masa mereka akan menikah kalau Elmar sudah memiliki rumah mewah?" bisik Zee kepada suaminya.


"Biarkan saja! Bukan urusan kita, Sayang!" jawab Alan dengan berbisik lagi.

__ADS_1


"Apakah Papih nggak bisa lihat, kalau Elmar sudah nggak tahan ingin gituan sama Ratu!" kata Zee dengan berbisik.


"Ish, jangan berpikiran mesum!" jawab Alan, suaranya agak meninggi.


"Apanya yang mesum?" tanya papa, sedikit mendengar.


"Eh, itu nya, Pah! Ehm, Zee yang mesum!" jawab Alan tergagap.


"Siapa yang mesum?" manyun Zee.


"Zee cuma mengatakan bahwa Elmar sudah nggak tahan pengen kawin," jujur Zee, membuat mereka yang berada di meja makan membelalakkan matanya.


"Zee?" kesal Ratu mencubit bahu Zee.


"Auw, sakit tahu," pekiknya.


"Ish, kau ini! Mulutmu benar-benar tidak ada remnya!" kesal Elmar.


"Lho, memang benar kan? Jujur saja deh, El! Masa kau ingin menunggu sampai tandukmu berakar!" kata Zee tanpa berdosa sedikit pun.


"Pah, kasihan Elmar! Dia juga ingin cepat-cepat menikahi Ratu! Papa seperti nggak pernah muda saja," cibir Zee kepada papanya.


"Dasar anak Badung! Bicaramu tidak difilter," kesal papa.


"Zee?" Mama membulatkan matanya.


Setelah acara makan malam selesai, Zee dan suaminya memutuskan untuk langsung pulang. Sebenarnya Mama menyuruh mereka untuk menginap saja, namun besok Alan ada pekerjaan penting, dimana dia harus berangkat lebih pagi dari biasanya. Setelah berpamitan, Alan melajukan mobilnya meninggalkan kediaman keluarga Aghar, menuju rumah Mama Sarah. Disepanjang perjalanan Zee terus membeo, dia tidak berhenti bercerita dan itu merupakan hiburan tersendiri bagi suaminya.


to be continued....

__ADS_1


__ADS_2