
Dokter menyuruh pasiennya untuk bersiap-siap mengejan, karena sang jabang bayi akan terlahir ke dunia ini. Dokter juga menyuruh suami pasien untuk menyiapkan baju dan perlengkapan bayi. Alan keluar sebentar untuk memberitahu Papa Harun, agar papa menghubungi Mamanya dirumah dan menyusulnya ke Rumah Sakit.
Alan kembali ke kamar istrinya, untuk mendampingi Zee melahirkan. Dokter sudah bersiap-siap menggunakan kaos tangan karet dan berdiri di depan Zee untuk memberikan aba-aba kepada Zee.
"Auw, sakit, Dokter! Ah, sakit!" teriak Zee, sambil mencengkram erat lengan kokoh suaminya.
"Tenang ibu! Sekarang ibu ambil nafas dan buang! Lakukan berulang-ulang ya, Bu! Setelah nampak terlihat kepala bayinya, nanti mengejanlah dengan kuat!" nasehat Dokter.
"Huff! Ah, sakit sekali," teriak Zee semakin keras.
"Sayang, aduh, bagaimana ini? Dokter bagaimana ini?" teriak Alan ikut panik, membuat konsentrasi sang Dokter pecah.
"Astaga, Pak! Bapak jangan membuat saya ikut panik! Memang proses melahirkan ya seperti itu!" hardik Dokter kepada Alan.
"Tapi, kasihan istri saya Dokter! Lihatlah dia sepertinya sangat kesakitan!" ujarnya.
"Huft," Dokter menghela nafasnya panjang.
"Iya, Pak! Melahirkan memang sakit, semua wanita yang melahirkan juga seperti itu! Kecuali kalau bikinnya, pasti enak dan setiap hari mintanya nambah!" cibir Dokter.
"Ish, Dokter ini bisa saja!" timpal Alan, pipinya memerah.
"Benar juga sih yang dikatakan Dokter," batinnya, Alan senyam-senyum sendiri, pikiran kotornya traveling kemana-mana.
"Auw, sakit, sakit sekali, Dok!" ujar Zee sambil memegangi perutnya. Lamunan kotornya jadi buyar, ketika sang istri berteriak-teriak kembali.
"Aduh, Dok, istri saya kesakitan lagi! Dia berteriak lagi! Pasti rasanya sangat sakit!" ucapnya.
"Sekarang ibu mengejan, ya, saya hitung!"
"Satu, dua, tiga," kata Dokter.
"Ayo, Bismillah, Ibu! Ibu pasti bisa!" kata Dokter memberikan semangat empat lima.
"Aaaaaaaaaa," teriak Zee menjambak rambut suaminya, suaminya yang merasa kesakitan juga ikut berteriak kencang.
"Aaaaaaaaaa," teriak Alan, membuat Dokter memberengut kesal.
"Aduh, Sayang, Sakit!" Cakapnya. Zee terus menjambak rambut suaminya, yang memang agak gondrong belum sempat ia cukur.
__ADS_1
"Oek .. Oek ... Oek." tangis bayinya Zee. Akhirnya sang baby keluar dengan selamat dan sehat, meskipun bobotnya tidak sesuai dengan harapan, namun bayi perempuan cantik itu terlahir dengan sehat dan lengkap.
Zee melepaskan cengkraman tangannya di rambut sang suami, dia bisa bernafas lega karena sang bayi sudah terlahir dengan selamat dan sehat. Alan juga bisa bernafas lega, karena istrinya sudah melepaskan cengkeramannya. Namun saat melihat darah yang begitu banyak berceceran di sprei tempat tidur Zee, tiba-tiba Alan tidak bisa menopang beban tubuhnya, dia jatuh dan tidak sadarkan diri.
Tiga jam berlalu
Alan mendengar suara keramaian di dalam kamar, dia mengerjapkan matanya mengamati sekelilingnya. Dia masih teringat dengan banyaknya darah yang menempel dan berceceran di kain sprei. Sekarang, dia melihat kamar dengan cat warna putih, korden putih, nampak sangat bersih sekali.
"Lan? Alan?" panggil Mama berusaha menyadarkan putranya.
"Mama? Aku berada dimana?" tanya Alan.
"Kau masih berada di Rumah Sakit," jawab Mamanya.
Alan mencoba bangun, dia teringat bahwa istrinya baru saja melahirkan.
"Dimana Zee?" tanya Alan, membuat orang-orang yang sedang menjenguk istrinya menoleh ke arah Alan sambil tersenyum. Ternyata di dekat istrinya, sudah ada Papa Roger dan Mama Nola, Ratu dan bayinya, Elmar, Papa Harun dan Mama Sarah.
"Hah, bilangnya jagoan! Melihat darah saja jatuh pingsan," ejek Mama Sarah yang masih menggendong bayinya Zee.
"Ha ... ha ... ha." tawa semuanya. Alan tersenyum kecut, dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Berapa menit Alan pingsan, Ma?" tanyanya.
"Menit? Kamu tidak sadarkan diri itu sudah tiga jam! Kami semuanya cukup lama menunggumu sadar," cebik Mama.
"Hah, Benarkah?" heran Alan, membuat semuanya tertawa geli. Mama hanya geleng-geleng kepala saja melihat tingkah putranya.
"Selamat ya, Lan! Kamu dan Zee sudah menjadi orang tua, kalian dikaruniai putri yang sangat cantik," ucap Papa Aghar. Papa memberikan selamat kepada menantunya.
"Terima kasih, Pah!" jawabnya.
"Papa juga berterimakasih karena kamu sudah membebaskan Zee dari para penculik itu! Papa bangga sama kamu! Kamu bukan hanya bertanggung jawab! Tapi, kamu memang suami idaman," puji Papa Roger.
"Ah, Papa bisa saja! Sudah menjadi kewajiban Alan, Pah! Menyelamatkan Zee," ucapnya.
"Lalu, gimana kabarnya para penculik itu?" tanya Papa Roger.
"Mereka semuanya sudah di tangani oleh para polisi, Pah!" jawab Alan.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu," ucap papa.
"Kamu juga hebat, Sayang! Kamu bisa melahirkan bayi cantik seperti ini," puji Mama Nola, menoel hidung mancung bayi cantik itu.
"Iya, Ma! Zee memang hebat! Semua berkat Mas Alan, dia mendampingi Zee melahirkan!" ucap Zee, menyombongkan diri.
"Iya, meskipun badan ku pada sakit semua dan rambutku rontok karena jambakan Zee yang sangat kuat! Tapi, melihat baby mungil ini hatiku sangat bahagia," ucapnya, terus memandangi putri mungilnya. Zee jadi malu sendiri dan mencubit bahu suaminya.
"Ish, Papih!" manyun Zee.
"Ha ... Ha ..... Ha." semua orang yang mendengarkan cerita dari Alan tertawa terbahak-bahak.
"Eh, sudah ada nama belum untuk baby cantik ini?" tanya Mama.
"Sudah dong, Ma! Namanya adalah Aisha Aileen Putri Xaquille! Kita panggil dia baby Aisha! Bagus kan, Ma?" tanya Alan.
"Wah, bagus sekali namanya!" ucap Mama Sarah.
"Kapan Papih menyiapkan nama untuk putri kita? Kok nggak pernah ngomong, Pih?" tanya Zee.
"Iya, Sayang! Sudah lama Papih menyiapkan ini semua! Dan ini adalah kejutan buat kamu," godanya.
"Hey cantik, sekarang nama kamu, Aisha!" ucap Mama Sarah. "Sini Oma gendong!" ujarnya, Mama Sarah mengambil baby Aisha dari gendongan Alan.
Beberapa menit kemudian, Dokter masuk dan memeriksa keadaan Zee dan bayi nya, sembari sedang menunggu Zee diperiksa, semua orang menunggu diluar ruangan. Kedua orang tua Zee berpamitan pulang, disusul Ratu dan Elmar juga. Dokter memeriksa kondisi Zee, takutnya ada pendarahan yang keluar dari jalan lahir pasiennya. Dokter juga memeriksa kondisi baby Aisha, semuanya normal dan tidak ada yang perlu di khawatirkan. Dokter menyarankan kepada Zee untuk memberikan ASI eksklusif guna menunjang sekaligus membantu proses perkembangan otak dan fisik bayi.
Tiga hari berlalu, akhirnya Zee dan bayinya diperbolehkan pulang oleh Dokter. Mereka sangat bahagia. Mama Sarah membantu Zee menggendong baby Aisha, sedangkan Alan mengemudikan mobilnya. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, hingga sampai di depan rumah. Mereka semua disambut meriah oleh Papa Harun, para pelayan dan ternyata semua keluarga Zee berkumpul di rumah Mama Sarah.
"Selamat datang, Nyonya muda!" ucap mereka kompak.
"Wah, terima kasih banyak!" senang Zee.
Hari ini untuk menyambut kedatangan Zee dan bayinya, Mama Nola membuat dapur Mama Sarah agak berantakan. Karena Mama Nola memasak makanan khusus untuk ibu menyusui untuk kedua putri cantiknya.
to be continued.....
******************************************
Ayo mampir juga di novelku yang lain dengan judul :
__ADS_1