
Zee merasakan berat dibagian perutnya, ia menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya. Ada tangan kekar yang memeluk dari belakang, sontak Zee terkejut. Lalu ia layangkan bogemnya, dan menyikut perut laki-laki yang berani memeluknya dari belakang. Tempat tidur yang memang tidak terlalu lebar, membuat tubuh Alan terjatuh ke lantai.
BUGH....
"Auw!" pekiknya.
Zee mendengar teriakkan seorang laki-laki, sepertinya suaranya tidak asing. Ia menoleh ke arah lantai, betapa terkejutnya Zee.
"Papih?"
"Auw sakit, Mih!" ucap Alan sambil memegangi perut dan pipinya.
"Bagaimana Papih bisa kesini?" Zee membantu suaminya berdiri dan duduk di kasur.
"Papih menyusul Mamih!"
"Habisnya Papih kesepian di rumah!" ujarnya.
"Oh, begitu!"
"Ish, Papih ini! makanya kalau mau datang tuh telfon dulu!"
"Tadi Mamih pikir itu bukan Papih!"
"Jadi pikir Mamih tadi siapa?" Alan menatap tajam ke arah istrinya.
"Kenapa ponsel Mamih tidak aktif? Berkali-kali Papih menghubungi Mamih!" sungut Alan.
"He....He....He!"
"Ponsel Mamih mati terjebur di kolam, Pih!"
"Kok bisa?" tanya suaminya.
"Gak sengaja, Pih!"
"Suer!"
"Maaf ya Pih! sini biar Mamih obatin!" Zee mengambil es batu dan mengompres pipi suaminya yang agak lebam.
"Auw sakit, Nih! pelan-pelan !"
"Huh....huh.....huh!" Zee meniup-niupnya.
Kruyuk
"Papih sudah makan malam?" tanya Zee , mendengar perut suaminya berbunyi.
"Belum, Nih!"
"Papih gak sempet!" ucapnya sambil tersenyum. Zee pun lekas ke dapur, ternyata hanya mie instan yang ada.
"Pih, hanya ada mie instan! Papih mau?" tawar Zee.
"Ehm, gak apa-apalah! yang penting bisa makan!"
"Ehm, Mamih sepertinya juga lapar!" batin Zee.
Zee membuat dua mie instan dengan dua telor dan sedikit cabe. Ia tuangkan di satu mangkok besar, terakhir ia berikan sentuhan dengan irisan timun dan kerupuk.
"Selesai!"
"Pih, ayo makan dulu?" ajak istrinya.
"Sudah matang ya, Mih ?"
"Iya !" jawab Zee.
Alan pun menikmati mie rebus buatan sang istri, ia makan dengan sangat lahap. Memang sepulang kerja, Alan tidak sempat makan malam. Ditambah terjebak macet selama dua jam, membuat perutnya sangat lapar. Sekali-kali ia menyuapi istrinya, Zee tidak menolak.
Makan berdua dengan wadah makan yang sama dan sendok yang sama sambil suap-suapan, menurut mereka sangat romantis. Zee membuat teh hangat untuk suaminya, selesai makan suaminya menghabiskan satu gelas teh hangat.
"Ah, kenyangnya !" ucap Alan sambil memegangi perutnya.
"Terima kasih, Mih !" ucap Alan mencium kening istrinya.
"He'em !"
Setelah makan, mereka kembali tidur dan masuk kamar. Tidak ada aktivitas panas malam ini, karena tubuh Alan memang sudah sangat lelah.
Keesokan paginya
Bibi Hamidah sedang sibuk memasak di dapur ,Zee mendekati Bibi.
__ADS_1
"Masak Apa, Bi?" tanya Zee.
"Eh,Neng !sudah bangun?"
"Sudah!" jawab Zee.
"Masak Apa ,Bi?" tanya Zee mengulang pertanyaannya.
"Nih Bibi masak makanan kampung! sayur lodeh dan ayam goreng! dan juga sambel!"
"Wah sepertinya enak!" air liur Zee sudah menetes.
"Tutup tuh mulut! nanti air liur Lo netes!" ucap Elmar tiba-tiba datang dari arah belakang.
"Ish, mengganggu saja!"
"Gue gak kayak Lo!"
"Udah jelek, suka kentut lagi!"
"Sorry ya! Lo jangan suka memfitnah orang deh!"
"Emang bener kok?"
"Gue bicara sesuai kenyataan!" cebik Zee.
Bibi Hamidah hanya geleng-geleng kepala saja mendengar perdebatan mereka. Hingga dua pasang mata mengamati perdebatan keduanya .
"Hem....Hem.....Hem!" suara dehem seseorang. Mereka berdua menoleh ke arah sumber suara.
Dan ternyata Alan sudah berdiri mendengarkan perdebatan keduanya.
"Pih?" ucap Zee seraya menghampiri suaminya.
"Papih sudah bangun?"
"Sudah mandi belum?"
"Mandi bareng yuk?" ajak Zee, agar hati suaminya melunak. Tentu saja Alan menuruti ajakan istrinya, laki-laki mana sih menolak jika sudah dirayu dan diajak ehem-ehem ✌️✌️🤣🤣🤣. Elmar dibuat melongo dengan sikap sahabatnya itu .
"Ternyata Zee adalah perayu ulung!" batin Elmar tidak percaya.
"El, kamu kenapa?" tanya Ratu yang tiba-tiba datang.
"Aku cuma heran dengan pasangan beda generasi itu!"
"Maksudnya?" bingung Ratu yang memang tidak tahu kedatangan Alan.
"Itu Zee sama suaminya!" jelas Elmar.
"Emang suaminya Zee kesini?" tanya Ratu.
"Iya tuh!"
"Kok aku gak tahu?"
"Suaminya Neng Zee datang tadi malam, Neng?" ujar Bi Hamidah.
"Benarkah?"
"Iya, aneh kan?" ucap Elmar lagi.
"Apanya yang aneh?"
"Ya aneh saja!"
"Masa Zee seleranya Om-om!" pungkas Elmar.
"Yang penting kan sayang, El!"
"Jaman sekarang tidak perlu yang muda, kaya atau tampan ! yang penting itu kasih sayangnya, tanggung jawabnya dan yang terpenting adalah ketulusan cintanya!"
"Oh, jadi setiap wanita menginginkan itu semua?"
"Iyalah!"
"Apakah kau juga menginginkannya?"
"Mendapatkan laki-laki seperti itu?"
"Tentu saja!"
"Baiklah! aku akan menjadi laki-laki yang kau mau?" lirih Elmar.
__ADS_1
"Apa?"
"Ah, tidak apa-apa!" ucap Elmar sambil berlalu pergi.
Bibi Hamidah sudah menyiapkan sarapan di meja makan . Ada sayur ,ayam goreng , tempe dan tahu goreng juga sambel. Satu toples besar kerupuk buatan Bibi Hamidah sendiri. Mereka semua menikmati sarapan paginya dengan lahap. Terutama pasangan suami istri ini, mereka menikmati sarapannya dalam diam.
Biasanya kalau di rumah, mereka sarapan bubur ayam atau roti selai. Sekarang makan dengan sayur ,sambel ,tempe dan tahu goreng saja rasanya nikmat banget. Elmar dan Ratu dibuat melongo oleh keduanya.
Selesai sarapan, Elmar mengajak mereka semua berkeliling perkebunan. Zee dan Ratu begitu terlihat bahagia, mereka berfoto-foto ria di tengah hamparan bunga. Sedangkan Alan dan Elmar duduk sambil menikmati keindahan perkebunan miliknya.
"Apakah kamu yang mengelola perkebunan ini?" tanya Alan kepada Elmar.
"Iya, Om!" jawab Elmar.
"Apakah sulit?"
"Tidak terlalu sih, Om!"
"Cuma kendalanya masalah modal, Om!" jawab Elmar jujur.
"Kenapa?"
"Yah, saya terpaksa harus meminjam uang terlebih dahulu untuk modal!"
"Elmar?" suara seseorang memanggil Elmar dari jauh.
"Juragan Beno!" ternyata yang datang adalah juragan Beno dan dua anak buahnya.
"Sebentar ya, Om! El, temui mereka dulu!"
Elmar nampak berbicara serius dengan orang tersebut.
Hingga pembicaraan selesai, Elmar nampak pucat. Juragan Beno dan Orang-orangnya sudah pergi, Elmar menghampiri Alan.
"Siapa mereka?" tanya Alan.
"Juragan Beno, Om!"
"Seorang rentenir!"
"Kamu ada masalah dengannya?"
"Gak juga sih,Om!"
"Cuma.....!"
"Cuma apa?" tanya Alan penasaran.
"El, harus melunasi hutang !"
"Karena kalau tidak cepat dilunasi , bunganya akan semakin membengkak !"
"Dan juragan Beno mengancam, kalau tidak segera melunasinya dia akan mengambil perkebunan milik saya !"
"Padahal nasib warga disini tergantung dari perkebunan ini !" sedih Elmar.
"Jadi kau berhutang kepada mereka?"
"Terpaksa,Om!"
"Kenapa tidak hutang Bank saja?"
"Tempat ini jauh dari Kota, sedangkan dulu Elmar hanyalah anak petani miskin yang belum memiliki apa-apa!"
"Sedikit usaha dan perjuangan, akhirnya Elmar bisa mengembangkan usaha ini!"
"Bagus,aku suka semangat kamu, El!"
"Kalau kamu mau, saya bisa membantu kamu!"
"Maksudnya, Om?"
"Iya kita bisa bekerja sama!"
"Saya akan memberikan modal, kamu yang mengelolanya!"
"Om yakin?"
"Tentu saja saya yakin!"
"Saya tidak pernah berbohong dengan ucapan saya!"
to be continued........
__ADS_1