
Alan mengajak keluarganya bertemu dengan rekan bisnisnya di Restaurant dekat dengan hotel. Sebenarnya Aisha malas untuk keluar, karena tubuhnya masih terlalu capek akibat perjalanan dari Indonesia ke Singapore. Namun apa daya, perutnya terasa sangat lapar.
Mereka berada di Restaurant Jepang. Dimana di sana menyajikan makanan Jepang dengan segala menu. Mereka memilih duduk dekat dengan jendela, karena tempatnya langsung menghadap ke arah jalan, sehingga kita tidak akan bosan menatap orang berlalu-lalang.
Sembari menunggu teman Papihnya datang, Aisha memohon izin ke toilet terlebih dahulu. Tiba-tiba perutnya terasa melilit, padahal perutnya belum diisi amunisi apapun. Sampai di depan toilet ternyata toiletnya masih dalam proses perbaikan. Raut mukanya sangat panik dan pucat, karena menahan hajat besar di perutnya.
Dia pun bertanya kepada petugas cleaning servis, barangkali ada toilet lain yang bisa ia gunakan. Dan beruntungnya, ada toilet lain di sebelah Utara Restaurant ini. Dia pun berlari ke arah toilet tersebut dengan terburu-buru. Saking terburu-burunya, tidak sengaja Aisha menabrak seorang pria, yang kira-kira usianya tidak beda jauh dari Papihnya.
"Auw," pekiknya. Aisha terjatuh.
"Anda tidak apa-apa?" tanya pria tersebut kepada Aisha, sambil mengulurkan tangan membantu Aisha berdiri.
"Ish, Apakah Anda tidak lihat? Bokong saya sakit," pekiknya.
"Maaf, saya tidak sengaja," ucapnya. Padahal Aisha yang menabraknya terlebih dahulu.
Tuuuuuuuuuuuut ......
Suara nyaring terdengar dari bawah sana. Aisha menutupi pantatnya karena telurnya akan menetas sebentar lagi. Namun gas beracunnya sudah terlebih dahulu dikeluarkan, membuat bau yang tidak sedap menusuk hidung. Pria tersebut langsung menutupi hidungnya dengan tangannya sendiri. Sontak membuat Aisha sangat malu dan teramat malu.
Aisha langsung berlari ke arah kamar mandi, dan membuang semua telur-telur yang sangat busuk di dalam perutnya. Barulah wajahnya berseri-seri, tidak terlihat pucat lagi.
"Ah, leganya," ucap Aisha. Bernafas lega karena semua telur busuknya sudah ia keluarkan.
Selesai dari kamar mandi, dia hendak keluar. Namun karena takut bertemu dengan pria itu, dia mencoba untuk mengintipnya terlebih dahulu. Dan, Aman ....
"Ah, syukurlah, Om itu sudah tidak ada," ucapnya.
Dia pun kembali ke meja orang tuanya untuk makan siang. Dia melangkah dengan percaya diri ke meja tersebut. Dan ternyata teman Papihnya sudah datang dan bergabung di antara mereka. Aisha datang dari arah belakang pria tersebut, kemudian melambaikan tangan kepada Mamihnya.
"Maaf, Mih, Aisha telat," ucapnya.
"Dari mana saja sih kamu, Sayang?" tanya Aisha.
"Toilet, Mih," jawabnya. Sambil duduk di kursinya.
Alan memperkenalkan rekan bisnisnya kepada putrinya, dan betapa terkejutnya Aisha. Ternyata rekan bisnis Papihnya adalah pria yang tadi dia tabrak. Seketika wajahnya memerah, menahan malu yang teramat sangat.
__ADS_1
"Sayang, perkenalkan! Ini adalah rekan bisnis Papih. Namanya Pak Devan El Barack," ucap Papihnya memperkenalkan rekan bisnisnya kepada Aisha yang baru bergabung. Sedangkan Mamih dan Zidan sudah mengetahuinya lebih dulu.
"Dan Pak Devan, ini anak pertama saya bernama Aisha," ucap Papihnya memperkenalkan Aisha.
"Hei, Om," sapa Aisha malu-malu. Devan hanya tersenyum mengingat kejadian tadi di toilet.
"Semoga saja Om itu lupa kejadian memalukan itu," batin Aisha yang masih menahan rasa malu.
Acara makan siang di lanjutkan dengan obrolan ringan kemudian obrolan agak berbobot sekitar bisnis dan perencanaan kerjasama antara dua Perusahaan. Ternyata Om Devan asyik juga diajak mengobrol. Dia juga terlihat sangat dewasa dan memiliki pemikiran yang matang.
"Jadi kamu sudah menikah?" tanya Alan kepada Devan.
"Saya sudah menikah, dan saya juga sudah bercerai," jawabnya. "Tapi, Saya belum mempunyai anak," imbuhnya. Aisha menjadi pendengar yang baik.
"Kenapa belum punya anak, Om?" celetuk Aisha.
"Belum dikaruniai anak," jawabnya.
"Oh," jawab Aisha ber'oh ria. "Dilihat secara dekat, Om Devan tampan juga! Jambannya itu benar-benar sangat cool," pujinya di dalam hati.
"Berapa usia kamu?" tanya Papih. "Sepertinya kamu masih sangat muda?" tanya Papih lagi.
"Usia saya sudah tua. Mungkin selisihnya tidak terlalu jauh dengan Anda," ujarnya.
"Masa? Tapi, Anda terlihat sangat muda!" ucap Papih lagi.
"Saya sudah kepala empat! Usia saya empat puluh." jawab Devan. "Tapi, ya begini. Di usia empat puluh, saya belum memiliki anak, dan saya masih menduda," terangnya.
"Oh, berarti Om seorang duda dong?" timpal Aisha, matanya tidak berhenti menatap Devan.
"Iya," jawabnya agak malu-malu.
"Oh, berarti selisih usia kita enam tahun," jawab Papihnya, lalu mereka tertawa terbahak-bahak.
"Ish, membosankan! Kenapa malah justru yang dibahas usia sih?" cibir Aisha. Mamih dan Zidan juga kelihatannya sudah bosan, mendengar percakapan suaminya dan rekan bisnisnya yang membicarakan masalah usia masing-masing. Zee pun mengajak anak-anaknya untuk berjalan-jalan di sekitar Restaurant.
Mereka berkeliling melihat-lihat, ternyata ada supermarket dekat dengan Restaurant. Zee pun mengajak anak-anaknya untuk pergi ke Supermarket. Mereka berburu makanan dan minuman, juga cemilan. Lumayan lama mereka di Supermarket, masih memilih-milih barang,
__ADS_1
Alan menghubungi istrinya. Bahwa dia sudah selesai berbicara dengan rekan bisnisnya. Alan pun menyuruh istrinya untuk kembali ke hotel. Setelah membayar barang-barang belanjaan, Zee dan anak-anaknya pun kembali ke hotel.
Malam Hari
Alan mengajak keluarganya berjalan-jalan ke Marlion Park di malam hari. Ternyata suasana Marlion Park di malam hari sangatlah indah. Aisha berfoto-foto di depan patung Marlion Park dengan Zidan. Kemudian menarik tangan Mamih dan Papihnya agar ikut berfoto bersamanya.
Dari kejauhan Alan melihat Devan sedang berjalan-jalan sendirian di sekitar Marlion Park. Alan memanggilnya agar dia ikut bergabung. Devan pun menghampiri mereka yang sedang sibuk berfoto selfie.
"Kau, disini juga?" tanya Alan kepada Devan.
"Iya, Pak. Sepertinya sangat seru, Apakah saya boleh bergabung?" tanyanya.
"Silahkan," Alan menawarkan satu tempat duduk kosong untuk Devan.
"Terimakasih," jawab Devan.
"Apakah Anda tinggal di hotel juga?" tanya Zee.
"Tidak, Saya tinggal di Apartemen. Jika Pak Alan dan keluarga mau mampir, Silahkan saja," ujarnya sangat ramah.
"Wah, boleh tuh, Mih, mampir ke rumah teman Papih," ucap Aisha. Zee membulatkan matanya dengan sempurna.
Malam itu mereka pun makan malam bersama di sebuah Restaurant dekat dengan Marlion Park. Namun kali ini Devan lah yang mentraktir mereka semua makan di Restaurant tersebut.
Kerjasama antara Perusahaan Alan dan Devan akhirnya sudah disepakati dan disetujui oleh kedua belah pihak. Dan otomatis keduanya akan sering bolak-balik dari Indonesia ke Singapura, dan juga sebaliknya.
Devan adalah seorang Pengusaha asal Belanda, namun sudah menetap lama di Singapura. Dia seorang duda tanpa anak, tampan dan mapan. Dia enggan untuk menikah lagi, karena menganggap semua wanita itu sama saja. Hanya menginginkan harta, tahta dan kemewahan.
to be continued.....
*******************************************
Saya kasih visualnya ya....
Aisha
__ADS_1
Devan