
Mobil Alan sampai di Rumah Sakit, Dia berlari menuju kamar IGD. Di sana sudah ada Echa dan seorang laki-laki yang berdiri di depan ruangan IGD.
"Echa?" panggilnya.
"Om!" jawabnya.
"Apa yang terjadi dengan Zee?" tanya Alan cemas. Melihat Echa yang sedari tadi menangis, akhirnya Pak Ridwan yang menjelaskan semua kejadiannya, hingga Zee harus masuk ke IGD.
Alan sangat syok, dia tidak menyangka kalau ada orang yang tega menyakiti istrinya.
Beberapa menit kemudian seorang Dokter kandungan keluar dari ruangan istrinya. Alan langsung memberondong banyak pertanyaan kepada Dokter tersebut.
"Dokter, Bagaimana keadaan istri dan calon baby saya?" tanya Alan sangat cemas.
"Bapak tenang yah! Alhamdulillah istri dan bayi Bapak sehat-sehat saja!" jelas Dokter.
"Bayi yang ada di kandungan ibunya sangat kuat, meskipun sempat pendarahan! namun mereka selamat!" terang Dokter lagi.
"Huft!" Alan bernafas lega.
"Apakah saya boleh menemui istri saya, Dok?" tanya Alan.
"Silahkan, Pak! tapi, istri Bapak masih belum sadarkan diri yah! mungkin tunggu beberapa menit lagi!"
"Terima kasih, Dok!" ucapnya.
"Nanti saya akan suruh suster untuk memindahkan istri Anda ke ruang rawat! Bapak bisa mengurus administrasinya di kasir!" ucap Dokter lagi.
"Baiklah, Dok! nanti saya akan urus semuanya, setelah bertemu dengan istri saya dulu!" ucapnya.
"Silahkan!" ucap Dokter mempersilahkan keluarga pasien menjenguk, Dokter kembali memeriksa pasien lainnya.
Alan masuk ke ruangan IGD, dimana istrinya dirawat. Ada selang infus yang menempel di tangan istrinya, Alan mendekat dan mencium kening istrinya.
"Maafkan aku, Sayang! seharusnya aku tidak mengizinkanmu pulang sendiri!" sesal Alan.
Alan teringat dengan apa yang dikatakan oleh Pak Ridwan, Alan pun keluar dari kamar IGD untuk berbicara kepada Pak Ridwan dan Echa. Alan lihat Echa agak lebih tenang
"Bagaimana keadaan Zee?" tanya Echa khawatir.
"Zee, belum sadar! tapi, Alhamdulillah dia baik-baik saja!" jawab Alan, membuat Echa sedikit tenang.
Alan pun mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada Pak Ridwan dan Echa, setelah cukup lama mereka mengobrol, Alan sedikit tahu ternyata Pak Ridwan adalah dosen Zee dan Echa di kampus. Namun Alan juga tidak mengambil pusing, melihat kedekatan Echa dan dosennya. Pak Ridwan dan Echa izin pulang, karena jam besuk juga sudah mau habis.
Alan mengurus kepindahan istrinya ke ruang rawat VIP, setelah itu dia memberitahukan kabar Zee kepada semua anggota keluarga.
__ADS_1
Zee nampak mengerjapkan matanya, Alan menghampiri tempat tidur istrinya.
"Sayang?" ucap Alan.
"Pih, Mamih berada di mana?" tanya Zee heran, karena dia merasa asing.
"Rumah sakit!" jawab suaminya.
"Pih, baby kita?" tanya Zee, cemas.
"Baby kita baik-baik saja!" ucap Alan sambil mengelus-elus perut istrinya yang sudah mulai membuncit.
"Dan Papih juga menyuruh seorang teman yang bekerja sebagai polisi, untuk meringkus Melly dan teman premannya! bukankah mereka yang melakukan ini semua?" tanya Alan.
"Iya, Pih! Melly dendam banget sama Mamih!" jawab Zee singkat, pasalnya semuanya berawal dari Yuda, Obsesi Melly kepada Yuda, membuatnya gelap mata, sehingga dia tidak bisa memilih mana yang benar dan mana yang salah.
"Ya sudah, Jangan dipikirkan! Mamih harus banyak beristirahat!" ujar suaminya.
"Oh, ya! Mamih teringat dengan Echa dan Pak Ridwan! mereka yang menolong Mamih, Pih!" ucap istrinya mengingat Echa.
"Tapi, tunggu, tunggu! Kenapa Echa bisa datang bersama dengan Pak Ridwan?" batin Zee.
"Mereka sudah pulang, Sayang! kasihan juga kalau menunggu terlalu lama di Rumah Sakit! mungkin besok Echa akan kesini lagi!" ujar suaminya lagi.
"Sekarang Mamih harus full istirahat!" nasehat Alan.
Tok....tok.....tok
Cekreek
"Assalamualaikum?" sapa seseorang.
"Walaikumsalam!"
Ternyata Papa Harun dan Mama Sarah yang datang, setelah mendapatkan kabar dari Alan bahwa anak menantunya di rawat di Rumah Sakit, Mama Sarah langsung datang ke Rumah Sakit.
"Zee?" panggil mama.
"Mama!" jawab Zee, seperti biasa setiap mereka bertemu mereka berpelukan.
"Bagaimana ceritanya sampai kamu seperti ini? Ayo ceritakan kepada mama!" ucap mertuanya emosi.
"Alan sudah menyuruh orang untuk mencari mereka, Ma! mereka harus mendapatkan hukuman yang setimpal! Mama tenang saja!" jawab putranya.
"Berarti ada yang sengaja mencelakai Zee, Lan?" tanya papa.
__ADS_1
"Iya, Pah!" jawab Alan, akhirnya Zee pun menceritakan awal kejadiannya, kenapa Melly begitu dendam dengan dirinya. Mama mertuanya sangat marah, karena tidak menyangka kalau ini juga ada kaitannya dengan Yuda.
"Yuda! Bagaimana bisa anak itu berhubungan dengan wanita macam itu? Apakah selama ini pergaulan cucuku begitu bebas? Apakah Astrid tahu, Lan?" tanya Mama Sarah.
"Kemungkinan tidak, Ma!"
"Yuda hanyalah korban, dari kesibukan kedua orangtuanya!" jawab Alan.
"Apakah kecelakaannya ada hubungannya dengan ini semua?" tanya papa.
"Tidak, Pah! Yuda memang murni kecelakaan! cuma sekarang setelah kecelakaan dia!" ucap Alan menjeda kalimatnya.
"Cuma apa, Lan?" tanya mama.
"Yuda lumpuh dan impoten permanen, Mah!" jelas Alan.
"Astaghfirullah! cucuku! Bagaimana ini bisa terjadi? Astrid tidak berani menceritakan semuanya kepada mama! sampai sekarang pun Astrid belum menceritakannya! Lalu Apakah istrinya tahu kalau Yuda lumpuh dan impoten?"
"Tahu, Mah! Ratu pun meminta berpisah dengan Yuda! sebenarnya bukan kesalahan Ratu meminta berpisah, itu semua karena salah Yuda sendiri, Ma! Yuda yang tidak bisa menghargai ketulusan cinta istrinya, membuat dia kehilangan segala-galanya!" jelas Alan.
"Hah, Yuda! Kenapa nasibmu begitu tragis, Nak!" Sedih mama Sarah.
"Mah, Maafkan Zee yah!" ucap Zee memeluk mama mertuanya.
"Itu bukan kesalahanmu, Sayang!" ucap mertuanya.
"Semuanya sudah menjadi takdir! kita tidak boleh saling menyalahkan! justru dengan kejadian ini, menjadi sebuah pelajaran yang sangat berharga untuk kita semua! buat Yuda sendiri dan buat kedua orang tuanya!" jelas papa dengan bijaksana.
"Benar apa yang dikatakan papa!" ucap Alan membenarkan.
Lumayan lama mereka mengobrol, akhirnya papa dan mama mertuanya memutuskan untuk pulang.
"Besok, mama akan kesini lagi!" ucapnya, membuat Zee sangat senang memiliki mama mertua yang begitu perhatian.
"Padahal Zee masih kangen sama mama! tapi janji ya, Ma! besok mama kesini lagi! tapi jangan lupa bawa pesanan Zee!" ucap Zee kepada mama mertuanya.
"Iya, Sayang! besok mama bawa pesenan kamu! rujak buah level 12 dan seblak level 13 kan?" ucap mama mertuanya keras, sehingga Alan mendengarnya.
"Mamih?" ucap Alan membulatkan matanya dengan sempurna, menatap Zee yang sedang senyam-senyum.
"Hi...hi...hi! ini kemauan anak papih! bukan mamih yang meminta! iya kan, Sayang?" tanya Zee sambil mengusap-usap perutnya.
"Iya, Pih! aku agi pingin makan lujak buah cama ceblak yang pedes, Apa papih mau aku ilelan didalam pelutnya mamih!" ucap Zee menirukan suara anak kecil.
Ha ...ha...ha
__ADS_1
Semuanya menjadi tertawa lepas, melihat tingkah konyol Zee.
to be continued.......