
Sudah dua Minggu lamanya Alan tidak mendapatkan informasi apapun dari orang yang diperintahkan untuk menyelidiki Paman Xavier. Bahkan orang yang dipercaya untuk mencari kabar Paman Xavier di penjara, tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Alan merasa ada sesuatu yang aneh dan mencurigakan, mengenai hilangnya Gio, orang suruhannya tersebut. Alan harus turun tangan sendiri untuk menyelidiki masalah tersebut.
Mobil Alan melaju menyusuri jalan membelah kemacetan ibukota, hingga satu jam lebih Alan berhasil melajukan kembali mobilnya. Sampai di sebuah kontrakan sederhana, dia turun dan melangkahkan kakinya menuju rumah petak tersebut. Itu adalah rumah kontrakan Gio, seseorang yang disuruh untuk mengorek informasi mengenai Paman Xavier di Lapas. Rumahnya terlihat nampak sepi, tidak ada satu orang di rumah kontrakan tersebut. Hingga seseorang datang dan membuat Alan terkejut.
"Bapak mencari Mas Gio?" tanya seorang bapak paruh baya kepada Alan.
"Oh, iya, Apakah Bapak tahu dimana Gio?" tanya Alan kepada Bapak tersebut.
"Sudah seminggu ini, Mas Gio tidak terlihat di rumah, Pak!" jawabnya.
"Memangnya dia kemana, Pak? Apakah Bapak tahu?" tanya Alan pura-pura.
"Kurang tahu, Pak!" jawabnya.
"Baiklah, terima kasih banyak atas informasinya, Pak," jawab Alan.
"Sama-sama, Pak," jawabnya lagi.
Alan kembali masuk ke mobil, banyak pertanyaan yang berputar-putar di otaknya. Hingga dia memutuskan untuk pergi ke Lapas tempat Paman Xavier di tahan. Mobil melesat dengan kecepatan tinggi, menuju Lapas. Alan begitu penasaran, hingga ia ingin segera mengungkap misteri hilangnya Gio. Sampai di Lapas, Alan disambut baik oleh petugas Lapas. Petugas Lapas menanyakan keperluan Alan datang ke lapas.
"Ada keperluan apa Anda datang ke sini? Apakah ada saudara atau kerabat yang ingin Anda jenguk?" tanya petugas dengan ramah.
"Saya ingin bertanya mengenai seorang tahanan bernama Xavier Atmaja! Apakah masih di sini?" tanya Alan kepada petugas Lapas.
"Biar saya cek terlebih dahulu," ucap petugas tersebut, dan berjalan ke arah lemari. Petugas tersebut mencari data mengenai Xavier Atmaja, namun tidak ditemukan. Semuanya hilang tanpa bekas.
"Maaf sekali, Bapak! Datanya hilang, mungkin saya bisa mengeceknya lewat komputer," ujarnya. Petugas itu mengecek nama Xavier Atmaja di komputernya, nama Xavier masih tertera pada komputer. Itu berarti, Xavier masih menjadi tahanan Lapas ini. Alan bernafas lega, namun dia masih memikirkan mengenai hilangnya Gio.
"Siapa yang ada dibalik hilangnya Gio?" batin Alan.
Mendapatkan informasi mengenai Paman Xavier yang masih berada di tahanan Lapas, hatinya sedikit tenang. Ia pun memutuskan untuk pulang ke rumah. Alan melajukan mobilnya dengan kencang, jam juga sudah menunjukkan pukul lima lewat. Pasti istrinya akan mengkhawatirkannya. Sampai di rumah Alan memarkirkan mobilnya di garasi. Zee sudah menunggu di teras depan rumah dengan wajah yang masam, Alan tahu pasti istrinya sedang ngambek.
"Assalamualaikum?" sapa suaminya. Namun Zee tidak menjawab salam suaminya.
"Lho, kok, tidak dijawab?" ucap suaminya. "Dosa lho, kalau ada seseorang mengucapkan salam tidak dijawab? Apalagi suami sendiri yang memberikan salam tidak dijawab sama istri! Pasti para malaikat enggan untuk datang ke rumah kita," ujar suaminya.
__ADS_1
"Walaikumsalam," jawabnya.
"Gitu, dong, Sayang," kata suaminya sambil mengecup kening dan perut istrinya.
"Papih dari mana saja sih? Kok jam segini baru pulang?" tanya Zee agak kesal.
"Ayo, kita masuk dulu ke dalam! Papih jelaskan di dalam!" ujar suaminya sangat lembut. Zee pun menuruti perkataan suaminya. Sebelum suaminya menjelaskannya, Zee ke dapur untuk membuatkan minuman untuk suaminya.
"Minumlah, Pih!" Zee memberikan segelas teh hangat untuk suaminya. Alan menyuruh Zee duduk disampingnya.
"Sayang, aku baru saja dari penjara! Aku ingin memastikan, Apakah Paman Xavier sudah bebas atau belum?" ucap suaminya, Zee nampak mengernyitkan alisnya.
"Aku menyuruh orang kepercayaanku untuk menyelidiki Paman Xavier, namanya Gio," ucapnya. "Namun anehnya, tiba-tiba saja Gio menghilang tanpa kabar apapun," katanya lagi.
"Kemana dia, Pih?" tanya Zee penasaran.
"Entahlah! Itu yang sedang ku selidiki!" jawabnya.
"Aku curiga dengan seseorang! Apakah ada kaitannya dengan kemunculan Silvi?" ujar suaminya.
"Pih, Bagaimana bisa ada kaitannya dengan Silvi?" tanya Zee masih belum paham.
"Jadi, ayah Silvi di penjara karena kasus penggelapan uang dan pembunuhan?" ujar Zee tidak percaya.
"Iya, Sayang! Aku takut, kedatangan Silvi memiliki niat yang tidak baik kepada keluarga besar kita," jelas suaminya.
"Tapi, sepertinya Silvi juga menaruh hati kepada Papih!" seloroh Zee.
"Dulu, dia memang pernah mengatakan perasaannya kepada Papih! Tapi, Papih menolaknya! Karena Papih tidak memiliki perasaan apapun kepadanya! Papih hanya menganggap Silvi sebatas adik saja," jelas Alan.
"Tentu saja Silvi berani mengutarakan perasaannya, karena dia tahu, kalau kalian bukan saudara sedarah! Ayahnya hanyalah anak angkat di keluarga Xaquille," ucap Zee.
"Iya, Sayang! Papih juga tahu!"
"Tapi, bagi Papa Harun, Paman Xavier sudah seperti saudara kandung! Tentu saja papa akan menganggap Silvi keponakannya sendiri," terang Alan.
__ADS_1
"Pih! Papih harus berhati-hati dengan Silvi! Mamih punya firasat tidak baik dengan perempuan itu," saran Zee.
"Iya, Sayang! Papih akan lebih berhati-hati lagi," ucapnya. "Lebih baik, jangan membuat gara-gara dengan dia, Sayang! Papih takut dia melakukan hal nekad kepada kamu dan bayi kita! Kamu harus ingat, bahwa kamu sedang hamil! Kamu tidak seperti Zee yang dulu," pesan suaminya.
"Iya, Pih! Mamih tahu! Mamih akan lebih berhati-hati lagi menjaga bayi kita," cakapnya.
Lumayan lama mereka berbincang, Zee pun menyuruh suaminya untuk mandi dan bersih-bersih. Zee sudah menyiapkan handuk dan baju ganti untuk suaminya. Sembari suaminya mandi, Zee menyiapkan makan malam untuk suaminya.
Hari ini Zee memesan makanan online, dia tidak sempat untuk memasak, ya walaupun masakannya belum sempurna namun lumayanlah untuk pengganjal perut suami. Lagian juga tubuhnya gampang lelah dan capek seiring bertambahnya beban di perutnya. Ditambah lagi, badannya pegal-pegal akibat dari perangnya kemarin dengan Silvi.
Suaminya sudah berdandan rapi dan sangat wangi. Dari arah belakang Alan memeluk pinggang istrinya yang sibuk menata makanan yang barusan dia beli.
"Sibuk banget sih, Mih?" tanya suaminya.
"Eh, Papih! Sudah mandi ya?"
"Heum, wangi banget," ujar Zee.
"Sudah dong, Sayang!" jawab suaminya.
"Hem, sepertinya enak! Papih laper banget nih," ucap suaminya.
"Oh, Papih lapar! Yok kita makan," ajak Zee. Zee menyendokkan nasi ke piring suaminya, dan mengambilkan lauk pauk serta sayurnya. Mereka menikmati makan malamnya dengan suasana yang gembira.
"Pih?" panggil Zee.
"Hem," jawabnya.
"Mamih pesen sama Papih, Papih harus lebih berhati-hati lagi dengan perempuan gila itu," ucapnya.
"Mamih yakin, dia memiliki motif terselubung," imbuhnya lagi.
"Iya, Mih! Papih juga berfikir begitu," ujar suaminya.
"Yang penting kita tidak boleh lengah," tambah Zee.
__ADS_1
"Iya, Sayang," jawab suaminya.
to be continued......