Om I Love You

Om I Love You
Episode 106


__ADS_3

Keesokkan paginya


Rencananya hari ini sebelum ke kantor Alan akan pergi ke kantor papa mertuanya. Dia sudah ada jadwal bertemu dengan papa mertuanya. Sebelumnya Alan mengantarkan istrinya terlebih dahulu ke kampus. Mobil Alan melesat kencang membelah jalanan menuju Perusahaan papa mertuanya. Sampai di parkiran, Alan langsung masuk ke Perusahaan tersebut. Dia di sambut ramah oleh security dan petugas di sana. Alan langsung diantarkan ke ruangan pemilik Perusahaan. Alan dipersilahkan masuk oleh papa, di sana sudah ada seorang pria berwarganegara Jepang. Papa memperkenalkan menantunya kepada Tuan Shinichi Okimura, seorang pria yang umurnya mungkin sama dengan dirinya. Baru pertama bertemu mereka langsung akrab, ternyata Tuan Shinichi sangat fasih menggunakan bahasa Indonesia. Ia juga lumayan lama menetap di Indonesia bersama istri dan anaknya, mereka pun saling bertukar kartu nama.


Saat pembicaraan sedang berlangsung, seorang Office boy mengantarkan tiga cangkir teh hangat dengan cemilan. Mereka melanjutkan pembicaraan mereka kembali setelah office boy keluar dari ruangan.


Alan menyampaikan semua permasalahannya mengenai data-data Perusahaannya yang di curi oleh seseorang. Namun dirinya tidak tahu siapa yang mencurinya, karena semua rekaman pada jam tersebut di hapus tanpa jejak. Dengan keterampilan yang dimiliki sang hackers tersebut, hackers meretas jaringan komputer yang sengaja menerobos masuk ke sistem keamanan Perusahaan. Di sana ada satu nama Perusahaan yang telah meretas data Perusahaan Xaquille. Mereka juga sama-sama menggunakan jasa hackers untuk mencuri data Perusahaan tersebut. Dengan keterampilannya pula, ia mendapatkan informasi yang sangat penting mengenai Perusahaan tersebut.


"Lalu dari mana Perusahaan ini mendapatkan data-datanya?" tanya Alan kepada Sinichi.


"Ini pastinya orang dalam, Pak! Tidak salah lagi," ujarnya. Kecurigaan Alan semakin besar kepada Silvi, karena masalah ini timbul setelah kedatangan Silvi ke Perusahaan. Dengan wajahnya yang lugu, memohon-mohon meminta pekerjaan, ternyata dia memiliki niat terselubung, batin Alan.


"Apakah Anda bisa mengetahui siapa pelakunya?" tanya Alan.


"Saya akan meretas panggilan terakhir yang masuk dari hacker yang dibayar oleh seseorang! Mungkin saja ada petunjuk yang lain," ujarnya. Kemudian Shinichi meretas data-data panggilan terakhir yang digunakan seseorang, di situ muncul sebuah nomer ponsel yang mencurigakan. Shinichi menunjukkan kepada Alan nomer tersebut. Alan mengecek nomer tersebut, ternyata bukan nomer Silvi yang ia catat di kontak ponselnya.


Alan meminta tolong kepada Sinichi untuk mengamankan semua data Perusahaannya agar para peretas lain tidak mampu untuk menjebolnya. Dengan gerakan yang sangat cepat, Shinichi melakukan tugasnya. Dalam hitungan menit saja, Shinichi mampu untuk mengamankan semua data Perusahaan Xaquille. Alan berterima kasih sekali kepada Sinichi, bahkan dia menawarkan kerjasama kepada Sinichi dengan bayaran yang sangat fantastik. Dengan senang hati, Shinichi menerima tawaran dari CEO Xa Group itu.


Selesai dengan urusannya, Alan langsung pergi ke Perusahaan. Tidak lupa dia berterima kasih kepada papa mertuanya. Mobil Alan melaju meninggalkan Perusahaan papa mertuanya, menuju Perusahaannya sendiri. Mobil sampai diparkiran, dia berjalan melangkah masuk ke dalam Perusahaan. Semua karyawan menundukkan kepala, tanda hormat kepada sang atasan, Alan pun menganggukkan kepalanya. Dia melangkahkan kakinya ke kantor, di depan kantor ada Silvi berdiri persis di depan meja Anna.


"Kakak?" sapa Silvi dengan senyum yang sangat manis, sekilas ia menatap gadis yang berdiri di depannya. Gadis yang pernah tumbuh bersama tidak mungkin melakukan hal kejam tersebut. Ia berusaha menepis pikiran negatifnya.

__ADS_1


"Hei, Silvi," jawabnya.


"Ada perlu apa? Masuklah!" ajak Alan. Alan masuk ke ruangannya, Silvi berjalan mengekor di belakang kakak sepupunya. Silvi duduk di kursi, tepat di depan meja Alan. Alan menatap gadis itu, rasa keingintahuannya tiba-tiba menyeruak begitu saja. Alan bersikap sangat manis kepada Silvi, ia memerintahkan Anna untuk membuatkan dua minuman, untuk dirinya dan untuk adik sepupunya. Silvi sampai heran melihat sikap kakak sepupunya.


"Bagaimana hari-harimu?"tanya Alan kepada Silvi.


"Baik, Kak," ucapnya.


"Apakah kau betah bekerja di Perusahaan ini?"tanya Alan.


"Betah sekali, Kak," jawabnya sambil tersenyum.


Dret .... dret ... dret


Dret .... dret ... dret


Suara ringtone lagu Britney Spears, terdengar memekik di dalam tas Silvi. Silvi nampak terkejut karena ponsel satunya yang di tas berbunyi, namun saat Alan mematikan panggilannya, ponsel Silvi juga ikut mati. Alan pun mendial nomer itu lagi, ponsel Silvi kembali berbunyi. Sudah bisa ditebak, bahwa Silvi adalah dalang dari semuanya. Silvi nampak tertegun, karena nama panggilan yang ada di ponsel satunya adalah nama kakak sepupunya. Padahal, tidak ada satupun orang yang mengetahui nomer ini kecuali Josh kekasihnya dan hacker bayarannya. Silvi menatap Alan dengan ketakutan, mata Alan memerah menampakkan aura yang mencekam.


"Apa maksud semua ini, Silvi?" tanya Alan, Silvi hanya terdiam tidak berani menjawab apa-apa sambil menunduk.


"Ayo, jawab?" bentak Alan ke Silvi, membuat Silvi sangat kaget.

__ADS_1


"Kenapa kau diam saja? Ayo jawab?" murka Alan.


"Iya, memang aku yang melakukan semua itu! Karena aku benci kalian semua! Kalian yang membuat ayahku dipenjara! Kalian juga yang membuatku harus menderita! Tanpa teman dan keluarga!" jawabnya dengan penuh kebencian.


"Gara-gara kalian semua! Aku harus hidup sebagai wanita penghibur di sana! Duniaku sudah hancur! Semua penyebabnya adalah keluarga kakak!" teriaknya.


"Kenapa kau menyalahkan keluargaku atas apa yang terjadi dengan ayahmu?"


"Ayahmu yang bersalah! Karena dia sudah membunuh kakek dan nenek ku dengan racun! Padahal mereka yang sudah membesarkan ayahmu seperti anak kandung mereka sendiri! Buka mata kamu, Silvi!" teriak Alan menatap tajam ke arah Silvi, karena Silvi sudah di butakan dengan amarah.


"Apakah kau juga yang membayar orang untuk mencelakai ku dan istriku?" murka Alan.


"Iya, aku yang melakukannya! Aku ingin kalian semuanya musnah!" ucapnya menantang.


"Aku terpaksa akan membawa kamu ke kantor polisi! kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatan kamu, Sil," ucap Alan.


Silvi mendorong tubuh Alan hingga terjerembab jatuh ke sofa, ia kemudian lari ke luar ruangan, berlari sekencang mungkin agar tidak tertangkap. Silvi memasuki lift, turun ke bawah, di sana ada dua security yang menjaga, mungkin itu adalah security yang disuruh kakak sepupunya untuk menangkap dirinya, dia membelok ke arah tangga darurat. Silvi menuruni tangga darurat, supaya tidak bertemu dengan security suruhan Alan. Security suruhan Alan berkeliling mencari keberadaan Silvi, namun tidak ditemukan juga. Silvi berhasil lolos dan kabur.


Alan langsung menelfon mengabari papa Harun perihal kejadian tersebut, papa sangat terkejut. Bahkan yang membuatnya lebih terkejut, Silvi menyalahkan semua yang terjadi karena kesalahan keluarga Xaquille.


to be continued....

__ADS_1


__ADS_2