Om I Love You

Om I Love You
Extra Part 1


__ADS_3

Dua Belas Tahun Kemudian


Seorang gadis baru mengerjapkan matanya, dia menoleh ke arah jam di dindingnya, jam di dinding menunjukkan pukul tujuh kurang seperempat. Dia begitu terkejut, dan langsung bergegas ke kamar mandi. Tapi, bukan untuk mandi. Kalau telat ke sekolah, seperti biasa dia akan memakai jurus yang ke tiga yaitu cuci muka, sikat gigi, dan pakai parfum banyak-banyak biar tidak bau. Itu adalah cara yang paling efektif, tapi, menurutnya.


Setelah memakai seragamnya, dia langsung bergegas turun ke bawah. Di meja makan sudah ada Opa, Oma, Papih, Mamih dan juga Zidan. Adiknya yang paling manis dan kutu buku.


"Selamat pagi semuanya!" sapa Aisha. Gadis manis yang sangat cantik, namun super bandel.


"Pagi?" ujar Mamihnya. Seperti biasa Mamihnya akan memberikan dia ceramah terlebih dahulu.


"Sorry, Mam! Aisha telat, ngomel-ngomelnya dilanjutkan sepulang sekolah," ucap Aisha, buru-buru mencium pipi Mamih, Papih, Opa dan Omanya. Tidak lupa dia mengacak-acak rambut sang adik, membuat Zidan memberengut sebal.


Aisha hanya cengengesan saja.


"Dah, semuanya, Aish berangkat ke sekolah dulu," pamit Aisha.


"Kebiasaan, dibangunin susah! Padahal Mamih sudah sering mengatakan kalau habis sholat subuh tuh jangan langsung tidur, ini anak susah banget kalau dibilangin Mamihnya," kesal Zee.


"Sudahlah, Nak. Namanya saja masih kecil," bela Opanya.


"Astaga, Pa. Aisha sudah remaja, bukan anak kecil lagi! Dia sudah berumur tujuh belas tahun," jelasnya.


"Tidak terasa ya, Aisha sudah tumbuh menjadi gadis remaja, tapi, kelakuannya seperti bocah saja," ucap Papa terkekeh geli.


"Benar juga ya, Pa. Nggak kerasa Aisha menjadi gadis remaja yang cantik," ujar Omanya.


"Sudah dong, Sayang! Jangan marah-marah terus, nanti kamu cepat tua," tutur suaminya.


"Gimana nggak marah, Pih! Aisha bikin Mamih kesel saja," ujar Zee.


"Iya, Sudah, Papih langsung ke kantor," pamit suaminya sambil mencium kening Zee.


"Zidan ikut, Pih," pinta Zidan. "Mih, Zidan berangkat ke Sekolah dulu," pamit Zidan kepada Mamihnya, Opa dan Omanya.


"Hati-hati, Sayang! Pulangnya nanti Mamih yang jemput," ucap Zee.

__ADS_1


"Okey, Mih." Kedua laki-laki kesayangan Zee pun akhirnya berangkat. Sekarang tinggal Zee dan kedua mertuanya di rumah. Papa dan Mama yang semakin tua, sekarang hanya beraktivitas di rumah saja. Tidak seperti dulu, yang masih gesit dan lincah. Sekarang hari-harinya, mereka habiskan dengan menantu dan cucunya.


Zee juga sudah lama tidak mengajar di kampus, dia menemani kedua mertuanya di rumah. Zee tidak tega harus meninggalkan mereka hanya berdua di rumah sebesar ini, Apalagi mereka sudah terlalu tua. Papa Harun juga sering sakit-sakitan dan keluar masuk Rumah Sakit.


Aisha langsung pergi ke Sekolah dengan sepatu rodanya. Papihnya sudah memperingatkan agar ke Sekolah tidak menggunakan sepatu roda, namun Aisha yang super bandel tidak pernah mau menghiraukan ucapan siapapun. Menurut Aisha, memakai sepatu roda akan lebih cepat sampai ke Sekolah, dibandingkan dengan mobil. Karena besar kemungkinannya, memakai mobil akan terjebak macet dan lain-lain.


Dalam waktu sepuluh menit, Aisha sampai di Sekolah. Dan pas juga gerbang Sekolah akan ditutup oleh Pak Rusli, penjaga Sekolah. Dengan tubuh rampingnya, Aisha bisa memasuki gerbang yang sempit yang pintunya hendak menutup.


"Aisha?" geram Pak Rusli. Karena seperti biasa, Aisha akan datang secara tiba-tiba membuat Pak Rusli kaget. Aisha hanya terkekeh, dan dua jarinya akan membentuk simbol peace, yang artinya permintaan maaf. Pak Rusli hanya menggelengkan kepalanya saja, pusing jika harus berdebat dengan anak itu.


Aisha meletakkan sepatu rodanya di locker, dan menggantinya dengan sepatu sekolah. Dia langsung bergegas, berlari mengelilingi lorong-lorong menuju kelasnya, kelas dua belas. Jam menunjukkan pukul tujuh pas, dia harus bergegas karena hari ini adalah pelajaran guru Matematika. Yang terkenal super galak dan super tegas.


Sampai di pintu, dia sudah melihat sang guru sedang berjalan menuju kelasnya. Dia pun bergegas untuk masuk ke kelasnya, namun kursi miliknya ditempati oleh seseorang yang tidak dia kenal, tentu saja Aisha marah-marah.


"Hey, Ini tempat dudukku! Tolong carilah tempat yang lain?" suruh Aisha kepada anak laki-laki itu. Anak itu tidak bergeming, dia hanya duduk diam dan tidak ada respon.


"Ish, Tolong dong pindah! Ini tempat duduk gue," kesalnya.


"Aisha, dia anak baru," ucap Clara, sahabat Aisha.


"Aisha? Apa yang kau lakukan? Kenapa hanya berdiri di sana?" tanya Guru Matematika.


"Eh, Maaf, Pak. Tapi, tempat duduk saya, ditempati oleh manusia kulkas ini!" kesalnya.


"Kamu kan bisa duduk di tempat lain! Sekarang, cari tempat duduk baru, dan duduklah. Karena pelajaran akan segera dimulai!" tegas Guru Matematika.


"Ish, dasar menyebalkan," umpatnya. Tapi, samasekali anak laki-laki itu tidak bergeming. Akhirnya Aisha duduk di bangku paling belakang dengan wajah masam.


Guru Matematika menyuruh anak baru tersebut memperkenalkan diri di depan kelas. Ternyata namanya James, dia murid pindahan dari Sekolah Garuda. Sekolah yang terkenal dengan murid-muridnya yang super sombong.


Jam Makan siang


Di rumah, Zee tidak berhenti ngomel-ngomel. Karena melihat kamar Aisha sudah seperti kapal pecah. Bahkan bukan hanya seperti kapal pecah saja, seperti kapal yang habis di bom dengan kekuatan yang super dahsyat. Alan yang baru pulang kerja untuk makan siang, melihat istrinya ngomel-ngomel, dia tertawa geli. Pasalnya, bibir Zee maju sekitar lima centi. Membuat suaminya terkekeh geli.


"Sayang?" panggilan mesra suaminya. Meskipun dibilang bukan pasangan muda lagi, namun mereka selalu terlihat sangat romantis dan selalu mesra.

__ADS_1


"Hem," jawab Zee, sambil berbenah barang-barang Aisha yang berantakan. "Papih baru pulang?"


"Iya, Sayang! Jangan ngomel-ngomel terus, Sayang. Nanti cepet tua," ucap Alan.


"Ck,"


"Bagaimana kalau akhir bulan ini kita liburan?" tanya Alan kepada istrinya.


"Liburan kemana, Pih?" tanya Zee.


"Kira-kira kemana ya?" tanya suaminya.


"Ke Bali?"


"Sudah pernah, Pih!" jawab Zee.


"Ke Malaysia?"


"Sudah pernah juga." Zee menggelengkan kepalanya.


"Kemana yah?" Alan nampak berfikir.


"Ke Singapore," ucap Zee tiba-tiba. "Tidak terlalu jauh, dan masih bisa dijangkau," ujarnya.


"Tapi, bagaimana dengan anak-anak, Apakah mereka setuju?" tanya Alan. "Kita hampir setiap liburan pasti ke sana, Mih. Sudah ke delapan kalinya kita ke sana," ucap Alan manyun.


"Iya, nggak apa-apa, selain ngirit kita juga harus mengajarkan anak-anak kita hidup berhemat," jawab Zee sekenanya.


"Ish, Mamih ini. Kalau mau berhemat, kita liburan ke kepulauan seribu saja," ujar Alan.


"Oh, itu juga bagus, Pih! Dekat dan hemat," ucap Zee penuh penekanan.


"Ish, Mamih, bicara sama Mamih nggak asyik. Lebih baik Papih tanyakan saja sama Aisha dan Zidan mau liburan kemana!" ucap Alan, sambil berlalu pergi keluar.


"Pih, tunggu! Katanya mau bantuin beres-beres barangnya Aisha?" tanya Zee, namun Alan yang keburu pergi akhirnya dia sendiri yang harus merapikannya. Sisanya dia serahkan kepada ART.

__ADS_1


to be continued...


__ADS_2