Om I Love You

Om I Love You
Episode 85


__ADS_3

Acara 4 bulanan


Hari ini adalah acara syukuran empat bulanan Ratu. Dua hari sebelum acara, Mama sudah menyiapkan semuanya dengan baik. Dari dekorasi tempat dan catering makanan yang sengaja Mama pesan khusus. Semua tamu undangan duduk di kursi tamu, dan Pak Ustadz duduk di barisan paling depan karena akan memberikan sedikit tausiyahnya. Alan dan istrinya juga duduk di barisan paling depan, disampingnya ada Papa Harun dan Mama Sarah juga.


Ratu memakai baju gamis yang dibelikan Mama Nola, dan duduk ditengah kedua orang tuanya.


Acara di mulai dengan pembacaan do'a bersama dibimbing oleh Pak ustadz, kemudian dilanjutkan dengan tausiyah membahas perkembangan janin di dalam rahim menurut Al Qur'an. Ratu yang mendengarnya, merasa terharu sampai ia menitikkan air matanya. Begitu juga dengan Zee, awalnya Zee belum menginginkan seorang anak. Sekarang ia baru mengerti bahwa seorang wanita yang hamil juga termasuk anugerah yang terindah di berikan oleh Allah. Sambil menitikkan air matanya, ia mengelus-elus perutnya yang sudah mulai nampak membuncit.


Selesai memberikan tausiyah dan do'a, puncak akhir acara adalah pembagian sedikit rezeki dan makanan untuk para tetangga disekitarnya, serta bingkisan untuk Pak Ustadz. Selesai acara mereka makan bersama-sama dengan keluarga, Zee sangat lahap menikmati hidangannya. Karena memang perutnya sangat lapar, sampai di Villa dia belum sempat untuk makan. Dia sampai menambah dua kali dengan porsi yang besar.


"Astaga, Sayang, kamu lapar apa doyan sih? Makan kamu banyak sekali!" ucap suaminya.


"Perut Mamih lapar sekali, Pih! Kan tadi pagi belum sempat makan!" jawabnya.


"Hah, tapi kamu kan sudah sarapan roti! Satu bungkus roti tawar hampir habis kamu makan, Sayang!" ujar Alan.


"Pih, itu namanya jajan! Bukan sarapan! Mamih akan kenyang kalau sudah makan nasi," ujarnya, masih sibuk dengan mengunyah makanannya.


"Astaga, Sayang." Alan hanya geleng-geleng kepala saja melihat tingkah konyol istrinya, Mama Sarah dan Papa Harun yang melihat itu hanya tertawa terpingkal-pingkal.


"Sudah, Lan! Biarkan saja! Istri kamu itu sedang berbadan dua, tentu saja makannya banyak!" ujar Mama.


"Tuh kan, Pih! Dengarkan kata Mama!" timpal istrinya.


"Mama juga begitu, waktu hamil kamu! Bahkan Mamih sempat mengalami obesitas, gara-gara setiap hari makan dan ngemil!"


"Tapi menurut Mama itu wajar, Sayang!"


"Kalau Zee sudah melahirkan, pasti nafsu makannya sedikit berkurang!" jelas mamanya panjang lebar.


"Benarkah, Mah?" tanya Zee penasaran.

__ADS_1


"Iya, Sayang!" jawab Mama sambil menoel hidung mancung Zee.


"Kamu harusnya senang, karena istrimu doyan makan! Semua vitamin dan nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh terpenuhi!" jawabnya lagi.


"Istrimu sehat, baby-nya juga ikut sehat," imbuhnya lagi. Mereka yang mendengarkan nasehat Mama hanya manggut-manggut saja tanda mengerti.


Setelah para tamu undangan pulang, Ratu merasakan lelah di tubuhnya. Mama pun menyuruh putrinya untuk beristirahat di kamar. Ratu merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk, tiba-tiba ponselnya berdering, ia melihat nama Yuda yang ada di kontak panggilan.


Dret ... Dret ... Dret


"Assalamualaikum?" sapa Yuda,


"Walaikumsalam," ucapnya.


"Maaf, ya, aku tidak bisa datang ke acara empat bulanan anak kita," ujarnya.


"Tidak apa-apa, Yud! Sudah ada Oma Sarah dan Opa Harun yang mewakili," jawab Ratu.


"Belum, mungkin nanti! Setelah urusan ini selesai, Mama akan mengantarkan ku ke Rumah Sakit," jawab Ratu.


"Setelah anak kita lahir, bolehkah aku memberikannya nama?" pinta Yuda. Yuda tahu mungkin Ratu sedang berfikir antara boleh atau tidak.


"Kamu jangan khawatir, karena aku tidak akan mengambilnya darimu! Aku hanya ingin memberikannya nama saja! Agar dia selalu teringat, bahwa dia memiliki seorang ayah seperti ku," jawab Yuda membuat hati Ratu terenyuh.


"Boleh, Yud! Kamu boleh memberikannya nama," ucapnya. "Bagaimanapun kamu juga berhak atas anak ini!" ujarnya lagi.


"Apakah kamu sudah menerima surat dari pengadilan?" tanya Ratu.


"Iya, Ratu! Aku sudah diberitahukan oleh pengacaraku!" jawabnya.


"Aku minta maaf! Selama menjadi suamimu, kamu tidak bahagia," ucapnya tiba-tiba.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Yud! Semuanya sudah berlalu, dan menjadi suatu pelajaran yang berharga buat kita sebagai manusia!"


"Aku berharap, kamu akan menjadi manusia yang lebih baik lagi! Karena aku yakin, setiap manusia itu berhak untuk bahagia!" jelas Ratu.


"Kau benar! Karena itu, kau juga berhak hidup bahagia!" ucapnya lagi.


"Berikanlah kasih sayang yang sangat besar untuk anak kita, mungkin aku tidak akan bisa memberikannya! Akan tetapi do'aku selalu untukmu dan calon anak kita!" pinta suaminya.


"Iya, Yud! Terima kasih atas perhatiannya! Aku tutup dulu! Semoga kamu berhasil dan sukses," ucap Ratu memberikan semangat untuk Yuda.


"Terima kasih, Ratu." Yuda pun menyudahi pembicaraannya dengan mantan istrinya. Ada rasa bersalah yang menggelayuti dirinya. Rasa bersalah, karena tidak bisa menjadi suami dan ayah yang baik. Tidak terasa buliran bening turun dari kelopak matanya, dia menangis mengingat-ingat kesalahannya kepada mantan istrinya. Seandainya waktu bisa diulang kembali, mungkin saat ini dirinya bisa mengikuti acara syukuran bersama dengan Ratu.


"Sayang?" panggil Astrid kepada putranya, membuat lamunan Yuda buyar seketika.


"Mama," ucapnya.


"Ada apa, Sayang?" tanya Astrid.


"Yuda habis menghubungi Ratu! Yuda merasa bersalah kepadanya," ujarnya.


"Jangan bersedih, Sayang! Mama yakin, Ratu adalah wanita yang baik! Dia pasti sudah memaafkan semua kesalahanmu!" ucap Mama, "Yang jelas, kamu harus bersemangat untuk sembuh, supaya saat anak kamu lahir, kamu bisa bertemu dengannya dan menggendongnya!" jelas Astrid kepada Yuda.


"Iya, Ma! Yuda pasti sembuh! Yuda tidak akan patah semangat!" jawabnya.


"Bagus, Nak! Kamu memang harus bersemangat! Agar pulang ke Indonesia, kamu bisa membuktikan bahwa kamu sudah berubah!" ucap Mama memberikan semangat.


"Sekarang beristirahatlah, kamu kan baru melakukan operasi, jadi kamu harus banyak beristirahat," Nasehat Astrid kepada putranya.


"Baik, Mah!" jawab Yuda. Memang kemarin Yuda baru melakukan operasi pemasangan implan pada pusakanya. Bukan operasi besar, namun cukup rumit bagi tim Dokter. Tapi syukurlah operasinya berjalan dengan sangat lancar.


Astrid melihat Yuda sudah tertidur dengan pulas, mungkin karena efek obat yang diminumnya tadi. Kemudian Astrid memberikan kabar Yuda di Rumah Sakit kepada Catherine. Catherine membalasnya dengan cepat. Dia juga mengatakan bisa menjenguknya, mungkin setelah jam prakteknya selesai. Astrid sangat bahagia, rencana ingin menjodohkannya dengan Catherine berjalan dengan mulus. Bahkan sekarang Yuda dan Laura menjadi semakin dekat. Membuktikan bahwa Laura juga sangat menyukai Yuda. Selesai memberikan kabar kepada Catherine, Astrid juga memberikan kabar kepada kedua orang tuanya. Mereka juga berhak tahu keadaan Yuda yang sekarang. Papa Harun dan Mama Sarah sangat bahagia mendengar kabar berita ini. Pasalnya sedikit demi sedikit, ada perubahan dengan kondisi Yuda. Dan yang membuat mereka bertambah senang adalah mengetahui kalau Yuda bersemangat menjalani hidupnya kembali.

__ADS_1


to be continued.....


__ADS_2